
~ Happy Reading ~
Di ruangan Adrian.
“Kay, saya minta maaf waktu itu yah.” Ucap Adrian tulus.
“Iya, tidak apa-apa pak. Lagi pula bapak kemarin tidak sengaja.” Kaya tersenyum duduk di depan meja Adrian.
“Sebenernya, saya mau minta maaf saat kita mau pulang naik pesawat. Tapi, saya masih malu mengucapkannya ke kamu.” Jujur Adrian.
“Enggak papa kok pak, saya mengerti.” Senyum Kaya.
Malu…, malu.., aku lebih malu karena kelakuan kamu tau.
“Baguslah kamu mengerti Kay.”
“Hem, iya pak.” Nyengir Kaya.
“Kenapa minta maaf bro?” tanya Nusa langsung masuk dan sudah menguping perbincangan mereka dari tadi.
“Aku enggak sengaja robekin bagian bawah dress Kaya karena mabuk.”
“Kok bisa? Bro, kamu parah? Dia itu cewek bro? Kamu robekin dress dia lagi! Terus kamu enggak papa kan Kay?” tanya Nusa prihatin kepada Kaya.
“Enggak papa pak Nusa. Lagi pula pak Adrian waktu itu enggak sengaja, karena dia tidak sadarkan diri.” Senyum Kaya.
“Yah…, makanya, aku minta maaf. Terus, omongan saya waktu itu jangan dimasukkan ke hati yah?! Saya tidak sengaja.”
“Tidak apa-apa kok pak,” senyum Kaya.
“Emang kamu ngomong apa?” tanya Nusa.
“Kamu banyak nanya Nus!” ketus Adrian.
“Yah, aku kan penasaran bro.” Balas Nusa santai.
“Apakah bapak sudah selesai berbicara dengan saya? Soalnya saya mau kembali ke ruangan pak? Masih ada kerjaan yang belum beres?” tanya Kaya dengan senyum.
“Iya silahkan!” jawab Adrian dengan cool.
Kaya beranjak menuju ruangannya dan Nusa mengikuti Kaya ke ruangan. Mereka pun duduk saling berhadap-hadapan.
“Kay, kamu yakin baik-baik aja?” tanya Nusa.
“Iya Nusa, aku baik-baik aja.”
“Dia enggak ngapa-ngapain kamu kan?” tanya Nusa penuh khawatir.
“Kagak Nusa,” jawab Kaya bernada tinggi.
“Baguslah,” ucap Nusa mengelus dada.
“Tapi kok Adrian bisa tidak sadarkan diri sih Kay?” tanya Nusa.
“Dia minum satu botol alkohol gitu namanya apa yah? Aku lupa Nus?! Oh.., sejenis wine.” Jawab Kaya.
“Perasaan, Adrian kalau pesan wine
pasti yang wine kadar alkoholnya rendah dan itu enggak bakal bikin dia mabuk. Kayaknya yah Kay, ada yang salah dengan minuman Adrian atau mungkin ketukar kali?”
“Mana aku tahu Nus. Aku kan, enggak ngerti gitu-gituan.”
“Tapi kalau Adrian mabuk emang begitu sih Kay. Dia selalu narik baju orang.”
“Serius?”
“Iya. Aku dulu juga begitu. Pernah yah, waktu itu Kay. Dia sama aku kan dugem bareng, dan tidak sengaja dia minuman Alkohol
kadarnya tinggi. Terus dia mabuk, merengek gitu dengan memegang celana aku Kay. Terus, aku bilang ke dia ‘lepasin Adrian!’ Dia enggak mau lepasin, sampai akhirnya aku jalan. Eh, dia malah narik celana aku dan celana aku turun. Untung aku pakai celana pendek Kay, kalau enggak aku bakal malu banget kali.” Cerita Nusa membuat Kaya tertawa mendengarnya.
“Haahahhaha. Emang yah Adrian parah banget kalo mabuk Nus?!” Tawa Kaya.
“Iya terus yang parah yah Kay, celana pendek aku itu gambarnya spongboob dan itu membuat aku diketawain semua yang di sana.”Kaya semakin tertawa terbahak-bahak.
“Ada-ada aja,” Kaya menggelengkan kepalanya tersenyum.
“Aku seneng deh liat kamu ketawa,” senyum Nusa memandang wajah Kaya.
“Ah…, kamu bisa aja Nus.”
“Iya beneran! Kamu selalu berada dihatiku selamanya Kay,” gombal Nusa.
“Udah deh, mulai gombalnya,” Kaya memutar matanya malas.
“Oh iya Nus, tadi pagi aku buka laci.” Kaya membuka lacinya dan mengambil kotak yang berisi kalung.
“Terus aku nemuin ini! Kamu tahu enggak ini dari siapa?” tanya Kaya menunjukkan sebuah kalung bergambar kupu-kupu dengan mata berlian berwarna biru di sekelilingnya.
Contohnya seperti ini:
“Aku enggak tahu Kay.”
“Ohhh…,”
Jangan-jangan Adrian ngasih ini sebagai permintaan maaf dari dia lagi atau karena bentar lagi mau valentine. Unchhh…, ternyarta dia perhatian juga sama aku. Hahaha.
“Tapi bagus sih Kay, coba sini aku liat!”
“Nih!” Kaya mengasihnyake tangan Nusa.
“Bagus Kay,” puji Nusa memegang dan melihat kalung di depan mukanya.
“Iya bagus Nus. Makanya aku tanya, takutnya dari kamu. Siapa tau kamu mau kasih aku karena mau valantine.”
