My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 56 ~ Alasan Dendam Nusa.



~ Happy Reading ~


          Nusa mengendarai mobilnya menuju apartemennya. Ia menyetir sambil mengingat kembali perkataan Kaya di ruang meeting.


          Kenapa kamu selalu ingin membalas perbuatanku Nusa? Harusnya kamu tahu bahwa papa kamu yang sudah membuat keluargaku hidup melarat dan menjad kekurangan uang. Kenapa kamu selalu


menyalahkan diriku? Kenapa kamu tidak terima kalau papa kamu yang berbuat jahat?


Flash back....


          Nusa yang pulang dari rumah Kaya, saat terakhir perpisahan Kaya bekerja di perusahaan Adrian. Ia melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Banyak hal yang ingin ditanyakan olehnya kepada ayahnya sendiri.


Di rumah sakit.


          Nusa masuk ke ruangan ayahnya, ia melihat ayahnya sedang santai duduk bersandar pada tembok dengan meregangkan kaki di tempat tidur. Lalu berjalan menghampiri ayahnya.


          “Nusa,” toleh Wijaya saat Nusa masuk.


          “Ada yang ingin ku bicarakan kepadamu!” Nusa menghadap ayahnya.


          “Apa?” tanya Wijaya.


          “Kenapa anda menipu keluarga Kaya?” tanya Nusa dengan serius.


          “Dari mana kamu tahu?” tanya Ayahnya balik.


          “Jawab aku!” bentak Nusa. “Kenapa anda menipu keluarganya dan siapa sebenarnya Dirgantara tersebut?” Wijaya hanya terdiam dan tidak memberikan jawaban kepada Nusa.


          “Jika anda diam berarti anda memang seorang pria yang sangat kejam.” Nusa melihat Wijaya dengan benci.


          Wijaya langsung menoleh ke arah Nusa dan menatap anaknya yang memandang dengan kebencian.


          “Kamu tidak tahu apa-apa tentang ini. Papa tidak mau kamu mengetahuinya.”


          “Oleh karena itu, makanya beri tahu aku?! Kenapa papa membuat keluarga Dirgantara hancur? Sehingga anaknya yang bernama Kaya membalaskan dendam kepada kita. Kenapa?” tanya Nusa berteriak dengan perasaan yang bercampur aduk.


          “Karena dia yang membuat mamamu meninggal secara perlahan.” Sarkas Wijaya yang kesal diteriaki oleh Nusa.


          Nusa langsung terdiam mematung, ia tidak mengerti apa yang dimaksud ayahnya.


          “Apa maksud papa?” tanya Nusa.


          “Dirgantaralah yang membuat mamamu meninggal. Papa Kaya yang  bernama Erlangga Drigantara adalah cinta pertama mamamu sejak SMP. Papa, mamamu dan Erlangga adalah sahabat sejak dari SMP. Mamamu mencintai Erlangga dan mereka pacaran dari SMP.” Ucapnya terjeda menghela nafas terlebih dahulu.


          “Namun, semua berubah semenjak kuliah. Erlangga tertarik dengan seorang perempuan yang sangat cantik di kuliah dan perempuan itu idola kampus. Namanya adalah Mina. Mina juga menyukai Erlangga dan Erlangga memutuskan untuk putus hubungan dengan mamamu, lalu menjalin hubungan dengan Mina. Mereka pun akhirnya menikah, karena Mina menjebak Erlangga untuk menikahinya.”


          “Papa kasihan melihat mamamu, akhirnya memutuskan untuk menikahi mamamu dan mencoba mencintai mamamu agar ia bisa melupakannya. Namun, Erlangga kembali bertemu dengan mamamu dan meminta maaf menyesali semuanya. Saat mamamu sedang mengandungmu dia selalu bertemu dengan Erlangga dan kembali lagi ceria. Papa yang melihatnya membiarkannya, agar mamamu merasa bahagia.”


          “Tapi ketika Mina melahirkan Kaya. Erlangga berubah, dia memutuskan untuk tidak menemui mamamu lagi. Di saat itu kau sudah lahir sebelum Mina lahir. Kau dan Kaya hanya beda beberapa bulan saja. Mamamu yang kecewa memutuskan untuk diam dan tidak berbicara lagi. Dia selalu mencampakan kamu dan Papa. Mamamu selalu membiarkan kamu menangis, akhirnya papa yang menggendongmu dan memberimu susu.”


