My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 131 ~ Kesalah Pahaman



~ Happy Reading ~


          “Kalau mama menyukai Wijaya! Kenapa mama melakukan ini?” tanya Kaya dengan membentak.


          “Mama akan menjelaskannya Kaya! Ini semua tidak kesengajaan!” ucap Mina dengan nada tinggi.


          “Dengarkan mama dulu!” Mina mulai melembut.


Flash back berlanjut....


          Mina bertemu Kasih di ruangan yang sama. Kasih adalah wanita yang lemah lembut dan cantik. Walau Mina paling cantik dan menjadi primadona kampus saat itu. Namun Kasih adalah primadona dua pria dari sahabatnya yang salah satunya disukai Mina.


          Seiring berjalannya waktu, Mina mulai akrab dengan Erlangga dan Wijaya karena Kasih yang selalu mengajak Mina untuk bergabung. Mina sangat senang waktu itu, ia dapat melihat wajah Wijaya tiap hari. Tapi Wijaya selalu cuek terhadapnya.


          Awalnya Mina tak tahu kenapa Wijaya bersikap cuek padanya. Padahal Mina selalu mengaca pada dirinya sendiri dan berkata dirinya cantik. Disukai banyak pria di kampus, pintar dan selalu ramah. Namun kenapa Wijaya tak menyukainya? Itulah yang dipikirkan Mina.


          Kadang Mina iri dengan Kasih yang bisa selalu membuat Wijaya tersenyum dan tertawa bersamanya. Walau Erlangga adalah kekasihnya Kasih, namun Erlangga tak pernah membatasi Kasih untuk berteman dengan pria mana pun. Lagi pula Wijaya adalah sahabat kecil Kasih dari dulu, sebelum Erlangga bergabung.


          Hingga suatu saat Mina tahu bahwa Wijaya sebenarnya menyukai Kasih dan dia mengumpatkan perasaannya selama ini. Mina melihat Wijaya memandang foto Kasih saat di perpustakaan.


          Wijaya tidak benar-benar membaca buku. Ia melihat foto kasih yang diletakkan di halaman buku. Mina tak sengaja melihatnya dari belakang.


          Mina seakan tak percaya dengan kenyataan ini. Bagaimana mungkin dia bisa menyukai wanita sahabatnya sendiri?


          Mina yang melihat itu langsung berlari menuju kamar mandi. Hatinya hancur melihat kenyataan tersebut. Pantas saja dirinya tak di pandang sama sekali. Walau sekeras apa pun ia melangkah, Wijaya tetap akan menyukai Kasih.


          Mina menangis dalam diam. Ia merasa sesak sekali. Tak tahu harus berbuat apa. Mina menyudahi semua tangisannya dan berjalan menuju taman kampus. Dirinya ingin menyendiri sekarang.


          Mina duduk di bangku panjang di taman. Tatapannya sendu dan pikirannya kosong. Ia tak pernah menyukai pria sampai sebegininya. Tiba-tiba Erlangga datang melihat Mina sedih dan menghampirinya.


          “Ada apa?” tanya Erlangga duduk di samping Mina.


          Mina menggeleng pelan dan mencoba tersenyum. “Jangan berbohong Mina! Aku tahu kamu sedang sedih? Apakah ini tentang Wijaya?” mendengar itu Mina terkejut. Bagaimana Erlangga tahu kalau dirinya menyukai Wijaya?


          “Aku tahu kau menyukai Wijaya sejak saat Kasih mengenalkanmu.”


          “Apakah ketara sekali Er?” tanya Mina dan Erlangga mengangguk.


          “Bodoh, bodoh!” Mina memukul kepalanya sendiri. Erlangga terkekeh melihatnya.


          “Kau ini! Kenapa harus malu jika menyukai Wijaya?”


          Mina tersenyum simpul. “Bukannya aku malu, tapi aku tahu dia tak menyukaiku?!”


          “Dia adalah pria cuek, tapi dia juga baik.”


          Jika dia baik Er, dia tak mungkin memandang foto kekasihmu sampai tersenyum segitunya, batin Mina.


          “Cuman kau harus berusaha keras untuk mendekatinya.” Erlangga mencoba memberikan semangat kepada Mina.


          Mina menggeleng dengan senyum. Sekeras apa pun aku berusaha dia tetap menyukai kekasihmu Er, karena aku tahu pria seperti apa Wijaya. Dia setia menyukai satu wanita, batin Mina.


          “Aku tak tahu, mungkin aku akan menyerah!” ucap Mina.


          Erlangga langsung menoleh ke arah Mina dan memegang pundak Mina. “Jangan menyerah dong! Masih ada seribu cara untuk mendapatkan cinta!” Erlangga mencoba menghibur Mina.


          Mina yang mendengarnya tertawa pelan. “Kau ini bisa saja! Beruntung Kasih mendapatkanmu!”


          “Itu karena aku mencoba seribu cara mendapatkan hati Kasih...” Erlangga mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Dengan cara ini!” Erlangga menunjukkan buku tersebut.


          “SERIBU SATU CARA MENDAPATKAN KEKASIH IDAMAN”


          Mina mengejanya dan tertawa melihat judul tersebut. “Kalau mau aku pun membantumu! Dan buku ini untukmu!” Wijaya memberikannya dan Mina menerimanya dengan senyum.


