
~ Happy Reading ~
Saat selesai makan….,
“Kay,” panggil Adrian dengan sikap coolnya.
“Iya, pak.” Jawab Kaya.
“Ada
sesuatu yang ingin aku sampaikan ke kamu Kay.” Dengan wajah serius.
“Apa pak?” tanya Kaya.
Adrian menarik tangan Kaya yang terletak di meja dan mencoba mengelusnya. “Aku tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Yang jelas saat kamu mulai cuek terhadapku Kay, aku merasa ada yang hilang dariku dan ternyata itu kamu Kay. Aku menyadari aku mencintai kamu Kaya Aqila Naya Raya.”
Kaya merasa terkejut dengan ucapan Adrian. Dirnya hanya bisa terdiam menatap Adrian yang sepertinya sungguh-sungguh mengungkapkan perasaannya.
Di satu sisi Kaya senang melihat Adrian menyukainya. Berarti selama ini pembalasan dendamnya untuk menyakiti Adrian berhasil. Namun, disisi lain Kaya tidak enak hati dengan Lita. Karena, bagaimanapun Adrian mantan Lita yang merupakan sahabatnya.
“Apakah kamu mencintai saya juga Kay?” tanya Adrian.
“Sa-saya..,” ucap Kaya terbata-bata. Ia bingung harus bagaimana.
“Iya Kay?”
“Saya tidak bisa pak, maaf pak.” Kaya menarik tangannya.
“Tapi kenapa? Apakah kamu mencintai orang lain?” tanya Adrian.
“Saya—saya tidak mencintai orang lain pak. Tapi memang saya tidak mencintai bapak.”
“Heh,” Adrian tersenyum sinis. “Kamu bohongkan?” tanya Adrian.
“Saya tidak bohong pak, memang saya tidak cinta bapak.” Jawab Kaya.
“Lalu apa yang selama ini kamu lakukan. Kamu kasih saya jam tangan, perhatian dan kadang kamu suka genit sama saya?” tanya Adrian mencoba menahan emosinya.
“Saya selama ini hanya bertaruh saja sama Lita untuk mendapatkan bapak, tapi Lita belum tahu kalau pak Adrian itu ternyata mantan Lita.” JawabKaya dengan jujur.
“Jadi kamu selama ini bersikap perhatian sama saya hanya untuk bertaruh saja?”
“Iya pak Adrian, awalnya untuk bertaruh saja. Tapi setelah saya kalah, saya tidak lagi ingin mendekati bapak.” Jawab Kaya.
Adrian tersenyum sinis. “Heh, kenapa aku bisa bodoh ditipu oleh dua orang yang aku cintai.”
Pantasan aja dia bersikap cuek sekarang-sekarang ini, lanjut Adrian dalam hati.
“Maafin saya pak. Saya tahu saya salah, tapi saya pikir bapak tidak akan menyukai saya dan untuk Lita, dia tidak bersalah dalam hal ini pak. Dia tidak tahu kalo yang saya targetkan itu bapak.”
“Heh, saya tidak percaya omongan kamu Kay.” Sinis Adrian. Dirinya merasa bodoh dipermainkan wanita di depannya.
“Terserah bapak percaya atau tidak.”
“Lalu kenapa kamu menargetkan saya menjadi bahan taruhan kamu Kay?” tanya Adrian menatap Kaya dengan sinis.
Karena kamu adalah anak dari grup Tama, batin Kaya.
“Karena hanya untuk bersenang-senang saja pak,” kelak Kaya.
“Heh,” Adrian tersenyum sinis. “Kenapa semua cewek yang aku suka selalu ingin mempermainkanku. Pertama Lita sekarang kamu Kay.”
“Lita tidak bersalah pak Adrian dalam hal ini, yang harus bapak salahkan adalah aku.” Ucap Kaya mengelus gelas cocktailnya.
“Ternyata
benar kata Nusa, aku harus berhati-hati sama kamu!” Ucap Adrian menatap Kaya dengan sinis.
Kaya langsung kaget mendengar ucapan Adrian. Kenapa Nusa berkata seperti itu? tanya Kaya dalam hati.
“Kamu sama aja kayak Lita yang suka mematahkan hati orang. Apa kamu sadar telah mempermainkan saya?”
“Saya tidak pernah merasa permainkan bapak. Emang saya salah diawal tapi bukan berarti saya memaksa bapak untuk menyukai saya. Bapak sendiri yang menyukai saya dan saya tidak menyukai bapak. Apakah itu salah?”
“Ternyata ucapan kamu juga bagaikan pisau yang menusuk,” ucap Adrian tersenyum sinis. “Apakah kamu menolak saya karena ada hal lain?” tanya Adrian.
“Tidak ada,” ucap Kaya. “Apakah bapak sudah selesai bicara? Saya mau pulang sudah larut malam
“Setelah membuat hati saya terluka, kamu minta pulang dengan saya?!” Adrian tertawa miris. “Kaya, kaya, kamu pikir kamu siapa?”
