My Target Is CEO

My Target Is CEO
Traktiran Tak Sesuai Harapan



Kaya menelpon Lita sambil duduk di kasur dengan televisi yang menyala.


 “Halo Kay?”


“Halo Lit.”


“Ada apa Kay?”


“Lit, tolong Lit?! Aku malu banget sama CEO aku Lit?!” rengek Kaya.


“Kenapa emangnya?”


“Masa yah kemarin..,”


Flash back....


Adrian memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di depan restoran yang mewah, namun bukan hanya restoran saja yang ada di sana, ada tempat karoke, tempat mencuci mobil dan masih banyak lagi.


Adrian turun dari mobil dan Kaya mengikuti langkah Adrian yang menuju ke dalam restoran. Adrian berhenti di depan resepsionis wanita dan menanyakan meja pesanan atas namanya. Lalu resepsionis tersebut menunjukkan jalan untuk ke ruangan tersebut dan mereka hanya mengikuti saja.


Ruangan tersebut seperti untuk orang yang memesannya vip terlihat di tutup oleh pintu. Pikiran Kaya sudah melayang, apakah Adrian akan menghabiskan mereka makan berdua saja di ruang tutup. Kaya yang sudah berpikir


seperti itu terlihat senang, sampai saat pintu di buka.


“Surprise!”


Semua karyawan bersorak menyambut Kaya seakan Kaya merayakan ulang tahun.


Kaya yang melihatnya bingung dan sedikit terkejut dengan alis diangkat ke atas.


Apa semua ini? Kenapa semua ada di sini? Kaya bertanya dalam hatinya.


Kaya merasa terheran. Bukankah Adrian akan mentraktirnya berdua saja biar romantis? Kenapa pula banyak orang di sini?


Walau tidak semua karyawan di sini, yang ikut hanya team accounting dan Nusa saja.


 “Kaya ayuk masuk!” ajak Adrian yang membuat lamunannya buyar dan mengikuti langkah Adrian.


“Gimana senang kan?” tanyanya membuat Kaya terpaksa menyengir kuda.


“Iya pak saya seneng banget.”


Senang apanya? Di kira mau berduan makan romantis di ruang vip! Eh, malah se-RT yang datang? Dumel Kaya dalam hati.


“Baguslah. Ayuk duduk sini!” titah Adrian yang duduk di tengah-tengah semuanya dan


samping Kaya.


“Iya pak makasih,” Kaya duduk di samping Adrian dan Nusa.


Contoh Ilustrai:



“Kay, gimana senang enggak kita sambut di sini?” tanya Nusa tersenyum.


“Heheh, senang banget Nusa.” Elak Kaya terpaksa.


“Bu Kaya,terimakasih yah, sudah mau traktir kami.” Ucap salah satu karyawan tersebut.


“Bukan saya yang traktir tapi pak Adrian,” nyengir Kaya.


“Ohh, makasih yah pak Adrian.” Ucap karyawan tersebut.


“Iya sama-sama. Sebenarnya hari ini saya ingin menyambut Kaya sebagai karyawan yang hebat, karena dia telah membuat klien besar saya menyetujui kerjasama dengan perusahaan kita.”


“Oh, berarti ibu Kaya hebat dong!” ucap karyawan tersebut dengan bangga.


“Iya ibu hebat yah. Selamat yah Bu?!” sahut karyawan lainnya.


“Saya tidak hebat kok, cuman kebetulan saja.” balasnya merendah.


“Iya Kaya memang hebat!” Nusa memberikan satu jempol ke Kaya.


“Udah jangan puji saya terus, saya jadi malu.” Senyum Kaya.


“Emang kamu hebat Kay,” bisik Nusa dengan senyum. “Ayuk semuanya di makan!” ajak Nusa menyendok makanan untuk dirinya.


Semua karyawan menyatap makanan dengan gembira dan senang. Ada yang makan dengan rakus, ada yang makan sambil mengobrol dan ada yang makan sambil cengengesan.


Meja makan mereka panjang sekali jadi semua karyawan berkumpul menjadi satu di meja tersebut dan saling berhadap-hadapan. Sementara semuanya makan, Kaya yang sudah bete tidak makan, malah termenung dengan tangan kanan menumpu dagu.


