
~ Happy Reading ~
“Yah emang itu benar. Tapi sama seperti kamu.” Tunjuk Nusa.
“Yang membalaskan dendam karena papamu ditipu dan aku juga sama ingin membalaskan dendam atas perbuatanmu. Bukankah sama?” tanya Nusa dengan tangan diangkat keduanya di samping dada seperti meminta.
“Lalu kenapa kamu memakai nama Adrian atas saham yang kamu punya di perusahaan tersebut?” tanya Kaya.
“Karena aku sudah memutuskan hubungan dengan papaku sendiri sejak SMP. Oleh karena itu, aku meminta Adrian untuk membeli saham papaku atas namanya dengan surat perjanjian yang aku bikin. Tapi dengan satu syarat, aku harus memberikan dana juga di perusahaan Adrian dan akumenyetujuinya.”
“Wow…? Engkau sangat kaya sekali tuan Nusa yang terhormat, walau masih SMP.” Kaya bertepuk tangan sambil meledek.
“Yah emang benar Kayaku yang cantik, karena semua perusahaan mamaku jatuh ke tanganku dan dari kecil kakek ku sudah memberikan semua perusahaannya kepadaku.”
“Heh, kau tidak perlu menceritakannya kepadaku.” Sinis Kaya.
“Kenapa? Agar kau tahu betapa banyak harta yang aku punya.”Sombongnya.
“Lalu kenapa kamu enggak melepaskan saja perusahaan ini?” tanya Kaya.
Karena aku ingin kamu menderita sama seperti mamaku Kaya, batin Nusa.
“Karena aku enggak suka penipu dibiarkan lolos begitu saja.” Senyum Nusa.
“Bukankah kamu tahu, kalau papamu itu yang menipuku dan aku hanya mengambil apa yang diambil olehnya.”
“Iya, tapi kamu salah mengambil perusahaan ini. Karena perusahaan ini bukan dibangun dari awal oleh papaku, tapi dibangun dari awal oleh kakek ku.”
“Baguslah Itu akan menjadikan papamu semakin menderita?!” gumam Kaya pelan, sambil membuang muka.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Nusa yang mendengarnya.
“Aku enggak bilang apa-apa.”
Nusa menghampiri Kaya yang duduk dan dia membungkuk menatap Kaya. “Aku mau tanya satu hal sama kamu Kay? Apakah kamu memanfaatkan Lita dan sudah mengetahui kalau Lita adalah keluarga dari Tama?” tanya Nusa.
Kaya menatap Nusa dengan tajam. “Aku enggak pernah tahu kalau Lita adalah saudara dari Wijaya Tama.” Tegas Kaya.
Nusa kembali berdiri tegap lagi dan berdiri dihadapan Kaya yang duduk. “Aku tahu pasti kamu berbohong. Lita yang malang dimanfaatkan oleh temannya sendiri. Kalau tidak, masa kamu tidak tahu Adrian adalah pacar Lita?”
“Aku memang enggak tahu Nusa. Sebelum papamu menipuku, aku udah berteman duluan oleh Lita. Mengerti!” tegas Kaya.
“Dan untuk Adrian, aku tidak pernah mau tahu siapa pacarnya Lita. Makanya aku enggak tahu Adrian adalah pacarnya Lita.”
“Masa sih?”
“Terserah kamu mau percaya atau tidak!” ketus Kaya.
“Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Mana mungkin aku percaya sama kamu. Tapi kamu sangat bodoh Kaya, kenapa mengira Adrian adalah anak Wijaya Tama.”
“Karena aku pikir dia adalah anaknya. Lagi pula tidak ada satupun yang memberikan informasi tentang anaknya Wijaya.”
“Yah itu emang benar, karena aku menyuruh semuanya untuk menghapus profil diriku dari perusahaan Tama dan anak tunggal dari Wijaya.”
“Kenapa kamu menghapusnya? Apa kamu malu punya papa seperti dia?” tanya Kaya dengan ledekan.
