My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 64 ~ Pelakor



~ Happy Reading ~


          “Oh iya Jess, tadi kamu mau bilang apa?” tanya Nusa menoleh ke samping.


          “Aku mau bilang...,” Jessica menghentikan perkataanya dan mulai menangis. Kaya dan Mila terheran melihat Jessica sedih.


          “Aku putus sama Adrian, Nusa.” Rengeknya memeluk Nusa.


          Kaya langsung kaget dan menghentikan makannya. Hah? Adrian sama Jessica putus? Berarti mereka enggak bakal nikah dong. Ini harusnya kesempatan buat Lita. Tapi apa Lita mau berteman lagi denganku, batin Kaya.


          “Kok bisa?” tanya Nusa mencoba menenangkan Jessica.


          “Iya. Soalnya kamu tahu sendiri, dia sukanya sama Kaya dan sekarang dia masih memilih Kaya.” Jessica berbohong sambil memandang Kaya dengan muka sedih. Kaya yang mendengarnya langsung kaget.


          “Mulai deh ratu drama,” desis Kaya pelan dengan membuang muka.


          “Pak Adrian emang siapa bu?” tanya Mila bingung apa yang dibicarakan mereka.


          “Tanya aja tuh sama dia!” jawab Kaya dengan kesal menunjuk Jessica dengan mulutnya.


          “Adrian itu tunangan aku Mila,” sahut Jessica yang masih dipeluk Nusa.


          “Terus, yang parahnya lagi Mila. Ibu Kaya mengambilnya dari aku. Dia memang pelakor.” Ucap Jessica sedih.


          “Eh, jaga mulut kamu Jess!” bentak Kaya berdiri.


          “Emang iya kok,” Jessica juga berdiri dan tidak mau kalah.


          “Asal kamu tau! Adriannya aja yang suka sama aku?! Aku enggak pernah suka sama dia yah. Kalau pun dia enggak suka sama kamu atau putusin kamu itu karena kamunya aja yang memang mungkin enggak menarik kali buat dia.” Ejek Kaya melipatkan kedua tangannya ke dalam dada.


          Mila merasa tegang melihat perseteruan mereka. Sementara Nusa menikmatinya sambil meminum.


          “Eh Kaya, aku itu model. Mana mungkin pria enggak tertarik dengan diriku. Memang dasar kamunya aja yang pelakor dan suka menggoda pria orang lain. Dasar gatel!” Ketus Jessica menunjuk Kaya dengan kesal.


          Jessica sengaja berbohong untuk membuat Nusa prihatin dengannya dan agar Nusa tambah membenci Kaya.


          Kaya yang tak tahan mendengar ucapan Jessica mengambil gelas dan menyiramnya dengan minuman yang berwarna.


          “Kaya!” teriak Jessica kesal melihat pakainnya bernoda.


          “Waduh gawat?! Ibu Kaya udah bu?!” Mila berdiri dan mencoba menenangkan Kaya.


          “Nusa..., lihat deh baju aku kotor?! Ini semua karena Kaya, kenapa sih kamu enggak keluarin dia aja.” Rengek Jessica mengadu memegang lengan Nusa.


          “Mana mungkin Nusa bisa ngeluarin aku. Aku itu punya setengah saham di sana.” Ucapnya bangga dan Nusa tersenyum sinis.


          “Nusa, kamu kok diam aja sih!” Jessica pura-pura ngambek dan membelakangi Nusa.


          “Jessica kamu jangan ngambek dong? Nanti aku beliin baju buat kamu deh!” bujuk Nusa.


          Ihhh..., Ibu Jessica benar-benar cewek gatel, batin Mila kesal melihatnya.


          “Benaran?” Jessica berbalik badan menghadap Nusa dengan  tersenyum senang.


          “Iyah,” jawab Nusa dengan senyum.


          “Makasih Nusa sayang,” Jessica ingin memeluk tapi ditahan Nusa dengan tangannya. “Kenapa?” tanya Jessica menurunkan tangannya.


          “Baju kamu kotor, nanti bajuku ikut kotor juga lagi.” Jawab Nusa lembut.


          “Oh iya yah?” nyengir Jessica.


          “Yaudah kamu bersihin dulu!” suruh Nusa dan Jessica menurutinya. Dia beranjak dari kursi menuju toilet.


          “Mila kamu temanin Jessica!” perintah Nusa.


          “Baik pak.” Mila beranjak dari kursi menyusul Jessica yang berjalan menuju kamar mandi.


          Jes-Jes..., aku tahu kamu berbohong. Kamu putus dari Adrian dan ingin mendekati ku, karena kamu tahu aku lebih kaya dari Adrian. Dasar matre! Tapi ini menyenangkan, aku akan manfaatkan kamu untuk rencanaku, batin Nusa tersenyum menyeringai.


          Kaya yan masih berdiri ingin beranjak pergi. “Ibu Kaya mau ke mana?” tanya Nusa dengan cool.


          Kaya mulai melangkah berjalan dan Nusa dengan buru-buru berdiri dari kursi, lalu berjalan menghampiri Kaya. Nusa menarik tangan Kaya dan mendekatkan dirinya untuk menghadapnya.


