
~ Happy Reading ~
Ketika di jalan yang sepi dan tidak ada mobil sama sekali. Nusa menyalip Kaya, sehingga Kaya ngerem mendadak dan hampir terpentok stir. Lokasi mereka berada di jembatan layang yang sepi dan di bawahnya adalah sungai.
Kaya turun dari mobil dengan emosi dan berdiri di depan mobilnya. Lalu dia kaget melihat Nusa yang turun dari mobil. Kaya merasa bingung kenapa Nusa mengejarnya.
“Nusa, apa-apaan sih kamu?!” desis Kaya mengerutkan dahinya.
Nusa mengabaikan perkataan Kaya dan dengan cepat berjalan menghampiri Kaya yang di depan mobilnya. Lalu Nusa menarik Kaya untuk menyenderkannya di kap mobilnya.
“Nusa lepasin!” Kaya berbaring setengah di kap mobil. Ucapan Kaya diabaikan oleh Nusa dan malah menekan kedua tangan Kaya di kap mobilnya.
“Nusa kamu mau ngapain?” tanya Kaya yang dekat sekali dengan wajah Nusa.
Nusa perlahan memajukan wajahnya dan Kaya langsung menutup mata. Nusa tersenyum sinis sambil berbisik. “Kamu pikir aku mau nyium kamu?!”
Kaya langsung membuka matanya dengan lebar dan menatap Nusa tak suka. “Sekarang kamu puas Nyonya Kaya merebut Adrian dari Lita?” tanya Nusa. Kaya hanya terdiam.
“Katakan padaku Kaya!” bentak Nusa dengan menekan tangan Kaya lebih kuat.
“Sakit Nusa!” Kaya merintih kesakitan.
“Katakan dulu! Kamu puaskan merebut orang yang disuka Lita sekarang?” tanya Nusa.
“Iya aku puas. Puas kamu?!” teriak Kaya dengan kesal.
Nusa melepaskan tangan Kaya dan berdiri dihadapannya. Nusa tersenyum simpul. “Heh, ternyata kamu sama seperti mama kamu Kay?!”
Kaya berdiri dari kap mobil dengan menghadap Nusa, sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit karena ditekan. “Enggak usah bawa-bawa mamaku Nusa!”
“Emang benar kok? Kamu sama mama kamu itu sama. Sama-sama merebut pacar orang.” senyum Nusa.
“Nusa!” bentak Kaya. “Jaga ucapan kamu!” tunjuk Kaya.
Nusa memajukan lagi wajahnya ke wajah Kaya. “Kamu itu sama saja kayak pelacur!” ketus Nusa.
Kaya mulai emosi dan geram. Hatinya kini panas dan tidak terkendali. Kaya ingi menampar Nusa, namun Nusa menangkapnya.
“Jangan harap kamu akan menampar aku dua kali Kaya Dirgantara?!” Nusa menghempaskan tangan Kaya dengan kuat sehingga mengenai bagian bawah banper mobil dan itu sangat sakit sekali.
Kaya ingin sekali berteriak kesakitan saat ini, namun ia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Kaya melihat ekspresi Nusa marah sekali dan Kaya berpikir Nusa tidak tahu dirinya telah menyakitinya.
Kaya pun mengumpatkan tangan kanannya ke belakang dan menahan sakitnya. “Kenapa kamu diam?” tanya Nusa sinis.
Bahkan kamu tidak tahu Nusa, tanganku terluka oleh perbuatanmu. Tapi tidak apa, buat apa kamu tahu. Hati kamu sudah digeluti dengan dendam yang mendalam.
Apakah aku salah membalas papamu Nusa? Kenapa kamu menyakiti diriku Nusa? Kaya bersedih dalam hatinya.
“Aku enggak suka kamu sebut aku seperti itu Nusa!” tunjuk Kaya dengan tangan kirinya.
“Heh, emang benar kok. Mama kamu dulu sempat menajadi seperti itu.”
“Kamu tahu dari mana Nusa?” tanya Kaya.
“Aku tahu dari mana enggak penting buat kamu!” Nusa tersenyum kecut.
“Lebih baik kamu cari tahu sendiri Kaya?!” Nusa berbalik badan dan hendak ingin meninggalkan Kaya.
“Nusa!! Aku belum selesai berbicara!!” Kaya berteriak dengan kesal.
“Kamu dengar Nusa! Mamaku tidak pernah melakukan itu!” tekan Kaya.
“Emang dia sempat ingin melakukannya, tapi itu semua karena perbuatan papa kamu yang menipu keluargaku. Kamu tidak tahu penderitaanku Nusa?! Jadi jangan pernah mengatai mamaku seperti itu. Kamu dengar itu!” teriak Kaya yang kencang dengan muka yang sudah geram.
