My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 127 ~ Pengakuan



~ Happy Reading ~


          Nusa masih mencari Kaya menggunakan mobil. Matanya melihat ke kiri dan ke kanan. Ia tak akan pulang sebelum menemukan wanita itu. Hatinya dilanda kecemasan karena sekarang sudah tengah malam.


          “Kau ke mana sih Kay?” tanyanya terus memperhatikan sekeliling. Ia langsung berhenti mendadak saat melihat sosok wanita di kafe sedang menenggelamkan kepalanya di meja.


          Matanya menatap wanita itu dari tembusan jendela kaca kafe tersebut. Seorang pelayan wanita menghampirinya dan menepuk bahu Kaya dengan pelan. Entah apa yang di bicarakan pelayan wanita itu kepada Kaya. Nusa tak dapat mendengarnya karena dia berada di seberang jalan.


          “Apa dia sedang mabuk?” gumam Nusa melihat gerak-gerik Kaya yang oleng.


          Nusa langsung menyebrangkan mobilnya untuk dekat dengan kafe itu. Dia memakirkan mobilnya di pinggir jalan.


          Nusa turun dari mobilnya dan melihat Kaya berdiri diluar kafe hendak menyebrang jalan. Nusa berjalan mendekati Kaya dan Kaya hendak menyebrang dalam keadaan mabuk.


          Saat melihat truk dari arah samping Kaya yang masih jauh melaju dengan kecepatan tinggi. Nusa langsung berlari dan ingin mendekati Kaya, sementara itu spuir truk tersebut terus mengklakson Kaya yang sedang melangkah pelan.


          Kaya yang melangkah berhenti berjalan menoleh ke arah cahaya lampu truk tersebut. Supir truk tersebut terus mengklakson Kaya. Saat truk itu ingin mendekati Kaya. Nusa berteriak memanggil nama Kaya dan menarik tangannya dengan cepat. Ia langsung memeluk Kaya dengan erat.


          Supir truk itu langsung mendadak berhenti. Kaya hanya terdiam shock dan merasa tidak tahu apa yang terjadi.


          Supir itu langsung menoleh ke arah samping dimana Kaya dan Nusa berdiri. “Kalau menyebrang lihat-lihat dong mbak!” omel supir itu. Nusa yang memeluk Kaya hanya mengangguk sambil berkata “maaf.”


          Supir itu kembali melajukan mobilnya dengan kesal meninggalkan mereka. Kaya mendongak ke arah wajah Nusa. Ia berubah menjadi sendu melihat pria itu.


          Melihat perubahan raut wajah Kaya, Nusa bertanya kepadanya. “Kenapa?”


          “Kau kenapa di sini?” tanya Kaya menunjuk muka Nusa.


          “Sebaiknya kita pulang dulu!” ajak Nusa.


          “Kau...,” Kaya menunjuk dada Nusa dengan jari telunjuknya.


          “Kau itu brengsek!” Mimiknya berubah menjadi cemberut.


          “Maaf,” ucap Nusa.


          Kaya mengalungkan tangannya ke leher Nusa. “Kau menyebalkan!” ucapnya dengan bibir yang manyun seperti anak kecil. Nusa hanya terdiam dan membiarkan Kaya berbicara.


          “Kau pria kejam!”


          “Kau pecundang!”


          “Kau membuatku sebal!”


          “Kau pria mesum!”


          “Kau playboy!”


          Kaya mengeluarkan semua perasaannya dengan kesal. Ia selalu menunjuk muka Nusa dengan jarinya.


          Kaya mengalungkan kembali tangannya ke leher Nusa. Kakinya mencoba memeluk pinggang Nusa, tapi celana Nusa terlalu licin dan kaki Kaya jatuh lagi ke bawah.


          Nusa hanya terkekeh melihatnya. Ia langsung menggendong Kaya di depan dadanya karena Kaya menginginkannya.


          “Kau menyebalkan sekali!” tatap Kaya dengan mata setengah sadar.


          “Kau tahu aku sangat sedih sekali, melihat kau bersama wanita lain?” ucapnya melepas rangkulannya dan Nusa berusaha menahan badan Kaya yang di gendongnya agar tidak terjungkal ke belakang.


          “Kau tahu aku tidak suka dia!” tunjuk Kaya ke belakang Nusa.


          “Dia itu wanita jahat selalu merebut pacar orang!”


