My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 49 ~ Nusa anak dari Tama.



~ Happy Reading ~


Di rumah Kaya.


          Kaya masih kepikiran tentang ucapan Nusa. Ia berjalan menuju tangga dengan tatapan melamun, tanpa sadar ada ayahnya yang duduk di sofa sambil menonton TV.


          “Kaya?” panggil ayahnya membuat lamunan Kaya buyar.


          “Iya pah,” toleh Kaya sambil memegang


pegangan tangga.


          “Kamu dari mana saja?” tanya Erlangga.


          “Kaya abis makan pah sama teman,” kelak Kaya dengan senyum.


          “Kamu jangan bohong?! Tadi papa lihat ada cowok yang teriak sama kamu?” tanya Erlangga.


          “Ohh itu teman pah,” jawab Kaya dengan senyum.


          “Kamu tidak berurusan dengan anaknya Tama kan Kay?” tanya ayahnya menatap penuh


kecurigaan.


          Kaya hanya diam. Dia heran dengan


pertanyaan ayahnya. Dalam pikirannya, kenapa ayahnya tiba-tiba bertanya seperti itu.


          “Papa enggak suka yah, kamu dekat dengan keluarga Tama!” tekan ayahnya.


           “Enggak kok pah,” ucap Kaya tersenyum dan kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


          Apa maksud papa yah? Apakah Nusa anak dari Tama? Tanya Kaya dalam hati.


          Kaya langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia mengambil ponsel dari tas dan melempar tas kecilnya ke tempat tidur. Kaya mencari nama Lita di ponsel, lalu meneleponnya.


          “….”


          “Halo Lit,” Kaya berbicara seperti orang kesetanan.


          “……”


          “Nama panjang Nusa siapa?” tanya Kaya.


          “….”


          Kaya yang mendengarnya langsung terkejut dengan menjatuhkan ponselnya ke bawah. Pikiran dan hatinya tiba-tiba membeku dalam sekejap, dengan tangan masih posisi seperti menelepon.


****


Di rumah Lita.


          Lita sedang membaca majalah sambil tengkurap di tempat tidurnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan ia mengambil ponsel tersebut di sebelahnya.


          “Kaya?” gumam Lita melihat layar


ponsel dan mengubah posisinya menjadi duduk menyilang.


          “Halo Kay,”


          “……”


          “Ada apa Kay?”


          “.....”


          “Oh.., aku kira kenapa? Makanya kamu nelpon kayak orang kesetanan?! Nama panjangnya yaitu NUSANTARA GEMILANG RAYA TAMA.” Jawab Lita


          Bruk!


          Lita mendengarkan sesuatu seperti


jatuh, tapi ia tak tahu apa dan panggilan Kaya langsung mati. Lita agak bingung dengan Kaya, karena ia tiba-tiba menelepon larut malam dan hanya menanyakan nama kepanjangan Nusa.


          Lita mencoba menelepon Kaya kembali.


Namun bukan Kaya menjawab, melainkan suara operator yang menjawab.


          Nomor yang ada tuju sedang sibuk. Silakan hubungi kembali lagi!


          “Ada apa dengan Kaya? Kenapa, aku merasa saat menyebutkan nama panjang Nusa, Kaya seperti menjatuhkan sesuatu? Apa itu ponselnya yang terjatuh?” tanyanya monolog.


           Lita berpikir dengan keras sambil memegang ponsel. “Apakah?” gumam Lita mengingat kembali memori masa SMA.


Flash back...


          “Kay, main yuk ke Mall?” ajak Lita sambil berjalan bersebelahan dengan Kaya di lorong sekolah.


          “Aku enggak bisa Lit,” tolak Kaya dengan senyum.


          “Yah…, kenapa?” tanya Lita.


          “Aku enggak punya uang. Kamu kan udah tahu sendiri?! Aku udah enggak kayak dulu lagi. Udah itu aku ada jadwal ngajarin les anak orang.” Jawabnya.


          “Iya aku inget. Kamu udah bangkrut gara-gara ditipu orang.” Celetuk Lita. Kaya pun berhenti dan menatap Lita dengan sinis.


          “Maaf Kay, aku keceplosan.” Nyengir Lita. Kaya berjalan lagi bersama Lita.


          “Kay, siapa sih yang nipu papa kamu?” tanya Lita.


          Maaf Lit, aku tidak bisa cerita karena di larang papaku.


          Kalo dia enggak tahu? Kenapa dia tahu, kalo orang itu punya perusahaan besar dan restoran terkenal di Indonesia? Lita bertanya dalam hatinya.


