
~ Happy Reading ~
“Kenapa ayah Nusa sangat licik sekali ?”
“Karena dia sudah dibutakan dengan cinta dan uang,” jawab Mina.
“Lalu apa yang dilakukan papa pada mama? Apa papa menyesalinya?”
“Dia menyesal dan akan menikahi mama. Sebenarnya mama sudah mengatakan kepadanya tidak perlu menikahi mama, karena mama enggak mau semua ini di dasari hanya tanggung jawab saja. Namun, papamu tetap ingin menikahi mama karena mama mengandung anaknya.”
“Mama mengandung Kaya waktu itu?” tanya Kaya.
“Bukan, sebelum kau lahir.”
“Kenapa mama enggak pernah cerita kepada Kaya bahwa aku punya kakak? Sekarang dimana dia?”
Mina menggeleng pelan. “Dia sudah tiada,” jawabnya.
Kaya terkejut mendengarnya. “Tapi kenapa? Apa kalian melenyapkannya?” Pertanyaan Kaya membuat Mina menyerngit bingung. Kenapa anaknya bertanya kepadanya seperti itu.
“Apakah menurutmu mama tega melenyapkan putra mama sendiri?” tanya Mina balik dan Kaya menggeleng pelan.
“Putra? Berarti kakaku seorang laki-laki?” Mina mengangguk untuk membenarkan.
“Lalu kenapa dia tiada?”
“Mama menikah dengan papamu saat dia tahu mama mengandung anaknya. Ia akan bertanggung jawab. Mama tahu dia masih menyukai Kasih. Secara Kasih cinta pertamanya.”
“Mama bilang kau tak perlu bertanggung jawab kepadaku, tapi dia berbeda dengan pria lain. Dia sangat bertanggung jawab sekali, walau hatinya waktu itu masih ingin memiliki Kasih.”
“Lalu apa pendapat ibu Nusa mah?”
“Kasih waktu itu menangis dalam pelukan Erlangga. Mama tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sedangkan Wijaya terlihat senang sekali.”
Mina menghela napasnya berat. “Setelah menikah mama dan papamu masih seperti biasa. Tidak ada cinta di antara kita hanya ada cinta pada anak yang mama kandung.”
“Mama terpaksa memutuskan untuk mengakhiri kuliah dan kerja, karena kehamilan mama sudah dapat dilihat semua orang. Teman mama sering menghujat mama karena hamil diluar nikah dan merebut pacar teman sendiri dengan cara licik. Padahal itu semua ulah Wijaya.”
“Mama memutuskan untuk tidak kuliah lagi karena tidak tahan. Saat menikah mama tahu papamu sering bertemu dengan Kasih, terkadang mama sakit hati melihatnya. Tapi apa boleh buat, dia adalah kekasih papamu pertama.”
“Singkat cerita...,”
Flash back kembali.....
Mina yang sedang berdiri membereskan baju ke dalam lemari merasakan sakit di perutnya. Ia berusaha keluar kamar dan menuju meja untuk menelepon Erlangga.
Lalu air ketubannya pun pecah dengan tiba-tiba membuat Mina kesakitan. Mina terus menelepon Erlangga, namun tak ada jawabannya. Mina yang sudah panik tak tahan lagi menangis sambil merasakan kesakitan.
Di saat seperti ini Erlangga tak ada untuk dirinya dan malah berduan dengan Kasih. Mina dengan sekuat tenaga keluar dari rumah dan berteriak minta tolong, namun tak ada satupun orang yang mendengarnya karena waktu itu sudah malam hari. Mina yang sudah tak kuat lagi akhirnya pingsan diluar rumah.
Keesokan harinya....
Mina yang berbaring di tempat tidur di rumah sakit membuka matanya perlahan sambil merasakan sakit di perutnya. Mina merasa bingung dengan Erlangga yang menangis sambil menggenggam tangan Mina.
“Apa yang terjadi?” tanya Mina yang masih bingung.
