My Target Is CEO

My Target Is CEO
BAB 15



Kaya sedang di mesin foto copy untuk menyalin beberapa kertas. Matanya melihat Adrian yang menuju ke arahnya. Ia tersenyum menyeringai, satu ide muncul dalam pikirannya.


Rencana dalam otaknya, ia akan menjatuhkan beberapa kertas ke lantai dan seperti yang ada di sinetron. Adrian akan memungut kertas tersebut, lalu dirinya juga ikut memungut kertas tersebut dan tangan mereka saling bersentuhan karena memegang kertas yang sama. Kaya terkekeh membayangkan otaknya yang mengkhayal seperti itu.


Adrian yang hampir dekat membuat Kaya bersiap-siap melancarkan aksinya. Ia berpura-pura tak melihat Adrian.


Kaya sengaja menjatuhkan kertas ke lantai saat Adrian mulai dekat. Lalu memungut kertas tersebut dengan slow motion, agar Adrian mau menolongnya.


Hah!


Kaya menganga melihat Adrian hanya berjalan melewatinya tanpa membantunya. Ia langsung mengambil kertas tersebut dengan kesal, lalu berdiri sambil memegang kertas tersebut.


Kurang ajar, dia main pergi aja! Enggak tau apa, aku kesusahan! Kaya kesal dalm hati dan sekaligus malu dengan pikirannya.


Perasaan tadi makan siang agak terbuka dan baik. Kenapa sekarang dia cuek lagi?


“Sial aku enggak dapat momen yang aku mau?!” Kaya kesal sambil berjalan ke ruangannya.


Kaya membanting kertas di mejanya saat sudah sampai ruangan. “Kalo di sini dia cuek? Kalo di luar kantor dia baik?” dengus Kaya.


Telepon berdering....


“Halo dengan Kaya,” jawab Kaya dengan kesal.


“Halo Kay, ke ruangan saya yah!”titah Adrian di telepon.


“Baik pak,” Kaya kembali dengan nada ramah dan menutup telepon.


Pasti nambahin kerjaan melulu tuh dia!Kaya berjalan keluar ruangan dengan kesal.


Kaya mengetuk ruangan pintu Adrian. “Masuk Kay!” teriak Adrian. Kaya pun masuk dan duduk.


“Ada apa yah pak?” tanya Kaya dengan sopan.


“Besok saya mau kita ke Jogja! Jadi kamu harus ikut dan bawa yang seperlunya aja!” titah Adrian.


Ke Jogja?


“Baik pak,”


“Terus kamu jangan  telat yah! Soalnya saya mau berangkat jam 8 pagi.”


“Baik pak, saya tidak akan telat.” Senyum Kaya.


“Yasudah, kamu boleh kembali!”


“Terimakasih pak.”


Kaya kembali ke ruangannya.


Besok keluar kota? Berarti aku bisa berduaan sama dia.Tawa Kaya dalam hati.


***


Kesokan harinya....


Kaya dan Adrian sudah duduk di dalam pesawat  dan menunggu pesawat lepas landas. Ketika pesawat lepas landas, Kaya langsung memegang tangan Adrian karena takut. Namun, Adrian meliriknya dengan sinis.


“Heheh, maaf pak. Saya tidak sengaja pak,” nyengir Kaya melepas tangan Adrian.


Biasa aja dong bos, aku kan takut! cibir Kaya dalam hati.


Sementara pesawat terbang di udara. Kaya berpura-pura menguap dan melirik Adrian. Dia menutup mata dan berpura-pura tidur. Lalu menggeser kepalanya ke bahu Adrian dan mencoba memeluk lengannya.


Hahaha, abis ini dia pasti membiarkan aku tidur dipundaknya! tawanya dalam hati.


Tidak kelamaan, Adrian langsung menggeser kepala Kaya untuk ke tempatnya dan melempaskan tangan Kaya dari lengannya. Adrian membuang muka ke arah jendela pesawat.


Dasar pelit, batinnya melirik Adrian dengan sinis. Dia pun tertidur dengan sendirinya dan bermimpi.


Kaya yang sudah mengantuk tak bisa menahan kepalanya untuk berdiri tegap. Kepalanya selalu terantuk ingin jatuh, namun Kaya kembali lagi tegap.


