
Saat di dalam rumah....
Kaya
berjalan menuju tangga, tapi tiba-tiba Ayah Kaya memanggilnya dan bertanya.
“Kamu dari mana?” tanya Ayah yang duduk sambil menonton TV di ruang tamu.
“Kaya
abis makan Pah sama teman,” kelak Kaya tersenyum menoleh Ayahnya.
“Kamu
jangan bohong, tadi Papa lihat ada cowok yang teriak sama kamu?” tanya Ayahnya
mengintrogasi.
“Ohh itu
teman Pah,” jawab Kaya dengan senyum.
Lalu Kaya berbalik arah dan menaiki tangga. Baru menaiki
dua tangga, Kaya di panggil lagi oleh Ayahnya.
“Kamu
tidak berurusan dengan anaknya Tama kan?” tanya Ayahnya menoleh Kaya sambil
duduk.
Kaya heran dengan pertanyaan Ayahnya dan dia mengabaikan
pertanyaan Ayahnya.
“Papa
enggak suka yah, kamu dekat dengan keluarga Tama!” Ucap Ayah Kaya.
Kaya
menoleh dengan memegang pegangan tangga. “Enggak kok Pah.” Kaya tersenyum dan
berbalik arah lagi menaiki tangga menuju kamarnya.
Apa maksud Papah? Apakah Nusa anak dari
Tama?, batin Kaya menuju kamarnya.
Kaya
langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Dia mengambil HP dari
tasnya dan melempar tas kecilnya ke tempat tidur. Kaya mencari nama Lita di
HP-nya dan menelpon-nya. Telpon pun tersambung.
“Halo
Kay,” jawab Lita.
“Halo
Lit,” Kaya berbicara seperti terburu-buru.
“Iya
Kay,”
“Nama
panjang Nusa siapa?” tanya Kaya.
“Ohhh,
gue kira apa elo nelpon gue. Nama panjangnya yaitu NUSANTARA GEMILANG RAYA
TAMA.” Jawab Lita.
Kaya yang
mendengarnya langsung kaget dan menjatuhkan HP-nya di bawah. Dia terdiam dan
tak bergerak sama sekali dengan ekspresi kaget.
Di rumah Lita....
“Halo
Kay, elo kenapa?” tanya Lita tapi tidak di jawab sama sekali.
Lita yang sedang duduk di tempat tidurnya heran dengan
Kaya dan dia mematikan telpon-nya. Lalu mencoba menelpon Kaya lagi, tapi tidak
bisa.
Nomor yang ada tuju sedang sibuk. Silakan
hubungi kembali lagi!
Terdengar dari suara operator dan Lita memperhatikan
HP-nya.
“Ada apa
dengan Kaya? Kenapa tadi gue merasa HP-nya terjatuh saat gue bilang nama
panjang Nusa?” gumam Lita. “Apakah?” Lita mengingat lagi omongan Kaya saat
waktu SMA.
Flash back...
“Kay,
main yuk ke mall?” ajak Lita merangkul Kaya dari belakang yang sedang berjalan
di lorong sekolah.
“Gue
enggak bisa Lit,” senyum Kaya sambil berjalan.
“Yah
kenapa?” tanya Lita.
“Gue
enggak punya uang, elo kan udah tahu sendiri. Gue udah enggak kayak dulu. Udah
itu gue ada jadwal ngajarin les anak orang.” Senyum Kaya.
“Iya gue
inget, elo udah bangkrut gara-gara di tipu orang.” Celetuk Lita. Kaya pun
berhenti dan menatap Lita dengan sinis di sampingnya.
“Maaf
Kay, gue ke ceplosan.” Nyengir Lita. Kaya berjalan lagi bersama Lita.
“Kay
siapa sih yang buat nipu Bokap elo?” tanya Lita.
Maaf Lit, gue enggak boleh bilang karena
dilarang Bokap gue., batin Kaya.
“Gue
enggak tahu Lit. Yang jelas dia perusahaan besar dan punya Restoran terkenal di
Indonesia.” Jawab Kaya.
Kalo dia enggak tahu? Kenapa dia tahu, kalo
orang itu punya perusahaan besar dan Restoran terkenal di Indonesia?, Lita
bertanya dalam hati sambil tersenyum.
***
Saat di rumah Lita....
Lita yang baru sampai rumah langsung masuk dan menuju
Ayahnya yang sedang di ruang tamu membaca koran sambil meminum kopi.
“Pah,”
ucap Lita berdiri di samping Ayahnya.
“Hem,”
gumam Ayah Lita.
“Papa
tahu enggak sih, siapa yang nipu Ayahnya Kaya?” tanya Lita dan membuat Ayahnya
“Papah
kok keselek sih?” tanya Lita dengan heran.
“Lagian
kamu nanya begitu.” Jawab Ayah Lita.
“Lagian
aku penasaran Pah, soalnya Kaya juga enggak tahu katanya.”
“Kaya aja
enggak tahu, apalagi Papa.” Ucap Ayah Lita meyakinkan Lita.
