My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 58 ~ Buat Apa Aku Cinta dari Anak Seorang Penjahat?



~ Happy Reading ~


Ting...., Tong....,


          Kaya berdiri di depan pintu apartemen Nusa sambil memencet belnya. Ia datang untuk mengembalikan ponsel Nusa yang tertinggal di kantor.


          Nusa yang sedang meminum alkoholnya beranjak dari kursi dan membukakan pintu. Nusa kaget dan tidak menyangka Kaya akan datang ke tempatnya.


          “Ada apa?” tanya Nusa membuka pintu hanya setengah.


          “Aku datang cuman mau kasih ini aja.” Kaya menyodorkan ponsel ke Nusa.


          Nusa mengambil ponselnya dari tangan Kaya dan memasukannya ke dalam kantong. “Terimakasih ibu Kaya yang baik hati.” Senyum Nusa dan Kaya hanya bergeming, “hemmm.”


          Kaya berbalik badan dan hendak berjalan menuju ke depan lift. Namun, dengan cepat Nusa menarik tangan Kaya untuk masuk ke dalam apartemennya dan menutup pintunya dengan kencang.


          Kaya yang terikut masuk ke dalam kaget. “Nusa kamu mau ngapain aku?” tanya Kaya mencoba melepaskan genggaman Nusa.


          Nusa menarik tangan Kaya dengan paksa dan menyenderkannya ke tembok yang di sampingnya meja atau lemari TV yang panjang. Nusa menekan kedua tangan Kaya di tembok dan di atas kepala Kaya. Kini jarak antara mereka berdua dekat sekali.


          Kaya yang melihat perlakuan Nusa menatapnya dengan tajam. “Lepasin aku Nusa! Kamu mau ngapain?”


          “Heh,” Nusa tersenyum sinis. “Katakan padaku kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya dengan jarak 1 cm.


          “Bukannya kamu sudah tahu?! Buat apa lagi aku memberitahumu?!” Jawab Kaya dengan sinis.


          Nusa semakin menekan tangan Kaya dengan erat. “Jawab Kaya?! Apa tujuan kamu sebenarnya?” bentak Nusa yang geram.


          “Aku ingin menghancurkan papamu!” teriak Kaya di depan wajah Nusa. “Puas kamu!” tatapnya dengan tajam.


          Nusa tersenyum simpul dan melepaskan satu tangan Kaya. “Aku hanya ingin mendengarnya dari kamu sayang?!” Nusa mencolek dagu Kaya dengan tangan kiri dan tangan Kanan masih menekan tangan kiri Kaya.


          “Sekarang lepasin aku Nusa!” tatap Kaya dengan tajam.


          “Kenapa buru-buru sekali? Aku belum selesai sayang!” Nusa membelai wajah Kaya.


          Kaya hanya menatap Nusa dengan sinis. Jantungnya menggembu-gembu, satu sisi dia takut, satu sisi dia sudah marah, dan sisi lain dia menyukai Nusa.


          “Kenapa hanya menatap aku saja sayang? Apakah kamu baru menyadari kalau akau tampan?” tanyanya dengan senyum.


          “Heh, aku menatap mu karena aku tidak menyangka dulu bisa berteman anak dari musuhku sendiri.”


          “Yahh..., yahhh..., aku juga tidak menyangka.”


          Aku juga tidak menyangka ternyata kamu akan menjadi musuhku Kaya, batin Nusa.


          Kaya membuang muka dan tidak ingin bicara lagi. “Kenapa buang muka sayang? Apakah kamu takut jatuh cinta kepadku?” Nusa sengaja membuat Kaya emosi.


          “Heh,” Kaya tersenyum sinis dan kembali menatap Nusa. “Buat apa aku cinta dari anak seorang penjahat.”


          Nusa yang mendengarnya marah dan mengambil tangan Kaya satunya lagi. Dia menekan kedua tangan Kaya dengan kasar. Kaya merasa kesakitan, tapi ia menahannya.


          “Kamu bilang apa tadi?” tanya Nusa.


          “Kamu budek sekarang Nus? Aku perjelas ke kamu yah? BUAT APA AKU CINTA DARI ANAK SEORANG PENJAHAT.” Ketus Kaya.


          Nusa yang mendengarnya menjadi geram, ia mencoba mencium bibir Kaya dengan paksa. Namun Kaya membuang muka dan menolaknya. Kaya terus meronta dengan mencoba melepaskan tangan Nusa.


          “Nusa kamu udah gila yah?!” Kaya meronta dengan badannya.


