
~ Happy Reading ~
Lita mengajak Adrian bertemu di restoran ternama yang ada di Jakarta. Dirinya sudah duduk menunggu Adrian yang belum datang. Setengah jam berlalu Adrian pun datang.
“Hai Ta, udah lama nunggu?” tanya Adrian sambil duduk.
“Belum lama kok,” kelak Lita dengan senyum. Padahal dirinya sudah menunggu setengah jam di sana.
“Ada apa yah Ta, makanya kamu ngajak bertemu?” tanya Adrian langsung tanpa basa-basi.
“Pesan makan dulu aja!” suruh Lita dan mereka melihat menu. Lalu memanggil pelayan dan memesannya.
“Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan secara langsung.”
“Kamu ingin bicara apa?” tanya Adrian. Makanan pun tiba di antar oleh pelayan dan ditaruh di meja mereka.
“Makasih mas,” senyum Lita kepada pelayan tersebut.
“Kamu ingin bicara apa?” tanya Adrian sambil memulai memotong steaknya dengan pisau dan garpu.
“Sebenarnya, cowok yang waktu kamu lihat itu, bukan selingkuhan ataupun pacar aku Adrian.”
Adrian menghentikan memotong steak dan meletakkan pisaunya beserta garpu di piring. Jari tangannya disatukan seperti berdoa dan menumpu dagunya.
“Kenapa kamu ingin ceritakan itu sekarang?” tanyanya cool.
“Aku ingin kamu tahu yang sebenarnya, kenapa aku meninggalkan kamu waktu itu. Aku enggak tahu ini waktu yang tepat atau tidak Adrian. Cowok itu sebenarnya aku bayar agar kamu tidak mengharapkan aku lagi.”
“Kenapa kamu lakuin itu Ta?” tanya Adrian sinis.
“Karena aku mendengar semua perbincangan kamu sama papa kamu yang berkata, bahwa kamu lebih pantes dengan Jessica di banding denganku dan lagi pula, aku punya kesan buruk dengan papa kamu Ad. Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kamu Ad.”
Adrian tersenyum sinis. “Hem, kamu emang enggak pernah berubah. Selalu mengambil keputusan tanpa berpikir panjang dulu?!”
“Maafin aku Adrian,” lirihnya.
“Kenapa kamu enggak kasih tahu aku, kalo kamu mendengarnya?” tanya Adrian dengan nada tinggi.
“Aku waktu itu terlalu emosi dan tidak berpikir panjang,” jawab Lita.
“Kamu bisa bilang sama aku dan tidak harus melakukan itu. Berarti kamu emang tidak ingin mempertahankan aku Ta, dan lebih memilih ego kamu yang sesaat.” Sarkas Adrian.
“Maafin aku Adrian. Aku bener-bener merasa diriku emang enggak pantas buat kamu.”
“Tapi seharusnya kamu ngomong ke aku, jangan bertindak seperti itu! Kamu sama aja enggak mau perjuangin cinta kita waktu itu!” dengan nada emosi.
Lita mulai meneteskan air matanya. “Aku minta maaf Adrian. Emang semua ini salah aku.” Ucapnya menunduk.
“Yasudahlah, aku udah maafin kamu Ta. Lagi pula itu udah masa lalu.”
Wajah Lita yang tadinya sendu berubah menjadi tersenyum. “Serius?”
“Iya, yang lalu biarlah berlalu. Kita enggak usah ungkit lagi,” senyum Adrian yang tidak tega meliht Lita sedih.
“Makasih Adrian,” Lita tersenyum lebar.
“Sama-sama,” ucap Adrian dengan cool dan mereka melanjutkan makanannya.
***
Setelah selesai makan Lita dan Adrian pulang bersama dengan mobil Adrian. Selama di perjalanan mereka berdua hanya terdiam. Lita tidak berani mengeluarkan suaranya, karena ia merasa canggung dan bingung apa yang harus dibicarakan lagi. Selama ini mereka tidak pernah ketemu dan saling menghindar. Adrian yang merasa tersakiti waktu itu, bersikap dingin terhadap Lita.
