My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 59 ~ Sejak Kapan?



~ Happy Reading ~


         “Karena aku ingin papa kamu merasakan rasanya kehilangan perusahaan yang di bangun dari awal karirnya.” Jawab Kaya tajam.


          “Heh, tapi sayang sekali. Kamu enggak bisa lakukan itu karena aku mempunyai setengah saham dari perusahaan Tama.” Nusa tersenyum sinis.


          “Iya emang benar, tapi aku akan mengambil alihnya.”


          “Oh Yah? Apakah kau bisa melakukannya sayang?”


          “Aku bisa melakukannya walaupun ada kamu.”


          Nusa tertawa sinis. “Kaya..., Kaya..., jangan harap kamu bisa menang dariku?! Karena aku sudah tahu semuanya dari awal. Aku sudah pernah bilang sama kamu untuk meninggalkannya dan aku meminta kamu untuk menjadi CEO di perusahaanku.” Tunjuk Nusa ke muka Kaya.


          “Tapi sebelum aku meminta, kamu sudah merebutnya.” Nusa tersenyum.


          “Bahkan aku belum dapat imbalan darimu. Jangankan imbalan, bibir kamu yang manis ini belum pernah aku sentuh sama sekali!” Nusa membelai bibir Kaya dengan lembut. “Tapi kamu sudah merebutnya dengan mudah Kay.”


          Kaya hanya menatap Nusa dengan sinis. “Kenapa menatapku seperti itu? Bukankah benar Kaya? Harusnya waktu kamu menginap di sini, aku menyentuh tubuh kamu yang indah ini.” Nusa membelai lengan Kaya.


          “Jaga mulut kamu itu Nusa!” ketus Kaya.


          “Bukankah itu benar? Kamu harusnya membayar dengan harga diri kamu Kaya. Oh.., atau jangan-jangan harga diri kamu sudah hilang bersama asisten pribadi kamu, sehingga Boni menuruti perkataanmu.”


          “Jaga mulut kamu itu Nusa!” ketus Kaya.


          “Kenapa kamu marah?” tanya Nusa menatap Kaya dengan senyum puas karena membuatnya emosi. Kaya hanya terdiam dan membuang muka.


          Nusa menggeser dagu Kaya dan menatapnya. “Kenapa kamu selalu menghindar jika aku bertanya?”


          “Siapa yang menghindar?! Aku hanya malas saja menanggapi orang kayak kamu!”


          Nusa memundurkan badannya dan berdiri tegap dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.


          Kaya merasa lega Nusa tidak mendekatkan mukanya lagi, karena dia sudah tidak tahan dengan sikap Nusa.


          “Aku ingin bertanya sama kamu, sejak kapan kamu tahu aku akan jadi CEO di perusahaan papamu Nus?” tanya Kaya yang masih berbaring di tempat tidur.


          “Sejak kamu pergi keluar kota bersama Adrian. Apakah kamu mengingatnya?” tanya Nusa balik dengan senyum.


          Kaya langsung terkejut, matanya membelalak seakan tak percaya. Ternyata Nusa mengetahuinya sudah lama.


          Nusa berjalan menghampiri gelas yang ditaruhnya di meja. Dia berbalik badan dan menyender ke meja tersebut sambil memperhatikan Kaya yang berbaring.


          “Sekarang pasti kamu bertanya, kenapa aku bisa mengetahuinya sudah lama? Bukankah begitu Kayaku?” tanya Nusa meminum alkoholnya dan Kaya hanya terdiam.


          “Aku mengetahuinya saat kamu keluar kota dan aku ingin kasih kado valentine di lacimu sebelum hari valentine itu tiba.”


          Berarti selama ini kamu memberikan perhatian kepadaku hanya kepalsuan saja Nusa, batin Kaya.


Flash back.....


          Nusa masuk ke ruangan Kaya dengan membawa kado kecil dan surat yang ber-amplopkan kertas manis. Ia ingin menaruhnya di laci, namun dia melihat selembar kertas terlipat dua yang dipegang oleh Kaya kemarin.


          Nusa pun meletakkan kado tersebut ke dalam laci dan membuka lipatan kertas tersebut. Nusa langsung kaget setelah melihat kertas tersebut. Berisi artikel tentang profil ayahnya sebagai pemilik perusahaan Tama dengan Adrian yang disampingnya.


          “Kenapa Kaya mempunyai artikel ini, untuk apa dia membacanya?”


          Nusa mencoba mencari lagi sesuatu di laci Kaya tapi dia tidak menemukan apapun. Nusa meletakkan kertas tersebut di meja dan menfoto kertas itu. Lalu dia menyimpan kembali kertas tersebut.


          Nusa duduk di kursi Kaya dan mengambil kado serta kertas ber-amplop. “Aku harus selidiki apa tujuan kamu sebenarnya Kaya?!” Nusa memandang sinis ke depan dan meremas amplop yang dipegangnya. Lalu  membuang amplop tersebut ke sembarang arah.


          Nusa membuka tempat kado dan mengambil sebuah kalung kupu-kupu yang akan diberikannya kepada Kaya. Nusa memandang kalung tersebut ke depan mukanya.


