
Keesokan harinya..,
Kaya berada di kamar sedang membereskan bajunya yang berada dalam koper. Lalu ia menemukan foto dirinya dengan Nusa yang berada di pantai.
Terlihat Nusa sedang menggendong Kaya di depan dadanya dengan tinggi dan wajah Kaya memandang ke wajah Nusa yang berada di bawah wajahnya. Mereka saling tersenyum gembira dengan tatapan cinta di antara mereka.
Contohnya:
“Kenapa engkau membuatku mabuk cinta?” gumam Kaya tersenyum sendiri melihat foto itu.
Kaya beranjak dari kasur membawa foto tersebut menuju meja. Ia meletakkan foto tersebut di meja, lalu kembali ke kasur untuk membereskan bajunya yang masih ada di dalam koper.
Setelah selesai membereskan semuanya. Kaya mengambil baju dari lemari pakaian dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
***
Mina menyiapkan cemilan untuk Kaya. Dia tahu anaknya lelah melakukan perjalanan kerja dari Bali. Mina membawa piring tersebut ke kamar Kaya.
Mina mengetuk pintu kamar anaknya, namun tak ada sahutan. Dia pun masuk begitu saja, karena pintu tak ditutup oleh Kaya.
“Kay,” panggil Mina masuk melihat Kaya tak ada. Mina pun mendengar suara germercik air dan berpikir anaknya mandi. Ia meletakkan pirin yang berisi cemilan tersebut di meja.
Saat meletakkan piring tersebut, Mina melihat sebuah foto anaknya digendong oleh anak Wijaya. Mina kaget sekali dan langsung mengambil foto tersebut.
Mina menatap lekat foto tersebut, hatinya tak terima anaknya bersama anak dari Tama. Namun apa boleh buat? Anaknya sudah jatuh cinta dengannya.
Mina terduduk lemas di kasur Kaya. Ia tak percaya dengan semua ini. Kejadian masa lalunya terulang kembali. Tapi melihat foto ini, Mina tak tega. Mereka tampak sepasang kekasih yang saling mencintai.
“Apa yang harus aku katakan kepada Erlangga?” gumamnya memegang foto itu di tangan kanannya.
“Anaknya menjalin cinta dengan anak Tama. Jika Tama tahu, apa yang akan dia lakukan?” gumam Mina.
“Hah, rasanya sesak sekali!” Mina memukul dadanya yang sesak.
****
Kaya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dibalutkan handuk. Kaya sedikit terkejut melihat ibunya tiba-tiba ada di kamarnya.
“Mah? Kok mama ada di sini?” tanya Kaya menghampiri Mina.
Ibunya berdiri dari kasur Kaya. “Ini apa Kay?” tanya Mina dengan nada marah.
Kaya mengambil foto itu dari tangan Mina. “I-ni,” Kaya bingung menjelaskan ke Mina. Ia pernah berjanji tidak akan menyukai anak Tama.
“Itu apa maksudnya Kaya? Jawab mama?!” bentak Mina yang membuat Kaya menjadi ikutan emosi.
“Ini aku sama Nusa,” jawabnya dengan nada tinggi.
“Mama tahu kamu sama dia, tapi apa maksudnya Kaya?”
“Jawab KAYA?” teriaknya.
“Aku dan dia pacaran!” Kaya meneteskan air matanya takut jika ibunya kenapa-napa. Ibunya mundur ke belakang terduduk lemas di kasur.
“Kau benar-benar membuatku lemah Kaya,”
“Mah,” lirih Kaya mencoba mendekati Mina, tapi ibunya menyuruh berhenti di tempat dengan tangannya.
“Mama enggak tahu harus apalagi denganmu! Kamu tahu ayahnya adalah orang yang membuat diri kita menderita. Bagaimana kamu bisa berpacaran dengannya?” Mina mulai meneteskan air mata.
“Mah, maafin Kaya!” Kaya bersimpuh di kaki ibunya sambil memegang kedua tangan mamanya.
“Maafin Kaya mah, aku tahu ayahnya adalah orang jahat tapi bukan berarti anaknya jahat mah.”
“Aku sudah menyukainya sejak lama mah, dan aku tidak bisa lagi membohongi perasaanku karena itu terlalu sakit.” Kaya terisak memegang kaki ibunya.
Mina tidak tega melihat anaknya menangis, ia mengusap air matanya. Mina menegakkan kepala Kaya yang memohon. “Sejak kapan kamu menyukainya Kay?”
“Sejak aku mengenal dia di perusahaan Adrian dan ternyata dia anak kecil yang pernah menyelamatkan aku.”
“Apa?” Mina cukup terkejut.
“Kamu tahu Kay, mama bukannya melarang kamu. Tapi kamu belum tahu ayah Nusa sebenarnya?!”
“Maksud mama?”
Sebenarnya Mina tidak ingin menceritakan masa lalunya. Namun, ia harus tahu siapa Wijaya sebenarnya. Mina berdiri dari kasur dan berjalan membelakangi Kaya. Ia mulai menceritakannya.
Sementara Kaya berdiri dari lantai dan duduk di kasur mendengarkan cerita mamanya. Cerita dimulai dari Mina pindah kuliah ke Jakarta.