          “Kay..., Kay..., kamu tidak pernah berubah.” Nusa menggelengkan kepalanya.


          “Ini ada bekas makanan di mulut kamu?!” Nusa mengelap dengan tangannya. Kaya langsung kaget melihat perhatian Nusa.


          Apakah ini benar atau hanya kepalsuan saja? tanya Kaya dalam hati.


          “Kamu masih aja kayak dulu, selalu berantakan kalau makan.” Senyum Nusa yang selesai mengelap mulut Kaya.


          Kaya hanya terdiam dan hatinya mulai deg.., deg..., deg. Seakan cinta kepadanya semakin mendalam dan tak akan pernah hilang.


          Kaya berbalik badan dan tidak menanggapi perbuatan Nusa. Dia melangkah berjalan, namun Nusa menariknya lagi dan mendekatkan mukanya dengan muka Kaya.


          “Jika seseorang telah membantu, harusnya orang yang di bantu bilang terimakasih.” Sindir Nusa dengan senyum.


          “Makasih,” ucap Kaya dengan ketus.


          Nusa yang mendengarnya tersenyum dan melepaskan Kaya. Ia  berjalan menuju kasir untuk membayar.


          Kaya meninggalkan Nusa membayar di kasir dan pergi menuju tempat parkir. Kaya berdiri di depan mobil menunggu Mila.


          Nusa yang selesai membayar melirik Kaya sudah tidak ada. Ia pun berjalan menuju parkiran dan melihat Kaya sedang bersandar di depan banper mobil. Nusa langsung menghampirinya.


          “Mobil yang bagus? Kenapa aku tidak pernah lihat yah?” tanya Nusa dan Kaya hanya terdiam.


          “Apakah mobil itu hasil penipuan juga?” tanya Nusa menunjuk mobil tersebut.


          Kaya menatap Nusa dengan sinis. “Jaga mulut kamu Nus!”


          Nusa menghadap ke depan Kaya, ia mengunci Kaya dengan tangan menumpu pada tepi mobil. “Atau mobil itu kamu dapat dengan cara meniduri om-om kaya?” tanya Nusa tersenyum.


          “Jaga mulut kamu itu Nusa!” Kaya menatap Nusa dengan sinis.


          Nusa menggendong Kaya. “Nus, kamu mau ngapain?” tanya Kaya bingung.


          Nusa menaruh Kaya di kap Mobil untuk duduk. Tapi Kaya langsung melompat ke dada Nusa dengan mengalungkan tanganya ke leher Nusa dan  melingkarkan kaki ke pinggang Nusa. Kaya melakukan itu karena mobil kapnya panas.


          “Kenapa?” tanya Nusa menangkap Kaya dan memeluk pinggul Kaya dengan erat.


          “Kap mobilnya panas,” jawab Kaya dengan malu.


          Nusa mencoba memegang kap mobil Kaya, sambil menggendong Kaya di depan. Iya benar panas, batin Nusa.


          Nusa menyengir sambil menggendong Kaya. “Aku lupa kalu mobil kamu parkir di tempat terik sinar matahari.”


          Kaya hanya menatap Nusa dengan tajam. Ia merasa Nusa kesempatan memegangnya, apalagi Kaya memakai rok pendek.


          Kaya, andai saja kamu bukan anak Erlangga. Mungkin aku akan menyayangi kamu dengan sepenuh hatiku, batin Nusa memandang Kaya.


          Nusa, andai saja kamu bukan anak dari Wijaya. Mungkin aku sekarang akan bilang betapa aku sangat mencintai dirimu, batin Kaya memandang Nusa.


          Nusa menuruni Kaya dengan pelan, dengan kontak mata diantara mereka berdua tidak putus. Tatapan mereka kali ini, tatapan penuh cinta. Kaya pun berdiri dihadapan Nusa dan depan mobilnya dengan tetap mengalungkan tangannya ke leher Nusa.


          Nusa memajukan mukanya dekat sekali dengan muka Kaya. Nusa memegang dagu Kaya dan mencoba ingin menciumnya. Kaya terlena dan menutup matanya. Namun ciuman itu tidak jadi, karena Nusa mendengar suara teriakan Jessica dari kejauhan.


          “Nusa !” teriak Jessica dari kejauhan.


          Nusa langsung melepas tangannya dari dagu Kaya. Begitupun Kaya, ia langsung melepaskan tangannya dari leher Nusa. Mereka seperti kelagapan karena ketahuan beremesraan.


          Sebenarnya Kaya kesal karena ciuman itu tidak terjadi. Kenapa setiap Nusa ingin menciumku selalu ada aja yang ganggu, batin Kaya.


          “Yuk pulang!” ajak Jessica menarik tangan Nusa. Nusa hanya mengangguk iya.


          “Ayuk ibu, kita balik ke tempat kerja!” ajak Mila.


          Kaya membuka pintu mobil sambil memperhatikan Nusa berjalan menuju mobilnya. Kaya masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, lalu jalan menuju tempat kerja bersama Mila.


~ Bersambung ~