
~ Happy Reading ~
Nusa mengajak Kaya untuk makan malam di luar, tapi Kaya menolaknya. Alhasil Nusa menyiapkan di apartamennya. Sebelum Nusa kembali ke apartemen, Nusa sudah menyuruh asistennya untuk menyiapkan makam malam di meja makannya.
Nusa sengaja menutup mata Kaya untuk masuk ke dalam apartemennya. Ia menuntun Kaya menuju meja makan. Nusa membuat ruang makannya menjadi romantis sekali.
Makan malam yang di siapkan Nusa sungguh mewah semua. Makanan tersebut buatan koki termahal di Tama dengan anggur yang berada di tengah meja. Suasananya juga di buat seromantis mungkin dengan lampu yang semuanya padam kecuali meja makan dengan lilin di tengahnya dan lampu kecil kelap kelip yang tergantung di atas meja makan.
Contohnya seperti ini:
Nusa menggeser kursi untuk Kaya dan menyuruhnya duduk. Ia menyuruh Kaya untuk tak membuka penutup matanya terlebih dahulu. Lalu Nusa duduk di hadapannya.
“Kamu bisa membukanya!” titah Nusa dan Kaya melakukannya.
Kaya terkejut melihat sekelilingnya begitu gelap tapi indah dengan lilin di meja dan lampu kerlap-kerlip di atas meja makan. “Apa ini Nusa? Buat apa kamu melakukannya?” tanya Kaya.
“Untuk merayakan kemenanganmu sebagai CEO di Tama,” jawab Nusa.
Kaya memang senang Nusa memberikan kejutannya, tapi dia tak mau ini untuk kemenangan dirinya sebagai CEO. Dirinya tak pantas mendapatkan semua ini. Kaya hanya tersenyum melihat semuanya.
“Kamu suka Kay?” tanya Nusa dan Kaya mengangguk senang.
“Aku sangat senang sekali. Terimakasih sayang, tapi kau harusnya tak perlu melakukan semua ini sayang.” Kaya membelai pipi Nusa dengan lembut.
“Aku ingin melakukannya karena kamu adalah kekasihku, jadi aku tak keberatan melakukan ini.” Nusa mengambil tangan Kaya yang berada di pipinya dan mengelus punggung tangannya. “Ayok kita makan sayang, pasti dirimu sangat lapar sekali.”
“Kamu tahu aja Nus,” senyum Kaya.
“Apa yang tidak aku tahu tentangmu!” senyum Nusa sambil memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Nusa menuangkan anggur ke dalam gelas Kaya dan gelasnya. Mereka bersulang sambil mengobrol dengan gembira dan tersenyum bahagia.
Contohnya:
Waktu sudah tengah malam. Kaya menempelkan kepalanya di meja makan sambil mendengarkan cerita Nusa yang lucu dengan tertawa. Terkadang Nusa membuat dirinya sangat bahagia. Dia paling bisa membuat Kaya tersenyum dan mudah tertawa dengan ceritanya.
Tak lama kemudian Kaya menutup matanya karena mengantuk dan terlelap tidur. Nusa yang melihatnya tersenyum dan berdiri dari kursi. Di gendongnya Kaya ala bridal menuju kamar atas sambil menyalakan lampu.
Nusa meletakkan Kaya dengan hati dan melepaskan sepatunya. Ia menyelimuti Kaya sampai leher dan duduk di sampingnya. Nusa menggeser rambut Kaya ke arah samping agar dapat melihat wajahnya.
“Maafkan aku untuk selanjutnya Kay,” lirih Nusa sambil memperhatikan Kaya yang tertidur sambil menggerakkan kepalanya sedikit.
Nusa berdiri meninggalkan Kaya. Ia kembali menuju bawah dan berjalan menuju dapur mengambil sebuah botol anggur. Lalu dirinya kembali ke kamar atas dan melangkah menuju balkon.
Tangannya menumpu pagar balkon sambil memegang botol anggur tersebut. Angin malam yang berhembus tak membuat Nusa kedinginan. Matanya menatap ke arah langit-langit dan kadang tersenyum mengingat kejadiannya bersama Kaya.
