My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 108 ~ Penolakan Cinta



~ Happy Reading ~


Di Ruangan Pribadi Nusa.


          Kaya dan Nusa duduk saling berhadapan di sofa. “Cepat kirimkan semuanya Nusa! Aku tidak ada waktu.” Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.


          “Sabarlah!” Nusa sengaja mempermainkan emosi wanita itu.


          “Pertama aku akan mengirimkannya. Lalu kedua kau harus membalas semua pertanyaanku tadi?” tanyanya dengan cool.


          “Heh..,” Kaya tersenyum miring. “Apakah penting aku harus menjawabnya? Bukankah kau bilang kepada Jessica bahwa aku berbohong dan musuhmu?”


          “Baiklah,” Nusa menghembuskan nafasnya. Ia tahu tadi berkata seperti itu ke Jessica, agar Jessica tak merusak semua rencananya. Namun perkataannya membuat Kaya kesal.


           “Kaya aku hanya tidak mau Jessica itu nanti menangis di kantorku. Kan, kamu tahu sendiri dia itu kayak apa?! Dia itu lebay dan manja. Jadi, aku tidak ingin dia sepanjang hari menangis di kantorku.” Kelak Nusa seperti meyakinkan Kaya.


          “Lalu? Aku ini apa? Hanya sandiwaramu saja?” tanya Kaya menunjuk Nusa. Sejujurnya ia tak suka dengan pria yang plin-plan akan ucapannya.


          “Kay aku serius, aku menyukaimu! Aku akan urus Jessica nanti. Dan kau bukan sandiwaraku!” tunjuk Nusa dengan serius.


          Apakah dia serius atau hanya berpura-pura? tanya Kaya dalam hati. Ia menatap Nusa dengan intens dan tidak menemukan kebohongan di matanya. Wajahnya tampak serius dan tak bercanda, namun dirinya tak suka Nusa mempermainkan Jessica. Kaya juga adalah seorang wanita dan tak menuntut kemungkinan Nusa juga hanya bersandiwara padanya.


          Kaya berdiri dari sofa dan membuat keputusan untuk tidak menerima Nusa. “Maaf Nusa aku tidak sepertimu yang bisa berpura-pura di depan orang. Soal pertanyaanmu,” Kaya menjedanya ucapannya sebentar, sambil menatap Nusa yang duduk.


          “Aku sama sekali tidak mencintaimu. Jika pun aku mencintaimu, aku tidak akan pernah ingin menjalin hubungan denganmu. Karena aku tahu engkau hanya ingin mempermainkanku saja sama seperti Jessica yang kau permainkan juga. Dan masalah file itu, terserah kau saja mau kirim atau tidak!” lanjutnya.


          Kaya langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu, meninggalkan Nusa yang terdiam mendengar ucapannya. Kaya tak tahu, Nusa marah atau tidak dengan ucapannya. Ia terus berjalan tanpa melihat Nusa.


          Nusa yang melihat Kaya berjalan dengan cepat berdiri dan menghampiri Kaya. Ia menarik tangan Kaya dan mendorongnya ke tembok. Lalu kedua tangannya mengunci Kaya dan menatapnya dengan tajam.


          “Aku serius! Aku mencintaimu dan tidak main-main! Apakah kau tidak bisa melihat mataku?!” Nusa menekankan ucapannya sambil menatap mata Kaya dengan tajam. Wajah mereka dekat sekali, Kaya dapat merasakan hembusan nafas Nusa.


          Tak ingin terlalu lama menatap Nusa. Kaya memutuskan untuk bersuara dengan tatapan mata yang tajam. Ia tak boleh luluh dan harus mempertahankan keputusannya. “Lepaskan aku Nusa!”


          “Tidak akan, sebelum kau jawab iya! Aku tidak suka ditolak! Aku sangat mencintaimu Kaya!” tekan Nusa dengan amarah yang ditahannya dari tadi.


          “Dan aku tidak mencintaimu!” tunjuk Kaya tepat di dada Nusa.


          “Coba ulangin sekali lagi?” tanya Nusa yang geram mendengarnya.


          Penolakan adalah hal terbesar yang melukai egonya dari dulu, karena semua wanita selalu mendekatinya dan tak pernah satu pun ia jadikan pacar. Karena ia tahu wanita sama saja, hanya mengincar hartanya termasuk Jessica. Semua wanita selalu menurutinya dan tak pernah ada yang menolaknya dari dulu, walau mereka hanya dijadikan pelampiasan saja. Itulah sebabnya dia disebut playboy. Namun wanita ini membuat egonya terluka.


          “Aku tidak mencintaimu Nusa Tama yang terhormat, karena aku tidak tertarik denganmu. Mengerti!” tegas Kaya.


          Mendengar itu, Nusa langsung melepaskan tangannya yang mengunci Kaya. Pandangannya kabut ke arah lain, seolah tak percaya akan ucapan Kaya. Hatinya terluka ditolak oleh wanita yang ia cintai. Walaupun dia tahu ini hanya sandiwara, namun tetap hatinya seperti sakit ditolak olehnya.


          “Lagi pula seperti dari awal kita adalah musuh dan selamanya akan begitu. Jadi jangan menyakiti dirimu sendiri demi diriku!”


