My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 72 ~ Pemilihan CEO diundur



~ Happy Reading ~


Di ruang meeting.


          Kaya dan Nusa langsung menuju ruang meeting, setelah makan siang bersama Mila dan Jessica. Mereka masuk ke dalam ruang meeting dan sudah banyak yang datang termasuk Direksi. Mereka duduk bersebelahan dengan mengambil kursi paling depan dekat layar proyector.


          Setelah semuanya hadir, meeting pun di mulai. Pak Danil selaku Direksi utama berdiri di depan layar proyector untuk menjelaskan beberapa kata di slide.


          Pak Danil menjelaskan ada beberapa restoran yang akan di buka di beberapa kota. Lalu beberapa karyawan di restoran Tama akan di pindahkan ke sana.


          Pak Danil juga menjelaskan ada beberapa ide atau rencana yang ikut berperan dalam pembukaan restoran di cabang yang ia dapat dari Kaya dan Nusa. Lalu pak Danil memanggil Kaya untuk maju lebih dahulu.


          Kaya maju ke depan layar proyector dan menjelaskan idenya terhadap restoran yang akan dibuka di luar kota. Kaya menjelaskan akan ada beberapa perubahan makanan dalam sebuah restoran tersebut. Pasalnya restoran tersebut harganya mahal sekali. Kaya berencana untuk mengolah makanan yang cukup murah bagi semua kalangan, agar pendapatan juga semakin maju dan banyak yang datang.


          Kaya juga berencana ingin membuka restoran di Bali dengan beberapa tempat yang ramai oleh pengunjung bule dan menyajikan makanan khas indonesia serta khas luar negri. Jadi pengunjung dapat menikmati makanan tersebut dengan khas budayanya masing-masing.


          Kaya menyalurkan idenya sangat terampil sehingga semua orang berbisik dan memuji Kaya. Mereka semua tak menyangka ide Kaya sangat briliant sekali. Kaya yang selesai menjelaskan semuanya diberi sambutan tepuk tangan yang hangat bagi semua orang sambil berdiri kecuali Nusa.


          Nusa hanya duduk memperhatikan Kaya dengan sikap coolnya. Kaya yang di puji semua orang merasa senang dan tersipu malu. Dia pun kembali ke tempat duduk.


          Pak Danil kembali lagi ke depan layar proyector. Dia menjelaskan beberapa inti ide Nusa dan menyuruhnya untuk maju ke depan layar proyector.


          Nusa mengatakan idenya tidak jauh dari Kaya. Namun, dia ingin menambahkan beberapa idenya. Nusa berencana untuk setiap restoran yang dibuka harus diberi live musik, permainan remaja seperti kartu tarot, catur dll. Agar semua menikmatinya dengan senang dan nyaman. Nusa juga menambahkan rencananya untuk menghidupkan suasana restoran di pinggir pantai seperti pantai bali dan pantai diluar kota lainnya.


          Nusa sangat lugas dan intelektual saat maju ke depan. Dia tidak jauh sikapnya dari Kaya saat menjelaskan sesuatu. Sikap yang sangat tenang tapi ada penekanan ketegasan dalam ucapannya. Sikap yang profesional tidak mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


          Nusa pun selesai menjelaskan idenya dan semua orang langsung berdiri sambil bertepuk tangan. Mereka juga berbisik dan memuji Nusa. Mereka merasa dua-duanya sangat pintar dan ide mereka cemerlang, jadi mereka bingung akan milih siapa nantinya yang dijadikan CEO bagi perusahaan ini. Nusa kembali duduk ke tempatnya dan pak Danil maju ke depan lagi.


          “Saya ucapkan terimakasih bagi ibu Kaya dan pak Nusa yang mau menyumbangkan idenya bagi perusahaan ini. Saya tahu salah satu dari kalian akan menjadi CEO di perusahaan ini. Tapi ide saja tidak cukup. Saya tadi berbincang sedikit sama beberapa rekan yang ada di sini. Mereka bilang bagaimana kalau kalian akan ke Bali selama lima hari untuk memastikan ide kalian berjalan dengan lancar.”


          “Ide kalian rencananya ingin kami gabungkan. Jadi kita akan coba buka restoran di dekat pantai Bali dengan live musik dan beberapa permainan yang dibilang oleh pak Nusa tadi. Apakah kalian semua setuju? Jika setuju semuanya angkat tangan?” tanya pak Danil melirik semua yang hadir di sana. Ada beberapa yang mengangkat


tangan, ada juga yang tidak.


