
~ Happy Reading ~
Nusa ke dapur untuk mengambil segelas air buat Kaya. Wajahnya tersenyum menyeringai, mengingat kondisi rumah sangat sepi sehingga dia bisa bertindak apa saja di rumah ini.
Nusa menaiki tangga dengan membawa gelas, dia membuka pintu kamar Kaya yang tidak terkunci tanpa mengetuknya. Nusa melihat Kaya sedang asyik menonton TV, sambil bersandar di sandaran tempat tidur dengan memegang remote TV.
Kaya justru menyadari Nusa hadir dan dia tidak merasa kaget sama sekali. “Buat apa kamu ke sini?” tanyanya tanpa menoleh Nusa yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Heh, aku hanya ingin melihat calon CEO cantik yang begitu lemah sehingga tidak masuk dua hari.” Ucap Nusa dengan tajam.
“Heh, maaf sekali Nusa yang terhormat. Saat ini saya tidak ingin berdebat denganmu. Jadi saya mohon untuk kamu pergi dari sini!” Kaya memperagakan tangannya seperti memohon kepada Nusa dengan mengejeknya juga.
Nusa menyodorkan gelas yang di bawanya kepada Kaya. “Nih! Tadi mamamu yang suruh! Mungkin dia takut anaknya yang cantik dehidrasi. Kalau dehidrasi mungkin saja nanti nyawannya hilang.”
“Tidak usah. Aku tidak butuh. Biarkan saja aku mati bukannya itu yang kamu inginkan?
Lagi pula bisa aja air itu sudah kau masukan racun?!” tuduh Kaya.
“Baiklah, kalau kau menuduhku. Aku saja yang minum, kebetulan aku haus.” Nusa meneguk air tersebut sampai habis tak tersisa sedikit pun dan meletakan gelas tersebut di meja samping tempat tidur Kaya.
“Kalau sudah selesai. Silahkan pergi dari sini tuan Nusa!” usir Kaya.
Nusa melangkkah menuju meja depan tempat tidur Kaya dengan di atasnya TV yang berada di dinding. Ia bersandar di meja menghadap Kaya dengan tersenyum.
“Kenapa anda senang sekali mengusir saya nona Kaya? Saya diberi amanah oleh mamamu untuk menjaga dirimu sampai dia pulang dari minimarket.”
“Tidak perlu. Aku sudah besar dan bukan bayi yang harus dititipkan oleh orang yang salah sepertimu.” Kaya mengangkat satu alisnya.
“Yah kamu memang benar. Aku memang orang yang salah, karena aku bisa melakukan apa saja dengan orang yang sedang lemah saat ini!” Nusa melipatkan kedua tangannya di dalam dada dan duduk menyilang dengan gayanya yang sangat cool.
Kaya hanya menatap sinis Nusa yang tidak jauh berada di depannya. Rasanya dia ingin sekali menampar Nusa akan kejadian kemarin malam. Namun, tubuhnya masih lemah dan tak berdaya.
“Selain itu, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu nona Kaya!”
“Katakan apa yang ingin kau sampaikan tuan Nusa?”
“Aku ingin kau datang besok hari sabtu ke apartemenku. Karena kau telah banyak menunda proyek resstoran untuk Bali.”
“Baiklah Nusa yang terhormat. Sekarang kau bisa pergi!” usir Kaya dengan memperagakan tangan kirinya mengusir.
“Kenapa kau senang sekali aku pergi nona Kaya. Bukankah kau harusnya senang dapat dijenguk oleh pria yang kau cinta?!”
“Heh,” Kaya tersenyum sinis. “Kau bilang apa pria yang ku cinta?” Kaya tertawa sinis.
Kaya mendecih untuk pertama kalinya. “Dengar yah tuan Tama terhormat. Harusnya kau sadar diri! Aku tidak menyukaimu. Itu yang pertama! Yang kedua kau jangan terlalu kepedean tuan Tama yang terhormat!” Lalu membuang mukanya.
Nusa hanya tersenyum sinis. “Baiklah mungkin aku kepedean sayang. Selain itu aku membawa berita bahagia buatmu. Bahwa nanti jam 3 sore aku akan mengumumkan tanggal pertunanganku kepada wartawan.”
Kaya sedikit kaget mendengarnya dan kembali menatap Nusa. “Baguslah. Selamat yah atas pertunanganmu tuan Nusa. Mungkin aku tidak akan hadir di tanggal tersebut.”Kaya tersenyum palsu.
