
~ Happy Reading ~
Michael mengajak Kaya naik lift dan Michael menekan tombol lantai teratas. Lalu mereka keluar lift dan menaiki anak tangga. Michael mengajak Kaya ke rooftoop karena ini tempat bagus untuk melihat pemandangan.
“Michael ini tempat yang kamu bilang?” tanya Kaya menunjuk roftoop dan Michael mengangguk.
“Bagus bukan?” tanya Michael.
“Iya bagus,” senyum Kaya.
“Aku bisa lihat banyak gedung dan langit terbuka di sini.” Kaya berjalan menuju pinggir untuk melihat gedung-gedung, sambil menikmati angin yang berhembusan di petang hari.
Michael mendekat ke arah Kaya dan bersandar pada tembok. “Oh iya Kaya, sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu?”
“Apa Michael?” tanya Kaya berbalik badan sambil bersandar di tembok juga.
“Tapi kamu jangan marah yah?”
“Iya,”
“Kenapa kamu lakukan ini kepada Nusa?”
“Maksudnya?”
“Iya kenapa kamu merebut setengah saham perusahaan ayahnya Nusa?”
“Ohhh...,” gumam Kaya. “Rumit ceritanya. Aku melakukan ini semua karena perbuatan ayah Nusa yang sudah membuatku sakit hati,”
“Apa yang dilakukannya?”
“Ayah Nusa mengkhianati ayahku dan dia menipu ayahku sehingga kami bangkrut dan kehilangan semuanya.”
“Ohhh...,” gumam Nusa terdiam dan tidak bicara lagi.
“Ohhh..., yah kamu kenal Nusa dari mana?”
“Aku sama dia berteman sejak SMA saat diriku kacau,” lirih Michael.
“Maksudnya?”
“Jadi waktu saat aku memasuki SMA ayahku selingkuh dengan wanita lain dan dia juga sering main judi. Saat semuanya sudah hilang dia menyesal dan meminta maaf. Tapi ibuku tidak semudah itu memaafkannya dan dia ingin pisah. Lalu kedua orangtuaku bercerai dan aku senang dengan keputusan ibuku.” Senyum Michael.
“Ohh..., kasihan banget kamu Michael. Maaf yah jika aku bertanya,” Kaya menepuk bahu Michael.
“Tidak apa Kay,” senyum Michael.
“Terus ayah kamu sekarang di mana?” tanya Kaya.
“Entahlah kami membiarkan dia hidup dijalanan. Dia sering ke rumah dan meminta maaf berkali-kali tapi aku tidak ingin memaafkannya. Sampai suatu hari ibuku merindukannya dan aku berusaha mencarinya. Namun aku tidak menemukannya. Entah dia ke mana. Tapi disisi lain aku kasihan pada ayahku.”
“Kadang aku bertanya-tanya apakah dia sudah makan. Atau dia bisa hidup enak atau dia bisa menikmati kasur yang enak. Aku merasa kasihan juga padanya.” Michael tersenyum dengan mata yang sendu.
“Michael aku tahu ayahmu salah, tapi bagaimanapun dia orangtuamu. Maafkanlah dia dan jangan salahkan dirimu.”
“Aku memang sudah maafkannya,” senyum Michael.
“Oh iya? Nama ayahmu siapa Michael. Siapa tau aku bisa bantu mencari dia?” tanya Kaya.
“Namanya adalah Angga Putra,” senyum Michael menoleh ke arah Kaya yang di sampingnya.
“Aku akan mengingatnya. Jika aku menemukan ayahmu, aku akan memberitahunya.” Senyum Kaya. Mereka pun bersandar di tembok, sambil menikmati angin.
Flash back tentang Michael berakhir....
Boni masih menangis dan bersimpuh menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah telah membohongi Kaya selama ini.
“Kenap kau baru bilang sekarang?” tanya Kaya.
Michael mendongakkan kepalanya dengan muka sedih menghadap Kaya yang berdiri menyender pagar balkon. “Karena pak Nusa sudah mengetahuinya dan selalu mengancam diriku untuk memberitahu Michael. Bahwa aku ikut turut menipu ayahnya.”
“Sial Nusa selalu duluan lebih tahu,” umpat Kaya dengan kesal.
“Lalu apa yang dikatakannya lagi?”
“Jika Michael mengetahuinya dia akan tambah membenciku dan dia bilang dia akan menyuruh Michael untuk menghukum ayahnya sendiri atau dia harus mengganti semua yang telah dia bantu buat Michael selama ini.”
“Lalu?”
“Pak Nusa bilang jumlahnya tidak kecil karena selama ini yang membiayai sekolah Michael hingga keluar Negeri adalah dirinya dan selama ini juga dia membiayai semua kebutuhan Michael dan istriku.”