Ketika sudah terlelap tidur kepala Kaya ingin jatuh ke bawah, namun ditangkap oleh Adrian dan meletakannya ke pundaknya dengan pelan, sambil tersenyum ke arah Kaya dan menarik selimut ke atas lehernya. Lalu Kaya tersenyum sambil tidur.


Pesawat pun mendarat dan sampai pada tujuan. “Kay, bangun!” ucap Adrian. Kaya yang masih terlelap hanya bergeming, “hmm.”


“Kay bangun!” Adrian menepuk pipi Kaya.


“Apa sih?!” desis Kaya menggeser kepalanya ke kiri.


“Kaya bangun!” Teriak Adrian di kuping Kaya.


“Siap pak.” Kaya langsung berdiri dan memberikan hormat.


Adrian sontak tertawa. Kaya langsung melihat ke arah Adrian dan menurunkan tangannya sambil menyengir. “Maaf pak, saya kelepasan tidur.”


“Kamu abis mimpi apa sih?” tanya Adrian menahan tawa.


“Mimpi,” Kaya ingin menjawab, tapi mengingat kalau mimpinya adalah Adrian yang hangat memberikan pundaknya dan menyelimutinya.Dia tidak jadi menjawab dengan jujur.


Tapi kok, aku bisa bilang siap pak? Apa hubunganya dengan mimpi aku yah?. Ahh, tau lah! Mungkin karena aku sering nurut sama Adrian makanya reflek bilang kayak gitu?


“Mimpi apa Kay?” tanya Adrian.


“Saya mimpi ikut paskibra pak,” bohong Kaya sambil menyengir.


“Yaudah ayuk kita turun!” ajak Adrian.


“Iya pak,” angguk Kaya.


Mereka turun dari pesawat dan berjalan keluar bandara dengan membawa koper. Lalu mereka menunggu jemputan di depan loby.


“Itu mobilnya pak!” tunjuk Kaya pada mobil yang ada tempelan nama perusahaan di kaca mobilnya.


“Siang pak Adrian dan ibu Kaya,” sapa supir tersebut keluar dari mobilnya.


“Siang juga pak,” senyum Kaya.


“Makasih yah pak,” senyum Kaya.


“Sama-sama bu. Ayuk mari masuk pak, bu!” Supir itu membuka kan pintu belakang mobil kepada mereka. Supir itu pun masuk ke mobil dan menjalakan mobilnya.


Selama di perjalanan....


“Ibu Kaya cantik yah?” Puji supir itu dengan melihat spion di atasnya.


“Makasih pak,” senyum Kaya.


“Ibu Kaya maaf nih saya tanya. Emang umur ibu sekarang berapa?” tanyanya.


“Saya masih berumur 24 tahun kok pak,” jawab Kaya dengan senyum.


“Pantesan ibu masih muda banget. Pak Adrian juga masih muda banget,” puji supir itu. Namun, Adrian hanya terdiam saja dengan gayanya yang cool.


Ini orang dipuji senyum dikit kek, batin Kaya melirik Adrian kesal.


“Iya pak, dia emang masih muda juga, seumuran dengan saya.”


“Ibu Kaya orang baru yah? Soalnya saya baru lihat?” tanya supir itu.


“Iya pak, saya baru saja lewat tiga bulan.” Jawab Kaya.


“Oh pantesan bu,” senyum supir itu dan Kaya hanya tersenyum.


Mereka sampai di hotel dan turun dari mobil dengan memegang koper masing-masing.


“Nanti jemput saya, abis kamu makan siang yah!” perintah Adrian melihat supir itu dari jendela mobil yang dibuka.


“Baik pak,” ucap supir itu dan pergi meninggalkan mereka.


Lalu mereka masuk ke hotel dan mengambil kunci dari resepsionis di situ. “Kay, kamu duluan aja! Saya ada urusan dengan seseorang sebentar!” suruh Adrian.


“Baik pak,” ucap Kaya.


“Nanti kita ketemu di sini lagi jam 1 siang yah!” perintahnya.


“Baik pak,” senyum Kaya dan berjalan naik lift menuju ke kamarnya.


Sampai di kamar. Kaya membuka kopernya dan mandi. Kaya pun selesai mandi dengan kepala masih basah digosok dengan handuk. Tiba-tiba ponselnya berdering di kasara dan kaya menangkatnya.


