
Mina berjalan mencari buku di rak perpustakaan. Ia mencari sebuah buku manajemen keuangan. Namun tiba-tiba Wijaya menarik tangannya dengan kasar, lalu membalikkan badannya menghadap dirinya.
“Apakah kau senang sekarang?” tanya Wijaya dengan sinis.
“Maksudnya?” tanya Mina bingung.
“Kau senang Erlangga putus dengan Kasih kan?” tuduh Wijaya.
“Apa yang kau bicarakan Wijaya?”
“Kau senang mereka bertengkar bukan?”
“Heh, sepertinya yang senang itu bukan aku tapi dirimu Wijaya.”
Wijaya terdiam membeku mencerna ucapan Mina. “Sudahlah, kau tak usah berpura-pura marah padaku!” Mina mendorong tubuh Wijaya agar mereka tidak terlalu dekat.
“Apa maksudmu?”
“Kau senang mereka bertengkar bukan? Kau menyukai Kasih bukan?” tanya Mina terus terang.
Wijaya yang tadinya bingung mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum licik. “Rupanya kau sudah tahu! Baguslah, jadi kau tak perlu menyukaiku lagi!”
Mendengar itu rasanya Mina ingin sekali memukul Wijaya. Rupanya Wijaya sudah tahu dirinya menyukainya. “Kau sudah tahu aku menyukaimu, tapi kau berpura-pura selama ini?”
“Yap,” Wijaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.
“Asal kau tahu Mina, aku tak mungkin menyukai dirimu!”
“Tapi kenapa?” tanya Mina. “Aku cantik dan primadona kampus ini?” tanya Mina.
“Kau mau tahu?” Wijaya mendekatkan mukanya menuju kuping Mina. “Kau terlalu murahan bagiku!” bisik Wijaya dengan senyum.
Sungguh menyakitkan mendengar bisikan Wijaya. Mina ingin menampar Wijaya, namun Wijaya langsung menangkis tangan Mina.
“Jangan berani-berani menyentuhku!” tekan Wijaya mencengkram tangan Mina.
Mina merintih kesakitan sambil mencoba melepaskan cengkraman Wijaya. “Aku akan memberitahu Erlangga dan Kasih bahwa kau menyukai Kasih!” ancam Mina.
Wijaya melepaskan cengkramannya sambil tertawa. “Kau pikir mereka akan percaya dengan ucapanmu?” tanya Wijaya seperti mengejek dan Mina mengelus pergelangan tangannya yang sakit akibat cengkraman Wijaya.
“Tidak,” Wijaya menggelengkan kepalanya. “Karena mereka pasti percaya pada sahabatnya yang sudah bertahun-tahun bersama mereka di banding bersama dirimu yang hanya sebentar.”
“Kau tahu aku sudah merencanakan semuanya! Aku tahu kau menyukaiku dan aku sengaja membiarkanmu masuk ke dalam kehidupan kami bertiga. Dan ku kira kau akan menyukai Erlangga seiring berjalannya waktu, tapi ternyata tidak, justru kau masih menyukaiku!” tunjuk Wijaya dengan tersenyum.
“Kau sungguh licik Wijaya!”
“Yah, itulah aku!” tunjuknya dengan senang.
“Aku memang sengaja menaruh foto itu di buku agar kau lihat dan yang seperti ku duga, kau berjalan menuju taman dengan sedih dan saat itu Erlangga melihatmu!”
“Keburuntungan berada di pihakku waktu itu. Erlangga melihatmu dan duduk di sebelahmu. Lalu kalian berbincang dan saat itu aku membawa Kasih untuk melihat kalian.”
Mina yang mengetahuinya tak percaya bahwa Wijaya pria yang sangat licik. Ia berpikir kenapa dirinya waktu itu menyukai pria ini.
“Dan Kasih melihat kalian dengan kesal!” tunjuk Wijaya.
“Kau tahu? Itu adalah hal yang paling membuat diriku bahagia.” Senyum Wijaya.
“Heh, jika kau menyukai Kasih kenapa kau tidak menyatakan cintamu?” tanya Mina.
“Karena Erlangga sudah lebih dulu menyatakan cintanya,” lirih Wijaya.
Mina tertawa mengejek. “Itu karena dirimu yang sangat pengecut!” ejek Mina.
“Kau tak bisa mengancamku! Aku akan beri tahu semuanya kepada Kasih dan Erlangga, mereka pasti akan percaya kepadaku!”
“Jika kau memberitahunya, aku akan membuat keluargamu sengsara. Kau pikir aku tak tahu siapa dirimu?!” ancam Wijaya.
“Jangan berani menyentuh mereka!” tekan Mina susah payah karena dicengkram.
“Kau tahu! Aku tahu orangtuamu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang banyak. Aku juga tahu kau sedang bekerja di bar sebagai pelayan.”