Perasaan Lita sebenarnya masih mencintai Adrian. Tapi Lita tidak tahu, apakah Adrian masih mencintainya
Lita terus memperhatikan Adrian yang menyetir dan tanpa sadar mereka sudah sampai di depan rumah Lita
“Ta?” seru Adrian menoleh ke Lita.
Lita langsung tersadar dan melihat sudah sampai rumah. “Udah sampai yah?” tanya Lita.
“Iya,” jawab Adrian.
“Yaudah aku turun dulu yah! Makasih udah mengantar aku Ad.” Lita tersenyum dan membuka pintu mobil, tapi terhenti karena Adrian memanggilnya.
“Iya Adrian,” jawab Lita kembali menoleh Adrian dan menutup pintu mobil.
“Aku tahu dua tahun lalu tidak bisa diubah lagi. Tapi aku harap kamu jangan terlalu berharap sama aku lagi, karena itu tidak akan bisa terjadi lagi.”
Deg
Perkataan Adrian membuat jantung Lita seketika melemah. Tubuhnya merasa lemas mendengar ucapan Adrian yang spontan tanpa memikirkan perasaan Lita. Hatinya terasa sakit sekali, namun ia berusaha tetap tersenyum.
“Iya aku tau Ad.”
“Karena aku sudah mencitai seseorang Ta,” ucap Adrian menatap ke kaca mobil depan sambil memegang stir mobilnya.
“Kalo aku boleh tahu? Siapa wanita yang kamu suka Ad?” tanya Lita dengan lembut.
“Aku suka sama teman kamu,” jawab Adrian.
Lita merasa jantungnya berhenti seketika mendengar perkataan Adrian yang mencintai temannya sendiri. Matanya membelalak dan seketika dia merasa patah hati.
“Maksudnya Kaya?” tanya Lita memastikan. Adrian hanya bergeming menandakan “Iya.”
“Oke, aku udah tahu kamu suka sama Kaya. Lagi pula Kaya juga suka sama kamu.”
“Aku udah tahu itu,” ucap Adrian dengan cool.
“Ohhh, baguslah udah tahu.” Senyum Lita dengan nada berat yang ingin sekali menangis di saat itu juga, tapi dia harus berusaha menahan air matanya.
“Oke, aku turun dulu yah! Kamu hati-hati di jalan Ad!” Lita tersenyum menoleh Adrian dan langsung membuka pintu mobil.
Adrian langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Sementara Lita masih memandangi kepergian mobil Adrian.
“Maafin aku Ta. Entah dari kapan perasaan aku udah berubah terhadap dia. Aku hanya inginkan dia saat ini. Aku merasa kamu masih menyukai aku Ta, makanya aku sengaja berkata seperti itu. Agar kamu tidak sakit hati nantinya.” Sambil menyetir mobilnya dengan pandangan serius ke depan.
****
Melihat mobil Adrian sudah menghilang, Lita langsung meneteskan air matanya. Ia sudah tidak kuat lagi. Hatinya terasa sakit sekali di bandingkan dengan perasaan sakit waktu meninggalkan Adrian dengan pacar
pura-puranya.
Lita merasa menyesal telah melakukan hal bodoh seperti itu. Ia harusnya mempertahankan pria yang ia sangat cintai. Tapi, Lita malah meninggalkannya dengan membuat luka di hati pria itu.
Lita berjalan ke rumahnya dengan perasaan berat hati. Mengetahui kebenaran Adrian menyukai Kaya lebih menyakitkan dibanding perasaan meninggalkannya.
Lita memang berpura-pura di depan Kaya, bahwa ia tak mencintainya lagi. Ia mengumpatkan perasaannya agar Kaya tidak sungkan untuk mendapatkan Adrian. Tapi, dirinya sadar bahwa dia masih mencintai Adrian.
Kakinya berjalan sampai kamar dengan perasaan sedih. Tubuhnya yang ringan direntangkan di atas kasur. Pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar. Dirinya berandai–andai dengan berkata.
“Coba aja aku pertahankan Adrian waktu itu. Aku enggak akan lebih sesakit ini. Maafkan aku Adrian.” Matanya meneteskan air mata lagi. Hatinya merasa sangat menyesal dengan tindakan masa lalunya.
~ Bersambung ~