My Target Is CEO

My Target Is CEO
Muntah



Di rumah Kaya.


“Udah sampa nih!” ucap Adrian


“Ad anter ke rumahnya!” suruh Nusa.


“Kok aku?” tanya Adrian.


“Kalau sama aku dia berontak melulu nanti,” jawabnya. “Lagian dari tadi dia manggil nama kamu melulu.” Lanjutnya dengan nada cemburu.


“Kenapa emangnya cemburu?” tanya Adrian.


“Kagak,” elak Nusa.


“Udah kamu aja Nus! Lagian dia udah tidur pulas tuh!” Adrian menoleh ke belakang, melihat Kaya tidur pulas dengan badan di tutupi cardigan miliknya.


“Kamu ajalah Ad, plis!” mohon Nusa.


“Iya,” ucapnya mengalah.


Adrian keluar mobil menuju pintu belakang, ia membukannya dan sedikit membungkuk menyamakan pintu mobil. Tangannya menarik tangan kiri Kaya untuk ke pundaknya agar ia dapat mudah menggendongnya.


Namun, saat Adrian mau menarik badan Kaya untuk menggendongnya. Kaya membuka matanya dengan posisi duduk dan menatap Adrian tersenyum.


 “Dia bangun Nus!” ucap Adrian.


Belum sempat Adrian menarik Kaya untuk keluar dari mobil, Kaya langsung muntah di kemeja Adrian yang berwarna putih dekat bagian dada. Sontak membuat Adrian melotot kesal kepada Kaya.


Adrian langsung melepaskan Kaya darinya dan berdiri di depan pintu mobil. Sedangkan Kaya menutup kembali matanya dan kembali tidur.


“Shitt! Sial banget hari ini!” dengus Adrian yang geram. Nusa yang melihatnya tentu tertawa mengejek.


“Kenapa tertawa? Seneng lihat aku begini?” ketus Adrian mencoba mengambil tisu di dasbordnya dan mengelap kemeja yang dimuntahkan Kaya


“Maap bro,” ucap Nusa menahan tawa.


“Kamu aja yang ngantar ke rumahnya! Lagi pula ini semua karena dirimu!” ketusnya.


“Maap bro, aku nggak tau kalo begini jadinya. Iya aku anter dia deh ke rumahnya.”


“Untung selalu sediain baju ganti,” gumam Adrian menuju bagasinya untuk ganti baju, namun ternyata bajunya tidak ada.


“Sial, enggak bawa lagi!” kesalnya dengan membanting bagasi. “Malah bau lagi,” kesalnya mencium aroma kemeja yang dimuntahkan Kaya.


Nusa turun dan menghampiri Adrian di belakang mobil. “Ada enggak bro?” tanya Nusa tertawa kecil melihat Adrian yang sudah kesal.


“Kagak ada, lupa bawa.”


“Terus gimana?” tanya Nusa.“Yaudah, buka baju aja dari pada bau.” Sewot Adrian membuka kemejanya dan menaruh di bagasi.


Nusa langsung tertawa melihat keadaan Adrian hanya memakai kaus kutang. “Bro lucu banget,” tawa Nusa.


“Ini semua gara-gara kamu tau enggak Nus!” sinis Adrian.


“Iya maap, aku minta maap.”


“Udah sana, anter dia ke rumahnya!” suruh Adrian dengan muka kesal dan marah, lalu kembali ke mobil untuk duduk.


Nusa mengambil cardigan Kaya yang jatuh di bawah bangku, akibat Adrian yang melepaskan Kaya tadi. Ia memakaikan cardigannya ke tubuh Kaya.


“Ayuk Kay!” ajak Nusa walau Kaya tidur. Ia menggendongnya ala bridal dengan menjauhkan wajah Kaya karena habis muntah.


Nusa memencent bel rumah Kaya sambil menggendong Kaya.


“Iya,” teriak Mina atau ibu Kaya, lalu membuka pintu rumahnya.


Wahh mamanya cantik juga pantesan Kaya cantik. Huss! kok aku malah mikirin mamanya.


“Misi tante, maaf ganggu. Ini saya mau mengantar Kaya tante!” Nusa tetap tersenyum walau ekspresinya keberatan


menggendong Kaya.


 “Oh iya, Kaya kenapa?” tanya Mina dengan polos.


“Bisa ke kamarnya dulu tante! Soalnya Kaya berat,” nyengir Nusa yang sudah tidak tahan berdiri sambil menggendong Kaya.


“Oh iya kamarnya ada di atas, ayuk sini!” ajak Mina ke lantai dua dan membuka pintu untuk mereka.


“Haduh,berat juga kamu Kay?!” gumam Nusa meletakkan Kaya di kasur dan menyelimuti tubuh Kaya dengan selimut.