Flash back...,
Mina terus berjalan dan ramah pada mereka semua, walaupun mereka terus membututi Mina. Ia sebenarnya agak risih, namun Mina selalu menanggapinya dengan senyum.
Saat sampai di depan Rektor kampus. Mina masuk ke dalam dan semua pria langsung kecewa karena terpaksa harus bubar.
“Misi pak!” ucap Mina dengan sopan.
“Iya,” jawab kepala rektor kampus tersebut dengan berdiri dari kursinya.
“Perkenalkan! Saya Mina pak, pindahan dari kampus xxx.” Mina berjabat tangan dengan Rektor itu.
“Oh, kamu anak pindahan dari kampus xx itu toh.” Balas rektor tersebut. “Kamu anak yang
pintar yah Mina. Nilai kamu semuanya bagus! Selain bagus kamu ternyata cantik sekali!” pujinya.
“Makasih pak,” senyum Mina dengan manis.
Tiba-tiba ada seorang pria mengetuk pintu dan langsung masuk ke ruangan. Rektor tersebut langsung menoleh.
“Ada apa Wijaya?” tanyanya.
“Ini saya mau memberikan tugas saya yang kemarin pak!” Wijaya memberikan sebuah makalah kepada Rektor tersebut dan di terima pada rektor tersebut.
Mina langsung memandang wajah pria tersebut. Ia terlihat dingin sepertinya, pikir Mina. Namun wajahnya sangat tampan sekali, tambah Mina dalam pikirannya.
Setelah mengasih makalah itu. Wijaya hendak ingin keluar, namun rektor memanggilnya dan Wijaya menoleh kembali.
“Iya pak,” jawabnya.
“Tolong kamu antarkan Mina kepada bu Lala!” perintahnya dan Wijaya langsung menoleh Mina yang berdiri di depan meja rektor dengan intens.
Wijaya hanya mengangguk sebagai tanda setuju untuk mengatar Mina. Bu Lala adalah Kaprodi di kampus tersebut.
“Mina kamu ke bu Lala langsung yah! Dia akan mengantar dirimu!” Mina hanya mengangguk dengan senyum dan mengikuti Wijaya yang berjalan duluan.
Saat mereka berjalan di koridor yang sepi. Mina mencoba untuk mencairkan suasana yang beku. “Ehem, kita belum berkenalan tadi! Perkenalkan namaku Mina!” Mina memberikan tangannya untuk berjabat tangan sambil mengikuti langkah Wijaya. Namun Wijaya tak menanggapinya. Mina menurunkan tangannya dan tidak lagi bicara dengan Wijaya.
Flash back bersambung...
“Jangan bilang mama menyukai papanya Nusa?” tanya Kaya yang berdiri di belakang ibunya.
Mina berbalik badan dengan kedua tangan dilipatkan ke dalam dada. Dia mengangguk menyatakan pertanyaan Kaya adalah benar.
Seketika Kaya terkejut, ibunya menyukai pria dari anaknya yang ia cinta. Apakah selama ini mama tidak mencintai papa? Tanya Kaya dalam pikirannya.
“Bukan berarti mama tidak mencintai papa kamu.” Mina seakan tahu apa yang dipikirkan Kaya.
“Awalnya mama menyukai Wijaya sehingga mama membuat kesalahan terbesar.” Lirih Mina.
“Maksud mama?” tanya Kaya.
“Setelah mama masuk. Awalnya mama bertemu Wijaya. Lalu mama bertemu dengan Kasih kekasih papamu saat itu.”
“Kasih?”
“Pacar papa? Lalu apa hubungannya dengan papa Nusa?” lanjut Kaya.
Mina kembali membelakangi Kaya. “Kasih adalah kekasih papamu dari SMA. Mereka dulu adalah sahabatan. Papa, Wijaya, dan Kasih.”
“Lalu?”
“Kasih adalah ibu dari Nusa,” ucap Mina.
“Apa?” Kaya terkejut mendengarnya. Kaya maju mendekati Mina dan membalikkan tubuh ibunya untuk menghadapnya.
“Jelaskan semuanya kepadaku mah! Apa maksudnya Kasih adalah ibu Nusa dan bagaimana papa bisa putus dengan yang namanya Kasih? Lalu kenapa Wijaya bisa mendapatkan ibu Nusa, sedangkan ayah dan ibu Nusa berpacara?” Kaya bertanya bertubi-tubi.
Mina mulai memasang wajah sendu. Melihat wajah ibunya, Kaya berpikir tidak-tidak. Ia berpikir jangan-jangan ibunya yang memisahkan mereka.
“Jangan bilang mama yang memisahkan mereka?” tanya Kaya dan Mina mengangguk lemah.
Kaya mundur beberapa langkah dan tak percaya semua ini. “Kenapa mama melakukan ini?” tanya Kaya dengan nada marah. Bagaimana mungkin wanita yang ia selalu hormati berbuat serendah ini.
“Mama akan ceritakan semuanya. Semua bermula saat mama menyukai Wijaya.”
“Kalau mama menyukai Wijaya! Kenapa mama melakukan ini?” tanya Kaya dengan membentak.
“Mama akan menjelaskannya Kaya! Ini semua tidak kesengajaan!” ucap Mina dengan nada tinggi.
“Dengarkan mama dulu!” Mina mulai melembut.
Flash back berlanjut....