
~ Happy Reading ~
Kaya keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang lega. “Haduh lega juga.” Kaya tersenyum memegang
perutnya.
Tiba-tiba Nusa menarik tangan Kaya dan menyudutkan Kaya pada tembok. Ia pun mengunci Kaya dengan tangannya berada di sisi tubuh Kaya.
“Apakah kamu malu Kay, aku menyatakan cinta sehingga kamu menghindar dari aku tadi?” tanya Nusa.
“Menurut kamu?” tanya Kaya balik.
“Oke lupakan hal itu! Aku ingin mendengar jawabannya dari kamu?”
“Jawaban apa?” tanya Kaya berpura-pura lupa.
Nusa mengambil nafasnya terlebih dahulu karena kesal dengan Kaya. “A-K-U M-E-N-C-I-N-T-AIMU. APAKAH KAMU MAU JADI PACARKU KAYA AQILA NAYA RAYA?” tanya Nusa dengan penuh penekanan.
Kaya hanya terdiam menatap Nusa dengan tatapan menyelidik, apakah Nusa sungguh-sungguh menyatakannya atau dia hanya taktik saja seperti yang dikatakan Adrian.
“A-ku, A-ku...,”ucap Kaya terbata-bata. Sebenarnya dia masih ragu dan belum siap dengan semua ini.
“Aku apa Kay?” tanya Nusa melihat mulut Kaya.
“A-ku tidak....,”
“Aku tidak apa Kaya?” tanya Nusa yang tidak sabar.
Entah dari mana Jessica datang mengusik mereka berdua. “Ehem, ada apa ini?” tanya Jessica. Nusa langsung menggeser dirinya agak jauh dari Kaya.
Kenapa dia langsung menjauhkan dirinya? Apa dia tadi tidak serius? Tanya Kaya dalam hati.
“Enggak ada apa-apa Jess. Tadi Nusa mencoba menggodaku, tapi langsung ku tolak.” Kelak Kaya tersenyun jail. Nusa langsung melotot ke arah Kaya.
“Apa? Nusa? Kenapa kamu goda dia? Kita sebentar lagi akan tunangan? Apakah kamu lupa sama janjimu?” tanya Jessica dengan kesal.
“Jessica sayang dia berbohong. Aku tidak akan lupa dengan janjiku.” Nusa berpura-pura senyum dan memegang bahu Jessica untuk membelakangi Kaya.
“Kamu kan tahu sendiri, Kaya adalah musuhku. Dia hanya ingin memanasin kita saja.” Mereka berjalan bersama dengan perlahan meninggalkan Kaya. Lalu Nusa menoleh ke belakang dengan ekspresi kesal. “Awas kau!”
Kaya langsung mengumpat dengan kesal. “Dasar playboy, tadi bilangnya suka, sekarang ada Jessica bilangnya berbeda?! Dasar buaya kadal!” sambil menatap tajam mereka dan rasanya Kaya ingin memukul Nusa. Kaya pun kembali berjalan menuju ruangan dengan perasaan dongkol.
Di ruangan Nusa.
Jessica duduk berhadapan dengan Nusa. Jessica selalu merengek kepada Nusa ini dan itu dengan memegang tangan kanan Nusa.
“Nusa jawab yang jujur? Kamu enggak ada apa-apa kan sama Kaya? Kamu bilang akan menepati janji kamu setelah aku memberi ideku?” rengek Jessica.
Mila yang sedang duduk mendengarnya rasanya ingin muntah melihat kemanjaan Jessica.
“Dasar ular!” umpatnya.
Sementara Nusa sudah pusing dengan tangan kiri memegang kepalanya mendengar ucapan Jessica yang dari tadi itu saja di bahas olehnya.
Lebay banget sih nih wanita, batin Nusa.
“Jessica sayang...,” Nusa memegang kedua tangan Jessica dengan berpura-pura senyum.
“Aku tidak akan mengingkar janjiku untuk bertunangan denganmu. Jadi, aku mohon bisakah kau pulang karena aku banyak urusan!” usir Nusa dengan senyum. Tiba-tiba Mila tertawa mendengar ucapan Nusa yang mengusir Jessica.
“Kenapa kamu tertawa Mil?” Jessica menoleh ke arah Mila dengan kesal.
“Enggak bu, saya tertawa tadi ada iklan yang lucu muncul di HP saya.” Kelak Mila dengan nyengir.
“Jangan bohong kamu Mila! Bilang saja iya?!”
Mila hanya terdiam dan tidak ingin menjawabnya, karena dia malas berdebat dengan wanita ular kayak Jessica.
“Yaudah kalau kamu sibuk dan ingin aku pergi? Aku pergi dari sini! Soalnya besok juga kita akan ke Bali jadi harus packing baju dulu!” Ucapnya dengan nada kesal dan berdiri dari kursi.
“Yaudah hati-hati yah sayang!” Nusa berpura-pura senyum dan Jessica pun berjalan membelakangi Nusa menuju pintu.
Kaya yang ingin masuk ruangan malah berpapasan dengan Jessica. Mereka berdua berhenti sejenak dan saling menatap dengan tajam.
“Dasar pecicilan!” umpat Jessica namun terdengar oleh Kaya, lalu pergi dengan menghempaskan rambutnya terhadap Kaya.
“Apa? Dasar enggak sadar diri kamu!” teriak Kaya menujuk Jessica yang sudah keluar dari pintu. Nusa dan Mila hanya tertawa kecil melihat mereka berdua.