          “Makasih Er,”


          Mereka pun mengobrol dan bergurau bersama. Saling tersenyum dan tertawa. Namun merek tidak tahu ada dua pasang mata melihat mereka.


          “Lihat Kasih! Erlangga menyukai Mina!” ucap Wijaya di belakang Kasih.


          Kasi yang melihatnya dari belakang hanya terdiam. Ia tentu kesal, namun dirinya tak ingin melampiaskannya di depan Wijaya.


          “Aku ingin pulang sekarang!” Kasih berbalik badan.


          “Aku akan mengantarmu!”


          “Tidak perlu! Aku ingin sendiri!” Kasih langsung meninggalkan Wijaya.


Flash back bersambung....


          “Hingga suatu hari kesalah pahaman pun terjadi. Erlangga yang membantu mama untuk mendapatkan Wijaya malah dituduh sebagai selingkuhan papa kamu!”


          “Kok bisa?” tanya Kaya.


          “Semua bermula dari papa kamu memeluk mama tidak sengaja karena senang mendapatkan hadiah yang dia inginkan.” ucap Mina.


Flash back berlanjut...


          Erlangga menemui Mina di taman. Mereka akhir-akhir ini menjadi teman curhat dan saling berbagi kisah. Erlangga memang selalu membantu Mina untuk mendekatinya dengan Wijaya, namun Wijaya selalu saja tak peduli dengan dirinya.


          “Mina?” teriak Erlangga dengan kencang dan langsung berlari memeluk Mina. Tanpa sadar Kasih berada di belakangnya.


          “Tebak? Aku mendapatkan hadiah sebuah PS4 yang terbaru!” ucap Erlangga dengan antusias. Mina hanya tersenyum mengangguk karena ia melihat Kasih di belakangnya.


          “Maaf Mina,” Erlangga melepaskan pelukannya.


          Mina merasa canggung dan hanya mengangguk dengan senyum. Lalu ia melihat Kasih di belakang Erlangga. “Kasih?” gumam Mina.


          Erlangga langsung berbalik badan dan melihat Kasih dengan perasaan bersalah. Ia melihat kekasihnya langsung berbalik badan dan secara bersamaan Wijaya ada di depan Kasih melihatnya.


          “Kasih?” panggil Erlangga, namun Kasih langsung melangkah pergi.


          “Kasih?” Erlangga langsung mengejar Kasih yang berlari menangis dengan diam.


          Mina yang melihat itu merasa tidak enak. Kasih hanya salah paham. Mina melihat Wijaya yang menatapnya dengan tatapan benci, seakan dirinya merusak hubungan Erlangga.


          Erlangga akhirnya bisa mengejar Kasih di luar parkiran kampus. Ia langsung menarik tangan Kasih dan Kasih berhenti melangkah.


          Kasih mencoba menghapus air matanya dan berbalik badan. “Kenapa?”


          “Kumohon dengarkan aku, ini hanya salah paham!” ucap Erlangga.


          “Salah paham?” Kasih tersenyum miris. “Kau bilang salah paham Erlangga?”


          “Aku selalu melihatmu bersama Mina beberapa minggu ini. Kau tertawa bersama, seakan kau nyaman dengan dirinya! Sekarang kau berpelukan dengan dirinya! Apakah itu salah paham?!”


          “Aku hanya...,” Erlangga tak mungkin memberitahu Kasih tentang Mina menyukai Wijaya, karena dia sudah berjanji dengan Mina untuk tak memberitahu siapa pun.


          “Aku hanya apa?” tanya Kasih dengan nada marah.


          “Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini?!” ucap Kasih dengan menangis. Erlangga langsung  menggenggam tangan Kasih.


          “Tidak.., tidak Kasih. Aku sangat mencintaimu! Engkau tahu sendiri isi hatiku Kasih.” Ucap Erlangga dengan tatapan memohon.


          “Iya itu dulu, setelah Mina masuk kehidupan kita semuanya berubah. Kau sering bersama dirinya di bandingkan diriku!”


          “Tidak, itu tidak benar Mina. Aku hanya membantunya!”


          “Membantu apa?”


          “Aku tidak bisa mengatakannya!”


          “Baiklah kalau begitu,” Kasih tersenyum sinis. “Kalau begitu kita akhiri hubungan kita saat ini!” Kasih mencoba melepaskan genggaman Erlangga, namun Erlangga tak mau.


          “Lepas!” bentak Kasih dan Erlangga tetap tak mau melepaskannya dengan tatapan sedih memohon.


          “Lepas ERLANGGA!”


          Wijaya datang entah dari arah mana. Ia langsung menggenggam pergelangan tangan Erlangga. Tatapannya tajam seakan marah kepada Erlangga.


          “Lepaskan dia!” ucap Wijaya dan Erlangga menggeleng.


          “Lepaskan dia Erlangga! Dia perlu menyendiri dulu!” Ucapan Wijaya membuat Erlangga melepaskan tangan Kasih.


          Kasih berlari menangis meninggalkan mereka sambil menangis. “Aku akan mengejarnya! Kau disinilah, aku akan berbicara padanya!”


          “Dia hanya salah paham Wijaya, aku tak sengaja memeluk Mina!” ucap Erlangga dengan sendu.


          “Aku akan menjelaskannya, biarkan aku yang membujuknya!” titah Wijaya dan Erlangga hanya mengangguk.


Flash back bersambung....,


~ Bersambung ~