
~ Happy Reading ~
Nusa dan Kaya masih di ruangan meeting tersebut bersama asisten pribadi Nusa.
“Mischa?” Panggil Nusa melihat Mischa berdiri di samping meja.
“Iya tuan,” jawab Mischa menghampiri Nusadi dekat mibar.
“Tolong carikan saya sekertaris cantik dan sexy. Kalau perlu kamu cek latar belakang keluarganya. Apakah dia seorang penipu?!” sindir Nusa dan Kaya langsung menoleh Nusa dengan sinis.
“Baik tuan,” angguk Mischa.
“Satu hal lagi. Tolong pastikan dia tidak suka menipu untuk memiliki harta orang lain!” sindir Nusa lagi. Kaya hanya berpura-pura tidak
mendengarnya dan membuang muka.
“Baik tuan,” angguk Mischa.
“Yaudah kamu bisa pergi!” angkuhnya.
“Wow? Kaya Aqila Naya Raya Dirgantara. Atau aku panggil Nyonya Dirgantara yang terhormat. Bagaimana sekarang, apakah sudah merasa puas ingin menjadi CEO?” tanyanya sinis berjalan mengelilingi Kaya yang berdiri di samping mibar.
“Atau kamu belum puas dan ingin mengambil harta orang lain?!” Sindir Nusa dan Kaya hanya terdiam.
“Aku mau tanya satu hal sama kamu? Bagaiman cara kamu bisa menipu papaku? Apakah kamu meniduri papaku?” Bisiknya di kuping Kaya dengan pertanyaan sadis.
“Jaga mulut kamu itu Nusa!” sinis Nusa.
“Oke, atau kamu memberikan tubuh kamu yang indah ini ke kepercayaan papaku yaitu pak Boni?” bisiknya lagi sambil mengelus lengan Kaya.
“Jaga mulut kamu Nusa!” bentak Kaya menatap Nusa tajam.
Nusa mendorong Kaya ke mibar dan menguncinya dengan kedua tangannya yang diletakkan di mibar. “Kenapa marah? Bukankah itu benar? Lalu kenapa pak Boni bisa setia pada dirimu?” tanya Nusa.
Pak Boni setia karena aku dulu menolongnya Nusa, jawab Kaya dalam hati sambil bertatapan dengan Nusa yang sangat dekat sekali dengan wajahnya.
Flash Back.....,
Kaya sedang berjalan di pinggir jalan.
Matanya tiba-tiba teralihkan dengan sosok pria paruh baya yang sedang mengorek-orek tong sampah. Pria itu berpenampilan kotor sekali, dengan baju dan celana rombeng. Kaya yang merasa iba menghampiri pria itu.
“Pak? Bapak sedang apa di sini?” tanyanya. Pria paruh baya itu masih mengorek sampah dengan berjongkok. Ia terdiam malu dan tidak menanggapi Kaya.
“Bapak lapar?” tanya Kaya berjongkok dan melihat wajahnya. Bapak itu masih terdiam.
Kaya mencoba mendekatkan dirinya dan melihat wajah bapak itu. “Pak, jangan sungkan. Saya tidak akan menyakiti bapak!” Ucap Kaya dengan lembut.
“Saya lapar nona.” Bapak itu akhirnya berbicara.
“Yuk, ikut saya!” ajak Kaya menarik tangan bapak itu untuk ikut dengannya.
“Nona, tidakusah. Saya malu dengan anda.”
“Tidak perlu malu pak. Ikutlah denga saya! Saya tidak akan menyakiti bapak!” ucap Kaya menarik tangannya dan ia pun mengangguk ikut.
Kaya membawa bapak itu menuju restoran. Kaya ingin sekali menolongnya dan memberikan kenyamanan makan. Hingga mereka tiba di depan restoran.
“Yuk!” ajak Kaya.
“Saya makan diluar aja non!” tolaknya tidak enak, karena restoran itu restoran elit.
“Enggak papa, jangan malu dan takut! Saya akan menemani bapak makan di sini!” ucapnya tersenyum manis.
“Tapi non, ini restoran elit dan banyak orang kaya di sini?! Sedangkan saya berpakaian dumel. Saya takut nona malu nanti.”
“Tidak apa-apa pak. Saya tidak akan malu.” Senyum Kaya.
Bapak itu pun mau dan mengikuti Kaya masuk ke dalam restoran. Mereka duduk sambil berhadapan.
