
~ Happy Reading ~
“Kayaku yang cantik, apakah kau ingin minum sayang?” tanya Nusa tersenyum.
“Minum saja sendiri!” ketus Kaya.
“Baiklah,” senyum Nusa.
“Adrian yang malang, mencintai wanita sepertimu!” Nusa meneguk minumannya dengan senyum.
“Bukankah kau juga mencintaiku Nusa?” tanya Kaya tersenyum remeh.
“Aku?” Nusa menunjuk dirinya sendiri dengan tertawa. “Aku tidak pernah mencintaimu Kaya.” Jawabnya tersenyum lucu.
“Lalu kenapa kau selama ini mendekati diriku dan memberi perhatian padaku?” tanya Kaya sambil duduk di tempat tidur dengan kaki menyentuh lantai.
“Karena aku ingin mengenali seperti apa musuhku yang sebenarnya.” Senyumnya.
“Heh, kau memang mirip seperti ayahmu?!” sinis Kaya.
“Yah emang benar.” Nusa memegang gelas di tangan kanannya.
“Lalu, sejak kapan kamu menyadari aku akan menjadi CEO di perusahaan mu?”
“Aku akan menceritakannya sayang. Sabarlah! Masih banyak yang belum ku ceritakan!”
“Di mulai dari mana dulu yah?” Nusa berpikir sejenak dan membuat Kaya muak.
“Oh iya? Semenjak kalian pergi keluar kota. Aku berpikir kamu ingin mengincar Adrian karena harta. Karena Adrian pernah menelepon, bahwa kamu datang ke kamarnya. Lalu akumemanasi dirinya.” Nusa tersenyum cool.
Flash back....
“Halo bro,” Nusa sedang duduk di ruangannya sambil mengangkat telepon dari Adrian.
“Halo bro,”
“Ada apa?” tanya Nusa.
“Aku enggak suka lihat Kaya bro.”
“Kenapa emangnya?”
“Tadi dia enggak sengaja masuk ke kamarku bro, tapi masalahnya aku baru selesai mandi pakai handuk di pinggang.”
“Kok bisa?” tanya Nusa.
“Iya, soalnya dia bilang bu Nia bertanya ingin datang jam berapa.”
“Yah mungkin karena itu dia main masuk aja.”
“Tapi tetap aja aku enggak suka Nus. Dia bisa aja kan WA tanpa harus ke kamar.”
“Iya juga sih,” gumam Nusa.
“Udah itu dia natap badanku melulu.”
“Mungkin dia memang ingin menggoda kamu kali Ad?! Secara kamu kan punya perusahaan?!”
“Iya mungkin, solanya dia kan selalu genit sama aku akhir-akhir ini Nus.”
“Yah mungkin dia suka sama kamu.”
“Kalaupun suka aku enggak suka, cewek seperti dia sama kayak Jessica hanya penggoda saja.”
“Iya kamu mungkin benar. Yah, kamu harus berhati-hati aja!” Saran Nusa tersenyum sinis.
“Iya aku udah selesai pakaian, mau bertemu dengan bu Nia sekarang!”
“Ohhh, okelah kalau begitu. Aku tutup telepon dulu yah! Soalnya aku ada urusan lain Ad!” senyum Nusa.
“Hemm,”
Flash back bersambung....
“Heh, ternyata kamu sama Adrian sama aja mulutnya kurang ajar.” Ketus Kaya tersenyum sinis.
“Yah, emang aku kurang ajar! Lalu saat kamu pulang ke hotel dan ingin makan di restoran. Aku sudah merencanakannya dengan baik. Aku menebak pasti Adrian akan meminum alkohol kadar rendah dan akulah yang menukar minuman Adrian waktu itu.”
Flash back kembali....
“Iya, bagaimana?” tanya Nusa yang berada di ruangan kerjanya.
“Mereka ingin makan malam nanti tuan di hotel ini.”
“Oke baguslah, saya ingin kamu WA saya apa yang mereka pesan! Jika Adrian memesan winekadar rendah, kamu harus menggantinya dengan kadar tinggi.”
“Baik tuan,”
Nusa menutup teleponnya dan memikirkan reaksi Adrian saat mabuk terhadap Kaya.
***
Pelayan yang menerima pesanan Adrian dan Kaya kembali ke dapur. Ia menyiapkan makanan mereka dan pesan wine pesanan Adrian. Lalu manajer hotel datang dan menyuruh pelayan tersebut mengganti isi dalam botol wine tersebut.
Pelayan pria itu menuang isi botol wine tersebut ke gelas dan mengganti isinya dengan wine kadar tinggi. Agar tidak curiga botolnya tidak diubah hanya isinya saja. Setelah selesai, pelayan tersebut membawa semua pesanan mereka ke mejanya.