“Kaya emang kenapa yah?”


“Kayanya mabuk tante,” nyengir Nusa.


“Mabuk?” Mina terkejut. “Kok bisa?” tanyanya dengan mengerutkan dahi.


“Kok bisa sih dia salah minum?” tanya Mina lagi.


“Ceritanya panjang tante,” nyengir Nusa.


Udah dong tante, jangan tanya lagi saya pegal nih abis gendong Kaya. Rasanya mau pulang ke rumah dengan cepat! Hua... kasur tunggu aku!


Mina yang masih penasaran ingin bertanya lagi, tapi tidak jadi karena Nusa langsung berbicara. “Oh iya tante, saya mau pulang dulu yah! Soalnya sudah larut malam.” Alibinya padahal dia sudah lelah.


“Oh iya-iya, silahkan!” Mina mengantar Nusa ke depan pintu luar rumah.


“Terimakasih tante, selamat malam.”


“Oh iya harusnya saya yang berterimakasih ke kamu sudah mengantar Kaya dalam keadaan mabuk lagi.”


Nusa hanya mengangguk dengan senyum dan berjalan menuju mobil Adrian yang di depan perkarangan Kaya.


“Oh iya namanya siapa yah?” monolog Mina melihat mobil itu sudah pergi.


“Ya sudah pergi, yasudahlah!” Mina menutup pintu rumahnya.


Flasback berakhir….


Lita langsung tertawa terbahak-bahak di telepon mendengar cerita Kaya.“Kay, ya ampun! Makanya kamu waktu aku ajak kuliah dugem mau dong?”


“Kok ketawa sih Lit!” rengek Kaya.


“Iya, maap deh.”


“Lagian apa hubunganya mabuk sama dugem?” tanya Kayabingung dengan pernyataan Lita.


“Kan di sana banyakminuman ber-alkohol, jadi bisa cicipin dikit demi sedikit.”


“Yaelah enggak doyan kali Lit minum kayak gituan. Kayak kamu sering aja ke sana minum? Palingan juga kamu cuman mau liat cowok-cowok ganteng aja di sana?”


“Iya sih, akucuman gaya-gayaan doang dulu ke sana, minum palingan hanya sekali. Yahsekalian, menghilangkan penat dengan melihat cowok-coowok ganteng dan sexy di sana.” jawabnya terkekeh di telepon.


 “Kamu yah Lit! Emang dasar kelakuan kamu enggak pernah berubah dari dulu!”


Lita menyengir di telepon. “Kayak kamu berubah aja dulu? Kamu juga suka ngajakin aku boloslah, main ke mall lah, terus liat-liat cowok ganteng dan six-pack di tempat gym.”


“Hehehhe, itu kan dulu Lit.”


“Iya sekarang juga masih kan? Itu buktinya kamu targetin CEO tampan kamu tuh?”


“Iya sih,” nyengir Kaya.


“Huhh dasar! Terus kok kamu bisa tahu kalo kamu mabuk kemarin?”


“Iya kemarin nyokap aku kasih tau kalo aku diantar seorang cowok dan dia bilang aku mabuk.” Jawab Kaya.


“Terus?”


“Yah aku langsung seketika sadar dan mengingat semuanya. Apalagi kejadian kalo aku muntahin kemeja si CEO itu”


“Lagian ada-ada aja?! Masa enggak bisa bedain mana minuman alkohol mana minuman soda?”


“Yah aku haus Lit, jadi aku minum aja. Abisnya warnanya sama,” desis Kaya.


“Yasudahlah, lupakan saja kejadian kemarin.”


“Lah kamu enak ngomongnya begitu, aku yang ngerasain Lit.” Ucap Kaya.


“Lah terus mau bagaimana? Udah terlanjur basah, mau gimana lagi? Palingan minta maaf aja!” saran Lita di telepon dengan masih tertawa.


“Iya sih tapi muka aku loh mau ditaruh dimana ini?” rengek Kaya.


“Taruh di depanlah masa di belakang.”


“Kamu mah Lit, selalu aja ejek aku melulu.” Kesal Kaya.


“Iya maap deh, yasudahlah, minta maaf aja sama CEO mu itu.”


“Iya sih,” gumam Kaya. “Yaudah deh aku mau bobo siang dulu, pusing mikirin kejadian semalaman.”


“Yaudah sana! Aku juga mau ke salon sama nyokap.”


“Yaudah bye Litaku sayang,” ucap Kaya denganmanis.


“Bye juga Kayaku tercinta my bestfriend love love,” bales Lita manis juga.


“Hahah, lebay kamu.” Tawa Kaya menutup telepon dan kembali tidur.


~Bersambung ~