
~ Happy Reading ~
Di rumah Kaya.
Kaya berjalan dari pintu rumah menuju mobilnya yang dipakirkan di depan rumah. Saat ingin membuka pintu mobil, ponselnya berdering dengan keras dan ia menutup pintu mobil, lalu mengambil ponselnya di dalam tas selempang yang ia bawa.
“Adrian?” gumam Kaya mengangkatnya. “Halo..,”
“….”
“Iya Ad, ada apa yah telpon pagi sekali?” tanya Kaya sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
“….”
“Besok aku sudah pergi dengan Nusa ke Bali.” Jawabnya sambil menyalakan mesin mobil.
“….”
“Aku sama Nusa ingin mengecek lokasi tempat restoran yang akan dibangun di sana dan juga bertemu dengan beberapa klien di sana.” Kaya mengambil earphone kecil di atas dashboard dan menempelkannya ke kuping, lalu menaruh ponselnya di kursi samping.
“….”
“Emangnya kamu sekarang sudah ada di kantor pagi ini Ad?” tanya Kaya sambil memulai menyetir mobilnya.
“….”
“Tumben banget, padahal masih jam 7 pagi? Biasanya juga kamu selalu datang jam 9?” tanya Kaya dengan canda.
“….”
“Baiklah aku akan ke sana sekarang!”
“….”
“Iya,” jawab Kaya.
Di Ruangan Adrian.
Adrian mengambil ponselnya dan menekan nomor Kaya.
“Halo Kay,” ucap Adrian saat panggilannya sudah terhubung.
“……”
“Besok, kamu bisa tidak ketemuan denganku?” tanyanya.
“……”
“Oh.., ngapaian kamu ke Bali sama dia Kay?”
“…..”
“Oh.., kalau begitu hari ini kamu bisa tidak ke kantor aku Kay? Ada hal yang ingin aku sampaikan?” tanya Adrian.
“……”
“Sudah Kay, aku datang jam 6 pagi tadi.” Jawabnya dengan senyum.
“…..”
“Aku ada keperluan Kay. Jadi kamu jadi datang ke sini atau tidak?” tanya Adrian.
“……”
“Baiklah, sampai bertemu nanti Kay.” Ucap Adrian mengakhiri panggilannya dan kembali menatap pandangan ke depan. Kedua tangannya menumpu pada dagu dalam bentuk doa.
“Jika Kaya ke Bali, aku harus ke sana. Takkan ku biarkan Nusa terus mendekati Kaya.” Ucapnya tajam.
Flash back….
Di Restoran Tama.
“Ada apa kau memanggilku kemari Nusa?” tanya Adrian berdiri di depan meja.
“Duduklah dulu!” titah Nusa yang duduk menghadap Adrian dengan senyum. Adrian pun duduk.
Nusa memanggil pelayan yang lewat dan menyuruhnya mengambil wine dan dua gelas beserta makanan ringan. Pelayan itu mengangguk dan pergi melaksanakan perintah Nusa.
Adrian dan Nusa saling diam sampai pelayan itu kembali membawa pesanan Nusa dan menaruhnya di meja mereka.
“Silahkan Adrian!” Nusa menuangkan botol wine ke gelas Adrian.
“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku hingga menyuruhku ke sini?” tanya Adrian sinis. Nusa yang sudah menuangkan ke gelas Adrian dengan santai menuangkan ke gelasnya sambil tersenyum.
“Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Kenapa kau menyuruh orang untuk mengikuti kemanapun aku bersama Kaya?” tanya Nusa tersenyum sambil menikmati winenya di gelas.
Aku sudah ketahuan, batin Adrian menatap Nusa dengan tajam. Ia mengambil gelas yang berisikan wine dan menggoyangkannya. “Aku ingin mengetahui gerak-gerikmu kepada Kaya. Tampaknya kau berpura-pura menyukainya sekarang.” Jawabnya jujur sambil meminum.
“Apakah kau cemburu? Atau kau punya rencana?” tanya Nusa.
“Mungkin dua-duanya,” senyum Adrian.
“Apakah itu rencanamu sebenarnya Nus? Membuat Kaya jatuh cinta dan meninggalkannya?” tanya Adrian.
“Kenapa kau malah bertanya balik? Lagi pula aku tidak bilang itu rencanaku. Aku hanya bertanya padamu.” Jawab Nusa dengan santai. Mereka tampak santai mengobrol, tapi saling menatap dengan mematikan.
“Aku akan membuat Kaya menjauhimu dan mengatakan bahwa kau sengaja mendekatinya agar dapat menyakitinya.”
“Heh, kau mengadu?” tanya Nusa tersenyum sinis.
