My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 75 ~ TOD



~ Happy Reading ~


          Setelah selesai makan. Beberapa menit kemudian Kaya beranjak dari kursinya. “Sudah malam Adrian, sebaiknya kita pulang!”


          “Kenapa buru-buru sekali Nyonya Kaya Dirgantara?!” Nusa tersenyum sambil meminum. Kaya langsung kembali duduk.


          “Sudah lama sekali kita tidak bermain Truth or Dare bersama Adrian, yah kan Lit?” Nusa menoleh Lita dengan senyum.


          “Iya benar,” senyum Lita.


          “Baiklah, bagaimana kita bermain Truth or Dare bersama anggota baru di sini?” tanya Nusa tersenyum.


          “Aku setuju Nus,” jawab Lita.


          “Bagaimana dengan kamu Adrian?” tanya Nusa tersenyum.


          “Baiklah, aku setuju.” Adrian tersenyum.


          “Kay, kamu enggak papa kan, ikut permainan ini?” tanya Adrian.


          “Iya enggak papa,” senyum Kaya menoleh Adrian.


          Lita yang melihat mereka berdua saling tersenyum mulai merasa kesal dan rasanya ingin membalikkan meja kepada Kaya. Namun dia masih menahan emosinya dan menjaga sikapnya, seperti yang dibilang oleh Nusa.


Flash back ......


          Setelah Nusa sampai, Lita sudah duduk duluan dan melambaikan tangan kepada Nusa.


          “Hai Lit,”


          “Hai Nus,” sapa balik Lita.


          “Ada apa kamu menemuiku?” tanya Nusa sambil memanggil pelayan yang tidak jauh dengannya menggunakan tangan.


          “Kita pesan makanan dulu kalau begitu,” jawab Lita melihat Nusa memanggil pelayan.


          Pelayan itu menghampiri mereka. “Saya pesan ini dan ini, kamu Lita?” tunjuk Nusa pada buku menu.


          “Samakan aja Nus,” jawab Lita.


          “Kalau begitu dua yah!”


          “Baik tuan,” angguk pelayan tersebut, lalu pergi meninggalkan mereka.


          “Jadi ada apa kamu ingin menemuiku Lit?” tanya Nusa.


          “Katakan yang sebenarnya Nus! Apa yang terjadi antara paman dengan Om Erlangga?” tanya Lita.


          Nusa menghela nafasnya. Ia harusnya sudah tahu Lita pasti akan bertanya ini, karena rasa penasarannya yang selalu tinggi.


          “Katakan bang, jangan diam saja!” ucap Lita kesal.


          Nusa membentuk tangannya seperti doa dan menumpu pada dagu. “Jika aku mengatakan sebenarnya. Apakah kau bisa berjanji untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun?” tatap Nusa dengan serius. Lita mengangguk yakin.


          “Semua ini berhubungan dengan bibi soalnya Lit.”


          “Maksudnya?” tanya Lita menyerngit.


          Tangan Nusa berpindah dari tumpuan dagu menjadi di meja. “Aku bertanya sekali lagi padamu. Kau tidak akan memberitahu kepada siapa pun termasuk Kaya kan?” tanya Nusa kurang yakin akan Lita.


          “Tidak bang, aku bersumpah.” Jawab Lita menunjukkan jarinya berbentuk V.


          “Paman melakukan semua ini, bukan karena ingin kekuasaan atau memiliki bisnis papanya Kaya, tapi untuk membalaskan dendam pribadi antara mereka berdua dulu.”


          “Maksudnya dendam pribadi?” tanya Lita tampak bingung.


          “Sebenarnya bibi tidak mencintai papa dan mencintai Erlangga.”


          “Apa?” Lita nampak kaget.


          “Iya benar,”


          “Pantesan bibi tidak pernah mau tersenyum saat berhadapan dengan paman.”


          “Iya, dan di saat itu aku merasa bersalah sama papa Lit.”


          “Kenapa?”


          “Karena selama ini aku menuduh papa yang membuat mama menjadi seperti itu.”


          “Jangan salahkan dirimu Nus!” Lita menggenggam tangan Nusa di meja. “Ini memang keputusannya untuk tidak memberitahumu dari dulu.” Ucap Lita dengan lembut.


          “Maaf Nus, apakah bibi bunuh diri karena papa Kaya juga?” tanya Lita dengan hati-hati dan Nusa mengangguk.


          Anggukan Nusa membuat Lita terkejut dan menarik tangannya kembali. Kini ia tahu kenapa paman melakukan hal semua ini. Itu semua untuk membalaskan dendam kepada Erlangga.


          Namun, yang Lita tak tahu kenapa Om Erlangga melakukan ini. Bukankah terlihat di foto dulu, mereka adalah sahabat. Apakah tante Kasih cinta yang bertepuk sebelah tangan makanya stress. Lita bertanya pada dirinya sendiri.