“Misi mbak, mau pesan apa?” tanya pelayan restoran wanita berdiri di samping meja Kaya.
“Saya pesan nasi goreng seafood dua dan es teh manis dua yah!” Kaya memberikan buku menu tersebut kepada pelayan itu.
“Baik mbak.” Pelayan itu pergi.
Semua orang melihat Kaya dan bapak itu. Banyak yang berbisik dan mengatai bapak itu.
“Lihat deh! Kok, bisa sih gadis itu bersama dengan pria tua itu?” tanya cewek yang duduk tidak jauh dari Kaya kepada temannya.
Bisikin mereka terdengar oleh bapak itu dan dia hanya terdiam. Sementara Kaya hanya
tersenyum melihat bapak itu.
“Bapak namanya siapa?” tanya Kaya dengan senyum.
“Saya Boni nona.” Senyumnya.
“Ohh.., saya Kaya pak.” Senyum Kaya.
Makanan tiba diantar oleh pelayan tadi dan menaruh di meja mereka. Pelayan itu sebenarnya terlihat jijik terhadap bapak itu. Dia dengan cepat menaruh makanan tersebut.
“Udah semua yah mbak!” ucap pelayan itu.
“Makasih mbak,” senyum Kaya.
Pelayan itu pergi meninggalkan mereka, lalu menghampiri temannya yang berdiri di depan bar.
“Lihat deh! Kok, mau gadis itu bawa bapakitu ke sini!” Pelayan itu menunjuk arah ke Kaya dan Boni.
“Iya yah? Aku kalau ajak gembel ke sini enggak bakal nafsu makan.” Sahut temannya.
Kaya tidak mempedulikan bisikan hinaan
mereka semua. Ia hanya fokus makan dan sesekali tersenyum melihat Boni yang lahap makannya.
Setelah selesai makan, mereka keluar dari restoran dan berjalan menuju taman kota. Mereka saling berbincang sambil berjalan. Mereka pun duduk di taman kota.
“Pak Boni. Saya boleh bertanya? Bapak kenapa bisa jadi begini?” tanya Kaya.
“Saya ditipu oleh anak buah saya sendiri.” Jawab Boni.
“Maaf yah pak, jika saya menanyakan ini.”
“Tidak apa.” Senyum Boni.
“Setelah saya ditipu. Saya diusir oleh anak dan istri saya.” Ucap Boni lirih.
“Bapak kasihan sekali.” Kaya merasa simpati dengan kisah Boni. “Saya juga mengalami hal yang sama. Papa saya kena tipu oleh rekan bisnisnya sendiri.” Ucap Kaya
dengan lirih.
“Memang terkadang hidup tidak bisa ditebak Nona. Kadang orang yang kita percaya justru menjadi boomerang bagi kita.”
“Iya pak,” senyum Kaya.
“Lalu bapak diusir. Apakah mereka tidak kasihan sama bapak?” tanya Kaya.
“Saya tidak tahu nona. Mereka mungkin merasa telah di kecewakan oleh saya atau mereka merasa kehilangan semuanya karena saya.”
“Bapak yang sabar yah. Bapak jangan dendam dengan anak dan istri bapak. Mungkin sebenarnya mereka hanya emosi sesaat dan
tidak sengaja melakukan tindakan itu.” Kaya tersenyum menguatkan Boni.
“Makasih nona Kaya. Kamu sangat baik sekali. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Padahal tadi saya tahu banyak yang bisikin saya di restoran. Namun, Nona masih menemani saya yang bau ini.”
“Saya tidak pernah memandang orang dari penampilan pak. Lalu apakah karena kita
seorang badut, pengemis, pemulung, kita tidak boleh makan di sana. Tentu saja tidak. Semua sama di mata Tuhan. Merekanya saja yang keterlaluan pak.”
Boni hanya mengangguk terharu mendengar ucapan Kaya. Ia merasa beruntung bertemu dengannya.
Selesai berbincang cukup lama, Kaya
membawa Boni ke kontrakan kosong. Ia memberikan Boni rumah yang cukup layak
dipakai. Lalu Kaya menghidupi semua kebutuhan Boni dari makan, pakain hingga
kebutuhan elektronik.
Di mulai dari situlah, Kaya meminta
bantuan kepada Boni untuk masuk ke dalam perusahaan Tama dan menjadi kepercayaan Wijaya Tama. Karena Kaya tahu pengalaman Boni adalah menjadi sorang Atasan di perusahaannya sendiri.
Flash back berakhir....
~ Bersambung ~