
~ Happy Reading ~
Belakangan ini Adrian sering sekali menjemput Kaya setiap pagi dan juga mengajaknya makan di pagi hari. Sikap Adrian membuat Kaya merasa aneh. Kaya merasa tidak suka dengan sikapnya yang berubah menjadi perhatian dan baik. Entah kenapa, padahal Kaya menargetkannya menjadi pacarnya.
Setiap hari juga Nusa selalu memperhatikan mereka berdua. Nusa merasa tidak suka dan curiga kepada Adrian. Ia berpikir, Adrian sudah jatuh cinta terhadap Kaya.
Adrian dan Kaya masuk ke ruangan masing-masing. Nusa yang melihat Kaya sudah masuk ke ruangan menghampirinya.
“Kay?” seru Nusa langsung masuk ke dalam ruangan dan duduk di depan meja Kaya.
“Apa Nus?” tanya Kaya yang fokus melihat layar komputernya.
“Kamu kok selalu bareng Adrian berangkat kerja?”
“Kenapa? Kamu cemburu yah?” canda Kaya.
“Iya,” jawab Nusa yang terlihat jelous sekali.
“Yaelah Nus, dia yang mau kok. Aku udah pernah bilang, bapak jangan sering-sering jemput saya, nanti merepotkan bapak.” Kaya menjelaskannya.
Kenapa aku jadi jelasin ke dia yah? tanya Kaya dalam hati.
“Mungkin dia suka kali kay sama kamu, makanya dia ngomong begitu.”
“Kayaknya enggak mungkin deh Nus,” ucap Kaya.
“Mungkin ajalah, secara kamu kan genit sama dia!” ejek Nusa.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Kaya kaget mendengar ucapan Nusa yang secara tidak langsung mengatai dirinya.
“Kamu genit sama dia!” jelas Nusa dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Kok kamu jadi ngejek aku sih Nus? Kalau pun aku genit sama dia emang kenapa?” tanya Kaya dengan ketus.
“Yah enggak papa sih. Yaudah, kamu lanjutkan kegenitan kamu sama dia biar kamu dapatkan yang kamu mau dari dia!” Nusa keluar ruangan Kaya dengan sikap cemburunya.
“Kenapa sih dia?” tanya Kaya monolog dengan mengerutkan dahi.
“Kenapa jadi cemburuan banget begitu biasanya kagak seperti itu?” gumam Kaya.
***
Saat istirahat..
Kaya, Nusa dan Adrian seperti biasa selalu makan bersama saat istirahat. Mereka berjalan menuju tempat restoran yang ada di seberang jalan dekat dengan kantornya.
Adrian dan Nusa jalan sejajar bersamaan, sedangkan Nusa tertinggal di belakang melihat
mereka berdua yang sedang mengobrol dengan asyik. Adrian dan Nusa berhenti berjalan. Mereka menunggu jalanan sepi untuk menyebrang.
Kaya yang kurang fokus melihat jalan memulai melangkah untuk menyebrang. Tapi ternyata masih ada kendaraan motor dengan kecepatan tinggi lewat.
“Awas Kay!” Adrian yang melihatnya langsung sigap dengan menarik tangan Kaya dan memeluknya di dada depannya.
Nusa yang tidak jauh di belakang mereka kaget melihat Kaya hampir saja di tabrak. Ia tadinya berusaha untuk menolong Kaya, namun tangannya di turunkan kembali. Karena Kaya
sudah di tolong oleh Adrian.
Sementara Kaya merasa kaget dirinya dipeluk oleh Adrian dengan lembut. Dan tak sengaja matanya menatap Nusa yang tidak suka melihatnya. Dalam hatinya, ia memanggil
nama Nusa dengan lirih.
“Kamu enggak apa-apa Kay?” tanya Adrian melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Kaya.
“Enggak kok pak, terimakasih.” Senyum Kaya.
Nusa langsung menghampiri mereka yang masih di tepi jalan. “Kamu enggak papa Kay?” tanya Nusa.
“Dia enggak papa bro,” jawab Adrian.
“Iya, saya tidak apa-apa pak Nusa.” Senyum Kaya.
“Yaudah, yuk kita menyebrang!” Adrian menarik tangan Kaya dan Kaya menarik tangan Nusa dengan erat. Nusa hanya mengikuti mereka berjalan.
Sampai di restoran. Kaya melepas tangan Nusa. Sementara Adrian belum melepas tangan Kaya dan menariknya untuk duduk.
“Oh iya, maaf Kaya.” Adrian sadar tangannya masih menggenggam tangan Kaya. Lalu ia melepaskannya.
“Iya pak, enggak apa-apa.”
Mereka pun duduk. Kaya duduk berhadapan dengan Adrian dan Nusa duduk di samping Adrian. Pelayan datang ke tempat mereka dan mereka langsung memesan makanan.
Sambil menunggu makanan tiba. Kaya dan Adrian saling mengobrol dan mereka kadang tertawa bersama. Sedangkan Nusa diam dari tadi. Sesekali Kaya melihat Nusa yang diam dengan tatapannya yang dingin membuat Kaya merasakan tak enak di hati.
Makanan pun tiba di bawakan oleh pelayan tersebut dan meletakkannya di meja. Adrian dan Kaya selalu mengobrol sambil makan. Hal itu membuat Nusa tidak nyaman. Dirinya kehilangan nafsu makan dan memainkan makanannya saja.
“Kay, Kay, kamu kalo makan selalu aja berantakan.” Adrian tersenyum menggelengkan kepalanya. Tangannya mengambil
tisu yang berada di meja.
