My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 69 ~ Nusa Meluakai Dirinya Sendiri



~ Happy Reading ~


          “Sepertinya sudah malam Kay. Sebaiknya kita pulang!” ajak Adrian beranjak dari kursi. Kaya juga ikut beranjak dari kursi.


          “Kenap buru-buru sekali Adrian?” tanya Nusa.


          “Apakah ada yang harus dibicarakan lagi Nusa?” tanya Adrian tanpa menoleh Nusa yang sudah membelakanginya.


          “Denganmu tidak ada. Tapi dengan Kaya ada.” Jawab Nusa tersenyum.


          Adrian menatap Kaya. “Adrian, kamu duluan aja! Aku tidak apa-apa kok.” Kaya menyuruh Adrian untuk pulang duluan.


          “Apa kamu yakin Kay?” tanya Adrian dengan khawatir.


          “Yah, aku yakin. Kamu duluan aja! Aku baik-baik saja.” Kaya tersenyum kembali duduk.


          “Baiklah, kamu hati-hati yah!” Adrian tersenyum.


          “Harusnya kamu yang hati-hati Adrian!” Nusa tersenyum menoleh ke arah Adrian yang di belakangnya.


          Adrian mengabaikan perkataan Nusa dan berjalan meninggalkan mereka. Nusa pindah tempat duduk. Ia duduk di tempat Adrian yang berhadapan dengan Kaya tadi. Lalu Nusa memanggilkan pelayan untuk membersihkan semua yang ada di meja dan menyuruhnya mengambil minuman lagi.


          “Kamu ingin minum apa Kaya?” tanya Nusa dengan senyum.


          “Aku ingin minuman dingin saja Nusa.” Jawab Kaya dengan senyum.


          Nusa menyuruh pelayan itu mengambil minuman yang diminta Kaya dan minuman wine untuk dirinya sendiri. Pelayan itu pun mengangguk dan  pergi membawa piring kotor.


          “Apa yang ingin kamu bicarakan Nusa?” tanya Kaya.


          “Sabarlah minumannya belum datang.” Jawab Nusa dengan senyum.


          Pelayan datang membawa sebotol wine buat Nusa dengan gelas yang bernama wine glass dan minuman dingin cocktail punya Kaya. Lalu menaruhnya di meja. Mereka duduk berhadapan dengan kaki menyilang dan sikap yang cool.


          “Apakah  kau bisa bicara sekarang?” tanya Kaya dengan cool.


          “Hem,” senyum Nusa menuang botol winenya ke gelas. “Kau sangat terburu-buru sekali.”


          “Katakanlah yang ingin kau bicarakan. Aku tidak punya banyak waktu sekarang.”


          “Sibuk sekali calon CEO yang satu ini. Baiklah. Aku hanya ingin bertanya. Apakah anda sudah puas merebut sahabatku? Kau sudah menghancurkan papaku dan sekarang ingin memprovokasi Adrian. Lalu siapa lagi yang ingin kau provokasi? Apakah Lita juga?” tanya Nusa dengan menggoyangkan minuman di gelasnya. Lalu meminumnya dengan senyum.


          “Aku tidak bermaksud untuk memprovokasi siapapun. Tapi teman anda yang datang padaku untuk berteman. Dan untuk Lita, mungkin juga dia akan menjauhimu juga.” Kaya tersenyum sambil minum.


          “Woww..., kau sangat hebat sekali membuat orang menjadi temanmu dengan mudah.”


          Kaya berdiri dari kursi dan menghampiri Nusa yang duduk dengan membawa gelas ditangannya. Kaya berdiri di belakang Nusa dengan menunduk mengarah kuping Nusa.


          “Mungkin mereka tidak mau berteman karena kamu anak seorang penipu dan pemabuk. Bukankah seperti itu Nusa?” bisik Kaya membelai wajah Nusa.


          Kaya berdiri tegap dan membelakangi Nusa untuk kembali ke kursinya sambil meminum. Namun terdengar suara pecahan gelas. Kaya langsung berbalik badan menoleh Nusa dan melihat dirinya menggenggam gelas yang dipecahkan dengan tangan sendiri.


          “Nusa, kamu udah gila yah?” tanya Kaya yang panik menaruh gelas di meja dan mencoba mengambil gelas yang digenggam Nusa.


          Apakah omongan aku terlalu kasar? Kaya bertanya dalam hatinya.


          Kaya melihat muka Nusa sangat marah dan dia mencoba melepaskan genggaman gelas yang dipecahkan Nusa. Tangan Nusa berdarah karena memecahkan gelas tersebut dengan tangannya sendiri. Kaya berhasil melepaskan gelas yang digenggam Nusa dan mengambil tisu untuk membersihkan tangan Nusa.


          Nusa masih terdiam dengan kemarahan. Dia tidak suka disebut anak seorang pemabuk.


Flash back....


Saat sore hari....


          “Mama,” teriak Nusa menghampirinya. Tapi ibunya hanya terdiam tidak bicara sama sekali bahkan tersenyum pun tidak.