“Kay, kamu enggak makan?” tanya Adrian.


“Saya masih kenyang pak,” bohongnya.


“Oh,” gumam Adrian kembali fokus pada ponselnya yang berharga.


“Kay, kamu kenyang dari mana sih? Sini aku ambilin makanannya!” Nusa langsung mengambil piring yang kosong di depan meja Kaya.


“Enggak usah Nus,” tolak Kaya.


“Enggak. Pokoknya kamu harus makan! Nih, aku ambilin nasi, terus kamu mau apa?” Paksa Nusa yang menyendok nasi ke piring Kaya.


“Apa ajalah Nus,”  Kaya sudah pasrah.


“Yaudah nih aku ambilkan cah kangnkung, udang, cumi goreng, ikan, sama sambal. Cukup enggak?” tanya Nusa yang menyendok semuanya ke piring Kaya.


Buset dah, banyak amat dibikin Nusa?


“Hehehe, udah cukup Nusa.”


“Yaudah, makan sana! Apa mau akusuapin?” tanya Nusa.


“Enggak usah Nus,” nyengir Kaya.


Kaya menyantap makanannya dengan wajah tertekuk. Hatinya sudah kesal melihat Adrian yang tak peka. Dia hanya fokus pada ponselnya melulu sedangkan Nusa berbicara dengan karyawan lainnya.


Tak terasa waktu begitu cepat dan sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Semua karyawan yang sudah selesai makan berpamitan satu-persatu kepada Adrian, Nusa dan Kaya untuk pulang.


Setelah semua karyawan pulang, semua menjadi sepi. Kaya hanya diam dari tadi dan tak berminat untuk memulai pembicaraan duluan. Pikirannya sudah bete akan kelakuan Adrian hari ini.


“Enaknya kita ngapain yah?” tanya Nusa.


“Pulanglah. Emang mau ngapain lagi?” Kaya sedikit ketus menjawab.


“Enggak asyik Kay, masa langsung pulang? Besokan libur, ini juga baru jam 8 malam.” Ucap Nusa.


“Terus mau kemana dong?” tanya Kaya.


“Karokean yuk!” ajak Nusa.


“Yaudah aku setuju,” ucap Kaya langsung semangat.


Sekalian melepas kepenatanku gara-gara Adrian monyong, batin Kaya.


“Gimana bro?” tanya Nusa ke Adrian.


“Aku sih oke-oke aja,” ucap Adrian dengan cool.


“Dimana emang Nus?” tanya Kaya.


“Ada di belakang restoran ini,” jawab Nusa.


“Yaudah yuk!” ajakKaya.


“Ayuk bro!” ajak Nusa dan beranjak menuju tempat karokean.


***


Di tempat karoke.


“Kamu mau lagu apa Kay?” tanya Nusa duduk di samping Kaya dan memencet huruf di remote karoke.


“Apa ajalah pak Nusa,” jawabnya.


“Kamu bro?” tanya Nusa kepada Adrian yang duduk di samping Kaya,  tapi duduk memojok ke ujung.


“Aku ikut aja.”


“Yaudah aku pilihin lagu jingkrak-jingkrak deh biar hepi.”


Sementara Nusa pilih lagu, Kaya membaca buku menu untuk memesan minuman. “Nus, mau minum apa?” tanya Kaya.


“Aku mau yang ber-alkohol Kay.”


“Entar mabuk lagi Nus?”


“Kagak. Aku udah biasa, yang biasa mabuk tuh Adrian.” Ucap Nusa sambil mengetik lagu di remote karoke.


“Enggak usah di kasih tau juga Nus,” ucap Adrian dengan sinis.


“Maap deh,” nyengir Nusa. Sementara Kaya hanya tersenyum melihat mereka berdua.


“Yaudah, alkohol apa namanya?” tanya Kaya.


“Coba sini lihat,” Nusa menaruh remote karoke di meja dan mengambil buku menu yang di kasih Kaya. “Aku mau ini deh!” tunjuk Nusa.


“Pak Adrian mau apa?” tanya Kaya.


“Saya mau jus mangga saja,” jawabnya.


“Oh, oke pak.”


“Aku mau minum soda aja deh,” gumamKaya.


“Terus makanannya apa nih?” tanya Kaya.