          “Papa yang sudah tidak tahan dengan sikap mamamu akhirnya membentak mamamu dan menyuruhnya untuk melihat anaknya sendiri. Akhirnya dia mau dan memperhatikanmu hingga besar. Namun perasaanya tetap saja tidak bahagia. Dia selalu memikirkan Erlangga. Itulah sebabnya papa mabuk terus dan tidak memperdulikan kalian. Karena papa tidak kuat lagi dicampakkan oleh mamamu.”


          Wijaya menjelaskan kepada Nusa dengan panjang lebar tentang masa lalunya dengan Erlangga. Ia bercerita dengan muka yang sangat sendu seakan sedih jika melihat ke masa lalunya lagi.


          Nusa yang mendengarnya merasa sangat bersalah sekali. Selama ini, ia mengira ibunya mencampakan dirinya karena ayahnya yang sering mabuk tapi ternyata bukan, itu semua karena mantan pacar ibunya.


          “Apakah mama meninggal bunuh diri karena Erlangga pah?” tanya Nusa.


          “Iya,” jawabnya.


          “Kenapa papa tidak pernah cerita kepadaku?” Nusa membentak papanya.


          “Karena kamu sudah memandang papa jahat.” Wijaya membentak kembali Nusa.


          “Lagi pula ini bukan urusanmu! Setelah mamamu meninggal waktu kamu masih SMP. Papa membangun kembali hubungan dengan Erlangga dan menghancurkannya dengan perlahan. Itulah kenapa papa membuat keluarga Dirgantara hancur.”


          “Tapi papa tidak menyangka, anaknya yang bernama Kaya membalasnya dan menipu papa melalui Boni.”


          “Papa harusnya memberitahuku sebelum semuanya terjadi?! Karena...,” Nusa menghentikan perkataannya.


          “Karena apa Nusa?”


          Karena aku sudah menyukainya pah, batin Nusa.


          “Apakah kamu mencintai anak Erlangga?” tanya Wijaya asal.


          “Apa maksud papa?” tanya Nusa balik.


          “Jika kau mencintainya, kau harus buat dia jatuh cinta denganmu. Agar kau leluasa menghancurkannya. Begitu cara membalas musuh.” Saran Wijaya.


          Nusa yang mendengarnya sedikit terkejut, ayahnya memang licik dalam hal apapun. “Aku akan lakukan itu tanpa disuruh olehmu. Tapi berjanjilah, papa tidak akan ikut campur!”


          “Papa percaya padamu. Buat apalagi papa ikut campur. Semua saham sudah ada di dirimu dan anak Erlangga.”


          “Aku minta maaf atas semuanya.” Nusa membalikkan badan dan hendak pergi.


          “Nusa,” panggil Wijaya dan Nusa berhenti melangkah.


          “Kembalilah ke rumah nak?” mohon Wijaya dengan lirih.


          “Aku tidak bisa kembali ke rumah itu, karena rumah itu penuh dengan kenangan buruk.”


          “Nusa, kenapa kamu masih saja tidak kembali? Setelah semua yang papa jelaskan. Papa kesepian selama ini Nus.” Lirihnya menatap punggung Nusa yang keluar pintu.


Flash back berakhir....


          “Aku akan buat hidup kamu menderita Kaya! Sama seperti mamaku yang menderita karena ulah papamu.” Nusa memandang ke depan dengan sinis, sambil mengendarai mobilnya dengan cepat.


          “Aku akan jawab pertanyaanmu, saat kamu sudah hancur di tanganku!”


          “Erlangga, kamu akan menerima akibatnya melalui anakmu sendiri!” sinisnya.


Di ruangan meeting.


          Kaya duduk termenung memikirkan ancaman Nusa. Hatinya merasa sedih mendengar semuanya. Perasaan cinta membuatnya menderita menghadapi Nusa.


          “Bu Kaya?” panggil Mila. Kaya pun menoleh.


          “Iya,” ucapnya berusaha tersenyum.


          “Bu, pak Nusa mana yah? Soalnya HPnya ketinggalan di meja saya.” Mila menyodorkan ponselNusa ke Kaya.


          “Sini saya yang kasih. Saya tahu rumahnya.” Kaya berdiri dan menerima ponsel Nusa dari tangan Mila.


          “Oh kalau gitu makasih yah bu. Saya pamit dulu pulang.” Mila tersenyum dan meninggalkan Kaya di ruangan tersebut.


~ Bersambung ~