My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 103 ~ I Love You



~ Happy Reading ~


Saat di dalam mobil Kaya.


Flash back….


          “Dasar cupu!”


          Beberapa murid berkeliling menghina Kaya yang berjongkok ketakutan dengan memakai baju renang. Kaya menutup kedua telinganya sambil menangis melihat teman-temannya menghina dirinya.


          Saat itu Kaya masih kelas 1 SMP. Guru olahraga menyuruh mereka semua untuk memakai baju renang karena akan diadakan pengambilan nilai renang. Kaya yang sudah memakai baju renang tidak ingin melompat dan dia mengenang masa kecilnya yang takut akan air.


          “Papa…, tolong aku!” teriak Kaya di pantai dengan nafas yang sudah tidak kuat lagi. Ia terus berteriak memanggil ayahnya yang sedang mengobrol dengan orang lain, namun ayahnya tak mendengar dirinya. Akhirnya ada seorang anak lelaki melihatnya. Dengan cepat ia mengambil ban renang dan berenang ke arah Kaya.


          “Papa,” lirih Kaya yang sudah tidak kuat lagi.


          Anak lelaki itu terus berusaha berenang dan mendapatkan Kaya yang ingin pingsan. Ia meletakkan kepala Kaya di balon agar Kaya bisa bernafas.


          Seorang pria berteriak melihat seorang anak perempuan sedang diselamatkan oleh anak lelaki. Mendengar teriakan itu, Erlangga menoleh. Ia melihat anaknya sedang diselamatkan oleh seorang bocah. Wajahnya pun berubah menjadi panik.


          “Kaya..,” teriak Ayahnya.


          Erlangga langsung menghampiri anak lelaki yang membawa Kaya ke tepi pantai. Ia berlari menuju mereka dan langsung memeluk Kaya dengan penuh kepanikan.


          “Kay.., sadar nak!” Erlangga menepuk pipi Kaya.


          Kaya pun tersadar dan melihat ayahnya di depan mata. Dengan sedih Kaya langsung memeluk ayahnya.


          “Maafkan papa Kay.” Erlangga membalas pelukan Kaya dengan erat. Kaya hanya bisa menangis dipelukan Erlangga.


          Melihat gadis itu baik-baik saja. Anak lelaki itu meninggalkan mereka. Erlangga melepaskan pelukannya dan mencari anak lelaki yang menyelamatkan Kaya.


          “Papa cari siapa?” tanya Kaya mendongak menghadap wajah ayahnya.


          “Itu anak lelaki yang menolong kamu tadi,” jawabnya dan Kaya ikut melirik mencarinya.


          Mengingat kenangan masa kecilnya, Kaya langsung berjongkok dan tidak ingin melompat ke kolam renang. Walau kolam renang sebenarnya tidak terlalu dalam.


          Semua anak yang di sana langsung menertawakan Kaya dan menghinanya dengan sebutan cupu. Mereka berkeliling memutari Kaya dan menghinanya cupu. Apalagi Kaya saat itu memang memakai kacamata, jadi semuanya terlihat cupu sekali.


          Kaya hanya bisa menangis ketakutan akan air dan menutup telinganya agar tidak mendengar penghinaan mereka.


          “Jangan ganggu aku! Aku tidak mau berenang!”


          “Dasar cupu!”


Flash back berakhir...


          “Tidak…, aku tidak ingin berenang!”


          Kaya mengigau di dalam mobil dengan baju yang basah kuyup dan balutan jas hitam Nusa ditubuh Kaya. Mendengar Kaya menginggau, Nusa langsung panik. Ia menoleh ke arah Kaya.


          “Hentikan! Jangan ganggu aku!”


          Kaya terus mengigau dan Nusa mencoba menepuk pipi Kaya. “Kay…, kamu kenapa? Sadar Kay!”


          “Hah....,”  teriak Kaya dengan keras dan duduk tegap dari sandarannya dengan muka ketakutan.


          “Kay kamu kenapa?” tanya Nusa panik dan Kaya pun tersadar.


          “Aku enggak kenapa-napa.” Jawab Kaya dan Nusa hanya terdiam. Dia tidak ingin membahasnya lagi, karena tidak ingin Kaya ketakutan seperti tadi.


          “Kita ada dimana Nus?” tanya Kaya.


          “Di depan rumah kamu,” jawab Nusa.


          “Kenapa aku sudah sampai di sini?” tanya Kaya bingung.


          “Jadi setelah kamu kecebur. Aku bawa kamu ke mobil. Kamu seperti ketakutan dan akhirnya pingsan.”


          “Apakah aku pingsan karena mengingat kejadian tersebut yah?” pikuk Kaya.


          “Kamu bilang apa Kay?” tanya Nusa yang tidak mendengar jelas ucapan Kaya.


