My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 70 ~ Kaya mengobati Luka Nusa



~ Happy Reading  ~


Di Apartemen Nusa.


          Kaya memencet bel berkali-kali dengan perasaan tidak tenang dan khawatir. Ia tidak tahu kenapa harus begini, tapi hatinya selalu khawatir dengannya. Pintu pun terbuka.


          “Buat apa kamu ke sini Kay?” tanya Nusa membuka pintunya setengah.


          Kaya langsung membuka pintu dengan lebar dan masuk ke dalam. Nusa berbalik arah dan mengusir Kaya dengan pintu masih terbuka. “Sebaiknya kamu pergi!”


          Kaya langsung menarik tangan Nusa untuk membawanya duduk di tempat tidur. Kaya menutup pintu dan kembali mencari sesuatu di laci ruang tamu.


          “Kaya sebaiknya kamu pergi! Karena aku enggak mau lihat mukamu!” usir Nusa dengan marah.


          “Kamu bisa diam enggak sih Nusa!” bentak Kaya.


          “Mana lagi?” Kaya mencari-cari tapi tidak ada. Akhirnya Kaya ke dapur mengambil batu es di kulkas dan menaruhnya di baskom yang sudah di isi air.


          Kaya mencari kain kecil di laci dapur dan menaruhnya di baskom yang sudah diberi es olehnya. Kaya kembali menghampiri Nusa yang duduk di tempat tidur dan menaruh baskom tersebut di tempat tidur.  Kaya memeras kain tersebut.


          “Mana tangan kamu Nus!” Kaya menyuruh Nusa untuk mengulurkan tangannya yang berdarah. Nusa tidak mau dan hanya terdiam. Kaya yang sudah gregetan menarik tangan Nusa yang berdarah.


          “Apaan sih!” desis Nusa. “Kamu enggak usah sok perhatian sama aku.” Ketus Nusa.


          “Kamu bisa diam enggak sih!” omel Kaya mengelap tangan Nusa yang berdarah.


          “Kamu kenapa sih Nusa? Biasanya kalau ngadapin aku kamu biasa aja. Kenapa jadi marah begini?” tanya Kaya yang mengelap goresan bekas gelas yang dipecahkannya dan meniup luka tersebut agar tidak perih.


          Nusa hanya memperhatikan Kaya yang mengobatinya. Kenapa kamu perhatian sama aku Kay? Setelah semua yang aku lakukan padamu? gumam Nusa dalam hati sambil melihat luka dibetis Kaya yang sudah ditutupin plester.


          Kaya selesai mengelap darah di telapak tangan Nusa dan bertanya kepada Nusa. “Apakah kamu punya kain kasa atau plester Nus?”


          Nusa hanya menggeleng menandakan tidak ada. “Yaudah sini dasi kamu!” Kaya meminta dengan tangannya.


          “Buat apa?” tanya Nusa.


          “Yah buat balutin luka kamu lah! Mana cepatan!”


          “Ambil sendiri!”


          Kaya hanya menatap sinis Nusa dan beranjak dari duduk untuk melepaskan dasi Nusa. Kaya berdiri dihadapan Nusa melepaskan ikatan dasinya.


          Nusa terus menatap Kaya yang membuka dasi dari kemejanya. Kaya yang merasa dilihatin merasa canggung.


          “Ehem,” Kaya berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya dan selesai membuka dasi Nusa.


          Kaya kembali duduk dan memegang tangan Nusa yang terluka. Dia membalutkan dasi ke tangan Nusa, lalu mengikatnya agar darahnya tidak keluar lagi.


          “Akhirnya sudah selesai.” Kaya tersenyum selesai mengobati Nusa.


          “Sebaiknya aku pulang dulu!” Kaya beranjak dari tempat tidur dengan mengusap lehernya karena canggung. Nusa langsung menarik tangan Kaya dan membaringkan Kaya di tempat tidur mengarah ke samping.


          “Tidurlah di sini semalam!” Nusa memeluk tubuh belakang Kaya yang tidur mengarah ke samping. Kaya hanya terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa.


          Nusa menutup matanya sambil memeluk Kaya dengan erat. Kaya sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya menerima pelukan Nusa.


          Kaya yang merasa Nusa sudah tidur terlelap membalikkan dirinya tidur menyamping menghadap Nusa. Kaya melihat Nusa dari dekat sekali. Dia membelai mata, hidung dan pipi Nusa dengan lembut.


          “Maafkan aku Nusa. Aku harus pergi. Kita tidak boleh seperti ini, karena akan menambah luka di hati kita. Aku tahu kamu punya rasa padaku, tapi aku tahu juga kamu adalah anak Wijaya dan sekarang kini kamu memusuhi diriku.” Kaya membelai pipi Nusa dengan lembut.