          “Apakah kamu sama kayak wanita lain Kay, yang hanya mengincar kekayaan saja? Makanya kamu datang ke perusahaan ini dan mengincar Adrian? Tapi kenapa kamu tidak ke perusahaan Tama saja?” Nusa selalu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


          Nusa menggenggam kalung tersebut. “Aku akan cari tahu apa tujuan kamu sebenarnya?”


           Nusa mengembalikan kalung tersebut ke tempatnya dan menaruh kembali ke dalam laci Kaya. Lalu ia beranjak dari kursi meninggalakan ruangan Kaya.


          Nusa kembali ke ruangannya dan duduk, ia mengambil ponselnya di meja dan menelepon seseorang.


          “Halo tuan” jawab asisten pribadi Nusa yaitu Mischa.


          “Halo Mischa. Saya mau kamu cari  tahu informasi tentang Kaya Aqila Naya Raya! Mulai dari alamatnya hingga historinya dia, apapun tentang dia pokoknya!”


          “Baik tuan.”


          “Baik tuan.”


          “Ini rahasia kita berdua saja. Jangan sampai orang pada tahu termasuk papa.”


          “Baik tuan.”


          “Yasudah kalau begitu. Ingat Mischa jangan sampai ada yang tahu kecuali saya saja. Jika ada yang tahu kamu akan menerima akibatnya!”


          “Baik tuan.”


          Nusa menutup teleponnya dan dia masih bertanya apa tujuan Kaya sebenarnya. Nusa mencoba mencari informasi di komputer, namun dia tidak menemukan tentang Kaya.


          “Sial! Mungkin dia sudah menghampus semua akunnya di media sosial.” Nusa meneplak meja dengan pelan.


          Nusa memainkan jarinya di meja dan mencoba berpikir keras. Ia mengingat Kaya dan Adrian ke hotel milik keluarganya dan Nusa langsung menelepon seseorang.


          “Halo tuan Muda, tumben anda menelpon saya?” Jawab pria yang di telepon oleh Nusa.


          “Halo pak Sam, apa kabar?” tanya Nusa dengan senyum. Sam adalah Manajer Hotel tempat Kaya dan Adrian menginap.


          “Baik tuan.”


          “Saya mau tanya apakah Adrian dan perempuan yang bersamanya sudah sampai?” tanya Nusa.


          “Sudah tuan, baru saja saya menemui tuan Adrian.”


          “Baiklah. Saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya!”


          “Apa tuan?”


          “Awasi mereka terus dan kabarkan saya mereka akan ke mana saja!” perintah Nusa.


          “Tapi kenapa saya harus mengawasi mereka tuan?”


          “Saya curiga denga perempuan yang bersama Adrian, dia namanya Kaya. Dia suka sekali menggonda pria.”


          “Baik tuan.”


          “Jangan sampai Adrian tahu tentang ini pak Sam!”


          “Baik tuan, saya akan merahasiakan ini.”


          Nusa menutup telponnya dan kembali memainkan jarinya. “Kaya, apa yang kamu inginkan sebenarnya?”


Flash back bersambung.....,


          “Jadi ini kalung dari kamu?” tanya Kaya memegang kalung yang dipakai di lehernya.


          “Iya. Kenapa? Bagus bukan? Kalung itu mungkin akan sama dengan harga diri kamu Kay? Harganya sangat mahal sekali, bahkan mungkin kamu enggak akan sanggup membelinya. Upss...., tapi aku lupa. Ibu Kaya sekarang kan sudah menjadi calon CEO, jadi bisa saja membelinya.” Nusa mengejek Kaya.


          Kurang ajar mulut kamu Nus. Kamu selalu saja membuat aku emosi Nusa, batin Kaya geram.


          “Harusnya aku buang kalung ini ke tong sampah.”


          Nusa menaruh gelasnya di meja  dan menghampiri Kaya yang masih berbaring di tempat tidur. Nusa membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajahKaya.


          “Kenapa harus dibuang? Bukannya waktu itu kamu bilang bagus sayang?!” Nusa memegang kalung yang dipakai Kaya.


          “Kalung ini cocok sekali dengan kepribadian kamu Kay. Kupu-kupu yang berarti suka sekali singgah di bunga dengan sembarangan. Bukankah kamu juga seperti itu, suka singgah dengan pria manapun?!” senyum Nusa dengan sinis.


          “Jaga mulut kamu Nusa!” sinis Kaya menggenggam tangan Nusa yang memegang kalungnya.


          “Apakah kau marah sayang?” Nusa melepas tangannya dari genggaman Kaya.


          Kaya hanya terdiam dan menatap Nusa dengan sinis. Nusa kembali lagi bersandar ke meja dan mengambil gelas yang berisi alkohol.


          “Kayaku yang cantik, apakah kau ingin minum sayang?” tanya Nusa tersenyum.


          “Minum saja sendiri!” ketus Kaya.


          “Baiklah,” senyum Nusa.


~ Bersambung ~