Nusa juga mengambil tisu tersebut. Niatnya untuk mengelap mulut Kaya, namun dia tahan karena Adrian sudah lebih dahulu mengelapnya. Tangannya menggenggam tisu
tersebut dengan kuat dan membentuknya seperti bola, lalu membuangnya di bawah
Kaya sebenarnya tahu Nusa juga ingin mengelap mulutnya. Hatinya merasa tak enak kepada Nusa. Entah kenapa, ia takut Nusa salah paham padahal dirinya tidak ada hubungan dengan Nusa.
“Makasih Pak.” Kaya tersenyum melihat Adrian yang sudah selesai mengelap mulutnya.
“Sama-sama,” balas Adrian.
Mereka melanjutkan makannya dan tak sengaja Kaya menjatuhkan sendoknya ke kolong meja.
“Maaf pak, saya ambilkan dulu sendok saya!” Kaya tersenyum menunduk untuk mengambil sendokdi kolong meja.
“Yaudah di ganti aja Kay!” Adrian langsung memanggil pelayan dan menyuruhnya mengambil sendok.
Kaya menunduk mengambil sendok di kolong meja. Matanya melihat ke arah kaki Nusa. Ia melihat gumpalan tisu berbentuk bola tetap di kaki Nusa. Kaya berpikir itu tisu Nusa
yang tadinya ingin mengelap mulutnya. Kaya kembali lagi duduk tegap dan menaruh
sendok tersebut di meja.
“Ini Kay, sendoknya!”Adrian mengasih sendok tersebut dan Kaya mengambil dari tangan Adrian.
“Makasih pak,” senyum Kaya.
Di ruangan Nusa.
Kaya berdiri di samping Nusa yang duduk menghadap layar laptopnya. “Nus, kok hari
ini kamu bersikap cuek, diam dan dingin? Emang kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-napa,” jawab Nusa dengan cool.
“Aku tahu kamu hari ini berbeda. Kenapa?” tanya Kaya serius.
“Suka-suka akulah Kaya,” jawabnya ketus membuat Kaya membelalak tak percaya. Nusa tak pernah seketus ini kepada dirinya.
“Kok kamu sekarang emosian sih dari tadi?” desis Kaya.
“Suka-suka akulah Kaya! Apa urusannya sama kamu?” Jawab Nusa beranjak melewati Kaya dan meninggalkannya di dalam ruangan.
Melihat sikap Nusa tadi, Kaya merasa tak percaya bahwa itu Nusa. Ia keluar ruangan berjalan menuju ruangannya dan berpikir sejenak.
Setelah berpikir, Kaya mempunyai rencana untuk main ke apartemen Nusa nanti. Tapi, ia juga sadar kalau dirinya tadi pergi bersama Adrian. Jadi, dia harus cari alasan untuk menghidar dari Adrian saat pulang.
****
Saat pulang kerja.....
“Yuk!” ajak Adrian berdiri di depan ruangan Kaya.
“Maaf pak, hari ini saya ada janji bertemu dengan teman saya.” Ucap Kaya menghampiri
Adrian di depan pintu ruangannya.
“Ohh gitu, yaudah saya antar!”
“Eh, enggak usah pak.” tolak Kaya. “Saya sudah di jemput teman saya pak,” kelaknya
dengan senyum.
“Ohhh gitu. Yasudahlah, saya pulang duluan yah!” Adrian tersenyum dan melangkah ke arah pintu keluar.
“Iya pak, hati-hati pak Adrian.” Kaya melambaikan tangan ke Adrian sambil tersenyum.
“Iya Kaya,” Adrian tersenyum menoleh Kaya.
Kaya langsung menuju ruangan Nusa dan ternyata Nusa lagi bersiap-siap untuk pulang. “Aku pulang bareng kamu yah Nus!” ajak Kaya memegang tangan Nusa.
“Aku enggak bisa Kay. Lagi pula kamu kan tadi bareng Adrian?” Nusa melepaskan tangan Kaya dan berjalan keluar ruangan. Kaya pun mengikutinya.
“Aku mau main ke apartemen kamu.” Kaya mencoba membalas dengan senyum walau Nusa cuek padanya.
“Aku enggak bisa, kamu pulang aja!” tolak Nusa dengan dingin dan berjalan duluan meninggalkan Kaya yang melamun.
Kaya bingung dengan sikap Nusa hari ini. Dirinya melamun sejenak memikirkan sikap
Nusa. Lalu ia tersadar Nusa sudah berjalan duluan dan Kaya langsung berlari menyusulnya.
****
Adrian yang masih menyalakan mobil melihat Kaya dan Nusa berjalan menuju mobil Nusa.
“Katanya, Kaya mau ada janji sama temannya. Apa temannya itu Nusa? Sial!” Adrian memukul stir mobil dan memperhatikan mereka.
“Nusa, tunggu aku bareng!” Kaya membuka pintu mobil Nusa dan langsung masuk begitu aja.
Nusa yang sudah menyalakan mobil meminta Kaya turun dari mobilnya tapi tetap saja Kaya tidak mau turun. Nusa pun menyerah, dan menjalankan mobilnya.
Di sisi lain, Adrian merasa tidak suka dengan kedekatan Nusa dan Kaya. Dirinya berencana ingin mengikuti mereka, tapi Adrian terlalu malas untuk kepo. Jadinya Adrian
memilih pulang dari pada mengikuti mereka.
~ Bersambung ~