****
Sam selalu mengawasi mereka dari makan sampai selesai. Hingga Adrian mabuk, Sam terus mengawasinya. Melihat Kaya membawa Adrian yang mabuk berjalan ke lift. Sam mengambil ponselnya di kantong
celana dan menghubungi Nusa.
“Halo tuan muda,” ucap Sam saat panggilan itu terhubung.
“Ada apa?” tanya Nusa yang menyetir untuk pulang ke apartemennya.
“Anda benar tuan. Pak Adrian sudah mabuk. Dia mengatai nona Kaya di depan umum.”
“Bagus, awasi mereka terus!”
“Baik tuan,” Sam menutup teleponnya.
Flash back berakhir.....
“Heh, jadi kamu membuat sahabat sendiri mabuk?!”desis Kaya.
“Iya, aku sengaja. Aku mau tahu, apakah kamu mengambil keuntungan dari ini?! Apakah kamu akan memanfaatkan Adrian yang mabuk?!”
Sebegitukah kamu menilai dirku Nusa?! Apakah aku sangat rendah di mata kamu, batin Kaya miris.
“Kamu pikir aku enggak punya harga diri?! Buat apa aku mengambil kesempatan dari mabuknya Adrian?! Yang ada Adrian telah membuatku malu di depan semua orang.”
“Yah mungkin saja kamu enggak punya,” senyum Nusa meminum lagi alkoholnya. “Tapi, aku senang waktu itu Adrian membut kamu malu.”
“Nusa!” bentak Kaya. Nusa langsung menaruh gelasnya di meja dan menghampiri Kaya yang duduk di tempat tidur.
“Kenapa? Apakah aku salah bicara Kaya?” Tanya Nusa dengan membungkuk ke depan, dekat sekali dengan wajah Kaya yang duduk di tempat tidur. Kaya hanya terdiam saja dengan membuang mukanya yang kesal.
Nusa tersenyum simpul dan kembali berdiri tegap dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. “Oleh karena itu, aku berpikir lagi. Kenapa kamu mempunyai artikel tersebut. Aku pun berencana mengikuti dirimu.” Nusa kembali menyender ke meja TV.
“Ketika kamu tidak mau ikut makan siang denganku. Aku pun mengikuti kamu Kay. Dan ternyata benar, kamu menemui seseorang yang aku kenal yaitu Boni di sebuah restoran. Yah, walaupun Boni tidak mengenalku. Aku mengenalnya, mau tahu karena apa?”
“Karena apa?” tanya Kaya sinis.
“Karena aku selalu memantau papaku dengan siapa saja bicara dan karyawannya siapa saja. Aku memang meninggalkannya dari SMP dan aku memutuskan hubungan dengannya. Tapi bukan berarti aku tidak peduli dengannya.” Jawab Nusa.
“Unchh...., aku jadi terharu Nusa.” Ejek Kaya dengan sinis.
“Saat kamu bicara dengan Boni, aku sudah mulai curiga dan menyuruh Mischa untuk menyelidiki semuanya. Siapa Boni dan kenapa kamu bertemu dengannya.”
“Awalnya aku belum mengetahui apa tujuan kamu sebenarnya. Tapi saat aku dengar informasi dari Mischa, bahwa kamu mempunyai saham di perusahaan Tama. Itu membuat diriku sakit Kay.”
“Ohh, berarti diri kamu sakit bukan karena kedinginan di ruanganku?”
“Emang bukan, aku kan sudah menjawabnya waktu itu. Tapi yang bikin aku heran kenapa kamu bisa mempunyai saham di tempatku. Dari situ aku mencari tahu siapa kamu sebenarnya dan ternyata aku mendapatkan informasi. Bahwa papaku pernah mengambil perusahaan milik papamu dengan cara yang kamu lakukan sekarang.”Tunjuk Nusa.
“Yah, harusnya kamu tahu kenapa aku melakukan ini?!” sinis Kaya.
Kamu benar Kaya, awalnya aku menyalahkan dia dan membiarkanmu menjalankan sesuai rencanamu. Tapi setelah aku tahu, mamaku bunuh diri karena keputuasaannya terhadap papamu. Itu membuat aku ingin membalaskannya kepadamu Kaya, batin Nusa menatap Kaya dengan tajam.
“Yah emang itu benar. Tapi sama seperti kamu.” Tunjuk Nusa.
“Yang membalaskan dendam karena papamu ditipu dan aku juga sama ingin membalaskan dendam atas perbuatanmu. Bukankah sama?” tanya Nusa dengan tangan diangkat keduanya di samping dada seperti meminta.
~ Bersambung ~