          “Bukan apa-apa,” jawab Kaya.


          “Sebaiknya kamu pulang Nus, aku tidak ingin kamu dilihat oleh orangtuaku!”


          “Iya tuan Tama,” jawab Kaya.


          “Baiklah. Harusnya engkau berterimakasih aku sudah mengantarmu. Lalu bagaimana caranya aku pulang?” tanya Nusa mengingat mobil yang dibawanya adalah mobil Kaya.


          Benar. Bagaimana dia pulang sementara ini mobilku, batin Kaya.


          “Bawa aja mobilnya pulang Nus!”


          “Baiklah.”


          Kaya mencoba ingin membuka pintu mobil tapi terhenti karena Nusa mengajukan pertanyaan kepada Kaya. “Apakah engkau tidak ingin berterimakasih padaku sayang?”


          Kaya langsung menoleh Nusa dan menatapnya. “Terimakasih sudah mengantar dan menyelamatkanku Nusa.” ucap Kaya dengan lembut.


          “Aku tidak hanya ingin terimakasih saja,” Nusa tersenyum menyeringai.


          “Lalu?” tanya Kaya dengan heran.


          “Aku ingin engkau memberikanku hadiah karena telah menyelamatkanmu.”


          “Apa?”


          “Sebuah ciuman,”


          “Apakah engkau tidak punya permintaan lain selain pikiran kotormu itu Nusa?” desis Kaya.


          “Tidak ada.”


          “Aku tidak akan menciummu.”


          “Baiklah, aku akan mengunci pintunya.” Ucap Nusa dengan penuh kejailan.


          “Nusa, buka pintunya!” bentak Kaya.


          “Buka saja jika kau bisa!”


          “Kau!” tunjuk Kaya ke muka Nusa dengan geram.


          Kaya mencoba mendekati Nusa dan menggapai tombol untuk membuka pintu mobil. Dengan baju yang basah dan kedinginan dia menggapai tombol tersebut.


          Nusa hanya bisa tertawa kecil melihat muka Kaya yang sudah kedinginan. Ia menghalangi tangan Kaya dengan menutupi tombol tersebut dan Kaya merasa kesal.


          “Nusa awas! Buka pintunya sekarang!” bentak Kaya.


          Nusa hanya diam dan tidak mendengarkan ucapan Kaya. Ia selalu mencegah tangan Kaya yang mau menyentuh tombol kunci mobil.


          Kaya menyerah dan duduk bersandar sambil memegang tubuhnya yang sudah kedinginan dari tadi. Nusa yang merasa tidak enak akhirnya menekan tombol tersebut dan mencodongkan dirinya ke arah Kaya.


          “Kamu mau ngapain Nusa?” tanya Kaya dengan heran. Nusa semakin mendekati Kaya dan Kaya langsung menutup matanya.


          Ceklek!


          Pintu mobil di buka oleh Nusa. Kaya langsung membuka matanya dan menatap Nusa yang baru saja membukakan pintu untuknya. Mereka pun saling bertatapan. Nusa yang masih mencodongkan badannya


di depan Kaya dengan cepat mengecup bibir Kaya.


          “Aku suka bibir manismu nona Kaya. I Love you.” Bisik Nusa membuat Kaya mematung dengan mata melotot.


          “Sebaiknya kamu pulang beristirahat karena lusa kita akan ke Bali! Aku tidak ingin kamu sakit!” bisik Nusa lagi dan kembali duduk bersandar dengan senyuman coolnya.


          Kaya yang tersadar keluar dari mobil dan berjalan dengan ekspresi wajah yang masih tidak percaya dengan ucapan Nusa.


          I Love You


          Ucapan itu terngiang-ngiang di otak Kaya dan juga terheran. Pasalnya Nusa baru kali ini menyatakan cintanya terhadap Kaya. Sedangkan Nusa tersenyum melihat muka Kaya yang tak ada ekspresi tersebut. Lalu dia


menjalankan mobilnya dan pergi.


          Kaya berjalan menuju pintu dan menekan bel rumah. Lalu dibukakan oleh ibunya. Kaya langsung masuk tanpa mengucapkan salam kepada ibunya, sedangkan ibunya heran dan panik melihat kondisi Kaya yang basah kuyup.


          “Kay? Kamu dari mana saja kok basah bajunya? Terus ini jas siapa yang kamu pakai? Terus kamu pulang naik apa? Mana mobil kamu?” ibunya menanyakan banyak pertanyaan sedangkan Kaya hanya terdiam memikirkan ucapan Nusa. Kaya berjalan menaiki tangga dan menghiraukan ibunya yang terus bertanya.


          “Kaya kenapa yah? Kok aneh banget? Apa aku bilang papa yah?” pikuk ibunya yang melihat Kaya menaiki tangga dari bawah tangga.


~ Bersambung ~