
~ Happy Reading ~
Malam hari.
Adrian dan Lita duduk saling berhadapan di sebuah kafe dengan makanan yang sudah di pesan dan di meja mereka.
“Kamu apa kabar?” tanya Lita sambil memotong steaknya.
“Baik,” jawab Adrian singkat.
“Katakan padaku, apa yang ingin kau bicarakan tentang Kaya?” tanya Adrian tanpa basa-basi, sambil memotong steaknya juga.
Lita menghentikan memotong steaknya dan memandang Adrian. “Sebenarnya Kaya tidak bermaksud untuk menyakitimu. Dia berpikir kamu adalah anak dari Wijaya Tama.”
“Lalu?” tanya Adrian memakan potongan daging tersebut.
“Oleh karena itu, dia menolak kamu jadi pacarnya.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku tahu dari Nusa.” Jawab Lita.
Flash back....
Di rumah Lita.
Lita duduk di kasur sambil menelepon seseorang.
“…..”
“Halo Nus,”
“......”
“Aku mau tanya Nus? Apakah kamu sudah tahu kalau paman dulu pernah membuat hidup keluarga Kaya menderita?”
“….”
“Sejak kapan kamu tahu?” tanya Lita menyelidik.
“…..”
“Apa maksud kamu Nus?” tanya Lita bingung.
“….”
“Nusa, aku enggak bercanda!” tegas Lita.
“…..”
“Tapi aku lagi enggak bercanda!” ketus Lita.
“….”
“Aku serius, apakah kamu sudah tahu kalau paman yang membuat keluarga Kaya menderita?” tanya Lita dengan serius.
“…..”
“Sejak kapan?”
“…..”
“Maksudnya?”
“….”
“Lalu?”
“….”
Kenapa aku enggak percaya sama Nusa yah? Sepertinya masih ada yang ditutupin dari dia. Soalnya, dia biasa saja, Kaya mengambil alih perusahaannya, batin Lita bertanya-tanya.
“Terus, kamu enggak marah sama Kaya?” tanya Lita.
“….”
Apa iya dia enggak marah sama Kaya? Setelah Kaya mengambil semuanya dari papanya, batin Lita.
“Tapi itu pantas buat papa kamu bang, karena aku tahu penderitaan Kaya selama ini walaupun aku tahu caranya salah.”
“…..”
“Iya aku tahu, tapi ini salah paman duluan Nus.”
“….”
“Maksudnya?”
“….”
“Kenapa kamu menjelaskannya ke aku Nus?” tanya Lita.
“….”
“Kenapa tidak kamu saja?”
“….”
“Kenapa kamu berhenti?”
“….”
“Baiklah nanti aku sampaikan kepada Adrian.” Ucap Lita terpaksa, padahal dalam hati, ia tak mungkin menyampaikan hal itu karena dirinya masih mencintai Adrian.
“…..”
“Nus,”
“Aku tahu selama ini kamu tidak pernah akur sama paman. Tapi, apakah kamu tidak merasakan empati kepadanya? Apalagi aku dengar dia sakit?”
“…..”
Apa iya Nusa sebegitunya membenci papanya sendiri.
****
Nusa yang sedang duduk di meja dapur
melihat ponselnya bergetar diatas meja dapur tersebut. Ia pun mengambil ponselnya, sambil memegang gelas yang berisi alkohol dengan es.
“Halo,” jawabnya sambil meminum.
“….”
“….”
“Iya,” jawabnya dengan pandangan
sinis.
“…..”
“Sejak kamu bicara ke aku Lit,” jawab Nusa tersenyum sinis.
“….”
“Aku sudah tahu semuanya barusan dari kamu,” canda Nusa sambil minum.
“….”
Nusa terkekeh. “Santai dikitlah, aku hanya bercanda Lita.”
“….”
“Oke..., oke..., aku enggak bercanda.”
“….”
“Iya, aku sudah tahu.”
“…..”
“Baru saja tadi,” kelak Nusa sambil minum dengan cool.
“Iya. Kaya tadi mengumumkan kalau dia akan pindah ke perusahaan papa menjadi CEO dan aku kaget mendengarnya. Lalu aku menemui papa untuk menanyakan hal tersebut. Dan dia sudah menceritakan semuanya.”
“…..”
“Yah hanya itu saja. Papaku memang mengaku pernah melakukan itu, sehingga Kaya
balas dendam dan mengambil perusahaannya.”
“……”
“Enggak. Buat apa marah? Wijaya memang dari dulu licik. Kan, kamu tahu sendiri masa laluku?!” kelak Nusa.
“….”
