My Target Is CEO

My Target Is CEO
Episode 48



Saat di dalam rumah....


          Kaya


berjalan menuju tangga, tapi tiba-tiba Ayah Kaya memanggilnya dan bertanya.


“Kamu dari mana?” tanya Ayah yang duduk sambil menonton TV di ruang tamu.


          “Kaya


abis makan Pah sama teman,” kelak Kaya tersenyum menoleh Ayahnya.


          “Kamu


jangan bohong, tadi Papa lihat ada cowok yang teriak sama kamu?” tanya Ayahnya


mengintrogasi.


          “Ohh itu


teman Pah,” jawab Kaya dengan senyum.


Lalu Kaya berbalik arah dan menaiki tangga. Baru menaiki


dua tangga, Kaya di panggil lagi oleh Ayahnya.


          “Kamu


tidak berurusan dengan anaknya Tama kan?” tanya Ayahnya menoleh Kaya sambil


duduk.


Kaya heran dengan pertanyaan Ayahnya dan dia mengabaikan


pertanyaan Ayahnya.


          “Papa


enggak suka yah, kamu dekat dengan keluarga Tama!” Ucap Ayah Kaya.


          Kaya


menoleh dengan memegang pegangan tangga. “Enggak kok Pah.” Kaya tersenyum dan


berbalik arah lagi menaiki tangga menuju kamarnya.


          Apa maksud Papah? Apakah Nusa anak dari


Tama?, batin Kaya menuju kamarnya.


          Kaya


langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Dia mengambil HP dari


tasnya dan melempar tas kecilnya ke tempat tidur. Kaya mencari nama Lita di


HP-nya dan menelpon-nya. Telpon pun tersambung.


          “Halo


Kay,” jawab Lita.


          “Halo


Lit,” Kaya berbicara seperti terburu-buru.


          “Iya


Kay,”


          “Nama


panjang Nusa siapa?” tanya Kaya.


          “Ohhh,


gue kira apa elo nelpon gue. Nama panjangnya yaitu NUSANTARA GEMILANG RAYA


TAMA.” Jawab Lita.


          Kaya yang


mendengarnya langsung kaget dan menjatuhkan HP-nya di bawah. Dia terdiam dan


tak bergerak sama sekali dengan ekspresi kaget.


Di rumah Lita....


          “Halo


Kay, elo kenapa?” tanya Lita tapi tidak di jawab sama sekali.


Lita yang sedang duduk di tempat tidurnya heran dengan


Kaya dan dia mematikan telpon-nya. Lalu mencoba menelpon Kaya lagi, tapi tidak


bisa.


          Nomor yang ada tuju sedang sibuk. Silakan


hubungi kembali lagi!


Terdengar dari suara operator dan Lita memperhatikan


HP-nya.


          “Ada apa


dengan Kaya? Kenapa tadi gue merasa HP-nya terjatuh saat gue bilang nama


panjang Nusa?” gumam Lita. “Apakah?” Lita mengingat lagi omongan Kaya saat


waktu SMA.


Flash back...


          “Kay,


main yuk ke mall?” ajak Lita merangkul Kaya dari belakang yang sedang berjalan


di lorong sekolah.


          “Gue


enggak bisa Lit,” senyum Kaya sambil berjalan.


          “Yah


kenapa?” tanya Lita.


          “Gue


enggak punya uang, elo kan udah tahu sendiri. Gue udah enggak kayak dulu. Udah


itu gue ada jadwal ngajarin les anak orang.” Senyum Kaya.


          “Iya gue


inget, elo udah bangkrut gara-gara di tipu orang.” Celetuk Lita. Kaya pun


berhenti dan menatap Lita dengan sinis di sampingnya.


          “Maaf


Kay, gue ke ceplosan.” Nyengir Lita. Kaya berjalan lagi bersama Lita.


          “Kay


siapa sih yang buat nipu Bokap elo?” tanya Lita.


          Maaf Lit, gue enggak boleh bilang karena


dilarang Bokap gue., batin Kaya.


          “Gue


enggak tahu Lit. Yang jelas dia perusahaan besar dan punya Restoran terkenal di


Indonesia.” Jawab Kaya.


          Kalo dia enggak tahu? Kenapa dia tahu, kalo


orang itu punya perusahaan besar dan Restoran terkenal di Indonesia?, Lita


bertanya dalam hati sambil tersenyum.


***


Saat di rumah Lita....


Lita yang baru sampai rumah langsung masuk dan menuju


Ayahnya yang sedang di ruang tamu membaca koran sambil meminum kopi.


          “Pah,”


ucap Lita berdiri di samping Ayahnya.


          “Hem,”


gumam Ayah Lita.


          “Papa


tahu enggak sih, siapa yang nipu Ayahnya Kaya?” tanya Lita dan membuat Ayahnya


          “Papah


kok keselek sih?” tanya Lita dengan heran.


          “Lagian


kamu nanya begitu.” Jawab Ayah Lita.


          “Lagian


aku penasaran Pah, soalnya Kaya juga enggak tahu katanya.”


          “Kaya aja


enggak tahu, apalagi Papa.” Ucap Ayah Lita meyakinkan Lita.