Nusa berhenti melangkah, namun tidak menoleh Kaya. “Lalu apa? Bukankah sama saja Kaya.”
Flash back......
Hari yang semakin gelap. Kaya mendapat tambahan pelajaran dari sekolah dan mengharuskannya pulang larut malam. Setelah selesai, Kaya pulang dari sekolah sambil membawa bukunya di tangan.
Di pertengahan jalan Kaya mendapati ibunya sedang merayu pria lain dipinggir jalan. Kaya sontak langsung kaget dan menjatuhkan semua buku yang dipegangnya.
Mama, panggil Kaya dalam hati dan kaget melihat ibunya melakukan hal seperti itu.
Kaya mengepal kedua tangannya dan berjalan menghampiri ibunya dengan menghiraukan bukunya yang jatuh di jalan. Kaya menarik tangan ibunya yang sedang mengobrol dengan pria di pinggir jalan.
“Kaya,” ibunya kaget tertarik oleh Kaya.
Kaya membawa ibunya ke sudut tembok dan melepaskan tangan ibunya dengan kesal.
“Mama ngapain di sini? Udah itu berpakaian seperti ini?” tanya Kaya melihat ibunya berpakain gaun malam dengan makeup yang tebal.
“Mama...,” Mina bingung menjawabnya.
“Mama jawab Kaya?” Kaya bertanya dengan membentak Mina.
“Mama melakukan ini semua demi keluarga kita dan kamu” jawab Mina mulai menangis.
“Tapi bukan begini caranya mah. Jadi kemarin mama berbohong sama aku dan papa. Mama bilang kemarin udah dapat kerja, ternyata kerjanya begini. Sebagai Pelacur maksud mama.” Teriak Kaya dengan kesal.
“Jaga ucapan kamu Kaya!” bentaknya. Mina mulai menangis dengan pecah.
“Mama melakukan ini buat kalian! Papa tidak diterima di perusahaan manapun. Sedangkan tabungan sudah menipis. Om Brahma tidak berani menerima papa karena kasus perusahaannya yang bangkrut dan dia takut perusahaannya di cap jelek. Lalu mama harus bagaimana Kaya? Sementara kamu bentar lagi kuliah.”
Kaya menangis dengan pecah melihat perjuangan ibunya yang rela melakukannya demi dirinya. “Tapi mama harus mikir perasaan papa.”
“Mama tahu Kaya, tapi kita harus bagaimana. Mungkin Wijaya telah menyebarkan image papamu tidak baik sehingga dia tidak diterima di perusahaan manapun.”
“Mama lihat Kaya! Apapun yang terjadi jangan melakukan ini. Kaya mohon mah! Kalau kuliah, Kaya tidak akan meminta dari kalian. Kaya bisa mencari uang sendiri dan untuk kebutuhan juga Kaya bisa cari mah.” Kaya memegang kedua pipi Mina yang basah karena air mata.
“Bagaimana kamu mencarinya Kaya? Kamu masih kecil sayang?”
“Mama pikir karena aku kecil, aku tidak mampu mencari uang.” Kaya tersenyum agar
Mina ikut tersenyum.
“Aku kan sudah bilang, aku akan cari kerja dengan les-in anak orang kaya dan aku akan buka tempat les setiap sabtu dan minggu.”
“Kamu memang anak yang cerdas dan berbakti sayang. Tapi kamu nanti lelah sayang, les sama sekolah Kaya?” tanya Mina dengan lirih.
“Mama enggak tahu Kaya ini wonder women.” Tawa Kaya memperlihatkan ototnya seperti kuat dan Mina ikut tertawa.
“Iya sayang, kamu memang anak mama yang kuat. Mungkin jika kamu tidak ada, mama akan bunuh diri.” Senyum Mina memeluk Kaya.
“Mama jangan begitu. Itu sebabnya Kaya lahir karena akan memberikan kekayaan bagi mama dari senyuman, tawa dan semuanya.” Tawa Kaya mengangkat alisnya.
“Iya, anak mama dewasa sekali.” Mina memeluk Kaya dengan erat.
Aku akan membalas semua perbuatanmu Wijaya. Setiap tetes air mata orangtuaku harus kau ganti. Aku akan membuat perusahaanmu menjadi miliku dan menghancurkannya sehingga perusahaanmu akan lenyap dan tidak ada lagi namanya, batin Kaya menatap tajam ke depan sambil memeluk erat ibunya.
“Ayuk kita pulang dan lupakan untuk menjadi profesi itu apapun yang terjadi. Janji!” Kaya melepaskan pelukannya dan memberikan kelingkingnya.
“Janji.” Mina membalas kelingking Kaya dengan senyum dan mereka pulang.
Flash back berakhir....
~ Bersambung ~