Kaya kembali berjalan menuju mejanya dan melihat Mila tertawa, dia merasa tidak
suka. “Kenapa kamu tertawa Mila?”
“Enggak bu, tadi ada iklan di HP lucu.” Kelak Mila yang sama dengan jawabannya atas pertanyaan Jessica tadi.
“Mila, kamu punya iklan di HP semuanya lucu-lucu kali yah?” sahut Nusa dengan ledekan.
“Hehe...., iya pak. Ada banyak iklan yang lucu pak.” Nyengir Mila sedangkan Kaya duduk di kursinya.
“Oh iya Mila? Kamu udah siapin semua proposal buat besok?” tanya Kaya.
Kaya langsung menoleh Nusa. Kenapa dia tidak bilang?
“Kalau gitu kirim ke saya juga proposolnya! Soalnya saya mau koreksi dan yang saya buat dengan Nusa dari budget hingga susunan proyeknya sudah kamu buatin power pointnya?”
“Sudah Bu, sudah saya kirim ke pak Nusa.”
Kaya langsung menoleh Nusa lagi dan Nusa hanya menatapnya dengan senyum. Kenapa dia enggak kirim ke aku juga? Padahal besok ke Bali?
“Kenapa kamu enggak kirim ke saya juga?” tanya Kaya dengan nada emosi.
“S-saya..,” Mila agak takut menjawabnya.
“Karena dia adalah asisten saya Kaya bukan asisten kamu!” potong Nusa yang menyelamatkan Mila dari kebohongan yang disuruh oleh Nusa.
Flash back...
Mila dan Nusa sedang duduk di ruangan, sementara Kaya tidak ada dan entah kemana.
“Mila?” panggil Nusa tanpa menoleh Mila dengan memakai kacamatanya dan serius melihat laptopnya.
“Iya pak,” jawab Mila dengan sigap.
“Kamu sudah selesaikan semua power point dan proposal yang diminta oleh Kaya?” tanyanya bersandar di kursi.
“Sudah pak Nusa...,”
“Kirim ke saya yah dan jangan kasih ke ibu Kaya!” perintah Nusa.
“Iya pak. Tapi pak..., kalau ibu Kaya nanya saya harus jawab apa?” tanya Mila.
“Saya yang akan bantu jawab, soalnya saya yang mau jelaskan ke dia!”
“Baik pak Nusa.” Mila langsung mengirimkannya lewat email kepada Nusa.
Flash back berakhir....,
“Lalu jika dia asistenmu! Apa saya tidak berhak menyuruhnya?” tanya Kaya.
Nusa berdiri dari kursi dan berjalan menuju meja Kaya, kedua tangannya menumpu pegangan kursi dan mencodongkan dirinya menghadap Kaya.
“Ohhh...., memang tidak berhak.” Senyum Nusa.
“Saya ini juga punya hak Tuan Nusa, karena saya juga punya sebagian saham terbesar disini!” tegas Kaya.
“Ih..., ngapain sih pak Nusa selalu begitu sama Ibu kaya bikin aku badmood aja!” umpat Mila.
“Oh yah?” dengan senyum dan berdiri tegap menghadap Mila. “Mila saya rekrut sebagai asisten saya bukan asistenmu Nona Kaya!” tunjuk Nusa kepada Mila, lalu Kaya.
“Dan masalah proposal sama power point saya sengaja memintanya agar saya mengkoreksinya, lalu menjelaskan kepadamu!” Nusa melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.
“Buat apa kamu menjelaskannya kepada saya?” tanya Kaya dengan membuang muka.
“Karena saya tahu Mila akan sulit menjelaskannya, walaupun dia membuatnya. Yah kan Mila?” Nusa bertanya kepada Mila agar meyakinkan Kaya.
“Eheheh..., iya bu.” Nyengir Mila. Padahal dalam hatinya kesal. Siapa juga yang sulit menjelaskan power point kayak gitu doang?! Bilang aja pak Nusa ingin berduaan sama Ibu Kaya.
“Terserahlah! Saya minta sekarang juga Nusa! Soalnya kita akan memberikannya kepada pemimpin proyek ini!”
Nusa membungkukkan badannya menuju kuping Kaya. “Kalau mau sekarang, ayok ikut aku sayang! Ada hal yang ingin ku bicarakan padamu hanya berdua saja!” bisik Nusa dengan senyum.
“Apakah tidak bisa disini Nusa?”
“Tidak, urusan kita yang kemarin dan tadi belum selesai!”
“Urusan apalagi?”
“Makanya harus nurut dong sayang! Aku tunggu di ruangan pribadiku!” Nusa berdiri tegap.
“Ih...., mereka itu bisik-bisik apa sih?” umpat Mila.
“Mila?”
“Iya pak.”
“Saya ada urusan penting sama Kaya! Kalau ada yang cariin, bilang saya keluar!” Nusa berjalan menuju pintu dan disusul oleh Kaya.
“Baik pak.”
Mereka selalu aja begitu ada urusan pentinglah?! Paling juga mau berdua-duan, batin Mila.
“Dasar Nusa kampret! Selalu aja maksa orang!” umpatnya berada di belakang.
“Apakah kamu tadi berbicara?” tanya Nusa berbalik arah.
“Enggak ada,” nyengir Kaya dan Nusa kembali lagi berjalan menuju pintu.
~ Bersambung ~