“Ah, kamu Kay. Kalau aku mau kasih juga langsung sama kamu aja, ngapain aku ngumpet-ngumpet.”
“Iya juga sih,” gumam Kaya. “Malah itu kalung kayaknya mahal Nus!” tunjuk Kaya memperhatikan kalung tersebut dengan intens.
“Apa Adrian kali Kay?” tebak Nusa membuat Kaya kaget mengapa pemikirannya sama, bahwa itu dari Adrian.
“Mana mungkin Nus. Dia aja enggak suka sama aku. Ngaco deh kamu Nus?!”
Mungkin aja sih Nus. Mungkin aja, dia diam-diam menyukai aku. Hahahah.
“Mungkin aja Kay, apalagi dia kemarin bikin kamu malu. Mungkin aja, dia beli sesuatu untuk permintaan maaf.”
“Iya kali Nus.”
“Yaudah, sini aku pasang ke leher kamu!”
“Nih!” Kaya memperbolehkan Nusa memasangnya dan Kaya memegang rambutnya yang di ikat.
Lalu Nusa ke belakang Kaya dan memasang kalung sambil tersenyum sinis. Setelah memasang, Nusa memegang kedua pundak Kaya.“Coba ngaca Kay!”
Kaya mengambil kaca dari laci dan mengaca ke arah kalung tersebut. “Bagus Nus.”
“Iyalah siapa dulu? Kaya? Yang cocok sama apa aja?” Puji Nusa dan kembali ke tempat duduk.
“Lebay kamu Nus,” senyum Kaya menaruh kaca di meja.
“Lah emang kenyataan Kay,” gombal Nusa.
“Dasar gombal melulu,” tawa Kaya.
“Tapi emang iya bagus Kay, apalagi dipakai sama kamu!” Nusa tersenyum memandangi Kaya.
“Makasih Nusa,” senyum Kaya.
“Sama-sama cantik,” senyum Nusa dengan lebar sambil menumpu dagu dengan kedua tangannya di meja.
“Oh iya Nus, kemarin si Adrian mabuk selalu sebut Ta, Ta, Ta. Kamu tahu enggak dia siapa?” tanya Kaya.
“Enggak tahu Kay,” Nusa terus tersenyum memandangi Kaya.
“Ihh, serius aku! Kamu mandangin aku melulu?!”
“Iya mana aku tau Kay. Apalagi cuman Ta doang, mana aku tau siapa?!”
Masa sih Nusa enggak tahu? Udahlah, mungkin bener kali yang dia omongin.
“Lagi pula, kamu kenapa nanya tentang itu sih?” tanya Nusa.
“Kamu cemburu yah?” tunjuk Nusa bercanda.
“Kagaklah,” Kaya langsung panik dengan muka merahnya.
“Aku juga cemburu nih Kay,” ucap Nusa ngambek.
“Cemburu kenapa?” tanya Kaya bingung.
“Cemburu karena kamu cemburuin Adrian,” jawab Nusa.
“Yaelah, Nusa aku kira kenapa?” tawa Kaya. “Aku itu kagak cemburu, cuman penasaran aja sama si Ta itu, soalnya Adrian manggil dia melulu.”
“Aku enggak tahu. Walaupun kita sahabatan, tapi aku enggak ngerti dia Kay.”
“Yasudahlah, kalo gitu aku mau kembali kerja dulu Nus!”
“Yaudah deh. Kay boleh enggak aku foto kamu?” tanya Nusa mengeluarkan ponselnya.
“Boleh lah, apa sih enggak buat kamu?” senyum Kaya.
“Yaudah, kamu berpose yang cantik dong!” Nusa mulai mengambil foto Kaya.
“Bagaimana posenya, begini!” ucap Kaya dengan gaya manisnya. “Atau begini,” ucap Kaya dengan ganti gaya lagi yang lucu danbibir yang dimonyongkan.
“Hahaha, yah begitu juga boleh.”Tawa Nusa.
“Udah belum?”
“Oke sip udah,” ucap Nusa dengan melihat foto-foto Kaya.
“Mana coba liat Nus!” Kaya mencodongkan mukanya ke ponselyang di pegang Nusa di meja.
“Nih!” Nusa menunjuk kan foto-fotonya ke Kaya.
“Buset banyak banget kamu fotoin aku Nus?”
“Iya dong, lumayan buat kenang-kenangan aku.” Tawa Nusa dengan menggeser layar ponsel untuk ke gambar berikutnya.
“Buset Nus, gayanya kagak ada yang bener adalah yang monyong, sok imut dan sok lucu.” Tawa Kaya
“Lah iya yah, heheh.” Nyengir Nusa.
“Coba yang ini Nus!” Kaya menunjuk foto dan tidak sengaja memegang tangan Nusa. Mereka saling bertatap-tatapan cukup lama.
“Hemmm,” ucap Kaya kikuk sambil mengusap lehernya dan kembali duduk.
“Yang itu bagus Nusa, aku kayak lebih swag apalagi pakai kalung itu.” Senyum Kaya.
“Iya bagus Kay, kamu lagi serius di sini.” Senyum Nusa.
“Iya Nus,” nyengir Kaya.
“Yaudah aku balik dulu yah!”
“Jangan lupa kamu kirim ke aku yah fotonya!”
“Siap ratuku,” gombal Nusa tersenyum lebar dengan mata genit, sambil berdiri memberikan hormat.
“Dasar!” gumam Kaya dengan senyam-senyum melihat Nusa keluar ruangannya.
~ Bersambung ~