          “Aku tak suka dengannya!” Kaya menggelengkan kepala seperti anak kecil. Nusa hanya terkekeh melihat tingkah laku Kaya sekarang.


          “Jessica itu perebut pacar orang dari dulu. Bahkan kau juga mau direbut dariku!” Kaya menunjuk Nusa dan dirinya.


          “Kau sangat benar, aku mencintaimu NUSANTARA GEMILANG RAYA TAMA.” Kaya menekan nama lengkap Nusa.


          “Kau sangat benar!” Kaya memegang pipi Nusa.


          “Kau itu hanya milikku saja!” Kaya menunjuk dirinya.


          “Tidak boleh ada orang lain yang memilikimu!” Kaya menggelengkan kepalanya.


          “Dari otakmu yang mesum,” Kaya menunjuk tepat di kening Nusa. Mendengarnya Nusa terkekeh dalam hati.


          “Matamu!” Kaya memegang mata Nusa, sehingga Nusa menutup matanya.


          “Hidungmu,” tunjuk Kaya.


          “Bibirmu,” Kaya menyentuh bibir Nusa dengan lembut.


          “Bahkan sampai ujung kakimu aku menyukainya!” Nusa hanya tersenyum mendengarnya.


          “Jadi tidak ada boleh yang menyentuhnya selain aku!” Kaya menunjuk dirinya dengan menepuk dadanya, lalu kembali memeluk leher Nusa.


          “Hanya aku yang boleh menyentuhmu!”


          “Bahkan bibir ini, tak boleh di sentuh oleh wanita lain!” Mendengar itu Nusa tersenyum. Kaya tidak tahu bahwa Nusa tidak mencium Jessica.


          “Jadi aku akan menghapus ciuman wanita ular itu!” Kaya mengusap bibir Nusa.


          “Hanya aku boleh yang menyentuh ini!” Kaya masih mengusap bibir Nusa. Kaya memajukan bibirnya mendekati bibir Nusa.


          “Aku akan menghapusnya, agar tidak ada rasa wanita itu di bibir ini!” Kaya menempelkan bibirnya ke bibir Nusa.


          Nusa yang melihatnya sedikit terkejut tapi dia tersenyum di dalam hati. Nusa membalas ciuman dari Kaya dengan mengesapnya. Cukup lama mereka melakukan adegan ciuman dan membuat Kaya kehabisan oksigen.


          Kaya melepaskan pagutan bibir mereka dan kembali menatap Nusa. “Aku sudah menghapusnya dan tidak boleh ternodai lagi selain aku!” pinta Kaya memandang Nusa dengan tatapan memohon.


          Nusa hanya tersenyum mengangguk. Ia sama sekali tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan Kaya saja dari tadi. Tentu dirinya senang mendengar pengakuan Kaya. Hatinya tenang memandang wanitanya yang begitu cemburu.


          Kaya menenggelamkan kepalanya di curuk leher Nusa dan menutup matanya. Mungkin dia lelah berbicara banyak, apalagi dia tidak sadar dan mabuk.


***


          Adrian terus mencari Kaya sambil mengendarai mobilnya dengan melirik ke kiri dan ke kanan. Ia pun menemukannya. Tapi semua sudah telat, Nusa telah menemukannya terlebih dahulu.


          Hatinya sakit melihat Nusa menggendong Kaya di depan dadanya. Adrian memegang stir mobilnya dengan kuat seakan marah melihat mereka berdua.


          “Sial!” umpat Nusa memukul stirnya.


          “Aku selalu datang terlambat!” emosinya.


          Adrian melihat Kaya sedang berbicara dengan Nusa sambil menunjuk-nunjuk muka Nusa. Adrian emosi melihatnya dan tak tahan lagi melihat kedekatan mereka.


          Adrian memutuskan untuk pergi dari situ dan membiarkan mereka dengan perasaan kesal. Dirinya mengemudi dengan cepat, seperti melampiaskan amarahnya.


***


Selama di perjalanan....


          Nusa yang sedang menyetir terus memperhatikan Kaya dengan senyum. Pengakuannya membuat hatinya senang seakan banyak bunga di dalamnya, sedangkan Kaya tertidur sambil mengigau dengan tersenyum.


          “Aku mencintaimu Nusa,” Kaya mengigau tersenyum.


          “Aku juga mencintaimu Kaya Aqila Naya Raya.” Nusa memandang wanitanya dengan senyum.


~ Bersambung ~