My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 34 ~ Kamu Kenapa Nus?



~ Happy Reading ~


Di apartemen Nusa.


          Kaya terus mengikuti Nusa sampai depan apartemennya. Walaupun Nusa terus mengusirnya, Kaya tetap kekeuh mengekor Nusa.


          Nusa membuka pintu apartemennya. Dirinya ingin sekali cepat masuk dan menutup pintu agar Kaya tak bisa masuk. Namun dia salah, saat pintu di buka Kaya langsung masuk begitu saja dengan cepat.


          Nusa menghela napasnya panjang dan masuk ke dalam. Ia berhenti sejenak dan Kaya berdiri di belakang dirinya.


          “Mending kamu pulang deh Kay! Aku lagi enggak mood hari ini!” usir Nusa tidak menoleh Kaya yang di belakangnya.


          “Aku enggak akan pulang sebelum kamu bilang dulu kamu itu kenapa hari ini?” tanya Kaya bersikeras.


          “Kay, pulang!” usir Nusa dengan nada ditekankan.


          Kaya meraih tangan Nusa dan bertanya dengan lembut. “Kamu itu kenapa Nus? Apa kamu cemburu sama Adrian?” tanya Kaya terus terang dan membuat Nusa kaget dengan pertanyaan Kaya.


          Nusa menghempaskan tangan Kaya dan tidak menoleh kepadanya sama sekali. “Aku mau kamu pulang sekarang Kaya!” nada bicara Nusa seperti membentak Kaya. Tanpa peduli ekspresi Kaya yang di belakangnya, Nusa melangkah ingin menuju kasurnya.


          Kaya yang tidak mau menyerah menarik tangan Nusa, sehingga Nusa menghadapnya. “Kamu kenapa sih Nusa?” bentak Kaya yang kesabarannya sudah habis.


          Nusa langsung menghempaskan tangan Kaya, sehingga Kaya tak sengaja tersungkur ke lantai. Nusa merasa bersalah dan berjongkok membantu Kaya berdiri dengan memegang kedua bahu Kaya. “Sorry Kay, aku enggak sengaja.”


          “Lepasin tangan kamu! Aku enggak butuh bantuan kamu Nus!” Nusa melepaskannya dan berdiri. Kaya mencoba berdiri menghadap Nusa.


          “Aku minta maaf Kaya,” lirih Nusa.


          “Kamu kenapa sih? Aku enggak suka yah sama sifat kamu yang sok cuek dan dingin?!” bentak Kaya.


          “Kalo kamu enggak suka, yaudah pulang aja!” balas Nusa dengan bentakan juga.


          Kaya langsung tertegun melihat Nusa yang berubah 180 derajat. Biasanya dia selalu meladenin apapun omongan Kaya dengan baik. “Kamu bener-bener deh Nusa!” tunjuk Kaya dengan emosi.


          “Apa?” tanya Nusa dengan emosi.


          “Kamu kenapa sih Nusa sebenarnya? Bilang sama aku? Kamu kalo cemburu dengan Adrian bilang? Enggak usah sok cuek sama aku?” bentak Kaya terus terang.


          Nusa melangkah maju perlahan-lahan menuju Kaya dengan tatapan mata yang dingin. Kaya berusaha mundur dan Nusa masih terus maju melangkah ke arahnya.


          Ada perasaan takut dalam diri Kaya melihat mata Nusa yang tajam seakan ingin memakannya. Nusa terus maju dan Kaya terus mundur. Sehingga Kaya tidak bisa mundur lagi dan mentok dengan pintu apartemen Nusa yang tertutup.


          Nusa terus maju melangkah. Tangannya menumpu tembok mengunci Kaya. Wajahnya mendekat ke arah wajah Kaya. Tatapannya masih tajam dan membuat Kaya takut.


          Wajah Nusa semakin dekat dan Kaya berpikir apa yang akan dilakukan Nusa. Matanya tak tahan menatap Nusa yang tajam. Ia langsung menutup matanya karena takut.


          “Kaya sebaiknya kamu pergi! Karena hari ini aku enggak mood!” bisik Nusa membuat Kaya tertegun mendengar ucapan dingin Nusa. Hembusan nafasnya membuat Kaya semakin takut.


          Kaya membuka matanya dan melihat Nusa sudah berbalik badan membelakangi dirinya. Kaya tak menyangka ucapan dingin Nusa membuat Kaya sedikit takut. Tapi ia harus menghilangkannya dan berpikir bagaimana cara menjinakkannya saat ini.


          Kaya memeluk erat Nusa dari belakang. “Nusa, aku enggak akan pergi sebelum kamu cerita kamu kenapa? Aku akan menampung beban kamu Nus!”


          Nusa mendengar perkataan Kaya seperti bergetar ingin menangis. Ia merasa tidak tega dengannya, tapi hatinya mengetahui dirinya.


          Kamu enggak tahu apa yang aku ketahui saat ini Kay. Semua ini berhubungan dengan kamu bukan hanya karena cemburu.


