
~ Happy Reading ~
Pagi hari...
Kaya membuka matanya lebar dengan meregangkan tangannya ke atas. Ia melirik ke samping dan tak menemukan Nusa.
“Di mana dia?” gumam Kaya bangun dari kasur dan berjalan mencari ke dapur, namun tak ada.
“Mungkin di atas kali,” pikir Kaya dan menaiki tangga ke kamar atas.
Dibukanya pintu namun tak ada sosok yang ia cari. Terdengar suara germecik air di kamar mandi dan Kaya berpikir Nusa sedang mandi. Ia pun berbaring di kasur dan menunggu Nusa keluar kamar mandi.
Nusa pun selesai mandi dan keluar dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. “Pagi sayang,” sapa Kaya dengan tangan kanan menumpu kepala dan berbaring menyamping menghadap Nusa.
Nusa yang baru saja keluar terkejut melihat Kaya di kasur sambil menyapanya dengan senyum. “Astaga Kaya! Kamu mengagetkan diriku saja,” ucap Nusa.
Kaya yang tersadar dengan tubuh Nusa yang terlalu sexy dengan rambut basah melotot seakan mau keluar. Ia pun langsung berbaring membelakangi Nusa dan menutup matanya.
“Maafkan aku!”
Nusa yang melihatnya terkekeh. “Kamu sudah melihatnya sebelumnya Kay,” goda Nusa. “Apakah kamu tidak mau menyentuhnya?” goda Nusa yang berjalan menuju lemari untuk mencari pakaian.
Sialan Nusa! batin Kaya. “Sebaiknya aku keluar saja,” Kaya bangun dari kasur dan berjalan mundur membelakangi Nusa.
Namun dengan cepat Nusa menarik tangan Kaya, sehingga Kaya terbentur dada bidang Nusa yang masih basah. Matanya melotot melihat dada Nusa, dengan susah payah ia menelan salivanya. “Astaga Nusa!” Kaya menutup kembali matanya. Nusa tertawa lucu melihatnya.
“Hey, kenapa kamu menutup matamu sayang. Bukankah waktu di Bali ini adalah kesukaanmu?” goda Nusa.
Sialan, dia malah bahas yang di Bali lagi, batin Kaya.
“Bukalah matamu!” titah Nusa dengan senyum dan Kaya membuka matanya menatap Nusa.
“Apakah kamu tidak ingin melakukannya lagi?” tanya Nusa yang menggoda. Sontak Kaya langsung memukul dada Nusa.
“Kau ini! Pikirannya hanya mesum saja!” gerutu Kaya dan Nusa terkekeh.
“Mandilah! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!” titah Nusa melepaskan pelukannya.
“Tapi aku tidak punya baju,” ucap Kaya.
“Aku sudah menyiapkannya, ada di dalam kamar mandi!” ucap Nusa berjalan kembali menuju lemari pakaian.
“Kamu menyiapkannya? Tapi kapan? Bukankah kemarin kita tidur?” tanya Kaya yang bingung, setahunya Nusa dan dirinya tidur dan tak ke mana-mana.
“Aku menyuruh asistenku untuk mengantarnya tadi subuh dan aku juga sudah menyiapkan sarapan untukmu.”
Kaya yang mendengarnya tersenyum senang. Nusa perhatian sekali dengan dirinya. “Ah kau ini benar pacarku yang tercinta,” Kaya memeluk Nusa dari belakang. Lalu melepasnya dan berjalan ke kamar mandi sambil berteriak. “Aku mencintaimu Nusantara Gemilang Raya Tama.”
Nusa tersenyum senang mendengarnya sambil mengambil setelan jas dan celana yang tergantung di hangir.
*****
Nusa berdiri di balkon kamar atas sambil menelepon seseorang. Lalu Kaya yang sudah selesai mandi melihat Nusa di balkon menghampirinya dengan mengendap-endap. Ia memeluk Nusa dari belakang dan membuat Nusa terdiam.
“Nusaku tercinta, kau sedang apa?” tanya Kaya.
“Oke pak, saya tutup dulu yah!” Nusa langsung menutup teleponnya dan berbalik badan menghadap Kaya.
“Aku sedang menelepon,” jawabnya sambil memeluk Kaya.
“Siapa?” tanya Kaya mendongak ke arah wajah Nusa.
“Pak Danil, hari ini kan pemilihan CEO dan dia sudah menyiapkan semuanya. Sebaiknya kita juga harus bergegas ke sana.” Kaya melonggarkan pelukannya.