          “Kalau begitu saya ambil voting yang paling besar. Yang paling banyak adalah yang setuju dan apakah kalian setuju pak Nusa, ibu Kaya?” tanya pak Danil.


          “Saya setuju,” jawab Nusa. Kaya langsung menoleh Nusa yang di sampingnya.


          Cepat sekali dia menyetujuinya, apakah dia ada maksud lain?


          “Saya setuju,” ucap Kaya.


          “Jadi kapan kami akan ke sana?” tanya Nusa.


          “Kami berencana akhir bulan ini pak Nusa sekitar tanggal 24 kalian harus ke sana. Kalian tidak harus menunggu pembangunan atau restoran itu jadi. Kalian hanya perlu bertemu arsitek di sana dan menyalurkan ide pembangunannya seperti apa.”


          “Lalu bagaimana keputusan untuk siapa menjadi CEO nantinya bukankah akhir bulan ini?” tanya Nusa.


          “Kami berencana akan mengundurnya seminggu sehabis kalian pulang dari Bali. Kami semua sudah sepakat akan menvoting kalian saat kalian pulang dari Bali.” Jelas pak Danil.


          “Bu Kaya, apakah anda setuju?” tanya Pak Danil.


          “Saya setuju,” senyum Kaya.


          “Oke kalau begitu, saya tutup dulu meeting kita hari ini. Terimakasih semuanya.” Pak Danil membubarkan meeting dan semuanya pergi menuju pintu satu persatu.


          “Pak Danil,” panggil Kaya berdiri dari kursi dan Danil menghampiri Kaya.


          “Iya ibu Kaya,” jawab Pak Danil.


          “Apakah tidak ada ruangan kosong untuk saya?” tanya Kaya dengan senyum.


          Nusa yang duduk mendengarnya dan langsung berkata. “Apakah anda takut seruangan dengan saya ibu Kaya?” tanya Nusa dengan cool.


          “Tidak, saya tidak takut denganmu. Saya hanya bosan saja melihat dirimu,” ketus Kaya.


          “Bu Kaya, maaf semua ruangan sudah di isi. Kalau pun kami harus buat satu ruangan lagi akan makan waktu yang lama.” Jawab Danil.


          “Baiklah pak, terimakasih.” Kaya tersenyum dan Danil keluar dari ruangan meeting.


          Nusa berdiri dari kursi dengan menghadap Kaya. “Idemu cukup cemerlang, tapi itu tidak akan memudahkan dirimu menjadi CEO di sini.” Nusa tersenyum.


          “Heh, kita lihat saja nanti.” Kaya tersenyum sinis dan berjalan menuju pintu.


          “Baiklah Kaya, semoga keberuntungan ada di tangan kamu.” Ucap Nusa dengan sombong dan memperhatikan Kaya berjalan menuju pintu.


Di ruangan.


          Kaya balik ke ruangan dan masih mendapati Jessica yang duduk di depan meja Nusa. Lalu Kaya menghampiri Jessica yang duduk.


          “Buat apa kamu masih di sini?” tanya Kaya menyender meja Nusa.


          “Tau tuh bu. Buat apa dia masih di sini?” sambar Mila dengan kesal.


          “Suka-suka akulah. Apa urusannya dengan kamu? Saya kan calon tunangannya Nusa!” sombong Jessica.


          Kaya memajukan mukanya sedikit ke kuping Jessica.“Aku kasihan sama kamu Jessica. Nusa itu tidak pernah suka sama kamu. Dia sukanya hanya sama aku.” Kaya sengaja memancing emosi Jessica.


          “Heh, kamu pikir aku bisa tertipu Kay. Nusa dan kamu itu kan saling benci.”


          “Oh iyah? Tanya saja pada Nusanya sendiri?!” Kaya tersenyum sinis dan Jessica langsung menoleh Kaya di samping mukanya. Jessica menatap sinis Kaya dan Kaya hanya tersenyum. Lalu Kaya berjalan menuju kursinya.


          “Bu Kaya ngomong apaan yah?” gumam Mila bertanya pada diri sendiri.


          Jangan harap Kay, kamu bisa dapatin Nusa. Karena aku akan membuat dia menjadi milikku seseorang, batin Jessica melihat Kaya yang berjalan menuju kursinya.


 ~ Bersambung ~