Nusa langsung mendorong Kaya sehingga berbaring di tempat tidur. Tangan Nusa menumpu tempat tidur agar tidak terjatuh menindih Kaya. Ia menatapnya dengan sinis.
“Jaga omongan kamu Kaya! Aku enggak malu, hanya saja aku ingin menghindari cewek matre sepertimu.” Nusa mengelus wajah Kaya dan beralih memegang kalung yang diberi olehnya.
“Kaya, Kaya. Waktu itu kamu pasti berpikir ini dari Adrian?!”
Sebenarnya aku udah tahu ini dari kamu Nus, makanya aku pakai sampai sekarang, batin Kaya menatap Nusa.
Flash back….,
Tiga hari valantine berlalu, Kaya masuk ke dalam ruangan dengan senyum. Hatinya gembira mendapatkan kalung yang indah. Ia menaruh tasnya di meja dan duduk.
Kaya memulai bekerja dengan menandatangai berkas yang ditumpuk di mejanya. Saat ingin tanda tangan, pulpen yang ia pakai habis. Kaya pun berjalan menuju tong sampah dan membuangnya.
Lalu ia berbalik arah ingin kembali menuju tempat duduk, namun matanya tertuju pada gumpalan kertas di pojok dekat tong sampah. Kaya pun mengambilnya dan berjalan menuju tempat duduk.
Kaya membuka kertas yang digumpalkan tersebut dengan duduk santai. Ia mulai membacanya dalam hati.
Hai Kay,
Selamat Hari Valantine yah Kayaku yang cantik.
Selama mengenalmu hatiku sangat bahagia sekali.
Entah kenapa? Tapi aku menyukainya.
Aku ada hadiah untukmu.
Jangan lihat dari bentuk dan harganya yah Kay.
Aku beli ini karena aku mengingat keindahanmu, senyumanmu dan semua yang ada di dirimu.
From your Love,
Nusa.
“Jadi ini dari Nusa?” sambil memegang kalungnya dengan tangan kiri. Kaya langsung tersenyum senang.
Flash back berakhir….
Nusa memundurkan mukanya agak jauh dari Kaya dengan posisi tangan masih menumpu tempat tidur. “Adrian yang malang, dia menjadi target yang salah olehmu. Udah itu, dia mulai jatuh cinta lagi sama kamu. Tapi sayangnya kamu jatuh cinta sama aku Kay.”
“Jangan mengucapkan hal yang tak pernah aku ucapkan?! Sejak kapan aku bilang cinta sama kamu Nus?”
“Aku mendengarnya dari perpisahan terakhir waktu itu. Aku mengikuti kalian di lorong depan kamar mandi. Adrian bertanya ‘apakah kamu menyukai Nusa dan kamu menjawab, iya aku mencintainya.’ Bukankah ini menyenangkan Kaya? Kamu menyukai musuh mu sendiri dan membenci yang harusnya bukan musuh mu.” Nusa tertawa sinis.
“Adrian yang malang menjadi target yang salah dari seorang Nyonya Dirgantara.” Tawa Nusa.
Kaya menarik dasi Nusa dan mendekatkannya ke wajahnya. Kaya menatap Nusa dengan tajam. “Dengar Nusa, aku enggak mencintaimu. Aku hanya bilang itu untuk mengelabuhi Adrian, agar dia tidak menanyakan terus kenapa aku menolaknya.”
Nusa hanya tersenyum. “Heh, kamu enggak usah bohong kepadaku sayang. Aku tahu kamu menyukaiku.”
Itu memang benar Nusa, aku menyukaimu, batin Kaya.
“Kamu pikir aku berbohong. Kalau pun aku mencium mu tidak akan ada rasanya bagiku, karena aku memang tidak cinta sama kamu.”
Maafin aku telah berbohong. Aku sengaja, agar kamu tidak berpikir aku suka sama kamu, batin Kaya.
“Oh yah? Lakukanlah!” Nusa tersenyum sambil menatap Kaya.