“Terserah kamu aja Kay,” jawab Nusa.


“Iya, terserah kamu aja Kaya.” Jawab Adrian yang sama dengan Nusa.


Kaya memanggil pelayan karoke dan memesan beberapa makanan dan minuman. Sambil menunggu, Kaya dan Nusa mulai bernyanyi bersama-sama dengan semangat 45. Mereka berdua berduet menyanyikan lagu yang nge-beat. Sementara Adrian sibuk dengan dunianya sendiri. Makanan dan minuman pun tiba dan ditaruh di meja mereka.


“Bro nyanyi donk?” ajak Nusa memegang mic sambil berdiri di dekat layar TV.


“Enggak ah, malas.” Tolak Adrian.


“Ayo pak nyanyi?” ajak Kaya yang berdiri di samping Nusa.


“Ayok bro! Aku udah nyanyi banyak nih sama Kaya.” Nusa menarik tangan Adrian yang sedang duduk.


“Iya nih aku nyanyi, tapi sama kau juga.” Adrian beranjak dan memegang mic. Sedangkan Kaya duduk menikmati Adrian dan Nusa berduet menyanyikan lagu sedih.


Haus nih, habis nyanyi?! batin Kaya mengusap leher.


“Punya aku yang mana yah? Kok ada dua gelas yang warna putih?” Pikuk Kaya melihat ada dua gelas di meja warna putih dan satu gelas jus mangga.


“Yang ini kali yah? Udahlah, minum aja.” Gumam Kaya sambil mengambil minuman tersebut dan meneguknya sampai habis karena kehausan.


“Kay, ayok nyanyi lagi?” ajak Nusa sambil memegang mic.


“Kamu aja Nus, aku lelah nih!” Kaya bersandar di tempat duduk dan merasa kepanasan. “Kok panas yah?”pikuk Kaya.


“Yaudah deh,” ucap Nusa.


“Kamu lanjut nyanyi Nus! Aku mau minum dulu!” Ucap Adrian.


“Yaelah, masa semuanya pada enggak mau nyanyi sih.” Ucap Nusa bete dan kembali duduk juga dengan membawa mic.


“Kok panas yah?” Kaya mengipas dengan tangannya sambil merasa pusing.


“Kay, kamu mau ngapain?” tanya Nusa melihat Kaya mencoba membuka cardigannya.


“Aku mau lepas, soalnya gerah.” Jawab Kaya.


“Kay jangan di sini bukanya, ada aku sama Adrian!” Ucap Nusa.


“Lebay kamu Nus, aku pakai baju kok. Cuman buka cardigan aja, soalnya aku merasa gerah nih.” Ucap Kaya yang sudah lepas menaruh  cardigannya dan menaruh di sofa.


“Perasaan kagak panas deh? Malah dingin Kay?” Nusa heran melihat Kaya.


“Hadeh panas, terus kepala aku pusing!” Kaya memegang kepalanya.


“Kenapa pusing?” tanya Nusa heran.


Kaya mulai tertawa sendiri dan melirik Adrian. “Eh pak Adrian,” senyum Kaya. Lalu Kaya menyender kepalanya dibahu Adrian sambil cengengesan.


“Kay kamu kenapa?” tanya Nusa heran.


“Bapak kok ganteng banget sih,” nyengir Kaya dengan menyentuh pipi Adrian.


Adrian langsung bingung.“Kaya kamu kenapa?” tanya Adrian.


“Suttt,” ucap Kayadengan jari telunjuk di bibir Adrian. Sementara Adrian melihat Kaya dengan masih gayanya yang stay cool.


“Bapak jangan banyak bicara!” Kaya masih memeluk Adrian.


“Kay sadar kay?” Nusa mencoba melepaskan Kaya dari pelukan Adrian.


“Ah! Nusa jangan ganggu aku!” Kaya memukul tangan Nusa.


“Kay sadar,” ucap Nusa.


“Kamu kasih minum apa ke dia Nus?” tanya Adrian.


“Kagak aku kasih apa-apa bro.”


“Kok dia kayak mabuk sih!”tanya Adrian dengan sinis.


“Jangan-jangan salah minum lagi?” pikuk Nusa dengan dahi mengerut.


“Maksudnya salah minum?” tanya Adrian bingung.


~ Bersambung ~