
~ Happy Reading ~
Di rumah Lita.
“Halo om, apa kabar?” tanya Kaya berdiri di samping Lita sambil memegang belanjaan Lita yang banyak.
“Baik, kamu apa kabar juga Kay? Sudah lama yah tidak main ke sini?” tanyaayah Lita.
“Baik om. Iya om, saya selalu sibuk.” Jawab Kaya dengan senyum.
“Pah, Kaya mau nginap di sini!”
“Ohhh yah sudah, baguslah! Jadi Lita ada temennya, soalnya om sama tante bentar lagi pergi.”
“Pergi ke mana?” tanya Lita.
“Pergi ke rumah paman mu,” jawabnya.
“Tadi, aku baru saja ketemu Nusa Pah.”
“Di mana?” tanya ayahnya.
“Di Mall sama Kaya,” jawab Lita.
“Ohh, gitu.” Ayahnya tersenyum. “Yaudah, papa mau siapin mobil yah! Mau jemput mama kamu!”
“Oke pah.Yuk Kay ke atas!” ajak Lita yang duluan naik tangga.
“Hati-hati yah om!” senyum Kaya.
“Iya Kay. Makasih yah.” Senyum ayah Lita berjalan keluar pintu.
“Lit, tunggu! Ini berat tau belanjaan kamu!” Gerutu Kaya sambil menaiki tangga.
“Yaelah, kan kamu kalah taruhan. Jadi harus terima resikonya.” Teriak Lita sambil tertawa.
“Dasar Lita sialan!” umpat Kaya.
“Hadeh,” Lita membuang napasnya kasar sambil membaringkan dirinya di tempat tidur.
“Kamu yah, bukannya bantu aku! Malah asyik tidur-tiduran!” Kaya langsung menaruh belanjaan di meja.
“Yah kan itu derita kamu Kay!” Tawa Lita.
“Dasar, emang yah!” Kaya mencubit lengan Lita dan ikut tidur-tiduran di tempat tidur Lita.
“Sakit Kay,” Lita mengusap lengannya dan Kaya hanya tertawa.
“Kamu kok enggak pernah cerita kalau punya pacar?” tanya Kaya sambil duduk di tempat tidur dengan memeluk bantal.
“Aku pernah kali kenalin ke kamu Kay?!” Jawab Lita sambil duduk juga.
“Kapan?” tanya Kaya dengan dahi yang mengerut.
“Waktu kuliah. Cuman kamunya aja yang rajin sama buku kamu itu!”
“Masa sih Lit?”
“Iya. Kamu inget enggak yang waktu kita duduk di bangku panjang di depan Kampus?”
“Iya inget,” jawab Kaya.
“Jadi pas waktu kita duduk bareng..”
Flash back….
Kaya dan Lita duduk bersampingan di meja panjang dekat taman kampus. Kaya yang memakai kacamata sedang serius membaca buku di meja. Sedangkan Lita,sedang asyik mengobrol dengan seseorang di depannya.
“Kay, itu pacar aku!” tunjuk Lita melihat Adrian berjalan menghampirinya.
Kaya menoleh dan tidak terlalu memperhatikannya. Dia hanya berkata, “Iya.” Lalu membaca bukunya lagi di meja.
Adrian datang menghampiri Lita dan mengajaknya pulang. “Kay aku mau pulang sama pacar aku dulu yah!” Ucap Lita sambil berdiri. Sedangkan Kaya hanya bergumam, “iya.” Tanpa menoleh Lita.
“Yaudah deh. Dah Kaya..,” Lita melambaikan tangan.
“Iya Lit,” gumam Kaya tanpa menoleh ke arah Lita.
Lita dan Adrian berjalan ke arah mobil yang di pakirkan di jalan. Sedangkan Kaya sama sekali tidak menoleh dan hanya sesekali menoleh. Lalu kembali membaca dengan serius.
Flash back berakhir….
“Hehehe, sory Lit. Waktu kuliah kan kamu tahu sendiri! Aku harus berjuang demi hidup.”
“Iya deh yang mau jadi ibu Negara,” ejek Lita sambil tertawa.
“Husshh, ngomong sembarangan! Bukan ibu Negara, Ibu dunia! Puas?”Kaya mengejek dirinya sendiri.
“Hahaha, lucu kamu Kay.” Tawa Lita.
“Tapi kamu masih cinta kan sama dia?” tanya Kaya.