Kaya menarik dasi Nusa untuk mendekatkan mukanya lebih dekat dan Kaya mengecup bibir Nusa dengan cepat. “See? Bahkan ciuman ini tidak akan berarti, karena memang aku tidak menyukaimu! Camkan itu!” Kaya melepas dasi Nusa dan mendorongnya agar menjauh darinya.
Nusa malah tertawa dan membuat Kaya heran. Kenapa dia malah tertawa, batin Kaya.
Nusa menghentikan tawanya dan kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Kaya. “Jika ciuman ini tidak berarti karena kamu tidak mencintaiku.” Nusa memandang Kaya dengan senyum sinis. “Bagaimana kalau dengan hal lain?” tanya Nusa tersenyum licik.
“Apa maksudmu Nusa?” tanyanya sinis.
Nusa langsung menekan tangan Kaya dengan tangannya dan menindih perut Kaya agar tidak memberontak.
“Lepasin aku Nusa!” Kaya mencoba memberontak.
Nusa menekan Kaya dengan erat di tempat tidur dan Kaya menatap Nusa dengan tajam.
“Bukankah kamu bilang ciuaman ini tidak berarti, karena kamu tidak mencintaiku?!Bagaimana dengan ini?” Nusa mencoba mencium leher Kaya.
Kaya langsung menutup matanya karena takut. Tapi Nusa tidak jadi dan malah tertawa dengan pelan. “Buuu,” bisik Nusa.
“Aku hanya menakuti kamu saja sayang.” Nusa melepas tangan Kaya.
Kaya membuka matanya lebar dan memandang Nusa yang sudah berdiri di depannya.
“Kaya..., Kaya..., mana mungkin aku melakukan itu dengan seorang penipu sepertimu?!” Nusa tertawa sinis.
Hampir saja, kenapa hatiku sesak melihatnya seperti ini?Aku harus pulang, batin Kaya.
“Kenapa, kamu hanya diam? Apakah kamu menginginkannya sayang?” tanya Nusa menggoda Kaya.
“Diam kau!” Kaya beranjak duduk di tempat tidur dan menenangkan hatinya yang sesak.
Nusa kembali mengambil gelasnya yang berisi alkohol. Ia kembali menyender ke meja TV sambil memandang Kaya yang duduk di tempat tidur. Sedangkan Kaya memandang Nusa dengan sinis dan beranjak dari tempat tidur untuk keluar.
“Mau ke mana sayang?” tanya Nusa meminum sisa terakhir alkoholnya di gelas.
“Heh, bukankan sudah jelas. Aku akan pulang, buat apalagi aku di sini?!”
“Baguslah. Sudah tahukan pintunya di mana sayang dan apa perlu aku mengantar mu?” tanya Nusa tersenyum sambil memegang gelasnya.
Kaya menoleh ke belakang. “Oh tidak perlu Nusa yang terhormat.” Kaya tersenyum dan berbalik badan menuju pintu untuk keluar.
Mata Nusa memperhatikan Kaya yang sudah keluar menutup pintu. Melihat Kaya sudah keluar, mimik muka Nusa berubah menjadi geram. Ia tak suka Kaya tersenyum padanya saat pulang.
Nusa menggenggam gelasnya dengan erat dan berbalik badan. Ia melempar gelas yang di pegangnya ke dinding.
Tring!
Kaya yang masih di depan pintu mendengar suara pecahan gelas. “Apa yang terjadi? Seperti terdengar suara pecahan gelas?” gumam Kaya.
“Aku akan membuat anakmu menderita Erlangga, sama seperti kamu membuat hidup mamaku menderita.” Nusa menatap dengan sinis ke depan.
Kaya yang penasaran membuka lagi pintu Nusa setengah dan dia melihat pecahan gelas di lantai. “Apa yang sedang Nusa lakukan? Kenapa dia begitu marah sekali?” Kaya menutup kembali pintunya dengan pelan dan berjalan untuk pulang.
Segitu bencinya kah dirimu Nusa, sehingga engkau memecahkan gelas, batin Kaya merasa miris.
~ Bersambung