          “Yaudah


deh aku ke atas dulu!” Lita menujuk dengan ibu jarinya ke belakang leher.


          “Iya,”


gumam Ayah Lita.


          Lita


berjalan menaiki tangga dengan memegang pegangan tangga. “Masa sih Bokap gue


enggak tahu. Dia kan, sahabat Papanya Kaya juga. Masa iya Papa Kaya enggak


cerita.” Gumam Lita sambil menaiki tangga menuju kamarnya.


Flash back berakhir...,


          “Gue


harus tanya ke Bokap gue?”


Lita beranjak dari tempat tidurnya dan menuruni tangga. Dia


melihat Ayahnya sedang menonton TV. Lita menghampir Ayahnya dan berdiri di


sampingnya.


          “Pah,


kenapa saat Kaya mendengar Nama panjang Nusa dia kaget?” tanya Lita.


          “Maksud


kamu?” tanya Ayah Kaya bingung.


          “Iya,


tadi Kaya nelpon aku dan menanyakan panjang Nusa. Dia langsung kaget dan


sepertinya menjatuhkan HP-nya ke lantai.”


          Ayah Lita


langsung kaget mendengarnya dan berdiri. Bangkai


jika di simpan juga akan ketahuan juga rupanya, batin Ayah Lita.


          “Apakah


keluarga Nusa yang menipu keluarga Kaya?” tanya Lita terus terang.


          “Iya kamu


benar,” jawab Ayahnya.


Lita langsung kaget dan merasa  bersalah terhadap Kaya. Dia tidak menyangka


keluarganya sendiri yang menipu keluarga Kaya.


          “Kenapa


Papa tidak cerita terhadap Lita?” tanya Lita dengan kesal.


          “Karena


Papa enggak mau persahabatan kalian hancur Lit.” Jawab Ayahnya dengan lirih


menghadap Lita.


          “Tapi


dengan begini, Kaya akan berpikir aku berpura-pura menjadi teman-nya dan sudah


mengetahuinya.”


          “Kaya


tidak tahu, karena Papa Kaya sudah berjanji tidak akan memberitahu Kaya. Kalau


kamu termasuk keluarga Tama dan keponakan pamanmu.”


          “Papa


tahu enggak, Kaya merasa menderita selama ini dan yang buat itu keluarga kita. Aku


enggak menyangka Paman yang ku anggap baik selama ini, ternyata berbuat kotor


hanya demi perusahaan.” Lita mulai marah dan merasa tak menyangka.


          “Maafin


Pamanmu Lit, dia melakukan-nya karena ada alasan-nya.” Ucap Ayahhnya.


          “Apapun


alasan-nya harusnya dia tidak melakukan itu. Aku sendiri saksi hidup Pah,


melihat Kaya banting tulang demi menghindupi keluarganya. Tapi apa, ternyata


keluarga ku sendiri yang bikin dia menderita. Aku tak menyangka dan Papa


menyembunyikan semuanya dari aku.” Lita merasa kecewa dan berbalik arah menaki


tangga meninggalkan Ayahnya sendiri.


          “Lit,


Papa bisa jelasin.” Teriak Ayah Lita melihat Lita sudah di atas tangga. Namun


Lita mengabaikan-nya dan menuju kamar.


Balik ke rumah Kaya.....


Kaya masih terdiam dan tak menyangka ternyata anak


Wijaya Tama adalah Nusa. Dia mulai perlahan turun ke bawah dengan dagu menumpu


lantai dan memegang kepalanya.


          “Argggghhhh,”


teriak Kaya menjabak dirinya sendiri. “Kenapa orang yang gue suka adalah anak


dari Musuh gue.” Kaya mulai meneteskan air matanya. Dia bangkit dan berdiri. Dia


berjalan menuju meja rias.


          “Kenapa? Kenapa


harus terjadi kepada gue? Kenapa orang yang gue suka adalah anak musuh gue? Hahhh?”


Kaya menyingkirkan semua yang di meja rias dengan tangan-nya seperti bedak,


gincu, kaca kecil, dll yang ada di meja tersebut. Sehingga berbunyi “buk.”


Kaya menangis dan turun ke bawah sambil memegang kaki


kursi dengan duduk di lantai.


          “Kenapa


orang yang gue sayang justru adalah musuh gue. Kenapa gue enggak tahu nama


panjang Lita dan Nusa? Kenapa?” bentak Kaya pada dirinya sendiri sambil


menangis terisak.


          “Kenapa? Pantasan


Nusa mengetahuinya? Karena dia anak dari Wijaya Tama. Kenapa gue enggak bisa


tahu? Teman sendiri selama 6 tahun bersama gue enggak tahu nama panjangnya


sekarang Nusa orang yang gue cinta.” Kaya menangis terisak.


          “Ahhhhh....,”


teriak Kaya dengan kesal sambil menggaruk kepalanya dengan kesal dan menyender


ke kursi. “Kenapa orang yang gue sayang, ternyata musuh gue?” Kaya menangis tak


karuan dengan rambut berantakan dan barang-barang yang di jatuhkan-nya ke


lantai. Dia merasa kesal karena orang yang dia sayangi adalah anak dari musuhnya.


~ Bersambung ~