
~ Happy Reading ~
“Halo pagi semuanya,” sapa Kaya yang bersemangat berjalan dengan tersenyum
lebar.
“Pagi juga,” balas semua karyawan danbengong melihat Kaya berjalan dengan cantik. Seperti ada sinar matahari yang menyinari mukanya dengan tersenyum sambil berjalan.
Kaya berhenti di depan ruangan Adrian dengan senyum. Dia membuka pintu dan menyapa Adrian dengan semangat. “Pagi pak Adrian.”
Adrian yang mendengar sapaan Kaya yang manis heran dengannya. “Iya pagi,” balasnya mengerutkan dahi.
“Saya beliin bapak makanan untuk mengganjal perut,” senyum Kaya berjalan menghampiri Adrian yang sedang duduk dan serius bekerja.
“Ini apa?” tanya Adrian menunjuk makanan yang ditaruh Kaya di meja.
“Ini namanya snack penuh cinta di pagi
hari pak,” jawab Kaya tersenyum genit.
Adrian sontak langsung kaget dengan sikap genit Kaya. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Adrian.
“Saya?” Kaya menunjuk dirinya sendiri dan Adrian bergumam, “Iya.”
“Yah saya baik-baik ajalah pak. Masa saya kurang sehat? Bapak lihat dong kondisi saya dari atas sampai bawah? Tidak ada yang terluka kan? Terus saya semangat gini masa iya dibilang kurang baik-baik aja?” Nyengir Kaya.
“Iya sih kamu baik-baik aja. Mungkin otak kamu kali yang kurang baik,” gumam Adrian pelan.
Hah? Jam tangan pemberiaan aku dipakai sama dia. Ucap Kaya senang dalam hati.
“Yasudah, terimakasih.” Ucap Adrian.
Tumben dia enggak langsung menolak?
“Ohhh, iya pak sama-sama.” Senyum Kaya yangmasih berdiri di samping meja Adrian dan menatap Adrian lama.
“Yasudah, kamu bisa keluar! Atau ada yang mau disampaikan lagi?” tanya Adrian.
“Ohh, enggak pak.” Nyengir Kaya berjalan lambat keluar dengan senyum.
“Dah bapak, semangat terus yah kerjanya.” Ucap Kaya memberi semangat yang berlebih ke Adrian.
“Aneh!” gumam Adrian saat Kaya keluar ruangan.
Kaya ke ruangannyatersenyum membayangkan Adrian memakai jam tangan pemberiannya sambil duduk.
“Heh, ternyata dia itu sok jual mahal tapi mau juga sama aku. Hahahhaha,” tawa Kaya seperti tak waras.
“Kalo gitu tiap hari aja aku akan genit sama dia, biar dia tambah klepek-klepek sama aku. Ohh iya? Abis ini, aku harus lakuin apa lagi yah ke dia? Oh iya? Aku mau bikinin dia kopi ah..! Biar dia tambah cinta sama aku. Hahaha,” tawa Kaya beranjak keluar ruangan menuju pantry.
Kaya menyeduh kopi kesukaan Adrian. “Ini kopi aku mantrain dulu sebelum kasih ke dia!” nyengir Kaya sambil mengaduk kopi.
“Simsambalabim, semoga kamu klepek-klepek sama aku.” Ucap Kaya terkekeh. Lalu dia menuju ruangan Adrian lagi dan mengetoknya.
“Iya masuk!”
“Misi pak. Saya buatkan bapak kopi, soalnya enggak enak kalo bapak makan tanpa adanya minuman.” Nyengir Kaya berdiri di depan meja Adrian.
Adrian langsung bengong melihat tingkah laku Kaya. “Pak,” ucap Kaya.
“Oh iya, taruh di sini aja!” Adrian menunjuk mejanya.
“Oke pak. Semoga bapak suka yah kopi buatan saya,” senyum Kaya dengan manis dan genit.
“Hmmm,” gumam Adrian.
“Oke pak saya tinggal yah! Semangat bekerja,” senyum Kaya dengan gembira dan meninggalkan ruangan Adrian.
“Aneh banget dia hari ini?” gumam Adrian.
****
Di ruangan Nusa.
“Bro, aku rasa Kaya semakin hari semakin aneh deh?” tanya Adrian duduk di meja Nusa.
“Kenapa emamngnya?” tanya Nusa balik yang duduk serius melihat beberapa dokumen.
“Kamu enggak merasa dia aneh gitu?” tanya Adrian memperhatikan Kaya sedang dikerumunin banyak karyawan cowok di tengah-tengah ruangan. Karena pintu ruangan Nusa tidak ditutup jadi Adrian bisa melihat Kaya dengan jelas.
“Kagak biasa aja,” jawab Nusa
“Dia kayaknya agak lebih genit deh sekarang.”
