My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 97 ~ Kaya Muntah



~ Happy Reading ~


Di kafe bar.


          Nusa memakirkan mobilnya dan masuk ke dalam kafe tersebut. Ia berhenti sejenak untuk melirik di mana mereka berada dan setelah menemukannya Nusa menghampiri mereka.


          “Michael,” panggil Nusa berada di belakang kursi Michael.


          “Untunglah kamu datang bro. Lihat mereka tidur di dalam meja sambil mengigau.” Tunjuk Michael.


          “Iya.” Nusa melihat Kaya dan Lita yang tertidur sambil mengigau. Lita terus mengigau kenapa kamu rebut Adrian.


          “Nus, emang Kaya merebut Adrian dari Lita?” tanya Michael.


          “Ceritanya panjang bro. Entar aku ceritain kalo ada waktu.”


          Kaya membangunkan kepalanya dari meja dan menyimpitkan matanya memandang Nusa dengan keadaan masih mabuk. Kaya beranjak dari kursi dan berjalan sempoyongan menghampiri Nusa.


          Saat Kaya ingin terjatuh Michael mencoba menangkap Kaya tapi Nusa lebih dulu menangkap badan Kaya.


          “Ada Nusa sayang,” nyengir Kaya menujuk dada Nusa. Lita langsung membangunkan kepalanya juga dengan sempoyongan dan menatap Nusa.


          “Ada abang,” senyum Lita yang mabuk.


          “Nusa, Lita terus mengomeliku karena telah merebut Adrian darinya.” Tunjuk Kaya sambil memegang dada Nusa dengan muka sedih.


          “Aku kan cuman sukanya sama satu orang yaitu kamu,” tunjuk Kaya menunjuk tepat di dada Nusa.


          Michael yang mendengarnya terkejut. Lita langsung berdiri dari kursi dengan jalan sempoyongan menuju Nusa, tapi Michael membantu memegang tangan Lita.


          “Emang kamu perebut Adrianku. Setelah Adrian kamu rebut, sekarang Nusa lagi. Terus siapa lagi?” Lita menunjuk Kaya dengan sempoyongan.


          “Ehe..., ehe..., tuh kan Nusa dia menuduhku terus,” rengek Kaya memeluk pinggang Nusa dengan mata yang tidak mengeluarkan air mata.


          “Jangan sentuh abangku!”  Lita mencoba meraih tangan Kaya, namun ditahan oleh Michael.


          “Udah Lit,” ucap Michael mencoba menenangkan Lita.


          “Awas kamu yah!” tunjuk Lita dengan mata yang sudah mabuk berat.


          “Nusa dia mengancamku lagi,” tunjuk Kaya dengan rengek sambil memegang pinggang Nusa.


          “Michael kamu anter Lita yah! Aku anter Kaya.” Nusa mengambil tangan Kaya untuk menaruh dilehernya. Lalu berbalik badan dan menopang Kaya berjalan menuju keluar pintu kafe bar tersebut.


          “Harusnya kamu yang anter Lita Nusa. Dia kan sepupu kamu,” gumam Michael melihat punggung Nusa dan Kaya menghilang.


          “Kenapa semuanya selalu memikirkan Kaya. Enggak Adrian.., enggak Nusa..., sekarang pasti kamu!” tunjuk Lita dengan muka sedih.l.


          “Lita ayuk kita pulang!” Michael membopong Lita dan membawanya keluar kafe bar tersebut.


Di parkiran Kafe Bar.


          Nusa menopang Kaya berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan meletakkan Kaya duduk di samping stir mobil. Nusa juga masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat stir mobil. Lalu menyalakan mesinnya.


          “Nusa kamu sangat tampan sekali,” ucap Kaya cengengesan. Lalu Kaya mencoba berdiri dari kursi dengan sedikit sempoyongan dan menindih paha Nusa.


          “Kay, ini mobil sedang menyala. Minggir Kay!” Nusa langsung mematikan mesin mobilnya, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


          “Nusa..., aku...., kesal sekali denganmu. Kau itu menyebalkan,” ucap Kaya dengan bibir dimemblekan dan dekat sekali dengan muka Nusa.


          “Kamu itu menyebalkan,” rengek Kaya tapi tidak keluar air mata. Kaya menempelkan mukanya ke bahu Nusa dan menutup mata. Nusa membiarkannya sambil mengelus pundak Kaya.


          “Kay,” panggil Nusa sambil mengelus pundak Kaya.


