
~ Happy Reading ~
Di Hotel.
Nusa membawa Kaya ala bridal style ke kamarnya. Ia meletakkan Kaya di kasur dengan pelan karena takut wanitanya terbangun. Saat ingin melepas tangan Kaya dari lehernya, Kaya terbangun dan menatap Nusa.
Kaya menarik tangan Nusa dengan dengkul menumpu pada kasur. Ia menatap Nusa seakan memohon untuk tak meninggalkannya. Nusa seperti mengerti tatapan Kaya dan ia mengelus lembut rambut Kaya, seakan mentransfer kata bahwa dirinya tak akan meninggalkannya.
Kaya memegang kerah kemeja Nusa dengan kedua tangannya. Ia mengecup Nusa dengan lembut. Nusa merasa tidak enak, karena Kaya sedang mabuk ia tak ingin mengambil keuntungan darinya.
Namun, batinnya sudah tergoda dengan Kaya. Nusa tak tahu ini benar atau tidak, tapi ia menginginkan Kaya saat ini.
Nusa mengelus kepala belakang Kaya dengan lembut. “Apakah boleh?” tanya Nusa. Kaya mengangguk seakan paham apa yang di tanyakan Nusa.
Nusa langsung membuka cardigan panjang Kaya terlebih dahulu dan membawa Kaya untuk berbaring ke kasur dengan memegang kepala belakangnya. Matanya tak lepas memandang wajah Kaya.
Nusa yang berada di atas Kaya menatapnya dengan senyum. Ia mengusap lembut wajah Kaya. “Aku sangat mencintaimu,” ucap Nusa mengecup kening Kaya.
Kaya mendengarnya tersenyum malu. Mukanya mungkin sudah merah merona sekali sekarang. Nusa kembali memandang wajah Kaya dan mengusapnya.
Nusa menempelkan bibirnya ke bibir Kaya, awalnya lembut. Namun, lama kelamaan menjadi ciuman panas.
Angin yang berhembus di kamar Nusa membuat suasana menjadi mendukung dan desiran ombak terdengar sebagai nada indah di telinga mereka.
Setelah cukup lama, mereka melepasnya dan terlihat terengah-engah. Suasana semakin memanas sekarang. Kaya mencoba melepaskan kancing kemeja Nusa.
Nusa terkekeh melihatnya. Ia berpikir wanitanya agresif juga. Nusa memegang tangan Kaya yang membuka kancingnya dan mengambil alih untuk membukanya sendiri.
Nusa langsung membuang kemejanya ke seberang tempat. Kaya ikut duduk dan mencoba membuka baju turtlenecknya dengan di bantu Nusa. Kaya hanya menampilkan tanktop hitam saja sekarang.
Nafas mereka terlihat beradu. Nusa kembali memundurkan kepala Kaya untuk tidur di bantal. Ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Mata Nusa tak lepas dengan wajah Kaya yang memanas. Nusa kembali mengecup kening Kaya dan turun ke bawah.
Malam ini adalah malam yang panas bagi dua insan tersebut. Mereka seakan menikmatinya.
***
Ke esokan harinya....
Hembusan angin pagi yang datang dari jendela membuat horden putih itu berterbangan. Kaya membuka matanya perlahan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia melihat ke samping dan kaget melihat sosok Nusa.
Kaya menelan salivanya dengan kasar melihat Nusa bertelanjang dada dengan selimut di tubuhnya. Sadar akan hal itu, Kaya langsung mengintip dirinya di balik selimut itu. Ia terlihat kaget, namun tidak berteriak.
Kaya mencoba kembali mengingat semuanya sambil memukul kepalanya dengan pelan.
Nusa mengelus kepala belakang Kaya dengan lembut. “Apakah boleh?” tanya Nusa. Kaya mengangguk seakan paham apa yang di tanyakan Nusa.
Kaya mengingat semuanya dan dia merasa malu, karena dirinya juga menginginkan Nusa. Dengan rasa malu, Kaya menutup mukanya dengan selimut. Mukanya memerah mengingat semua kejadian malam panas mereka berdua.
Tak lama kemudian Nusa membuka matanya dan melihat jendela terbuka dengan hembusan angin pagi yang sejuk. Bibirnya tersenyum mengingat kejadian semalam, lalu melirik Kaya yang mukanya tertutup dengan selimut.
Apakah dia tertidur dengan menutup mukanya dengan selimut? Tanya Nusa dalam hati dengan heran.
Nusa membuka pelan selimut Kaya. “Mampus!” umpat Kaya dalam selimut.
Saat Nusa membuka selimut dari mukanya, Kaya langsung cepat menutup mata dan berpura-pura tidur.
Nusa terkekeh melihatnya, karena dia tahu Kaya berpura-pura tidur. “Apakah kau malu sayang?” bisik Nusa.
Mata Kaya langsung terbuka dengan lebar mendengar itu. Dirinya memang sangat malu. “Aku sudah melihat semuanya dan semua dalam tubuhmu adalah hasil karyaku!” bisik Nusa.
Kaya langsung menoleh ke samping tepat wajah Nusa. “Apakah kau sangat mencintaiku Nusa?” tanya Kaya langsung. Ia takut Nusa mempermainkannya.