          Nusa berbalik badan dan memegang tangan Kaya dengan lembut. Tatapannya kini berubah menjadi sendu, tidak tajam seperti tadi. Sedangkan Kaya masih menatap Nusa dengan tatapan sendu.


          “Serius kamu enggak papa?” tanya Kaya dengan lirih.


          “Iya Kayaku.” Nusa tersenyum mencubit pipi Kaya dengan lembut. Kaya langsung tersenyum melihat Nusa mulai tersenyum padanya lagi.


          “Nah gitu dong? Kamu senyum? Itu baru Nusa?!” Kaya tersenyum bahagia melihat Nusa tersenyum.


          Kaya yang bahagia melihat Nusa tersenyum langsung memeluk Nusa dengan erat. “Nus, aku enggak mau kamu kayak tadi lagi yang emosian!” lirih Kaya.


          Soalnya sebentar lagi aku akan keluar dari perusahaan ini dan aku enggak mau keluar dengan perasaan kamu yang begini.


          “Iya,” Nusa membalas pelukan Kaya dengan erat juga.


          Kaya memandang wajah Nusa. “Iya, soalnya aku enggak suka kalo teman curhat aku yang satu ini cuek dan bersikap dingin.” Nyengir Kaya.


          “Iya Kay,” Nusa tersenyum memandangi wajah Kaya yang tersenyum padanya.


          “Kamu harus janji jangan bersikap seperti ini lagi?” Kaya memberi jari kelingkingnya.


          “Iya aku janji,” Nusa membalas kelingking Kaya.


          Kay, kamu jangan bikin aku berharap sama kamu. Karena kamu belum tahu kalo aku udah tahu yang sebenarnya?


          Mereka melepaskan pelukan mereka dengan senyum. “Nus, aku laper nih! Tolong buatin aku makanan dong!” pinta Kaya dengan senyum.


          “Yaudah, kamu duduk dulu Kay atau mau tidur di kasur aku terserah kamu.”


          “Aku ikut ke dapur aja, melihat Chef ahli yang masak.”


          “Okelah Kay,” ucap Nusa tersenyum.


          Mereka berjalan menuju dapur. Nusa memakai celemeknya dan memulai memasak. Kaya duduk dengan kedua tangan menumpu dagu memperhatikan Nusa dengan senyum.


          Kaya tidak tahu ada apa dengan pikirannya. Ia merasa tidak suka jika Nusa cuek seperti tadi dan akan senang jika Nusa bersikap hangat. Hatinya merasakan gelisah jika Nusa menjauh darinya, namun dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya sebelum yang dia mau tercapai.


          Melihat Kaya melamun tersenyum, Nusa menjahili Kaya dengan memecahkan telor di kepalanya.


          “Nusa!” bentak Kaya dengan senyum sambil memegang kepalanya. Nusa hanya tertawa saja sambil memotong daun bawang dan cabai.


          Saat ini Nusa sedang membuat omlet telur dengan irisan daging tipis di dalamnya. Nusa mengajak Kaya bercanda dengan mengocok telur ke kiri dan ke kanan, seperti chef yang sudah ahli. Hal itu membuat Kaya tertawa dan mereka terus bercanda dengan gerakan yang dibuat oleh Nusa.


****


          “Tada, makanan sudah siap!” Nusa memperlihatkan hasil makanannya.


          Nusa melepas celemeknya dan membawa makanan tersebut ke meja makan. Kaya mengikuti Nusa ke meja makan. Mereka pun duduk dan makan sambil berbincang dan tertawa.


          Selesai makan Nusa membereskan semua piring kotor dan mencuci piring tersebut. Sedangkan Kaya terlentang di tempat tidur Nusa sambil menonton. Nusa memperhatikan Kaya dan tersenyum melihatnya. Nusa pun selesai merapikan dan mencuci piring. Dia langsung membersihkan tangannya dan menghampiri Kaya.


          Saat berdiri di depan kasur. Nusa melihat Kaya sudah tertidur dengan lelap. Ada senyuman di bibirnya melihat wajah Kaya tertidur lelap. Tak tega membangunkannya, Nusa membiarkan Kaya menginap di sini.


          Nusa menggeser Kaya sedikit, agar dia bisa berbaring di tempat tidur. Lalu dia menghadap ke arah Kaya yang tidur menyamping dan membelai wajah Kaya dengan lembut. Tangannya membelai alis Kaya, hidung Kaya dan bibir Kaya. Melihat Kaya tertidur dengan pulas, membuat Nusa terlena dan tidak ingin jauh dari Kaya.


          “Kaya, ini yang terakhir kamu ke sini! Kita tidak akan bisa seperti ini lagi. Aku sudah tahu apa yang kamu pikirkan!” Gumam Nusa mengusap wajah Kaya dengan lembut dan hangat. Lalu ia pun tertidur menghadap Kaya, dengan tangan masih memegang wajah Kaya.


~ Bersambung ~