“Saya tidak meminta bapak untuk mengantar saya. Saya akan pulang dengan sendiri.” Adrian kaget
dengan jawaban Kaya.
Kaya beranjak dari kursi dan melangkah berjalan melewati Adrian. Namun Adrian memegang tangan Kaya dan Kaya menghentikan langkahnya.
“Apakah kamu menyukai Nusa Kay?” tanya Adrian dengan lirih.
“Saya tidak menyukai siapapun,” kelak Kaya.
“Jangan berbohong Kaya, saya tahu kamu suka dia.” Ucap Adrian tanpa menoleh Kaya dengan masih memegang tangan Kaya yang berdiri di sampingnya.
“Bapak, tidak tahu saya. Saya tidak menyukai bapak ataupun Nusa,” ucap Kaya tersenyum sinis.
“Kalo sudah selesai bisa saya pergi pak Tama yang terhormat.” Ucap Kaya tanpa menoleh Adrian dan terus memandang ke depan.
“Siapa yang kamu bilang pak Tama?” tanya Adrian melepaskan tangan Kaya dan membiarkan Kaya pergi.
Kok, Adrian bertanya seperti itu? tanya Kayadalam hati.
Kaya pergi meninggalkan Adrian sendirian di bangku tersebut. Adrian yang ditolak oleh Kaya merasa sakit hati dan tidak menerimanya. Dia termenung menatapi ucapan Kaya.
Tanpa disadari Nusa ternyata sudah menguping dari tadi. Dia melihat Adrian yang patah hati duduk termenung dan terdiam.
Nusa merasa kasihan kepada Adrian, tapi dia tidak berani menghampiri Adrian. Nusa yang duduk tidak jauh dari Adrian hanya bisa merasa kasihan saja.
Nusa pun memberanikan dirinya untuk menghampiri Adrian. “Hai bro,kenapa sendirian?” tanya Nusa berpura-pura tidak tahu dan menggeser kursi untuk duduk.
Adrian tersadar dan menghilangkan pandangan kosongnya. “Hai bro, ngapain di sini?” tanya Adrian mencoba tersenyum.
“Aku lagi main aja ke sini,” jawab Nusa
“Apa kamu sengaja ke sini untuk melihat akumenembak Kaya?” tanya Adrian terus terang.
“Iya,” jawab Nusa dengan jujur. Lalu Nusa memanggil pelayan dengan melambaikan tangan ke pelayan yang sedang membawakan pitcher.
“Pasti kamu senang mendengarnya Nus?” tanya Adrian dengan mata sendu.
Pelayan itu pun datang menghampiri Nusa dan Adrian. “Iya Tuan Nusa?” ucap pelayan itu.
“Ambilkan saya anggur mahal!” perintah Nusa dan pelayan itu mengangguk, lalu pergi
meninggalkan mereka.
Nusa mengambil nafas terlebih dahulu dan berkata. “Mana mungkin aku senang mendengarnya Adrian. Kamu adalah sahabat aku sedangkan Kaya baru kita kenal belum setahun.” Jawab Nusa dengan gayanya yang cool.
“Alah, aku enggak percaya sama kamu bro.” Ucap Adrian membuang muka.
“Kamu harus percaya Ad. Aku udah bilang sama kamu Ad, aku tidak menyukai dia.”
“Ternyata kamu benar Nus, harusnya aku berhati-hati sama Kaya. Dia hanya mempermainkanku saja.” Ucap Adrian.
Pelayan tadi datang membawakan sebotol anggur merah dan dua gelas dengan nampan.
“Ini anggurnya Tuan,” pelayan itu menaruh gelas di meja Adrian dan Nusa. Lalu meletakkan botol tersebut di tengah-tengah dan mengambil piring kotor di meja makan tersebut.
“Makasih,” ucap Nusa.
Pelayan itu hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan mereka berdua. Nusa mengambil botol anggur di meja dan membuka tutup botol tersebut. Lalu Nusa menuang anggur tersebut ke gelas Adrian dan gelas dirinya sendiri.
“Udahlah, lupakan saja tentang Kaya!Ibarat kata mati seribu tumbuh sejuta.” Canda Nusa dengan tawa.
Adrian tertawa kecil dan mengambil gelas yang dituang anggur oleh Nusa. Dia meminumnya sampai habis.
“Lagi pula, kamu udah punya tunangan sih Jessica?!” Ucap Nusa dengan senyum.
“Nus, Nus, kayak kamuenggak tahu aja sih Jessica. Dia itu mengincar harta saja.” Ucap Adrian sambil memegang gelas di mejanya.
“Iya juga sih. Mau lagi Adrian?” tanya Nusa memegang botol anggur dan Adrian mengangkat gelas untuk di isi oleh Nusa. Lalu Nusa menuang anggur tersebut ke gelas Adrian. Mereka pun berbincang sambil meminum anggur.
~ Bersambung ~