“Apa maksudmu?” Mina berusaha untuk duduk, namun dokter yang ada di sana menyuruhnya untuk berbaring dulu karena jahitan di perutnya belum kering.
Erlangga hanya diam sambil menangis. Dokter wanita yang ada di sana berusaha untuk menguatkan Mina. “Ibu yang sabar yah, anak ibu tidak bisa kami selamatkan karena ia keracunan air ketuban ibu.”
Bagaikan pohon tersambar petir. Mendengar itu semua membuat Mina terkejut dalam diam, ia berusaha mencerna semua yang diucapkan dokter tersebut sedangkan Erlangga menangis sambil berkata “maaf.”
“Tidak mungkin dok! Anakku ada kan dok?” tanya Mina yang berusaha menahan tangisannya dengan tersenyum getir.
Dokter tersebut menggeleng pelan. “Maafkan saya bu,” hanya itu yang bisa diucapkan dokter tersebut.
Mina berteriak sambil menangis. Ia tak percaya anaknya yang susah payah ia jaga harus tiada. Mina selalu menantikan putranya walaupun Erlangga tidak akan menyukainya.
“Maafkan aku!” lirih Erlangga. Mina langsung menolehnya dengan kemarahan, ia mendorong Erlangga untuk menjauh darinya sehingga tersungkur ke lantai.
“Ini semua karenamu Er! Coba saja kau tidak selalu menuruti Kasih untuk menemuinya tiap hari, pasti dia masih hidup!” teriak Mina dengan marah bercampur tangisan.
“Kenapa dia harus tiada?” tanyanya monolog dengan tangisan pecah.
“Kenapa aku harus di antara kalian bertiga?”
“Kenapa? Kenapa bukan aku saja yang tiada? Kenapa harus anakku? Bahkan dia belum melihat dunia ini?” racau Mina dengan tangisan.
Erlangga berdiri dan langsung memeluk Mina dengan tangisan sambil berkata maaf. Mina terus menangis dalam pelukan Erlangga. Sementara dokter tersebut membiarkan mereka berdua dan keluar dari sana.
“Maafkan aku. Aku memang sangat bersalah. Maki aku dan pukulah aku!”
Mina memukul dada Erlangga. “Ini semua karena dirimu! Kenapa di saat ku butuhkan kau tidak ada! Kenapa?” Mina terus memukul dada Erlangga.
Flash back bersambung...
“Kenapa papa harus menemui ibu Nusa sedangkan mama sudah menjadi istrinya?” tanya Kaya dengan amarah. Ia tak terima kakaknya tiada karena ulah papanya sendiri.
“Mama kan sudah bilang Kasih adalah cinta pertama papamu. Mereka menjalin kasih sudah lama. Mama juga tak ingin mencegah mereka.”
“Kenapa mama tidak mencegah mereka?”
“Karena mama tahu rasanya sakit hati Kaya. Mama tahu jika cinta kita tak berada di sisi kita itu akan lebih sakit. Mama tahu papamu masih mencintainya dan mama tidak mau memisahkan cinta mereka.”
“Lalu kenapa mama masih bertahan sama papa setelah apa yang dilakukan papa kepada mama waktu itu?”
Mina kembali membalikkan badannya membelakangi Kaya. “Awalnya mama juga ingin mengakhiri hubungan dengan papamu setelah kehilangan putraku. Namun papamu tidak mau.”
“Padahal mama sudah merelakan jika papamu kembali dengan Kasih. Lagi pula semua pernikahan ini di dasari dengan kesalahan.”
“Pernikahan ini juga banyak yang tak merestuinya dimulai dari orangtua papamu, kerabat papamu dan banyak lagi yang tak merestuinya.”
“Tapi papamu tak mau. Ia justru tetap mempertahankan pernikahan ini. Namun mama tetap ingin bercerai dengan papamu waktu itu karena mama tak ingin kejadian seperti itu terulang lagi. Lagi pula papamu tak cinta dengan mama.”
“Hingga suatu saat, papamu bersujud dan memohon untuk tidak meninggalkannya.”
Flash back kembali.....,
~ Bersambung ~