My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 119 ~ Saran Mila



~ Happy Reading ~


          Kaya dan Nusa masih di ruang meeting. Mereka berbincang tentang beberapa pembangunan restoran dan anggaran selain pembangunan seperti interior restoran.


          Mereka juga membahas tentang makanan khas restoran ini, aplikasi penyajian dan banyak hal lain yang mereka bahas. Sampai mereka tidak sadar hari sudah menjelang sore.


          “Nus.., sudah sore, sebaiknya kita lanjutkan nanti!” ucap Kaya menyudahi perbincangan mereka.


          “Baiklah..,” senyum Nusa.


          “Sebelum kita pergi dari sini. Ada hal yang ingin ku tanyakan padamu?”


          “Apa?”


          “Apakah kau tahu ada yang korupsi di perusahaan mu?” tanya Kaya dengan serius.


          “Yah.., aku tahu.” Jawabnya.


          “Baguslah kau sudah tahu, kupikir kau tidak tahu, karena kau tidak pernah periksa laporan keuangan.”


          “Aku memeriksanya, tapi aku tidak tergesa-gesa, karena aku perlu beberapa bukti transferan atas namanya.”


          “Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Kaya.


          “Akan ku sita semua rumahnya dan menyuruhnya untuk mengembalikan uangku sebesar satu milyar.”


          “Aku setuju denganmu!”


          “Kay,”


          “Hem,”


          “Maafkan aku atas kejadian semalam. Aku tidak sengaja melakukannya dan itu diluar akal sehatku.” Ucap Nusa dengan tulus membuat Kaya luluh.


          “Aku maafkan,” senyum Kaya.


          “Aku tahu tindakan ku ini akan membuat dirimu tidak nyaman. Sehingga kau menutupi semua leher mu dan banyak orang yang bertanya-tanya padamu.”


          “Sudahlah Nus, tidak usah dibahas! Yang lalu biarlah berlalu, aku juga salah, sudah kelewatan mengatai dirimu bajingan sehingga kau marah.”


          “Tidak apa, aku memang bajingan.”


          Kaya belum sempat berbicara, Jessica datang menghampiri mereka dengan gayanya yang manja, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


          “Nusa kamu lama sekali sih?!” Jessica cemberut dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada.


          Nusa langsung menoleh ke arah Jessica yang sudah berdiri di depan pintu. Ngapain lagi dia ke sini? Udah tahu aku lagi asyik berbicara sama Kaya?!


          “Nus, kalian lama sekali sih? Ngapain aja sih kalian? Kau Kaya, awas kau macam-macam dengan calon tunanganku!” ancam Jessica.


          “Heh, siapa juga yang macam-macam. Ada juga sih Nusa yang macam-macam.” Umpat Kaya memalingkan wajahnya.


          “Nusa.., ayuk kita lihat sunset? Mumpung ini sore, aku mau lihat matahari terbenam bersamamu biar romantis?!” Jessica menarik lengan Nusa.


          Nusa hanya pasrah mengikuti kemauan Jessica. Mereka keluar bersamaan kecuali Kaya.


          “Dasar Jessica model nggak jelas!” desis Kaya melihat mereka tidak suka.


***


Di pantai.


          Desiran ombak menyapu semua jejak kaki di tepi pantai. Suasana yang teduh dan nyaman. Angin yang berhembus pelan membuat suasana  semakin romantis. Matahari mulai terbenam membuat semua pengunjung pantai menikmatinya.


          Jessica berdiri di depan Nusa, ia berjalan di tepi pantai dengan gembira. Nusa yang sudah berganti baju dengan baju santai tanpa menggunakan sandal, menikmati hembusan air yang mengenai kakinya.


          Nusa memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana dengan stay cool. Dirinya menikmati desiran ombak dan pasir yang diinjaknya. Ia hanya mengikuti Jessica yang gembira berjalan di depannya. Sedangkan Mila dan Kaya duduk di pasir dengan kaki seloncoran sambil menikmati pemandangan sunset yang akan terjadi.


          Kaya sekilas memperhatikan Nusa bersama Jessica yang berada di tepi pantai menikmati hembusan ombak di kaki mereka.


          “Bu Kaya?” panggil Mila yang melihat Kaya fokus memperhatikan Nusa dan Jessica.


          “Hah, iya?” toleh Kaya.


          “Ibu cemburu lihat Nusa dengan Jessica?”


          “Udahlah bu bilang aja Iya?!”


          “Lah kamu sendiri emang gimana?” tanya Kaya balik.


          “Aku sudah mengalah bu, karena aku tahu pak Nusa cinta sama orang lain.” Lirih Mila.


          “Maksudnya?”


          “Aku tahu pak Nusa suka sama ibu Kaya,” jawaban Mila membuat Kaya diam teremenung. Bagaimana Mila bisa beranggapan Nusa mencintai dirinya?


          “Tidak mungkin Mila,”


          “Sudahlah bu, tidak usah berpura-pura! Aku tahu ibu tahu kalau pak Nusa menyukai ibu dan ibu juga menyukai pak Nusa.” Kaya hanya terdiam mendengarnya.


          “Aku tahu ibu! Kalian itu bermusuhan karena masa lalu orang tua kalian. Sebagian karyawan sudah banyak yang tahu dan menjelekkan ibu.”