“Baiklah,” senyum Kaya berbalik badan untuk berjalan keluar balkon.
“Iya,” Kaya berbalik badan.
“Apakah kau sangat mencintaiku?” tanya Nusa dan Kaya menyerngit bingung. Bukankah dirinya tadi sudah bilang sebelum mandi.
“Aku sangat-sangat mencintaimu,” senyum Kaya.
“Seberapa besar?” tanya Nusa.
“Hey, ada apa denganmu?” Kaya memegang kedua pipi Nusa. “Kenapa kamu bertanya? Bukankah kamu tahu cintaku ini sangat besar sekali,” tangannya di gerakan berlawanan.
“Sampai-sampai dalamnya lautan tak bisa menampung,” lanjut Kaya.
Nusa tertawa lucu mendengarnya. Ia melangkah mendekati Kaya dan mengecup kening Kaya. “Aku tahu kamu mencintaiku,” ucapnya. Kaya langsung memukul dada Nusa pelan.
“Lalu buat apa kau bertanya?” Kaya cemberut dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada. Nusa terkekeh melihat tingkah Kaya.
“Aku hanya bertanya,” Nusa memeluk Kaya dan Kaya hanya tersenyum melihatnya. “Dasar!” ucap Kaya.
Karena aku takut melukai dirimu sebesar cintamu kepadaku, batin Nusa.
****
Perusahaan Tama.
Semua sudah berkumpul di ruangan dan akan melangsungkan pengumuman pemegang CEO di perusahaan Tama.
Kaya dan Nusa duduk bersebelahan dan mereka duduk paling depan. Mereka menunggu Pak Danil naik ke mibar mengumumkan hasil suara untuk mereka.
Semua anggota pemilik saham kecil, direksi dan staff yang penting berkumpul duduk di belakang. Mereka semua terlihat bersemangat menantikan siapa menjadi CEO di perusahaan ini.
Pak Danil yang membawa selembar kertas maju ke depan mibar. Sebenarnya ia gugup membaca hasilnya, karena takut banyak yang tak menerimanya. Tapi, ia harus melakukannya.
Pak Danil pertama-tama memberikan sapaan pada mereka semua agar tidak gugup. Setelah itu ia memberikan beberapa kalimat yang intinya apa pun hasilnya mereka harus menerima lapang dada.
Pak Danil cukup lama berbasi-basi, hingga pada puncaknya, ia mengumumkan hasil dari pemilihan CEO di Tama.
“Dan yang menjadi CEO di perusahaan ini adalah.....,” ucap pak Danil terhenti sejenak agar suasana terlihat menegangkan.
“Kaya Aqila Naya Raya,”
Kaya yang merasa dirinya di panggil terkejut. Ia melirik Nusa dan Nusa tersenyum senang sambil bertepuk tangan. Sementara itu ada beberapa yang bertepuk tangan dan ada yang tidak karena tidak suka melihat Kaya menang.
“Diriku?” tunjuknya pada diri sendiri sambil melirik Nusa.
“Iya kamu sayang. Ayuk maju!” titah Nusa dengan senyum.
“Aku tak mau Nus, kau saja yang jadi CEO di sini!” tolak Kaya.
“Kay, aku kan sudah bilang mari bertarung sampai hari ini. Dan aku tak mau kamu berubah karena kita pacaran.”
Sebenarnya aku merubah pikiranku bukan karena kita pacaran Nusa, tapi karena aku sudah tahu yang senarnya, ucap Kaya dalam hati sambil menatap Nusa yang tersenyum dan menyuruhnya maju.
“Ibu Kaya, tolong maju dan memberikan beberapa kata untuk semua yang ada di sini!” titah pak Danil.
Kaya bangkit dari kursinya dan berjalan menuju mibar dengan tersenyum kecil. Kaya pertama-tama menyapa mereka semua dan berterimakasih kepada mereka yang telah memilihnya. Lalu memberikan kalimat tentang dirinya yang akan selalu berjuang untuk membuat perusahaan ini menjadi sukses.
Beberapa yang di sana bertepuk tangan setelah Kaya menyudahi ucapannya dan kembali duduk di sebelah Nusa.
“Kamu hebat!” puji Nusa dan Kaya hanya tersenyum tak senang. Sesungguhnya ia tak ingin lagi menjadi CEO dan menyerahkan semua apa yang di ambil kepada Nusa.
~ Bersambung ~