Mendengar itu Mina terdiam. Wijaya melepaskan cengkramannya. “Jadi jangan kau macam-macam denganku. Aku bisa membuatmu di keluarkan di bar tersebut dan mencabut semua beasiswamu di sini. Aku juga bisa menyebarkan fotomu sebagai pelayan malam di bar tersebut.”
“Jangan lakukan itu Wijaya!”
“Jika kau menurut, aku tak akan melakukannya!” Mina mengangguk dengan cepat. Ia tak ingin semua orang tahu dirinya adalah pelayan bar.
“Bagus!”
Mina sebenarnya tak ingin menjadi lemah. Tapi, ia tak mau semua orang tahu dirinya yang sebenarnya. Menjadi pelayan memang bukan pekerjaan yang buruk.
Namun apa jadinya jika semuanya tahu bahwa dirinya bekerja menjadi pelayan bar di malam hari. Mungkin semua orang akan mengira dirinya adalah wanita penghibur. Padahal dirinya hanya sebagai pelayan biasa di bar tersebut, walaupun banyak sekali pria yang menggodanya.
Flash back bersambung....
“Hingga suatu hari karena kesalahpahaman itu Kasih memutuskan Erlangga dengan baik-baik.”
“Kalau Kasih putus berarti Wijaya akan mudah mendapatkannya dong mah?” tanya Kaya.
“Iya itu rencananya!” Mina berbalik badan menghadap Kaya yang berdiri di belakangnya.
“Papa dan Kasih putus baik-bak waktu itu, tapi jarak di antara mereka berdua pun menjauh tidak seperti dulu.”
“Lalu kenapa Wijaya dendam pada kita?” tanya Kaya.
“Ketika mereka putus dan jarak membuat mereka jauh termasuk mama yang tak pernah lagi mengobrol dengan Kasih. Wijaya datang mengajak kita semua untuk berkumpul di sebuah hotelnya yang bernama Airness. Mungkin hotel tersebut sudah tiada karena Wijaya mengalami kebangkrutan.”
“Ternyata semua sudah di rencanakan oleh Wijaya.”
“Maksud mama?” tanya Kaya bingung. Mina kembali membelakangi Kaya.
Flash back kembali....
Mina, Erlangga dan Kasih di undang ke hotel Airness dalam rangka acara keberhasilan Wijaya mengembangkan hotel tersebut. Wijaya mengajak makan mereka bertiga, lalu Erlangga dan Wijaya berlomba minum alkohol.
Hingga tengah malam pun datang dan Erlangga sudah sangat mabuk sekali. Wijaya menyuruh Mina untuk meminum minumannya dan menyuruh Kasih juga meminum minumannya.
Erlangga yang sudah mabuk dengan meminum banyak alkohol mulai berbicara ngawur dan Wijaya menyuruh Mina untuk mengangtarnya. Mina hanya mengangguk sambil membopong Erlangga menuju kamarnya. Sedangkan Kasih berjalan sendiri menuju kamarnya dan Wijaya berbincang dengan pelayannya.
Mina membuka pintu kamar Erlangga dan meletakkannya di kasur. Lalu pelayan datang mengetuk pintu kamar Erlangga dan memberikan minum air putih untuk Erlangga. Mina pun mengantarkannya ke Erlangga dan menyuruhnya minum.
Setelah meminum air tersebut, Erlangga membuka matanya dengan lebar dan merasa kepanasan. Mina yang tak mengerti menatap Erlangga bingung. Erlangga membuka semua bajunya di depan Mina dan membuat Mina bergidik ngeri.
Akhirnya Mina berjalan menuju pintu untuk keluar kamar Erlangga. Namun tangannya dicekal oleh Erlangga dan dia langsung menjatuhkan Mina di kasur.
Erlangga seperti orang lain yang tak mengenal dirinya sendiri, dengan paksa ia mencoba membuka baju Mina hingga Mina menangis sambil memohon.
Mina berusaha memberontak, namun kekuatan Erlangga membuatnya takut. Erlangga kadang kasar padanya dan membuat Mina ketakutan.
Erlangga membuka semua baju Mina dan melakukan hal yang tidak diinginkannya. Hingga pagi Mina menangis dalam diam sambil menarik selimutnya. Ia telah kehilangan kehormatannya di saat itu juga. Impiannya sudah hancur dalam sekejap.
Mina tak mengerti kenapa Erlangga melakukan hal sebejat ini. Saat Mina mengingat kembali, Erlangga meminum air putih yang diantarkan oleh pelayan. Mina menyadari ini semua perbuatan Wijaya dan bodohnya dirinya ia mengasih ke Erlangga. Pasti minuman itu telah di beri obat perangsang.
*****