***


Di rumah Lita.


          Lita masuk ke dalam rumah dan berjalan


menghampiri ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tamu.


          “Pah,” panggil Lita berdiri di samping ayahnya.


          “Hem,” gumam Brahma.


          “Papa tahu enggak sih? Siapa yang nipu papanya Kaya?” tanya Lita.


          Brahma yang sedang minum kopi langsung tersedak dan memuncratkan minuman tersebut ke koran yang dibacanya.


          “Papah kok keselek sih?” tanya Lita dengan heran.


          “Lagian kamu nanya begitu,” jawab Brahma.


          “Lagian aku penasaran pah. Soalnya Kaya juga enggak tahu katanya.”


          “Kaya aja enggak tahu, apalagi papa.” Elak Brahma.


          “Yaudah deh aku ke atas dulu!”


          “Iya.”


          Lita berjalan menaiki tangga dengan memegang pegangan tangga. “Masa sih papa enggak tahu?! Dia kan sahabat papanya Kaya juga. Masa iya papa Kaya enggak cerita?!” curiga Lita sambil berjalan menaikit tangga menuju kamarnya.


Flash back berakhir...


          “Apa, jangan-jangan ayahnya Nusa yang menipu Kaya, karena Om Tama juga punya restoran terkenal di sini?” curiga Lita.


          “Aku harus bertanya ke papa sekarang juga?”


          Lita beranjak dari kasur menuju ke bawah. Ia menghampiri ayahnya yang sedang menonton Tv di ruang tamu.


          “Pah, kenapa saat Kaya mendengar nama panjang Nusa dia kaget?” tanya Lita langsung tanpa basa-basi.


          “Maksud kamu?” tanya Brahma bingung.


          “Iya, tadi Kaya nelpon aku dan menanyakan nama panjang Nusa. Ia  seperti kaget dan menjatuhkan ponselnya ke lantai.”


          Brahma langsung terkejut mendengarnya dan berdiri di depan Lita. Bangkai jika disimpan


juga akan ketahuan juga rupanya.


          “Apakah keluarga Nusa yang menipu keluarga Kaya?” tanya Lita terus terang.


          “Iya kamu benar,” jawab Brahma pasrah.


          Lita langsung terkejut dan merasa  bersalah terhadap Kaya. Ia tidak menyangka keluarganya sendiri yang menipu keluarga Kaya.


          “Kenapa papa tidak cerita terhadap Lita?” tanya Lita dengan kesal.


          “Karena papa enggak mau persahabatan kalian hancur Lit.” Jawab Brahma dengan lirih menghadap Lita.


          “Tapi dengan begini, Kaya akan berpikir aku berpura-pura menjadi temannya dan sudah


mengetahuinya.”


          “Kaya tidak tahu, karena papa Kaya sudah berjanji tidak akan memberitahu Kaya. Kalau kamu termasuk keluarga Tama dan keponakan pamanmu.”


          “Kaya sudah tahu pah?”


          “Apa?”


          “Aku kan pernah cerita kalau aku


bertemu Nusa di Mall dan Nusa adalah rekan kerja Kaya sekarang. Saat ketemu di Mall, aku bilang ke Kaya bahwa dia adalah sepupu aku.” Jelas Lita.


          “Apa?” Brahma terkejut mendengar Kaya


satu rekan kerja dengan Nusa.


          “Kenapa papa menyembunyikan hal


sebesar ini dari aku begitu lama?”


          “Maafkan papa Lit. Papa enggak mau


persahabatan kalian hancur hanya karena masalah pribadi keluarga kita.”


          “Papa tahu enggak? Kaya merasa menderita selama ini dan yang buat itu keluarga kita. Aku enggak menyangka paman yang ku anggap baik selama ini, ternyata berbuat kotor hanya demi perusahaan.” Ucapnya dengan marah.


          “Maafin pamanmu Lit. Dia melakukannya karena ada alasannya sendiri.” Ucap Brahma.


          “Apapun alasannya harusnya dia tidak melakukan itu! Aku sendiri saksi hidup Kaya pah. Melihat Kaya banting tulang demi menghindupi keluarganya. Tapi apa, ternyata keluargaku sendiri yang bikin dia menderita. Aku tak menyangka?! Dan papa menyembunyikan semuanya dari aku?!” Lita sangat kecewa sekali, ia berjalan menuju kamar meninggalkan ayahnya.


          “Lit, papa bisa jelasin.” Teriak Brahma


yang melihat putrinya sudah di atas masuk ke kamar.


~ Bersambung ~