          “Ue,” Kaya merasa mual dan kepalanya menghadap muka Nusa.


          “Kay kamu mau apa?” tanya Nusa yang panik takut Kaya muntah dan Kaya hanya tersenyum dengan mata setengah tertutup.


          “Kaya awas kamu muntahin aku!” Nusa menunjuk Kaya dihadapannya.


          “UEK,” Kaya malah muntah di baju Nusa.


          Nusa langsung reflek menjauhkan Kaya dengan menahan bahunya agar tidak dekat. “Shittttt,” umpat Nusa.


          “Kena muntahan lagi!” ucap Nusa dengan kesal. Sementara Kaya hanya tersenyum cengengesan dengan keadaan yang sudah ingin tertidur.


          “Bagamiana lagi caraku menjauhkan dia dari tindihannya?!” ucap Nusa dengan kesal.


          Akhirnya Nusa punya ide, dia membiarkan Kaya kepalanya tertidur ke belakang dengan badan yang mentok stir. Dan perlahan Nusa membuka kemeja pendeknya yang tertumpah muntahan, sambil menjauhkannya dari hidungnya. Dengan jijik dia membuka kemeja tersebut dan memegang muntahan Kaya.


          “Kaya! Ini semua gara-gara kau!” Nusa berhasil membuka semua kemeja dan melempar kemejanya ke tempat duduk belakang mobil dengan kesal.


          Nusa yang telanjang dada mencoba menggapai tisu di dashboardnya dan di dapatkannya. Dia langsung mengelap tangannya yang memegang muntahan sambil menyiumnya.


          “Uek,” Nusa malah ingin muntah menyium tangannya yang bau.


          Setelah selesai mengelap tangannya Nusa kembali menaruh tisu di tempat duduk mobil sampingnya dan dia mencoba memegang kepala Kaya yang sudah tertidur kembali kebahunya.


          Pintu mobil ia buka dengan kaki di turunkan duluan. Lalu menundukkan kepala Kaya dengan memegangnya menempel bahu, agar tidak terpentok dengan atas mobil. Ketika berhasil keluar dengan menggendong Kaya dari depan.


          Nusa membuka pintu belakang mobil dan mengambil kemeja yang tadi, untuk diletakkan di belakang mobil. Lalu meletakkan Kaya tertidur di tempat duduk belakang mobil dengan kaki ditekuk sedikit. Nusa kembali duduk di tempat stir mobil dan menjalankan mobilnya dengan cepat.


          Selama perjalanan Nusa membuka jendelanya sedikit agar angin masuk dan menghilangkan bau muntahan Kaya. Dirinya yang telanjang dada kuat sekali menerima angin larut malam.


          Sesekali dia melihat spion diatasnya agar memastikan Kaya tidak jatuh ke bawah. Dia juga menyetir agak pelan, agar ketika ada polisi tidur Kaya tidak merasakan goncangan.


****


          Di sisi lain, Michael yang menyetir masih mengingat kejadian atas perngakuan Kaya menyukai Nusa.


          Aku kan cuman sukanya sama satu orang yaitu kamu.


          Michael melihat spion atas untuk memeriksa keadaan Lita yang tertidur lelap. “Lit, sebegitu ribetkah hubungan kalian selama ini. Kenapa dia bilang Kaya merebut Adrian. Jelas-jelas Kaya sukanya sama Nusa. Apakah Adrian juga suka sama Kaya?” gumam Michael sambil menyetir dengan tangan satu.


          “Kalo mereka benar saling suka? Berarti mereka sekarang menjadi lawan dong?” Michael terus bertanya pada dirinya sendiri.


          “Ahhh tau, bodo amat! Mikirin amat urusan mereka semua!” ucap Michael dengan kesal.


          “Lit rumah kamu di mana?” tanya Michael. Lita yang masih tertidur dalam keadaan mabuk hanya bergumam, “hem.”


          “Lita bangun dong! Rumah kamu di mana?” tanya Michael dengan nada tinggi.


          “Lurus terus,” gumam Lita sambil menunjuk lurus dengan mata masih tertutup dan kembali renges lagi tidur.


          “Percuma saja tanya dia. Malah tadi lupa lagi tanya Nusa, alamat rumah Lita di mana?” gumam Michael.


          “Udahlah bawa aja ke apartemenku dulu!” Michael fokus menyetir memandang ke depan.


~ Bersambung ~