          “Mama lihat deh! Aku membuat gambar tentang papa, mama dan aku. Kita adalah keluarga yang bahagia di sini. Mama lihat dulu gambarnya! Apakah mama suka?” tanya Nusa menarik tangan ibunya dengan semangat. Namun ibu Nusa masih terdiam dan menatap ke depan dengan pandangan kosong.


          “Mama, lihat gambar Nusa bagus tidak? Mama, mama, mama.” Nusa selalu menarik tangan ibunya sambil memanggilnya.


          “Diam kau, anak seorang pemabuk, pergi dari hadapanku!” Ibunya mendorong Nusa dan membuatnya tersungkur ke lantai.


          Nusa pun menangis dengan keras dan terdengar oleh Wijaya dari bawah. Wijaya langsung ke atas melihat Nusa yang menangis dengan keras.


          “Kau apakan ini Kasih?” tanya Wijaya mencoba membangunkan Nusa. Kasih adalah nama ibunya Nusa. Kasih hanya terdiam dan duduk di kursi goyang.


          “Apakah kau tidak bisa melupakan masa lalu dan lihat anak kita sendiri. Kenapa kau selalu mengingat masa lalu kita?” Wijaya memarahi istrinya dan menenangkan Nusa dengan memeluknya berdiri.


          Nusa melihat papanya memarahi ibunya langsung melepaskan pelukannya. “Ini semua karena papa yang suka mabuk terus dan pulang malam. Hingga mama menyebut aku seorang anak pemabuk.” omel Nusa dengan menangis dan pergi meninggalkan mereka.


Flash back berakhir.....


          “Nusa kamu sudah gila yah melukai diri sendiri?!” omel Kaya mengelap telapak tangan Nusa yang berdarah dengan tisu.


          “Lepasin!” Nusa menghempaskan tangan Kaya sehingga Kaya tersungkur ke lantai dan kakinya tak sengaja terkena pecahan kaca.


          “Aw....!” Kaya kesakitan. Nusa tidak peduli sama sekali, dia masih marah dan geram.


          Kaya mencoba perlahan berdiri dengan sendiri dan melihat kakinya yang terkena pecahan. Kaya duduk di kursi yang berada di depan Nusa. Ia mencoba mencabut pecahan kaca dibetisnya dengan sendiri.


          “Aw....,” Kaya berteriak dengan pelan dan melihat Nusa tidak sama sekali prihatin. Nusa hanya terdiam marah dengan mengepalkan kedua tangannya.


          Sebenarnya kamu kenapa Nusa, batin Kaya miris melihat telapak tangan Nusa bercucuran darah.


          Nusa beranjak berdiri dari kursi dengan tangan kanan masih meneteskan darah. “Sebaiknya kau pulang! Karena aku enggak mau lihat mukamu!” Nusa berjalan dengan muka yang geram.


          “Nusa,” Kaya mencoba berdiri. “Kamu kenapa sih? Oke, kalau kamu enggak mau aku bantu. Silahkan obati sendiri lukamu itu!” teriak Kaya yang kesal.


          “Aku tidak menyuruhmu untuk mengobatinya,” balasnya dingin dan pergi meninggalkan Kaya.


          “Dia kenapa sih? Apa ada yang salah dengan omonganku? Biasanya kalau aku sebut penipu dia biasa saja. Apa karena aku sebut pemabuk makanya dia marah? Tapi memang dia suka minuman alkohol. Kenapa harus marah? Ahhh..., bodo amat. Biarin aja sekalian mamp*s dia disitu.” Gerutu Kaya.


          Kaya berjalan keluar restoran dan melihat Nusa masih di parkiran untuk masuk ke dalam mobil dengan tangan masih mengeluarkan darah. Nusa terlihat marah sekali dan melajukan mobilnya dengan cepat.


          Kaya masuk ke dalam mobil dan mencari kotak P3K di dashboardnya. Dia mengobati luka di betisnya dengan memberi plester. Selesai di plester, Kaya melajukan mobilnya untuk pulang.


Selama di perjalanan...


          Kaya yang menyetir selalu mengingat keadaan Nusa. “Kenapa sih Nusa? Kenapa dia bertindak gila memecahkan gelas dengan tangannya sendiri? Apa dia itu tempramen sebenarnya?”


          Kaya selalu bertanya pada dirinya sendiri dan tidak sadar lampu merah menyala. Kaya langsung ngerem mendadak, hingga kepalanya terpentok stir dengan pelan.


          “Aw....,” Kaya mengelus kepalanya. Menunggu lampu hijau menyala, Kaya masih memikirkan tangan Nusa yang berdarah.


          “Sial!” Kaya memukul stirnya.


          “Kenapa aku selalu mengingat dia terus? Kenapa aku selalu memikirkan dia? Kenapa aku harus jatuh cinta sama orang yang akan menjadi musuhku sendiri? Hah...., sial!”


          Kaya membentak diri sendiri dan memukul stirnya. Kaya meneteskan air matanya karena sudah tidak tahan dengan keadaan Nusa.


          Lampu hijau menyala, Kaya putar balik dan melaju cepat menuju apartemen Nusa. Kaya menyalip mobil ke kanan dan ke kiri, seakan tidak peduli dengan dirinya lagi. Dia sangat khawatir dengan keadaan Nusa.


~ Bersambung ~