Nusa meneguk botol tersebut dan tersenyum mengenang semuanya bersama Kaya. Apartemen Nusa dapat melihat suasana lampu jalan dan rumah yang berada di sana. Kota yang sangat padat membuat suasana malam semakin indah dengan lampu dimana-mana.
***
Kaya terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya. Rupanya ia ada di kamar atas Nusa. Kaya melirik ke arah jam di meja dan jam menunjukkan pukul dua subuh. Lalu dirinya melirik ke arah pintu balkon yang terbuat dari kaca terbuka.
Kaya menggeser selimutnya dan berjalan menuju balkon. Melihat Nusa beridir di balkon sambil memandang langit membuatnya bingung. Pasalnya sekarang sudah jam dua subuh dan dia belum tidur sama sekali.
Kaya memeluk Nusa dari belakang membuat Nusa yang ingin minum tak jadi. “Ada apa? Kenapa belum tidur Nus?” tanya Kaya melepaskan pelukannya.
Nusa membalikkan badannya dan mencoba tersenyum. “Tidak ada, hanya saja aku susah tidur.” Jawabnya.
“Masuklah dan tidur! Di sini dingin sekali sayang!” titah Kaya dan Nusa mengangguk. Mereka masuk bersama dan Nusa menutup pintu balkon, lalu meletakkan botolnya di meja.
“Tidurlah!” ucap Nusa membenarkan selimut Kaya yang sudah berbaring di kasur.
“Baiklah,” Nusa berbaring di sebelah Kaya.
“Nus,” panggil Kaya.
“Hem,” gumam Nusa.
“Jika yang tadinya kau anggap benar ternyata kebohongan dan orang itu adalah orang paling dekat darimu. Apa yang akan kamu lakukan?” Kaya membalikkan dirinya berbaring menyamping ke arah Nusa.
Nusa pun berbaring menyamping mengarah Kaya. “Mungkin aku akan membencinya.” Ucap Nusa menatap manik mata Kaya.
Benar, kata mama. Jika Nusa mengetahui yang sebenarnya dia akan semakin membenci ayahnya sendiri. Ucap Kaya dalam hati.
“Kenapa?”
“Hem,”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Nusa.
“Tidak ada, aku hanya bertanya.” Jawab Kaya dengan senyum.
Nusa membelai pipi Kaya dengan lembut dan Kaya mengelus punggung tangan Nusa. “Tidurlah Nus! Besok aku harus pulang.”
“Oh iya, besok lusa adalah hari kau bertunangan dengan Jessica.”
“Iya, dan kau harus datang!”
“Iya,”
“Kau tak berubah pikiran kan sayang?” tanya Nusa.
“Kau ini! Mana mungkin aku berubah pikiran, saat kau akan mengumumkan aku adalah kekasihmu nanti.” Tawa Kaya.
“Yah mungkin kau malu aku mengumumkan di depan banyak orang,” ucap Nusa dengan senyum. Kaya terkekeh mendengarnya.
“Mana mungkin aku malu mempunyai kekasih serba bisa. Bisa masak, bisa menghibur, bisa berbisnis, bisa menggombal dan bisa apa lagi yah?!” Kaya berpikir sejenak.
“Oh iya? Bisa mesum.”
Nusa yang mendengarnya terkekeh dan mencubit pipi Kaya. “Aw, sakit tau!” Kaya memukul lengan Nusa.
“Kau ini! Tidurlah ini sudah mau pagi!” titah Nusa dan Kaya mengangguk tersenyum sambil memeluk Nusa.
Kaya menutup matanya sambil mendengarkan detak jantung Nusa. “Nus,” panggil Kaya.
“Hem,” gumam Nusa.
“Aku mencintaimu,” senyum Kaya.
“Aku juga mencintaimu,” balas Nusa dengan senyum.
“Aku tahu itu,”
“Lalu kenapa kau bertanya?” Kaya hanya terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
“Selamat malam sayang,”
“Sekarang bukan malam lagi sayang tapi subuh,”
Kaya terkekeh lagi mendengar jawaban Nusa. “Kau benar selamat subuh sayang.”
“Selamat subuh juga sayang,” Nusa tersenyum geli sambil menutup matanya.
~ Bersambung ~