
~ Happy Reading ~
Ke esokan harinya....
Di Perusahaan Tama.
Nusa berjalan masuk ke dalam ruangan. Sejenak dia menoleh kursi Kaya dan melihatnya masih kosong. Kakinya pun berhenti melangkah dan langsung menoleh ke arah Mila untuk bertanya.
“Kaya ke mana?”
“Tidak tahu pak. Bu Kaya tidak mengabari saya dari kemarin soalnya.” Jawab Mila berdiri dari kursi.
“Coba kamu telepon dia!” perintah Nusa dan Mila mengangguk langsung melaksanakan perintah Nusa.
Mila mencoba menelepon Kaya dan tidak sama sekali diangkat. “Selalu berdering pak, tapi tidak diangkat.” Ucap Mila.
“Yaudah kamu duduk dulu dan coba telpon dia terus!” perintah Nusa sambil berjalan menuju tempat duduknya.
Mila terus mencoba menelepon Kaya tapi tidak ada jawaban dan dia terus menelepon Kaya.
Di rumah Kaya.
Kaya sedang bersantai dengan kepala bersandar di sandaran tempat tidur sambil menonton TV. Dirinya menikmati kebebasan sejenak dari pekerjaan dan Nusa.
Tiba-tiba ponselnya bergetar terus di meja samping tempat tidurnya. Kaya meliriknya dan melihat panggilan dari Mila. Ia pun mengabaikannya dan kembali menonton TV.
Kaya membiarkan ponselnya terus bergetar. Sehingga membuat dia terganggu dan mengambil ponsel tersebut. Lalu mematikan ponsel tersebut agar tidak di telepon lagi dan melemparnya asal ke tempat tidur.
Di perusahaan Tama.
Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi!
Terdengar dari suara operator di telinga Mila. “Hpnya di non aktifkan sekarang pak,” ucap Mila.
“Yasudah baiklah. Kamu WA dia! Suruh besok masuk atau CEO jatuh ke tangan saya!Soalnya masih banyak urusan yang belum di kerjakan!” perintah Nusa.
“Baik pak,” angguk Mila dan melaksanakan yang diperintahkan Nusa.
Nusa berdiri dari kursi dan berjalan menuju pintu, namun Mila memanggilnya dan ia pun menoleh ke arah Mila.
“Bapak mau ke mana?” tanya Mila berdiri dari kursi.
“Saya mau ke suatu tempat. Kalau ada yang cariin saya, bilang saya tidak ada!”
“Tapi pak, bukannya wartawan nanti datang jam 3 sore?”
“Emang iya. Nanti saya balik setelah makan siang.”
“Oh iya Mil, nanti kalau Jessica sampai. Tolong kamu layani dia yah!”lanjut Nusa mengingat Jessica akan datang sebelum makan siang.
“Baik pak Nusa,” senyum Mila.
Nusa berbalik badan berjalan menuju pintu. Sedangkan Mila masih berdiri melihat punggung Nusa yang sudah menghilang.
“Ogah banget layanin nenek lampir kayak dia!” gerutu Mila kembali duduk lagi.
****
Nusa sudah berada di tempat parkir, dengan cepat masuk ke dalam mobil menyalakan mesin mobilnya. Lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Sambil menyetir Nusa menyalakan musik di radio. Musik yang sekarang diputar berjudul I Love You yang dinyanyikan oleh Avril Lavigne.
La la, la la la
La la, la la la
I like your smile
I like your vibe
I like your style
But that’s not why I love you
And I, I like the way
You’re such star
But that’s not why I love you
*Note: cari sendiri yah artinya wkwkw*
Nusa yang mendengarnya mengingat kembali tentang Kaya. Bagaimana Kaya tersenyum, tertawa, dan mengecupnya. Lagu ini membuka kembali kenangan terhadapnya, saat dia masih di perusahaan Adrian bersama Kaya.