“Yaudah
deh aku ke atas dulu!” Lita menujuk dengan ibu jarinya ke belakang leher.
“Iya,”
gumam Ayah Lita.
Lita
berjalan menaiki tangga dengan memegang pegangan tangga. “Masa sih Bokap gue
enggak tahu. Dia kan, sahabat Papanya Kaya juga. Masa iya Papa Kaya enggak
cerita.” Gumam Lita sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
Flash back berakhir...,
“Gue
harus tanya ke Bokap gue?”
Lita beranjak dari tempat tidurnya dan menuruni tangga. Dia
melihat Ayahnya sedang menonton TV. Lita menghampir Ayahnya dan berdiri di
sampingnya.
“Pah,
kenapa saat Kaya mendengar Nama panjang Nusa dia kaget?” tanya Lita.
“Maksud
kamu?” tanya Ayah Kaya bingung.
“Iya,
tadi Kaya nelpon aku dan menanyakan panjang Nusa. Dia langsung kaget dan
sepertinya menjatuhkan HP-nya ke lantai.”
Ayah Lita
langsung kaget mendengarnya dan berdiri. Bangkai
jika di simpan juga akan ketahuan juga rupanya, batin Ayah Lita.
“Apakah
keluarga Nusa yang menipu keluarga Kaya?” tanya Lita terus terang.
“Iya kamu
benar,” jawab Ayahnya.
Lita langsung kaget dan merasa bersalah terhadap Kaya. Dia tidak menyangka
keluarganya sendiri yang menipu keluarga Kaya.
“Kenapa
Papa tidak cerita terhadap Lita?” tanya Lita dengan kesal.
“Karena
Papa enggak mau persahabatan kalian hancur Lit.” Jawab Ayahnya dengan lirih
menghadap Lita.
“Tapi
dengan begini, Kaya akan berpikir aku berpura-pura menjadi teman-nya dan sudah
mengetahuinya.”
“Kaya
tidak tahu, karena Papa Kaya sudah berjanji tidak akan memberitahu Kaya. Kalau
kamu termasuk keluarga Tama dan keponakan pamanmu.”
“Papa
tahu enggak, Kaya merasa menderita selama ini dan yang buat itu keluarga kita. Aku
enggak menyangka Paman yang ku anggap baik selama ini, ternyata berbuat kotor
hanya demi perusahaan.” Lita mulai marah dan merasa tak menyangka.
“Maafin
Pamanmu Lit, dia melakukan-nya karena ada alasan-nya.” Ucap Ayahhnya.
“Apapun
alasan-nya harusnya dia tidak melakukan itu. Aku sendiri saksi hidup Pah,
melihat Kaya banting tulang demi menghindupi keluarganya. Tapi apa, ternyata
keluarga ku sendiri yang bikin dia menderita. Aku tak menyangka dan Papa
menyembunyikan semuanya dari aku.” Lita merasa kecewa dan berbalik arah menaki
tangga meninggalkan Ayahnya sendiri.
“Lit,
Papa bisa jelasin.” Teriak Ayah Lita melihat Lita sudah di atas tangga. Namun
Lita mengabaikan-nya dan menuju kamar.
Balik ke rumah Kaya.....
Kaya masih terdiam dan tak menyangka ternyata anak
Wijaya Tama adalah Nusa. Dia mulai perlahan turun ke bawah dengan dagu menumpu
lantai dan memegang kepalanya.
“Argggghhhh,”
teriak Kaya menjabak dirinya sendiri. “Kenapa orang yang gue suka adalah anak
dari Musuh gue.” Kaya mulai meneteskan air matanya. Dia bangkit dan berdiri. Dia
berjalan menuju meja rias.
“Kenapa? Kenapa
harus terjadi kepada gue? Kenapa orang yang gue suka adalah anak musuh gue? Hahhh?”
Kaya menyingkirkan semua yang di meja rias dengan tangan-nya seperti bedak,
gincu, kaca kecil, dll yang ada di meja tersebut. Sehingga berbunyi “buk.”
Kaya menangis dan turun ke bawah sambil memegang kaki
kursi dengan duduk di lantai.
“Kenapa
orang yang gue sayang justru adalah musuh gue. Kenapa gue enggak tahu nama
panjang Lita dan Nusa? Kenapa?” bentak Kaya pada dirinya sendiri sambil
menangis terisak.
“Kenapa? Pantasan
Nusa mengetahuinya? Karena dia anak dari Wijaya Tama. Kenapa gue enggak bisa
tahu? Teman sendiri selama 6 tahun bersama gue enggak tahu nama panjangnya
sekarang Nusa orang yang gue cinta.” Kaya menangis terisak.
“Ahhhhh....,”
teriak Kaya dengan kesal sambil menggaruk kepalanya dengan kesal dan menyender
ke kursi. “Kenapa orang yang gue sayang, ternyata musuh gue?” Kaya menangis tak
karuan dengan rambut berantakan dan barang-barang yang di jatuhkan-nya ke
lantai. Dia merasa kesal karena orang yang dia sayangi adalah anak dari musuhnya.
~ Bersambung ~