          Akhirnya Kaya menggunakan seluruh tenaganya mendorong badan Nusa dengan kasar dan tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu yang berada di meja TV tersebut.


          Buk!


          Ternyata patung yang pernah dikasih Kaya pecah terbagi dua. Patung tersebut sengaja dibeli olehnya karena bermakna bagi Nusa.


          Nusa yang terdorong mencoba menahan diri, agar tidak sampai terjatuh. Lalu ia melihat patung yang dipecahkan oleh Kaya tergeletak di lantai. Kaya yang merasa bersalah langsung mengambil pecahan patung tersebut.


          “Nusa, aku minta maaf. Aku enggak sengaja.” Kaya memegang patung tersebut dengan menghandap Nusa.


          “Hahahhaha,” tawa Nusa yang membuat Kaya heran. “Bahkan rumahku tidak menyukai pemberian kamu Kay.” Ketusnya.


          Nusa berjalan menuju dapur untuk mengambil gelas yang berisi alkohol. Kaya berbalik badan melihat Nusa heran dan tak mengerti dengan dirinya yang sekarang.


          Nusa menghampiri Kaya kembali dengan membawa gelas di tangannya. Ia melihat Kaya berdiri terdiam memegang pecahan patung tersebut.


          Apa Nusa sedang mabuk yah? Tanya Kaya dalam hatinya.


          “Kamu bilang papaku seorang penjahat?! Bukankah kamu juga penjahat Kaya sama seperti papaku?” ucapnya bersandar di meja TV, sambil meminum alkoholnya dengan cool.


          Kaya berbalik arah menghadap Nusa yang menyender dan dia bingung dengan sikapnya. Kaya merasa Nusa 180 derajat berubah. Nusa menjadi lebih seperti macan sekarang.


          Kaya mencoba tetap tenang dan tersenyum. “Aku menjadi penjahat karena ulah penjahat juga bukan?”


          Nusa yang sedang meminum ingin tertawa geli mendengarnya tapi dia menahannya. “Kau sungguh lucu sekali.”


          “Emang benar, orang menjadi penjahat karena ada penjahat awalnya. Tapi penjahat awalnya ini bukan manusia namanya.” Ketus Kaya.


          Nusa yang ingin meminum berhenti dan menatap Kaya dengan sinis. “Kenapa? Bukankah ucapanku benar Nusaku sayang?!” ketus Kaya.


          Nusa menaruh gelasnya di meja dekat TV. Ia maju perlahan menuju Kaya dan Kaya mundur perlahan. “Kamu memang benar penjahat lahir karena ada penjahat awal dan penjahat awal bukan manusia?!” Nusa terus memajukan langkahnya, sehingga Kaya mentok di kaki tempat  tidur.


          “Tapi bukannya penjahat tetap penjahat yah?” Nusa memajukan mukanya ke muka Kaya dan Kaya memundurkan mukanya, sehingga membusungkan dadanya ke belakang.


          “Iya kamu benar,” Kaya membuang muka dan Nusa hanya tersenyum.


          Hadeh jantungku berdegup kencang setiap melihat dirinya, batin Kaya.


          “Kay, jawab pertanyaanku! Apakah kamu menyukaiku?” tanya Nusa semakin memajukan wajahnya.


          Kaya langsung menoleh Nusa kembali dan menatapnya. “Heh, aku kan sudah bilang! Mana mungkin aku suka sama anak dari seorang penjahat!” ketusnya.


          Nusa terus memajukan mukanya dan Kaya memundurkan tubuhnya ke belakang hingga dia tergeletak di tempat tidur. Kaya melepaskan pecahan patung yang dipegangnya dari tadi dan membuang muka.


          Nusa terus memajukan mukanya ke muka Kaya dan mereka sangat dekat sekali. “Jika kamu enggak suka sama aku. Kenapa kamu selalu membuang muka?” tanya Nusa.


          Kaya kembali memandang Nusa. “Aku tidak suka menatap anak dari orang yang aku benci.” Sinisnya.


          “Oh begitukah?” Nusa membelai wajah Kaya dengan tangan kanan dan tangan satunya lagi menumpu tempat tidur.


          “Kenapa kamu mengambil perusahaan papaku yang ini? Kenapa kamu enggak mengambil perusahaan yang lainnya saja Kaya?” tanya Nusa.


          “Karena aku ingin papa kamu merasakan rasanya kehilangan perusahaan yang di bangun dari awal karirnya.” Jawab Kaya tajam.


~ Bersambung ~