Lita.., Lita…, kamu pasti akan membela dia, secara dia sahabat kamu, batin Nusa tersenyum sinis.
“Yahhh..., emang dia bersalah tapi Kaya juga bersalah telah menipunya.”
“…..”
“Kenapa kamu jadi menyalahkan paman melulu Lit. Yasudahlah, dia udah dapat ganjarannya dari Kaya.”
“Ohh iya Lit. Aku mau kasih tahu sepertinya Kaya salah paham, dia mengira Adrian anak dari papaku.”
“….”
“Aku enggak sengaja mendengar perbicangan Adrian dan Kaya di depan toilet dan Kaya mengatakan ‘aku enggak akan bisa menyukai orang yang telah menghancurkan keluargaku.’ Jadi aku berpikir mungkin saja Kaya menolak Adrian karena salah paham.”
“…..”
“Karena aku ingin kamu menyampaikan ke Adrian, agar dia tidak membenci Kaya.” Nusa meminum alkoholnya sambil tersenyum sinis.
“…..”
“Karena aku sudah tidak bekerja di sana lagi dan aku banyak urusan yang harusku kerjakan.”
“…..”
“Aku ada urusan penting.” Jawab Nusa.
“…..”
“Yaudah yah, aku tutup dulu Lit. Aku masih ada urusan.”
“….”
“Iya.” Jawab Nusa mengambil botol alkohol dan menuangkan ke gelas.
“…..”
“Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Buat apa aku empati kepadanya.” Kelak Nusa.
“……”
“Yaudah yah aku lagi ada urusan!” Nusa menutup telepon dan menaruh ponselnya di meja. Ia meminum lagi alkoholnya sambil tersenyum sinis.
Maafin aku Lita, aku berbohong. Aku enggak mau dari kalian semua ikut campur urusanku dengan Kaya. Lagi pula aku sengaja memberitahu kamu, agar Adrian tidak membencinya dan melupakannya.
Sementara kamu Lit, aku enggak akan mungkin memberitahu kamu kenapa papaku melakukan itu. Karena kamu akan langsung bilang itu terhadap Kaya dan aku mau semua sesuai dengan rencanaku. Biarlah nanti kamu membenciku juga, tapi aku tahu kamu enggak akan lama membenciku Lita.
Dan untuk kamu Kaya, aku akan buat kamu menderita seperti apa yang dirasakan oleh mamaku akibat ulah papamu.
Flash back berakhir...
Adrian berhenti makan steaknya dan menatap Lita dengn tajam. “Kenapa Nusa tidak memberitahuku?”
“Aku juga enggak tahu Adrian. Dia hanya bilang kalaudia banyak urusan.” Jawab Lita.
“Tapi bukannya Nusa akan menggantikan Om Wijaya di sana?” tanya Adrian dengan cool.
Lita langsung terkejut. Nusa menggantikan paman? Bukannya Kaya menjadi pemilik perusahaan tersebut sekarang? Lalu kenapa Nusa tidak memberitahuku? Apa yang sebenarnya Nusa sembunyikan dariku? Tanya Lita dalam hati.
“Aku enggak tahu soal itu Adrian,” jawab Lita.
“Ini lucu sekali, kamu sama sekali tidak tahu. Padahal kamu saudaranya Nusa.” Adrian tertawa kecil. Lita hanya terdiam dan masih heran dengan ucapan Adrian.
“Yasudahlah Ta, aku sudah lupakan tentang Kaya. Aku akan maafkan dia. Lagi pula dia selama ini salah paham.” Adrian melanjutkan makanannya dengan senyum.
Kenapa Adrian biasa saja dan cepat sekali melupakannya. Yasudahlah..., aku harus berpikir positif, batin Lita.
“Adrian, apakah Nusa mengatakan sesuatu lagi selain hal itu?” tanya Lita.
“Tidak, terakhir kita bertemu di acara perpisahan Kaya. Dia menyampaikan bahwa dia ingin resign dan menggantikan Om Wijaya. Hanya itu saja.” Adrian tersenyum.
Menggantikan paman? Ini berarti Nusa dan Kaya akan bertemu di perusahaan yang sama. Lalu jika Kaya menjadi pemilik perusahaan Paman. Nusa jadi apa di sana. Ini sangat membingungkanku?
“Oh...,” senyum Lita melanjutkan memotong steak dan memakannya.
Sebenarnya apa yang terjadi antara paman dan keluarga Kaya. Apakah papa tahu alasan kenapa paman melakukan ini terhadap keluarga Kaya? tanya Lita dalam hati sambil memotong steaknya.
~ Bersambung ~