
~ Happy Reading ~
Di kantor.
Kaya memakirkan mobilnya yang mewah di parkiran dan turun dari mobil. Dia berjalan menuju loby dan disambut beberapa pegawai yang berdiri saling berhadapan dengan baris yang sama.
“Pagi ibu Kaya.” Mereka tersenyum menunduk secara bersamaan. Semua memberikan hormat kepada Kaya.
Semua karyawan perusahaan Tama sudah tahu bahwa Kaya akan menjadi CEO di perusahaan Tama. Mereka tahu karena Boni orang suruhan Kaya telah memberitahu sehari sebelumnya dan mengganti foto Kaya di depan Lobi.
Tidak ada yang bisa memprotes Boni meskipun Direksi sekalian, karena saham yang diambil alih oleh Kaya setengah dari investor lainnya.
Kaya berjalan elegan dengan senyum menyapa mereka semua. Ia sangat senang akhirnya tujuannya akan tercapai saat ini juga. Selama bertahun-tahun, Kaya sudah merencanakan secara matang dan harus tepat sasaran. Dan rencana itu pun berhasil.
Kaya melangkah menuju ruang meeting. Ia melihat semua orang sudah hadir di ruang meeting tersebut. Ruang meeting Tama cukup besar. Biasanya saat meeting dengan investor mereka akan memakai ruang meeting ini.
Tempat duduk mereka memanjang ke arah mimbar dan saling berhadap-hadapan dengan meja yang di belakangnya juga.
Contohnya seperti ini tapi tak ada dua kursi.
Kaya masuk mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Ia duduk dengan tersenyum
elegan. Saat duduk pendengarannya mendengarkan percakapan yang tidak jauh darinya.
“Dia yang akan menjadi CEO di perusahaan ini? Bukankah terlalu muda?” tanya seorang Direksi yang tidak jauh duduknya dari Kaya.
“Benar, dia masih muda dan sepertinya tak punya pengalaman.” Sahut samping Direksi yang lainnya. Jadi Direksi di sini ada tiga bagian yaitu Direksi utama, Direksi Operasional yang di pegang oleh Boni dan terakhir Direksi keuangan.
Semua jabatan memegang peranannya masing-masing dan semuanya di percaya oleh Wijaya Tama. Maka dari itu, Boni lebih leluasa memalsukan dokumen ke Wijaya Tama. Direksi yang membicarakan Kaya adalah Direksi utama dan Direksi keuangan. Mereka menggunjing tentang Kaya menjadi CEO.
Kaya yang mendengarnya mencoba bersikap tenang dan tak terbawa emosi. Ia hanya dapat senyum saja. Direksi utama pun bangkit dari kursi dan berjalan menuju mibar.
Ketika Direksi itu berjalan, Kaya mengingat ada seseorang yang tak hadir di sini. Ia melirik ke sekitar dan mencari wajah orang tersebut.
Apakah Nusa tidak hadir? Tanya Kaya dalam hati.
“Selamat pagi semua?” Sapa Direksi utama tersebut dengan senyum dan memperhatikan semuanya. Mereka hanya bergumam ‘pagi’ dengan senyum.
Direksi itu kembali berbicara di mibar dengan mikrofon yang kepalanya kecil.
“Hari ini yang kalian tahu, kita kedatangan tamu baru di perusahaan ini. Dia akan menjadi CEO di sini menggantikan pak Wijaya Tama. Dia sekarang pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Jadi saya harap kalian mengerti. Ibu Kaya Aqila Naya Raya Dirgantara. Mohon berdiri dan memperkenalkan kepada kami semua.”
“Tepuk tangan semua, buat CEO kita yang baru!” Direksi itu bertepuk tangan dan Kaya berjalan menuju mibar tersebut.
Semua yang hadir ada yang bertepuk tangan dan ada juga yang tidak. Bahkan ada yang berbisik. “Dasar wanita licik,” ucap pemegang saham yang duduk di sana.
“Iya dia licik, seperti ular. Saya dengar dia menaruh orang kepercayaannya di sini.” Sahut teman yang duduk di sampingnya.
Kaya berdiri di depan mibar dengan tersenyum. Wajahnya yang cantik selalu membuat sebagian orang terpesona dan diam memandang Kaya.
“Saya ucapkan terimakasih bagi semua yang hadir di sini. Perkenalkan saya Kaya Aqila Naya Raya Dirgantara, akan menjadi CEO baru kalian di sini. Saya berharap agar kalian dapat bekerjasama dengan saya. Saya akan memajukan perusahaan ini dengan cara saya sendiri dan mengembangkannya menjadi perusahaan nomor satu di Indonesia.” Senyum Kaya melirik semuanya.
“Apakah ada yang tidak setuju dengan saya menjadi CEO di sini?” tanya Kaya melirik semuanya. Namun semuanya terdiam dan hanya berbisik-bisik.