          Kaya memajukan dirinya menyium kening Nusa. “Sebenarnya aku mencintai dirimu, hatiku akan sakit bila dirimu terluka. Jadi tetaplah sehat dan menjadi lawan yang kuat bagiku.” Bisik Kaya dengan pelan. Lalu Kaya mencium pipi Nusa.


          Setelah itu Kaya beranjak dari tempat tidur dan menyelimuti Nusa. Lalu pergi menuju pintu. Saat di pintu, Kaya menoleh Nusa dan melihatnya dengan penuh kasihan. Kaya pun keluar dan menutup pintu.


          “Kaya, kau tidak tahu sebenarnya aku ini akan menjadi lawanmu yang sangat kuat dan justru aku akan melukai dirimu.”


***


          Kaya yang sedang menyetir untuk pulang mengingat Nusa terus. Dia berharap Nusa tidak akan melukai dirinya lagi apapun yang terjadi nantinya.


          “Nusa jadilah orang yang kuat saat dihadapanku, agar aku tidak merasa kasihan padamu dan membuatku selalu memperhatikan dirimu. Aku memang mencintai dirimu, tapi aku tahu ada benci di matamu terhadap diriku.”  Kaya menyetir dengan tangan satu dan tangan satunya lagi berada di dekat mulut.


***


Ke esokan harinya.....


          Nusa masuk ke ruangan berjalan menuju kursinya. Mila yang melihat Nusa berjalan dengan tangan dibalutkan dasi langsung menghampirinya.


          “Tangan bapak kenapa?” tanya Mila memegang tangan Nusa yang duduk di kursinya. Kaya hanya memperhatikan mereka.


          “Tangan saya tidak sengaja kena pecahan gelas,” senyum Nusa sambil menatap Kaya.


          “Ohhh, aduh bapak kasihan sekali. Emang tidak ada perban di rumah bapak?” tanya Mila. Nusa hanya menggeleng tersenyum.


           “Bentar tunggu di sini yah pak, saya ambilkan kotak P3K dulu di bawah!” Mila langsung bergegas keluar ruangan menuju pantry.


          Tiba-tiba Jessica datang masuk ke ruangan dan duduk dihadapan Nusa. Jessica yang memperhatikan tangan Nusa terluka dibalutkan dasi langsung panik.


          “Nusa ini tangan kamu kenapa?” tanyanya memegang tangan Nusa di meja.


          “Enggak kenapa-napa. Cuman luka kecil saja.”


          “Luka kecil gimana? Ini luka besar, buktinya sampai dibalutkan dasi. Emang kamu enggak punya kotak P3K apa?” tanya Jessica dan Nusa hanya menggelengkan kepalanya. Kaya hanya memperhatikan tingkah mereka saja.


          Saat buka pintu, Mila kesal melihat Jessica ada di sini sambil membawa kotak P3K-nya. Mila berjalan menghampiri mereka.


          Jessica yang melihat Mila membawa kotak P3K-nya langsung merampas dari tangan Mila.


          Mila langsung kesal dan ingin sekali menjambak Jessica. Namun dia menahannya dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada sambil memutarkan kedua bola matanya.


          “Sini tangan kamu Nusa! Aku akan gantikan dengan perban!” perintah Jessica. Nusa menyulurkan tangannya yang luka dan Jessica melepaskan dasi yang dibalutkan di tangan Nusa.


          “Tahan yah sayang!” Jessica memberikan obat merah. Lalu langsung membalutkannya dengan perban.


          Nusa tidak sama sekali memperhatikan Jessica. Ia justru memperhatikan Kaya yang menumpu tangan di dagunya sambil menulis sesuatu.


          “Tahan yah sayang!” ejek Mila pelan dengan bibir yang dimemblekan.


          “Kamu bilang apa?” tanya Jessica langsung menatap Mila yang berdiri di sampingnya.


          “Enggak bu, saya tadi ngomong sendiri.” Nyengir Mila dan kembali duduk.


          “Dasar aneh!” desis Jessica yang masih membalutkan perban di telapak tangan kanan Nusa.


          “Udah Nus,” ucap Jessica tersenyum dan Nusa langsung tersadar dari tatapanya terhadap Kaya.


          “Eh, udah yah? Terimakasih yah Jessica cantik,” goda Nusa dengan senyum.


          “Kamu bisa aja Nusa,” Jessica tersipu malu.


          Dasar genit, batin Mila kesal sambil mengetik dengan keras.


~ Bersambung ~