Reff:
You’re so beautiful
But that’s not why I love you
I’m not sure you know
That the reason I love you is you
Being you, just you
Yeah the reason I love you
And that’s why I love you
I like the way you misbehave
When we get wasted
But thats not why I love You
And how you keep your cool when I complicate
But that’s not why I love you
Saat ingin kembali ke reff lagi. Nusa langsung mematikan musiknya, karena dia mulai terbawa perasaan akan cintanya. Dia kembali mengingat tujuannya untuk membuat Kaya terluka, seperti ibunya yang terluka
karena Erlangga. Nusa kembali fokus menyetir. Tujuannya saat ini memastikan Kaya tidak melarikan diri atau menyerah begitu saja.
Di rumah Kaya.
Ting…, Tong….,
Nusa memencet bel rumah Kaya. sambil berdiri di depan pintu.
“Iya bentar!” sahut Mina yang berada di dapur.
Mina mencuci tangannya terlebih dahulu, lalu berjalan menuju pintu untuk membukakan pintunya.
“Kamu?” tunjuk Mina.
Wanita ini adalah perebut segalanya dari mamaku.
“Hai tante, apa kabar?” Nusa tersenyum palsu.
“Baik. Kamu bukannya yang pernah mengantar Kaya pingsan ke sini yah?”
“Lebih tepatnya sih, Kaya bukan pingsan tante tapi mabuk,” nyengir Nusa.
“Oh iya? Maksud saya itu! Yaudah ayuk masuk!” suruhnya mempersilahkan Nusa masuk ke dalam.
“Kayanya ada tante?” tanya Nusa berjalan masuk ke dalam rumah.
“Ada. Dia ada di atas,” jawab Mina tersenyum.
Senyumanmu tersebut membuat aku muak. Dengan senyuman itu kau merebut Erlangga dari mamaku hingga dia bunuh diri.
“Oh iya tan? Kenapa Kaya tidak masuk kerja hari ini?”
“Dia kurang enak badan makanya enggak masuk kerja.”
“Oh iya nama kamu siapa yah?” tanya Mina.
“Nusa, tante.”
“Iya waktu itu, tante mau nanya. Kamunya sudah jalan duluan.”
“Iya tan, soalnya sudah malam.”
“Oh iya Nusa. Kamu ada hubungan apa dengan Kaya?” introgasi Mina.
“Saya rekan kerja Kaya tante,” jawab Nusa.
“Kalau begitu kebetulan sekali. Saya ingin bertanya Nusa. Kemarin Kaya pingsan di depan rumah dan telapak tangannya memar serta kelupas kulitnya. Katanya sih dia ke timpa benda. Emang benar Nusa?”
Dia pingsan? Nusa agak kaget.
Jangan-jangan tangannya terluka gara-gara hempasanku kemarin?
“Saya tidak tahu tan,” kilah Nusa.
“Oh iya tan? Papanya Kaya kok tidak kelihatan?” tanya Nusa.
“Ohh…, tadi dia pergi ada urusan sama temannya. Jadi tidak ada di rumah. Emang kenapa?”
“Enggak. Saya hanya ingin melihat papanya Kaya seperti apa? Soalnya anaknya cantik banget sama seperti tante, pasti suami tante juga ganteng.” Puji Nusa dengan penuh kepura-puraan.
“Kamu bisa aja Nusa,” Sarah tersenyum tersipu.
Padahal diriku ingin melihat pria yang telah membuat mamaku mengambil tindakan bunuh diri dari dekat.
“Nusa, tante boleh titip Kaya bentar tidak? Soalnya tante mau ke mini market sebentar? Ada bumbu dapur yang mau di beli?!”
“Boleh tan,” senyum Nusa.
“Kamu memang anak yang baik dan manis lagi,” senyumnya.
“Yaudah tante pergi dulu yah!” Mina berjalan untuk mengambil mantelnya di gantungan baju dekat pintu.
“Kamu jaga baik Kaya yah Nus, soalnya sekarang ini Kaya terlihat lemas. Sama minta tolong ambilkan dia segelas air yah!” perintah Mina berteriak di depan pintu.
“Iya tan,” jawab Nusa melihat Sarah sudah keluar pintu.
~ Bersambung ~