          “Tapi kalian juga saling mencintai dan itu tampak jelas di mata kalian. Walau kalian kadang bertengkar, tapi kalian tampak begitu mencintai.” Lanjut Mila sambil memperhatikan matahari yang sudah mulai turun.


          “Pak Nusa itu hanya memanfaatkan aku saja, agar ibu cemburu. Dan kalau aku pikir-pikir lagi, sebenarnya pak Nusa juga hanya memanfaatkan ibu Jessica untuk membuat ibu cemburu juga.”


          “Pak Nusa orang yang susah di tebak. Dia tampak begitu menyenangkan dan hangat kepada semua wanita. Terkadang dia humoris dan tak pernah menolak ajakan perempuan untuk mengobrol dengan dirinya. Tapi yang aku tahu dia hanya mencintai satu wanita


yaitu IBU!” Tunjuk Mila.


          Kaya yang mendengarnya sedikit terharu melihat sikap Mila begitu dewasa dan memberikan beberapa pemikiran yang membuatnya sadar. Selama ini dia sudah tahu dan tetap saja dia memberitahu kepadaku walau hatinya sakit.


          “Sebenarnya kalian hanya perlu waktu untuk melupakan dendam kalian dan menjadi pasangan kekasih. Mungkin itu akan menjadi hal terindah, jika ibu melupakan masa lalu kalian.” Senyum Mila.


          Sebuah air mata lolos di mata Kaya. Dirinya terharu akan perkataan Mila dan memang kini hatinya bimbang. Apakah dia harus memilih cinta dari pada dendamnya?


          “Mila,” panggil Kaya dengan lirih.


          “Terimakasih atas semua ucapanmu,” senyum Kaya.


          “Kamu adalah wanita yang baik, setelah kamu tahu semuanya. Aku juga tahu kamu ada perasaan untuk Nusa. Tapi, kamu malah memberitahu ku bahwa Nusa mencintaiku.”


          “Aku hanya ingin kalian bahagia bu. Aku merasa kalian terlalu menyakiti diri kalian sendiri dan melupakan cinta kalian hanya karena dendam.” Ucap Mila.


          “Makasih Mil, tapi aku tidak tahu apakah Nusa tulus mencintaiku?”


          “Kenapa ibu bertanya seperti itu? Ibu harusnya lebih tahu bahwa dia sangat mencintai ibu dan dia itu tak akan pernah mencintai wanita lain selain ibu. Itu terlihat jelas di matanya bu!” Mila memberikan pendapat yang membuat Kaya tersenyum mendengarnya.


          “Kamu benar!”


          “Lusa adalah hari ulang tahun pak Nusa bu, aku harap ibu hadir. Karena kita merayakannya di hotel ini dan kita akan ke tempat karoke untuk melepaskan semua masalah yang ada.”


          Kaya yang mendengarnya langsung menoleh. “Lusa ulang tahun Nusa?” tanya Kaya memastikan lagi dengan ekspresi terkejut.


          “Iya, ibu tidak tahu?” Kaya hanya menggeleng.


          “Jadi aku dan ibu Jessica berbincang tadi siang. Aku mengatakan kalau pak Nusa akan ulang tahun lusa. Ibu Jessica juga baru tahu tadi dan dia berencana untuk mengasih surprise ke pak Nusa.”


          “Lalu dia bilang akan mengadakan pesta yang meriah, tapi aku bilang ke bu Jessica. Tidak usah bu, soalnya pak Nusa juga tidak ingin pesta yang meriah.”


          “Bagaimana kalau kita mengadakan pesta ultah pak Nusa di tempat karokean saja. Aku mengusulkan itu ke bu Jessica. Awalnya bu Jessica menolak, tapi aku bilang lagi ke dia. Pak Nusa bukan orang yang suka dengan kemeriahan karena dia dari dulu tidak pernah merayakan ulang tahun.” Jelas Mila.


          “Mungkin karena masa kecilnya kurang kasih sayang dari orangtuanya Mil,” sambung Kaya.


          “Iya ibu benar, pak Nusa juga pernah curhat ke saya. Dulu dia tak pernah mengadakan pesta apapun. Maka dari itu, aku bilang ke bu Jessica lebih baik kita karokean saja, sekalian melepas penat.”


          “Dan ibu Jessica setuju.” Sambung Mila


          “Aku merasa ingin sekali menyerahkan semuanya Mila dan bilang kepadanya bahwa aku sangat mencintainya. Tapi entah mengapa otak dan hatiku tidak singkron, selalu bertolak belakang.”


          Mila langsung memegang ke dua pundak Kaya dan menatapnya. “Ibu harus gunakan kata hati ibu sebelum semuanya terlambat. Pak Nusa orang yang baik, dan dia jelas sangat mencintai ibu. Terkadang kita harus melupakan ego kita untuk mendapatkan orang yang kita cintai.”


          “Kamu benar Mil!” senyum Kaya.


          “Kalau aku boleh kasih saran sebaiknya ibu kasih saja semua saham yang ibu ambil dan berbaikan kepada Nusa. Lalu ibu bilang kepadanya bahwa ibu mencintainya.” Mila melepaskan pundak Kaya.


          Kaya hanya terdiam dan mengangguk. Dia masih bimbang, tapi apa yang dikatakan Mila adalah benar.


~ Bersambung ~