“Tidak, aku tidak mengadu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Bukankah begitu?”
“Mungkin kau benar itu rencanaku,” ucap Nusa remeh sambil meminum winenya.
“Jauhi Kaya!” ancam Adrian yang sudah tak tahan dengan sikap Nusa.
“Apa hakmu? Apakah kau kakaknya, pacarnya atau ayahnya?” tanya Nusa menunjuk Adrian sambil memegang gelasnya.
“Aku memang belum siapa-siapanya, tapi takkan ku biarkan kau menyakitinya.” Jawabnya dengan tajam.
“Bukannya kau bilang waktu itu kau tidak akan ikut campur urusanku dan aku pun begitu?”
Flash back 2….
Saat Kaya dan Lita pulang duluan dalam permainan truth or dare. Adrian pun pamit pulang dan berjalan untuk keluar restoran.
“Adrian?” Panggil Nusa berdiri dari kursidan Adrian menghentikan langkahnya. Nusa menghampiri Adrian yang berdiri di tempat.
“Aku tahu kamu memang suka sama Kaya. Tapi ada maksud ingin membalas perbuatannya terhadap dirimukan?Bukankah begitu?” tanya Nusa dengan cool.
“Heh..., sekarang diriku sudah ketahuan. Kamu memang benar Nusa, aku menyukai Kaya dan aku bermaksud juga membalasnya. Kamu memang benar sahabat yang mengerti diriku.” Senyum Adrian.
“Aku akan membantumu membuat Kaya hancur tapi dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Adrian dengan cool.
“Tetaplah seperti ini.”
“Tidak perlu kau beritahu, aku sudah melakukannya Nusa.”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Nusa.
“Ini rahasiaku saja. Aku tidak akan menghalangi dirimu mengganggu Kaya. Tapi kau jangan ikut campur urusanku.”
“Baiklah,” senyum Nusa.
“Bagaimana kita berjabat tangan!” Nusa mengulurkan tangannya dan Adrian menerimanya.
“Ini bisnis kita masing-masing dan aku harap kau tidak ikut campur Nusa.”
Flash back 2 end…
“Iya, aku memang bilang begitu. Tapi mengingat seperti apa dirimu, aku semakin yakin kau hanya membuatnya menderita nanti.”
Nusa tertawa hambar. “Emang seperti apa diriku Ad? Bukankah kau dulu bilang akan membalaskan dendam karena telah membuatmu patah hati.”
“Aku berbohong padamu,” jujur Adrian.
“Sekarang aku tahu kau masih mencintainya dan berharap dia bersamamu.” Adrian hanya diam menatap Nusa dengan tajam.
“Dengar Adrian, aku tak melarangmu mendekatinya. Kejarlah kalau dia bisa menyukaimu! Tapi jangan harap kau bisa menghalangi semua rencanaku!” lanjut Nusa dengan nada mengancam.
“Kau mengancamku?” tanya Adrian tersenyum.
“Iya,” jawabnya tegas.
“Aku akan tetap menggagalkan rencanamu Nusa, jika kau rencanamu itu menyakiti Kaya!” ancam Adrian balik dengan alis terangkat.
Nusa meletakkan gelasnya dan memegang pinggiran atas gelas tersebut dengan telunjuk. “Lakukanlah dan jangan harap kau menang. Ingat satu hal Adrian! Kau selalu berhutang padaku selama ini.”
Nusa berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Adrian yang duduk. Ia berdiri di samping Adrian yang duduk dan menepuk bahunya.
“Kau harus ingat setiap hal ada batasannya dan kau tak lupa selama ini siapa yang membantumu!” ucapannya santai tapi mengancam.
Adrian diam, ia tahu betul selama ini Nusalah yang selalu membantunya membangun perusahaannya sampai sesukses ini.
“Aku tak akan melarangmu membuat Kaya jatuh hati padamu. Itu juga kalau kau bisa.” Ucapan Nusa seperti meledek. “Tapi aku akan bertindak sesuka ku dengannya dan itu bukan urusanmu!”
Nusa melangkah pergi meninggalkan Adrian yang duduk termenung mengingat perkataannya. Nusa memang adalah sahabatnya, tapi cintanya terhadap Kaya sangat besar. Ia tak mengerti dengan perasaannya.
Adrian menggenggam gelas winenya dengan erat. Ia merasa tak bisa berbuat apa-apa karena ucapan Nusa. Mukanya geram sekali mengingat ucapan Nusa tadi.
Kau harus ingat setiap hal ada batasannya dan kau tak lupa selama ini siapa yang membantumu!
“Sialan kau Nusa! Apa sebenarnya rencanamu?!”
Flash back berakhir…..
~ Bersambung ~