          “Maafkan aku Nus, aku pikir ini semua salah paman. Ternyata ada alasan dibalik semua ini.”


          “Iya, tidak apa-apa.” senyum Nusa.


          “Nus...,” Lita ingin bertanya lagi berhenti karena Nusa seperti melihat seseorang yang dikenal. Lita pun menoleh ke belakang dan melihat Adrian bersama Kaya berdiri membelakangi mereka.


          Nusa beranjak dari kursi dan berkata kepada Lita. “Ku mohon padamu Lit, untuk bersikap biasa saja?!” Lita hanya mengangguk.


Flash back berakhir....


          “Baiklah kalau begitu, aku akan panggil pelayan untuk membersihkan semuanya!”


          Nusa memanggil pelayan dan menyuruh untuk membereskan semuanya serta mengambil minuman bagi mereka semua dan pelayan itu melaksanakan sesuai yang diperintahkan Nusa.


          “Kebetulan botol yang aku minum sudah habis dan akan ku pakai botol ini.” Nusa menaruh botol tersebut di tengah-tengah meja.


          Pelayan itu datang kembali membawakan minuman sesuai pesanan mereka semua dan menaruhnya di samping mereka. Lalu pelayan itu pergi meninggalkan mereka.


          “Baik ayok kita mulai. Siapa yang mau duluan?” tanya Nusa.


          “Kalau begitu aku duluan Nus!” unjuk Lita dan memulai memutar botolnya. Mereka menunggu botol itu berhenti dan botol tersebut berhenti mengarah ke Kaya.


          “Wow..., botol ini menuju anggota baru di sini.” Nusa tersenyum sinis mengarah Kaya. “Kamu pilih apa nyonya Kaya Truth or Dare?


          “Truth, pak Nusa yang terhormat.” Senyum Kaya.


          “Kalau begitu aku ingin menanyakan sesuatu Kay kepada kamu,” senyum Lita.


          “Apa Lit?” tanya Kaya memegang gelasnya untuk minum.


          “Kenapa kamu menipu perusahaan pamanku?” tanya Lita tersenyum.


          Kaya menghentikan untuk minum dan kaget mendengar pertanyaan Lita. “Bukankah, kamu pasti sudah tahu dari sepupu kamu sendiri. Aku menipu perusahaan pamanmu karena ingin balas dendam.” Jawab Kaya jujur dengan tersenyum, lalu meminum minumannya.


          “Lalu sejak kapan kamu mulai semua ini?” tanya Lita lagi.


          “Bukankah permainan ini, sekali putaran sekali menjawab pertanyaan?” tanya Kaya meletakkan gelasnya.


          “Iya kamu benar nyonya Kaya.” Nusa menoleh ke Lita dengan mengisyaratkan matanya, agar tidak bertanya yang macam-macam lagi.


          “Baiklah sekarang giliran dirimu Kaya.” senyum Nusa.


          Kaya memulai memutar botolnya dan botol tersebut berhenti kepada Lita. Kini Kaya membalas bertanya kepada Lita.


          “Kamu pilih apa Lita?” tanya Kaya.


          “Truth,” jawab Lita.


          “Baiklah. Ketika kamu tahu ternyata selama ini yang membuat keluargaku bangkrut adalah pamanmu. Kamu pilih siapa Lita? Pamanmu kah atau temanmu?” tanya Kaya menatap Lita dengan tajam.


          Lita tersenyum sinis. “Yah jelas keluargaku lah, yang ada hubungan saudaranya. Sedangkan kamu bukan Kaya.” Jawaban Lita menusuk hati Kaya.


          Adrian yang mendengarnya langsung kaget. Apakah Nusa mendoktrin Lita? Kenapa sekarang dia berubah pikiran? Kemarin dia belaiin Kaya agar aku tidak membencinya. Lalu kenapa sekarang dia bersikap membela


Nusa?


          Kenapa kamu membela pamanmu Lit, yang jelas kamu sudah tahu penderitaan diriku selama ini? tanya Kaya dalam hati.


          “Pertanyaan kalian sangat tajam sekali. Apakah tidak ada pertanyaan yang lain selain masalah pribadi.” Sindir Adrian dengan senyum sambil minum.


          “Mungkin pertanyaan tersebut harus diselesaikan di sini,” Nusa membalas perkataan Adrian dengan senyum.


          “Baiklah sekarang giliran Lita,” ucap Nusa.


          Lita memutar kembali lagi botol tersebut dan berhenti ke arah Nusa. “Nusa, kamu pilih apa?” tanya Lita.


          “Truth,” jawab Nusa.


          “Okey. Apakah abang tahu kenapa paman melakukan ini?” tanya Lita. Kaya memperhatikan mereka berdua.


          “Aku tidak tahu, mungkin karena masa lalu mereka.” Nusa menggedikkan bahunya.


~ Bersambung ~