Sebenarnya iya Kay, aku masih sayang sama dia!
“Kalo iya, juga enggak papa kali Lit.”
“Kagak. Lagian kamu kan suka sama dia Kay. Aku udah enggak suka lagi sama dia beneran.” Ucap Lita dengan jari dibentuk v.
“Kagak suka aku Lit. Lagian kamu tahu sendiri! Aku cuman senang-senang aja suka sama orang kagak serius.”
Aku tau kamu masih cinta sama dia Lit, batin Kaya.
“Iya deh Ratu Kecantikan,” ejek Lita sambil tertawa.
“Kamu yah!” Kaya menggelitik perutLita.
“Udah Kay geli!” Tawa Lita.
“Lagian? Kamu selalu bilang aku Ratu kecantikan melulu!” Ucap Kaya dengan tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Lah emang kamu selalu disebut Ratu Kecantikan!”
“Iya sih,” ucap Kaya.
“Kay, aku serius udah enggak suka lagi sama dia. Lagi pula kayaknya Adrian sekarang suka sama kamu.”
“Sok tau kamu Lit,”ucap Kaya.
“Iya serius! Dia kayaknya malah suka sama kamu!”
“Ahhh…, lagi pula dia mana suka sama aku kali Lit. Orang dia gay?!”
“Hahaha. Kamu masih percaya kalo mereka gay?” Tawa Lita.
“Lah, kamu enggak liat gerak-gerik mereka.”
“Kay, Kay, Kay. Terserah kamu deh! Kalo menurut aku sih enggak. Tapi aku juga enggak tahu mereka gay atau bukan sih?!”
“Gimana kalo kamu deketin lagi Adrian! Biar dia enggak jadi gay?” saranKaya.
“Lah, kan, yang targetin dia, kamu! Kenapa jadi aku yang deketin dia? Kenapa enggak kamuaja ubah dia biar enggak jadi gay?” desis Lita.
“Kan kamu mantannya! Waktu dia mabuk selalu nyebut nama kamu melulu tau Lit!”
“Iya kan, udah berlalu Kay. Aku Nusa ajalah!”
“Lah Nusa kan abang kamu pea! Masa kamu deketin dia? Otak kamu yah kadang-kadang enggak nyambung tau enggak Lit?!”
“Oh iya yah?” Tawa Lita.
“Ehh, tapi aku mau nanya deh. Kamu kenapa bisa putus sama Adrian?”
“Adalah sesuatu,” jawab Lita.
“Kan, gitu sama sahabat sendri! Ayoklah kasih tahu? Kepo nih Lit?”
“Dasar! Jadi aku putus karena aku sibuk ngurusin perusahaan bokapku Kay.”
“Cuman itu doang? Ahhh, bohong? Pasti ada lagi alasannya?”
“Kepo kamu Kay!” tawa Lita.
“Iya nih aku kepo Lit, lanjutlah!”
“Sebenarnya alasan aku putus sama Adrian karena papanya Adrian sudah memilih wanita yang cocok buat Adrian. Itu juga aku dengar langsung dari papanya, saat aku mau menghadiri acara perusahaan mereka Kay.” Ucap Lita dengan lirih.
“Ohh gitu,” gumam Kaya.
“Tapi aku enggak mau dia tau, kalo aku udah tau. Jadi aku buat alasan lain, tapi dia enggak mau putus. Akhirnya, aku sewa cowok buat jadi selingkuhan dan pacar pura-pura aku, agar bisa meninggalkan dia.”
“Wahh…, parah kamu Lit?”
“Abisnya dia udah dipilihin wanita lain sama bokapnya juga.”
“Kok gitu sih?”
“Iya gitu lah Kay,” jawab Lita.
“Yaudah, kamu enggak usah sedih. Kan, aku udah bilang tadi. Kamu coba dekatin dia lagi, siapa tau dia nanti berubah lagi suka sama kamu Lit, terus enggak jadi gay lagi deh.” Tawa Kaya.
“Kaya-Kaya, masih aja anggap dia gay.” Tawa Lita.
“Lah emang iya Lit?!” desis Kaya.
“Iya, iya, aku iya aja deh. Udah malam yuk kita tidur!” ajak Lita berbaring dan Kaya ikut berbaring juga di samping Lita.
“Selamat malam Lit,” ucap Kaya.
“Malam Kay,” ucap Lita sambil mematikan lampu.
~ Bersambung ~