Nusa menaruh tangannya di belakang kepala Kaya dan tidur menghadap Kaya. “Aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.” Nusa mengelus pipi Kaya.
Kaya mencoba mencari kebohongan di mata Nusa, namun tak ada. yang dilihatnya adalah ketulusan dan membuat Kaya semakin yakin Nusa tak mempermainkannya. “Aku juga sangat mencintaimu,” Kaya memeluk tubuh Nusa.
“Tapi, bagaimana dengan Jessica?” tanya Kaya menjauhkan kepalanya dari badan Nusa.
“Aku tidak mencintainya. Lagi pula harusnya kau tahu? Siapa yang ada di hatiku ini?” Nusa menarik tangan kanan Kaya dan menaruhnya di dada Nusa.
Nusa semakin mendekatkan wajahnya. “Dari awal kau masuk ke tempat Adrian dan sampai sekarang aku sangat mencintaimu.” Ucapnya dengan hembusan nafas yang membuat Kaya semakin tersenyum.
“Tapi kau kan akan bertunangan dengannya minggu depan?” tanya Kaya sambil mengelus pipi Nusa.
Nusa mengelus punggung tangan Kaya yang berada di pipinya. “Aku akan membatalkannya. Kau datanglah ke acara pertunganku nanti. Di saat itu, aku akan mengumumkan bahwa kau adalah tunanganku yang sebenarnya!”
“Kau kejam sekali Nusa! Bagaimana perasaan Jessica nanti?”
“Aku tidak peduli dengannya! Aku hanya peduli denganmu saja!”
“Oh iya, aku ada hadiah untukmu!” Kaya ingin melepaskan pelukan Nusa, tapi ditahan oleh Nusa.
“Kau tak usah mengambilnya! Aku sudah tahu.”
“Kau sudah tahu?” Kaya menyerngit bingung.
“Iya..,”
Flash back...,
Nusa menggendong Kaya di depan dadanya. Ia tak sengaja menyentuh sesuata yang berada di kantong cardigan Kaya. Nusa ingin mengambilnya, tapi tak bisa karena Kaya terus mengoceh.
Setelah Kaya tertidur di pelukannya. Nusa membawa Kaya ke mobilnya dan meletakkan Kaya dengan pelan di bangku mobil. Nusa mengambil benda yang berada di kantong cardigan tersebut dan ternyata sebuah
kado kecil berwarna biru muda dengan balutan pita kecil.
Nusa menutup mobil dan berjalan menuju bangku sampingnya. Ia duduk sambil memperhatikan kado tersebut. Lalu dirinya membuka kado tersebut dan ternyata sebuah jam tangan pria yang indah dengan bertulisan K.N di belakangnya.
Nusa tersenyum melihat pemberian Kaya. Ia melepas jam tangan pemberian Jessica yang di kasihnya di tempat karoke tadi.
Flash back berakhir.....
Nusa menunjukkan pergelangan tangannya yang memakai jam tangan pemberian Kaya.
Kaya tersenyum melihatnya dan mengecup kening Nusa. “Selamat ulang tahun sayang.”
Nusa yang mendengarnya sedikit terkejut, namun ia sangat menyukai panggilan sayang tersebut. “Sama-sama,” dengan mengusap pipi Kaya.
“Aku ada sesuatu untukmu.” Nusa melepaskan pelukannya dan menggeser dirinya menuju laci yang ada di samping kasur tersebut. Nusa mengambil dua cincin yang indah.
Ia kembali menggeser tubuhnya menghadap Kaya. “Ini adalah cincin pertunangan kita nanti di acara tersebut!” Nusa menunjuk dua cincin di tangannya.
Kaya sangat terkesima melihat cincin itu. Pikirannya saat ini melayang di atas awan. Nusa memberikan kejutan yang tak terduga.
Apakah Nusa telah menyiapkan semuanya, makanya dia menyatakan cinta terhadapnya? Pikir Kaya.
“Aku sengaja membelinya, agar nanti kau memakainya saat di pertunanganku dengan Jessica!” Nusa mengambil jari Kaya dan memasangkannya. “Aku sangat mencintaimu Kaya.”
“Aku juga,” balas Kaya tersenyum melihat cincin itu di jarinya.
“Kenapa cincin itu tidak dipasang ke jarimu?” tanya Kaya menunjuk cincin satunya lagi di tangan Nusa.
“Karena ini akan dipakaikan olehmu di acara tunanganku, agar semua orang tahu siapa dirimu bagiku!” Mendengar itu, Kaya merasa terkesiap. Ia tak menyangka Nusa sangat seromantis ini.
“Jadi saat aku panggil dirimu! Kamu harus memasangnya!”
“Tapi apakah tidak terlalu kejam kepada Jessica.” Nusa menggeleng.
“Kamu tahu sendiri Jessica seperti apa? Dia itu hanya memanfatkanku saja. Aku ingin buat kejutan baginya!” Nusa tersenyum.
Kaya tersenyum mendengarnya dan memukul dada Nusa. “Kau sungguh kejam Nus!” Nusa hanya terkekeh dan memeluk Kaya dengan erat.
“Aku tak akan melepaskanmu!” gumam Nusa.
~ Bersambung ~