          Maafkan aku Nusa, aku tidak pantas untukmu karena aku telah menyakiti ayahmu, batin Kaya.


          Sial rencana ku akan gagal kalau begini, batin Nusa yang kesal dengan mengepalkan kedua tangannya ke dalam. Sementara Kaya berbalik badan dan ingin membuka pintu.


          “Kau ingin keluar silahkan! Tapi akan ku pastikan kau akan mengutarakan isi hatimu Kaya kepada diriku dan kau akan bilang aku sangat mencintaimu Nusa, sangat mencintaimu.” Teriak Nusa dengan amarah.


          Kaya beridiri di depan pintu sambil memegang knop pintu. Ia berhenti mendengar teriakan Nusa yang penuh dengan amarah seakan tidak terima ditolak. Setelah mendengar itu, Kaya keluar dari sana dan tak ingin berdebat atau menjawab Nusa.


Di ruangan Nusa.


          Setelah melakukan penolakan kepada Nusa. Kaya tak langsung ke ruangannya dan pergi ke kamar mandi. Ia menatap dirinya dengan lirih di kaca, seakan sakit melihat dirinya sendiri.


          “Aku memang mencintaimu Nus, kau selalu ada di dalam hati dan pikiranku. Seberapa kerasnya diriku menghilangkannya, kau selalu menghantui diriku.” Gumamnya di depan kaca.


          “Tapi, maafkan aku. Aku tak bisa menerima semua ini, karena aku tak pantas untukmu dan aku takut kau hanya berpura-pura.” Lanjutnya. Lalu Kaya membilas tangannya dan kembali ke ruangannya. Ia melihat Nusa sudah duduk dengan tenang di tempatnya. Kaya berjalan dan duduk di kursinya.


          Nusa berdiri dari kursinya dan menuju belakang Mila yang duduk. Mila sebenarnya bingung dengan Nusa yang tiba-tiba ada di belakang kursinya.


          “Mila sayang, tolong kirimkan file tadi ke Kaya!” Nusa tersenyum menyeringai sambil melirik Kaya.


          Kaya yang mendengarnya melirik mereka sekilas dan kembali lagi membaca beberapa dokumen.


          “Iya pak,” senyum Mila menoleh Nusa yang di belakang kursinya.


          Nusa mengubah posisinya dengan bersandar di meja Mila dan menghadapnya. Ia melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.


          “Bapak jangan duduk di situ pak,” ucap Mila yang sedikit canggung.


          “Kenapa?” tanya Nusa menaikkan alisnya bingung.


          “Soalnya saya malu dilihatin bapak jadinya,” jawab Mila yang malu.


          “Kenapa harus malu? Saya senang di sini melihat wajah kamu yang cantik soalnya,”  goda Nusa. Kaya langsung menoleh ke arah mereka dengan tatapan tak suka.


          “Dasar pembual!” umpat Kaya dengan membanting kertas agak keras di mejanya.


          “Sepertinya ada yang terganggu dengan kita Mila?” tanya Nusa sengaja dengan senyuman.


          “Hemmm..., mungkin pak.” Jawab Mila dengan senyum.


          “Oh iya Mila. Besok kan kita ke Bali. Tolong saya yah! Nanti kamu bantu saya untuk packing baju di apartemen saya!” pinta Nusa.


          “Bapak serius? Maksud saya, emang saya boleh ke apartemen bapak?”


          “Yah boleh, kenapa enggak?!” senyum Nusa.


          “Dasar cabe-cabean,” umpat Kaya dengan kesal.


          “Awas aja kalau kamu macam-macam Nusa! Akan ku pindahkan kepalamu menjadi ke bawah!” kesal Kaya sambil menandatangani dokumen tersebut dengan kasar.


          “Yaudah nanti pulang bareng saya yah Mila!” Nusa berdiri tegap dan berjalan menuju kursinya.


          “Baik pak,” senyum Mila yang kegirangan.


          “Dasar terong belanda!” umpat Kaya mengatai Nusa.


          “Ngapain juga aku harus marah? Kaya kamu harus tahan emosi! Dia hanya ingin kamu cemburu, oke!” gumamnya menarik napas dan membuangnya.


          Nusa yang melihatnya merasa senang. Kaya mulai cemburu kepadanya dan dia sedang berpikir, apalagi yang harus dilakukan untuk membuat Kaya cemburu buta.


Saat pulang kerja....


          Nusa berjalan menuju Mila. “Mila yuk!” ajak Nusa.


          “Iya pak.” Mila berdiri dari kursi sambil membawa tasnya menuju Nusa.


          “Ayuk pak!” senyum Mila dan Nusa sengaja memegang pinggang Mila sambil berjalan menuju pintu tanpa menghiraukan Kaya.


          “Mila nanti jangan lupa kamu pilihin juga kaos dan kemeja yang cocok untukku yah!”


          “Baik pak, dengan senang hati.” Mila tersenyum senang. Hahaha.., akhirnya Nusa berpaling juga dari Ibu Kaya dan Jessica, batin Mila.


          “Dasar buaya untung, abis Jessica sekarang Mila, kemarin aku. Sekarang siapa lagi?!” Kaya kesal sekali sambil berdiri dari kursi menuju pintu.


~ Bersambung ~