“Halo bu Kaya, saya Nia dari cabang. Kira-kira nanti, mau ke sini jam berapa yah bu Kaya?”


“Ohh iya yah? Saya juga kurang tahu bu Nia. Nanti, saya tanya dulu ke pak Adrian yah bu.”


“Ohh, oke bu. Saya tunggu jawabanya yah bu.”


“Iya bu Nia.”


“Kalo begitu saya tutup dulu yah bu! Selamat siang.”


“Iya bu,” ucap Kaya menutup telepon.


“Oh iya yah? Aku kok enggak nanya kesananya jam berapa?” gumamnya melihat jam di ponsel masih jam 10 pagi. Kaya membereskan rambutnya dan menuju kamar Adrian.


“Pak Adrian?” Panggil Kaya sambil mengetuk pintu Adrian.  “Pak, ini saya Kaya.” Teriak Kaya tapi tak ada jawaban.


Akhirnya Kaya mencoba membuka pintu dan masuk perlahan-lahan. “Pak,” ucap Kaya melihat keadaan kamar Adrian sepi tak ada suara.


Kaya melangkah lagi dengan perlahan, sampai di depan pintu kamar mandi yang terbuka, ia melihat Adrian sedang menggosok gigi menghadapnya.



Kaya langsung melongo melihat badan Adrian yang dibalutkan handuk dipinggangnya. “Wahhh?” gumam Kaya melihat dadanya yang six-pack dan proposional. Begitu indah sehingga Kaya tak mengedipkan mata sama sekali dan menutup mulutnya.


“Ehem,” Adrian berdehem sambil memegang sikat gigi dengan mulut berbusa pasta gigi.


Kaya tersadar. “Maaf pak,” Kaya  langsung membalikkan badan.


“Kok aku bego banget sih?!” pikuk Kaya memukul kepalanya dengan tangan kiri.


“Kenapa kamu bisa masuk?” tanya Adrian sambil membersihkan mulutnya di wastafel dan melihat Kaya dari kaca wastafel.


“Maaf pak saya tidak sengaja masuk. Soalnya pintu bapak tidak terkunci dan saya sudah memanggil bapak beberapa kali. Saya pikir bapak mungkin ketiduran.” Kaya agak panik.


“Ohhh, yaudah, tidak apa-apa. Terus kenapa kamu ke sini?” tanya Adrian yang mengelap mulutnya dengan handuk kecil.


LKaya reflek mebalikkan badannya dan berkata. “Ohhh,” ucap Kaya dengan telunjuk jari ke atas. Kaya langsung menatap Adrian yang mengelap wajanya.


Wahhhh, Adrian ternyata emang tampan, batin Kaya bengong.


Lalu sadar kembali setelah menatap Adrian selesai mengelap. “Maaf pak, saya enggak sengaja.”


Kaya membalikkan kembali badannya sambil menempeleng kepalanya pelan. “Kamu bodoh Kay!” gumam Kaya pelan.


“Iya, terus kenapa kamu ke sini?” tanyanya.


“Saya tadi dapat telepon dari ibu Nia pak. Kita ke sana jam berapa pak?”


“Oh, bilang saja abis makan siang kita ke sana.” Jawab Adrian sambil mengambil baju di tempat tidur.


“Baik pak, saya permisi dulu pak.” Ucap Kaya tanpa menoleh Adrian.


“Hmmm,” gumam Adrian dan Kaya langsung buru-buru keluar menutup pintu Adrian.


“Huh, huh, huh.” Kaya mmenghela napas.


“Kaya, kamu bodoh banget sih natap dia sampai bengong gitu.” Gumam Kaya sambil berjalan menuju kamarnya.


“Tapi badan pak Adrian bagus juga,” nyengir Kaya sambil berjalan dengan membayangkan tubuh Adrian.


“Adrian emang perfect banget, pantesan banyak karyawan yang suka sama dia. Bodinya bagus banget, sixpack lagi dan berbentuk. Uhh, jadi makin gemes.” Ucap Kaya senyam-senyum membayangkan dada Adrian yang bagus dan langsung berbaring di tempat tidur.


~ Bersambung ~