
Di dalam Lift.
Kaya melepaskan Adrian dan membiarkannya di lantai lift tertidur dengan kepala bersandar di tembok lift. “Harusnya aku biarin aja kamu mamp*s di situ Adrian!” ketus Kaya melipatkan kedua tangan ke dalam dada.
Lift berjalan naik ke atas dan berhenti di lantai 3. Kaya panik dan langsung ingin menompang Adrian. Namun, pintu sudah terlanjur terbuka dan ada seorang pria paruh baya masuk dengan heran sambil menatapnya tajam.
“Kamu mau ngapain dia?” tanya bapak itu melihat Kaya berjongkok menghadap Adrian mencoba menarik tangan Adrian ke pundaknya.
“Hehe, saya tidak ngapa-ngapain kok pak.” Kaya langsung melepaskan tangan Adrian dan membiarkannya tergeletak di lantai lift.
“Kenapa dia tergeletak di sini?” tanya pria paruh baya itu.
“Saya tidak tahu pak, dia sudah seperti ini.” Kelak Kaya dengan senyum.
Pria itu masih curiga dengan Kaya sambil melihatnya dengan sinis. Hadeh Adrian sialan! Cepat kek bapak ini pergi!
Adrian terbangun dan mencoba berdiri, tapi hampir mau jatuh. “Hadeh.., pakai bangun lagi! Malah bapak itu masih di sini lagi?!” gumam Kaya pelan sambil memijit pelipisnya.
“Oh.., Ta…,” ucap Adrian tidak jelas dan berusaha berdiri dengan linglung.
“Ehhh pak, awas jatuh!” Kaya menangkap badan Adrian dan mencoba menompangnya sambil menyengir ke arah pria paruh baya itu.
Diam kek kamu, Adrian kampr*t!, umpat Kaya dalam hati dan mencoba tersenyum ke arah pria paruh baya itu.
Lift pun terbuka di lantai lima. Kaya merasa senang pria tua itu akan keluar dari lift.
“Saya salah pencet lantai kayaknya, harusnya lantai 10.” Ucapnya memencet tombol lantai 10
Hadeh…, lantai 10 lagi! batin Kaya miris.
“Oh.., Ta.” Ucap Adrian tidak jelas dengan memeluk erat Kaya.
“Oh…, Ta? Kenapa kamu pergi sayang?” peluknya dan bersandar di
pundak Kaya.
“Adrian lepasin aku!” desis Kaya pelan dengan memukul tangan Adrian.
Pria tua itu melirik Kaya. “Tuh mbak, dia kenal mbak! Terus meluk mbak lagi. Berarti mbak kenal dong?”
“Iya pak saya kenal. Saya sama dia tetanggaan tapi saya tidak tahu dia kenapa?” nyengir Kaya sedikit berbohong untuk pembelaan dirinya.
“Kalau kenal, tapi bohong dari tadi.” Pria tua itu memutar bola matanya malas. Ucapan pria itu masih di dengar Kaya dan membuat Kaya tambah malu.
“Kenapabkamu tinggalin aku?” Adrian membuka mata lalu menutupnya lagi, sambil pasang muka sedih. Pria tua itu melirik Kaya lagi dengan tatapan sinis.
“Heheh, bukan saya pak maksudnya.” Nyengir Kaya melihat pria tua itu.
Hadeh.., udah ngerugiin aku, buat malu pula. Kaya pasrah dengan menghembuskan nafasnya kasar.
“Kenapa kamu tinggalin aku?” rengek Adrian.
Pria tua itu melihat Kaya dengan sinis lagi. “Dasar perempuan jaman sekarang, kerjanya nyakitin cowok saja.” gerutunya pelan.
“Bukan saya pak yang ninggalin dia.” Kaya membela dirinya dengan senyum.
“Hadeh, lama banget sih nih lantai 8.” gerutu Kaya pelan.
Pria tua itu langsung membuang muka. “Alasan aja,” ucapnya pelan. Kaya hanya bisa menghela napas saja menghadapi sika pria
tua itu.
Lift terbuka di lantai 8 dan Kaya menyengir ke pria itu. “Hehehe, maaf menggagu yah pak. Bukan saya yang buat dia kayak gini.” Sambil menompang Adrian keluar dari lift.
“Dasar anak muda jaman sekarang!” desisnya dan pintu lift tertutup.
“Kamu kenapa tinggalin aku Ta?” rengek Adrian dengan berkata tidak jelas.
“Iya, aku enggak ninggalin kamu kok.” Kaya menenangkan Adrian sambil menopangnya berjalan menuju kamar Adrian.
Sampai di pintu kamar Adrian, Kaya langsung melepas dan membiarkan dia tergeletak di lantai.