“Jumlahnya berapa?”
“Bisa miliyaran nona,” jawab Boni masih sedih.
Banyak sekali? Siapa sebenarnya Nusa ini? Bukannya dia keluar dari keluarganya? Kenapa dia punya uang sebanyak itu menghidup Michael? Kaya bertanya-tanya dalam pikirannya.
“Banyak sekali,” gumam Kaya masih tak percaya.
“Nona maafkan aku. Aku tahu aku salah selama ini menipumu.” Tangis Boni atau Angga berjalan menggunakan dengkulnya mendekati Kaya dan menyentuh kaki Kaya.
“Pak tidak usah seperti itu. Bangunlah!” suruh Kaya memegang bahu Boni untuk berdiri dan Boni pun berdiri.
“Lalu apakah kau tidak mengetahui anakmu sendiri bekerja di situ setelah kau bekerja di situ?” tanya Kaya.
“Sebenarnya aku mengatahuinya, tapi aku tidak ingin semua usaha nona sia-sia begitu saja.” Jawab Boni menghentikan tangisannya.
“Maafkan aku. Karena diriku kau harus kena masalah dengan Nusa,” lirih Kaya.
“Tidak apa-apa nona, justru aku yang minta maaf telah membohongi dirimu.”
“Aku tidak tahu kalau Nusa telah banyak membantu Michael. Mungkin ini akan menjadi kelemahanmu dan Michael. Aku ingin bertanya padamu? Siapa sebenarnya Nusa? Kenapa dia bisa membiayai kuliah Michael dan menghidupi keluargamu? Bukannya dia waktu dulu memutuskan hubungan dengan keluarganya? Apakah dia sekaya itu pak? Atau dia mempunyai warisan lain?” Kaya bertanya banyak sekali.
“Aku tidak tahu Nona, selama ini aku belum tahu anak Wijaya makanya kita salah kira. Tapi yang aku dengar dari kabar orang lain. Bahwa ibunya adalah pewaris tunggal dari ayahnya sekaligus kakek Nusa. Setelah ibunya meninggal semua harta jatuh pada anaknya bukan Wijaya.”
“Lalu?”
“Lalu aku dengar juga Wijaya memang punya perusahaan bawaan tapi bukan perusahaan yang sedang kita ambil. Jadi perusahaan ini kalau tidak salah perusahaan kakeknya Nusa yang dari ibunya.”
“Tapi kenapa namanya Tama?”
“Jadi diganti Tama, karena Wijaya yang mengelolanya dan mertuanya memberi leluasa atas perusahaan tersebut dengan satu syarat jika Nusa besar Wijaya harus memberikannya dan mengelolanya dengan baik.”
“Apa?” Kaya terkejut.
Pantas saja dia ingin mengambilnya lagi dariku dan bilang ini bukan perusahaan ayahnya tapi kakeknya, batin Kaya.
“Bukan hanya itu, kakeknya Nusa meninggal kira-kira dua tahun yang lalu dan perusahaan diambil oleh Wijaya. Setelah beberapa bulan kemudian perusahaan Wijaya yang bernama Wijaja bangkrut.”
“Kenapa kau tidak cerita padaku pak Boni?”
“Karena aku pikir kita hanya fokus mengambil perusahaan ini dan tidak memikirkan yang lain nona.”
“Baiklah, sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan. Pak Boni kau keluar saja dari perusahaan tersebut. Masalah Nusa biar menjadi urusanku. Aku akan membuat dia untuk tutup mulut dan tidak bicara tentang kau terlibat dalam diriku.”
“Baik nona,”
“Satu hal lagi, aku pernah beritahumu tentang perusahaan online shop yang baru ku bangun. Tolong kamu di sana dan kelola bisnis online ku karena...,” Kaya menghentikan ucapannya.
Karena kemungkinan aku kalah dari Nusa dan tidak bisa membalaskan dendam kepada Wijaya. Lanjutnya dalam hati.
“Karena apa nona?” tanya Boni.
“Tidak,” senyum Kaya. “ Pokoknya kamu harus membantuku yah dan dengan begini kau juga terhindar dari ancaman Nusa.”
“Baik Nona,”
“Yaudah aku balik dulu pak,” pamit Kaya tersenyum berjalan melewati Boni.
“Nona,” panggil Boni.
“Iya pak,” toleh Kaya.
“Terimakasih kau memaafkan nona,” senyum Boni.
“Aku yang seharusnya berterimakasih. Karena selama ini kau membantuku.” Kaya tersenyum dan berjalan kembali meninggalkan Boni.
Flash back berakhir....
~ Bersambung ~