“Saya tidak setuju.” Terdengar suara dari arah luar pintu, namun orang tersebut idak kelihatan. Semua orang mencari arah suara tersebut dengan menoleh ke arah pintu.
Pintu dibukakan oleh seorag pria dengan membawa tas. Lalu masuk satu pria lagi dengan gayanya yang cool dan swag yaitu Nusa. Ia tidak memakai kacamata, rambut yang rapi di belakangi semua, dan memakai setelan jas hitam. Sehingga membuatnya terlihat keren dan wibawa. Nusa masuk bersama asisten pribadinya dari kecil yaitu Mischa.
Kaya sedikit terkejut akan kedatangan Nusa. Namun, ia harus bersikap tenang dan cool di depan musuhnya sendiri. Sedangkan semua yang di sana berbisik dan tersenyum melihat kehadiran Nusa.
“Saya tidak setuju dengan ibu Kaya.” Nusa sudah berdiri di samping Kaya.
“Saya tidak setuju jika Kaya menjadi CEO di sini. Karena saya mempunyai setengah saham dari perusahaan ini.” Nusa melirik Kaya dengan sinis. Kaya langsung membeku mendengar Nusa punya setengah saham di
tempat ini, karena menurut dia, Nusa hanya punya bagian 40% saja.
“Pak Danil yang saya hormati. Apakah saya juga bisa menjadi CEO dengan saham saya yang punya?” tanyanya menghampiri Direksi itu dengan menyerahkan sebuah kertas.
Direksi itu membaca surat itu dengan seksama dan melihat bahwa Nusa mempunyai setengah saham di perusahaan ini. “Pak Nusa bisa jadi CEO juga di perusahaan ini.” Senyum Direksi itu bahagia seakan tidak menyukai Kaya.
Nusa tersenyum sinis dan mengambil kertas tersebut. Lalu memberinya kepada Kaya di mibar. “Ibu Kaya yang terhormat, saya punya setengah saham perusahaan di sini. Jadi kita harus melakukan voting untuk memilih siapa CEO di sini?!” Nusa tersenyum sinis di samping Kaya.
Kaya yang sudah panik mencoba tenang dan tidak emosi. “Heh,” Kaya tersenyum sinis. “Oke saya setuju dengan pak Nusa yang terhormat.”
Semua orang terlihat bingung dan berbisik-bisik. “Bagaimana ini, kenapa jadi begini?”
“Kita harus milih yang mana nantinya?” bisik yang lain.
“Saya suka dengan pak Nusa, saya akan milih dia nantinya. Lagi pula dia adalah anak tunggal dari pak Wijaya Tama.” Bisik yang lainnya.
Kenapa Nusa bisa mempunyai setengah saham di Tama? Pikir Kaya dalam hati.
Apakah ada yang memberikan 10% saham kepadanya? Lanjutnya dalam hati.
“Kenapa?” bisik Nusa di kuping Kaya. “Pasti kamu bingung yah Kay? Kenapa aku punya setengah saham?” Kaya tidak menyahut, dia hanya diam saja.
“Itu karena aku menyuruh Direktur keuangan untuk mengubah semuanya. Aku menyuruh mereka membagi saham Adrian dengan atas nama orang lain 10 % waktu itu. Lalu aku ubah lagi atas namaku.” Nusa tersenyum sinis sambil membisik. Kaya tidak menanggapi Nusa, ia hanya diam saja.
Kaya mundur dari mibar dan Direksi itu maju. “Perhatian semuanya! Karena pak Nusa punya saham setengah dan ibu Kaya juga punya saham setengah dari perusahaan ini. Maka penentuan CEO akan kita ulang melalui voting dari kalian semua dan kita akan meeting sebulan lagi. Mengingat masih ada pekerjaan yang harus kita selesaikan masing-masing. Selama penentuan voting, agar adil ibu Kaya dan pak Nusa, saya berharap anda harus hadir setiap hari di perusahaan ini. Kalian harus berkontribusi dalam perusahaan ini. Apakah kalian setuju?” tanya Direksi tersebut menoleh ke belakang arah Kaya dan Nusa.
“Saya setuju,” jawab mereka bersamaan. Kaya dan Nusa langsung saling melihat dengan sinis, lalu mereka membuang muka.
“Jadi kalian pemegang sebagian saham dan pejabat tertinggi yang bekerja di sini. Saya harap kalian dapat menilai mereka melalui kinerja mereka di sini selama sebulan. Sekian dari saya, meeting akan ditunda bulan depan dan terimakasih.” Senyum Direksi tersebut.
Walaupun Danil tidak menyukai Kaya, ia akan adil jika urusan pekerjaan dan akan bersifat profesional. Itulah sifat Danil, berbeda dengan Direktur keuangan. Ia selalu setia dengan tuannya.
Semuanya pun bubar dan pergi dari ruangan meeting. Mereka keluar dengan perasaan kesal dan ada yang tertawa. Direksi itu pun pamit kepada Nusa dan Kaya yang masih berdiri di dekat mibar.
~ Bersambung ~