“Hahahhah, malah aku suka dengan dia yang sekarang.” Tawa Nusa.
“Kamu emang yah, sama aja kayak dia!” desis Adrian.
“Emang kalo dia genit kenapa sih?”
“Masa dia tiap hari kasih aku sarapan kue, kopi, kadang kalo sore juga dia bikinin aku kopi juga. Aku heran deh maksud dia apa yah?” tanya Adrian bingung.
“Mungkin dia suka kali sama kamu Ad?”
“Enggak mungkinlah,” jawab Adrian
“Enggak, dia bukan tipe aku.”
“Kamu yah Adrian, di kasih kayak dia harusnya bersyukur. Dia itu cantik, manis, pintar, ramah dan sexy lagi.”
“Kamu kan tahu sendiri tipe aku yang kayak gimana?” tanya Adrian.
“Iya, tipe kamu tuh yang alim kan?!”
“Bukanya kamu suka sama dia?” tanya Adrian.
“Aku suka sama dia sebagai temen. Kamu tahu sendiri, aku tuh emang sama semua cewek yah begitu.” Senyum Nusa.
“Emang yah? Dari dulu enggak berubah?!” desis Adrian
“Aku enggak akan pernah segampang itu jatuh cinta Adrian! Emang kamu bro?!”
“Lah kapan aku gampang jatuh cinta bro?”
“Heheh, enggak pernah sih.” Nyengir Nusa. Tapi aku tahu kamu udah mulai suka sama dia Ad.
Adrian masih memperhatikan Kaya sedang berbicara dan di kerumunin karyawan cowok di tengah-tengah sambil memegang gelas.
“Katanya enggak suka. Tapi dilihatin juga?” goda Nusa.
“Siapa yang lihatin dia! Aku cuman heran aja sama sikap dia sekarang ini, kenapa genit banget?”
“Ini jam baru yah? Pasti dari Kaya?” tunjuk Nusa.
“Kok tahu bro?”
“Iya dia pernah cerita sama aku bro, pas waktu hari Valentine.”
“Iya ini dari dia,” jawab Adrian.
“Coba liat sini jam tangannya, pasti mahal ini bro.” Ucap Nusa memegang tangan Adrian.
***
Pintu ruangan Nusa yang tidak ditutup membuat Kaya melihat apa saja yang mereka lakukan di ruangan.
Dih, kok Nusa pegang tangan Adrian. Udah itu sambil tertawa lagi mereka? curiga Kaya dalam hati sambil senyum mendengarkan
cerita karyawan cowok di sana.
“Mbak Kaya, udah terima kado dari saya kan?” tanya salah satu karyawan di sana.
“Sudah, makasih yah. Semua kadonya saya simpan di kamar dan hati saya.” Canda Kaya yang membuat mereka meleleh.
Itu Nusa ngapain sih pegang tangan Adrian lama banget? Udah itu mereka saling tertawa dan tersenyum. Jangan-jangan mereka itu gay lagi makanya Adrian enggak suka sama aku? curiga Kaya dalam hati sambil meminum kopinya dan tersenyum ke mereka.
“Saya balik dulu yah! Terimakasih yah, atas cerita kalian semuanya. Saya senang banget hari ini bisa mengobrol dengan kalian semua.” Ucap Kaya dengan senyum.
“Baik bu Kaya, justru kami yang senang.” Sahut karyawan di sana.
“Iya bu kita senang. Ibu mau mengobrol dengan kami.” Sahut yang lain.
“Yaudah, dah semua.” Kaya melambaikan tangan dan menuju ruangannya sambil memperhatikan gerak-gerik Nusa dan Adrian.
Saat di ruangan Kaya…
“Apa iya mereka bener gay? Tapi gayanya kayak iya sih?” Kaya membayangkan kejadian Nusa dan Adrian saling berpegangan tangandan membuat Kaya mengkhayal.
~
“Adrian sini tangan kamu!” Nusa menarik tangan Adrian.
“Ini sayang,” ucap Adrian.
“Kamu tahu enggak, tangan kamu ini lembut banget.” Ucap Nusa mengelus telapak tangan Adrian.
“Iya, kalo lembut kamu boleh pegang terus.”
“Aku sayang banget sama kamu,” ucap Nusa.
“Aku juga,” balas Adrian.
Lalu mereka saling menatap dan Adrian yang duduk di meja Nusa mendekati muka Nusa untuk menyium.
~
“Ohhh tidak?” Teriak Kaya dengan keras dan membuat Nusa dan Adrian kaget mendengar suara teriakan.
***
“Nus, itu teriakan siapa?” tanya Adrian
“Enggak tahu,” jawab Nusa menghiraukannya dan mereka kembali mengobrol lagi.
***
“Tapi kalo itu benar? Aku harus selidiki mereka!” Kaya menggigit ibu jarinya sendiri.
~ Bersambung ~