“Aku akan paksa dirimu hadir ke pertunanganku Kaya. Sayang sekali, aku lebih suka kau melihat semuanya secara langsung saat aku mengumumkannya, tapi kau malah sakit.”
“Bukankah lebih baik, jika aku tidak ada.”
“Bagi diriku akan lebih baik jika kau melihat diriku selalu bersama Jessica. Agar kau tahu batasan dirimu seperti apa?!” sinis Nusa.
“Batasan apa maksudmu?” tanya Kaya bingung.
“Batasan kalau dirimu tidak setara derajatnya dengan diriku dan Jessica.”
“Heh, buat apa diriku setara denganmu. Kau kan adalah anak dari seorang penipu. Yah jelas saja, tidak setara tuan Nusa.” ejek Kaya.
“Justru itu buat apa aku dengan dirimu. Kau juga kan, seorang penipu. Jika aku nanti dengan dirimu, berarti anak kita juga adalah anak penipu.” Nusa membalas perkataan Kaya yang tajam.
Kaya menggertakkan giginya dan mengepal kedua tangannya, walau tangan kanannya masih sakit. Rasa sakit sudah tidak dirasakannya lagi, kini dia ingin sekali menonjok Nusa. Tapi dia menahannya dan terdiam dengan muka yang sudah geram.
Nusa berdiri dari meja untuk menghampiri Kaya. Dengan sedikit membungkuk dan melihat jelas muka samping Kaya yang marah.
“Kenapa marah sayang? Bukankah ucapanku benar?” Nusa terlihat tersenyum menyeringai.
Kaya yang sudah geram menoleh ke arah samping tepat wajah Nusa. Lalu dengan cepat Nusa mengecup bibir Kaya. Sontak membuat dirinya terkejut.
“Bibir kamu manis, tapi sayang kamu itu seorang penipu!” senyum Nusa sambil membelai bibir Kaya.
Tatapan Kaya kini berubah menjadi sangat sinis. Kedua tangan Kaya beralih memegang kepala Nusa dan mendekatkannya kepada wajah Nusa. Nusa membiarkannya karena terbawa suasana akan keinginan Kaya.
Kaya menempelkan bibirnya kepada bibir Nusa. Mereka terpaut dalam alunan romantisme ciuman. Kaya kembali membuka matanya dengan tersenyum menyeringai, dia menggigit bibir bawah Nusa dengan kasar.
“Aw….!”
Nusa langsung melepas bibirnya dan berdiri tegap. Ia memandang sinis wanita yang menggigit bibirnya, sambil mengusap bibirnya yang terluka. Kini Kaya merasa puas dengan senyum liciknya.
“Kenapa? Bukannya manis Nusa sayang?”
“Sialan,” umpat Nusa.
Ceklek...!
Pintu terbuka dengan kehadiran Mina yang menghampiri mereka, tanpa tahu apa yang terjadi.
“Nusa bibir kamu kenapa?” tanya Mina menunjuk bibir Nusa.
“Tidak apa-apa tan. Tadi tergigit,” jawab Nusa tersenyum palsu.
“Yaudah kalau begitu, tante obatin yah!” tangan Mina mencoba untuk melihat bibir Nusa.
Nusa langsung memundurkan badannya, sehingga tangan Mina tidak jadi memegang bibir Nusa. “Tidak usah tan. Nanti, kering sendiri.” Senyum Nusa sambil memegang bibirnya.
“Ohhh..., yaudah baiklah. Nusa makasih yah sudah temenin Kaya.” senyumnya.
“Sama-sama tan,” senyum Nusa.
“Kalau begitu saya balik dulu yah tan!” lanjut Nusa.
“Yaudah tante anterin yah!”
“Baik tan,” angguk Nusa. Mina berjalan duluan menuju pintu, sedangkan Nusa menatap sinis Kaya dan Kaya membalasnya menatap sinis.
“Aku akan membalas ciuman yang berdarah ini nona Kaya!” ancam Nusa dan Kaya hanya menatapnya sinis.
“Heh, aku tunggu tuan Nusa!”
“Nusa ayuk!” seru Mina.
“Iya tante,” balas Nusa berjalan keluar pintu kamar Kaya.
Dasar Nusa sialan! Kau selalu membuatku sakit hati! Aku tidak akan biarkan kau bersama Jessica lihat saja!
~ Bersambung ~