“Huh, berat banget kamu! Hari ini kamu udah buat kesabaranku habis Adrian!” gerutu Kaya melihat muka Adrian yang sedih dan selalu memanggil, “Ta.”
“Mana kunci kamu Adrian?” tanya Kaya dengan ketus.
“Kenapa kamu tinggalin aku?” rengek Adrian.
“Hadeh,” Kaya memutar matanya dan berjongkok.
Lalu ada dua orang cewek lewat. “Liat deh jaman sekarang cewek enggak tahu aturan!” ucapnya tajam.
Kaya langsung menarik kembali tangannya dari kantong celana Adrian. “Iya yah? Cewek pun harus berbuat sesuatu untuk mendapatkannya.” Sahut sampingnya melirik Kaya dengan sinis dan tertawa.
“Iyalah, kalo enggak gitu, mana bisa dapetin cowok ganteng kayak dia.” Ejek cewek itu sehingga membuat Kaya kesal.
“Sialan mereka berdua!” umpat Kaya yang sudah mendapatkan kunci kamar Adrian dari sakunya.
Dia pun berdiri. “Ini semua gara-gara kamu tahu Adrian! Aku hari ini malu banget?!” bentak Kaya menendang paha Adrian sambil bertolak pinggang dengan muka yang sangat geram.
Kaya mencoba membuka pintu kamar Adrian dan menyeret Adrian masuk ke dalam. “Hah, capek banget aku!” dengan nafas tersengal-sengal, lalu meletakan Adrian di lantai.
“Ayok pak!” Kaya mencoba mengangkat Adrian dengan sekuat tenaga ke tempat tidur. “Hadeh berat banget dia!” ucap Kaya dengan bertolak pinggang.
“Ta..., jangan pergi!” rengek Adrian sambil memeluk guling.
“Siapa sih tuh cewek yang disebut Adrian? Sampai-sampai dia kayak gini?” gerutu Kaya balik badan.
“Ta, ta, ta, makan tuh tata!” ketus Kaya dan meninggalkannya.
Kaya sudah di kamar dan duduk di tempat tidur. Dia kesal dengan memperhatikan robekan dressnya. “Arghhh,” Kaya kesal sambil menggaruk kepalanya.
“Kurang ajar banget sih Adrian bilang aku rendah. Jelas-jelas aku masuk ke kamarnya karena enggak sengaja, di bilangnya lah
karena aku ingin menggodanya. Kenapa dia enggak ngomel di kamar aja waktu itu? Emang dasar kampr*t tuh dia!” teriaknya dengan kesal.
Flash back berakhir...
“HAHHAHAHA,” tawa Lita terbahak-bahak.
“Tuh kan? Makanya aku enggak mau cerita Lit,” desis Kaya.
“Abisnya lucu. Kenapa pas dia mabuk kamuenggak coba macam-macam aja sama dia?” canda Lita.
“Ngaco! Kamu pikir aku tante girang?!” ketus Kaya.
“Hahahha, maap Kay. Aku bercanda,” tawa Lita.
“Au ah Lit, malas aku sama kamu.” Sewot Kaya.
“Iya dah, aku minta maaf,” nyengir Lita.
“Terus itu CEO kamu nyebut siapa tadi? Ta?” tanya Lita.
“Iya Ta.., tapi enggak jelas siapa tuh Ta?” jawabnya.
“Mantanya kali Kay?” cetus Lita.
“Mau mantannya kek, aku enggak mikirin! Yang jelas dia harus membalas semuanya
yang dia lakuin ke aku Lit!” sinis Kaya
“Yaelahn Kay, jangan sampai dendam gitu apa? Udahlah lupakan saja, entar juga dia sadar
dan minta maaf ke kamu.” Ucap Lita.
“Iya sih! Tapi karena dia bilang aku rendah? Aku akan tunjukin rendah itu seperti apa ke dia? Biarin aja aku buat seperti itu, biar tambah kesal dia!”Ucap Kaya dengan sinis.
“Dasar kamuKay!” tawa Lita.
“Abisnya, dia udah bilang aku rendah Lit. Terus dia robekin dress aku di depan semua orang. Kan aku malu? Malah paha akukeliatan lagi jadinya?!” gerutu Kaya.
“Hahahha, anggap aja amal Kay.” Canda Lita.
“Amal, amal, amal. Kamu kira paha aku uang, makanya amal.” Ketus Kaya.
“Lagian, mau diapain lagi?”
“Tau ahh, bodo amat. Pokoknya sampai kantor, akubakal goda dia terus biar dia merasa risih.”
“Hahhaha, yaudah godalah Kay. Asal jangan kamuaja yang tergoda nanti.” Canda Lita.
“Hahah, kagaklah.” Tawa Kaya. Mereka berbincang sampai larut malam membahas tentang CEO tersebut.
~ Bersambung ~