
~ Happy Reading ~
Selesai mencuci piring Kaya ingin menghampiri Nusa di tempat tidur. Namun, kakinya terhenti di depan meja TV. Ia melihat sebuah patung yang kemarin terbelah dua menjadi utuh kembali.
Kaya mengambil patung berbentuk ibu tersebut dan memperhatikannya dengan intens. Ia tak melihat garis retakan. Patung ini kembali utuh seperti semula.
“Apa Nusa yang memperbaikinya?” pikir Kaya.
“Tapi, perbaikannya bagus sekali. Di mana dia memperbaikinya?” tanyanya monolog.
Kaya mengembalikan patung tersebut ke tempatnya. Ada senyum terbit di wajahnya melihat patung itu sudah di perbaiki Nusa.
Tanpa sadar dirimu menyukai pemberianku Nus, batin Kaya. Ia pun menuju tempat tidur menghampiri Nusa.
“Nus, aku udah selesai. Buka pintunya cepatan!” ucap Kaya tapi Nusa tidak sama sekali bangun..
“Nusa!” teriak Kaya dan Nusa tetap tidak bangun.
Kaya malah heran dan membungkukkan dirinya mendekati wajah Nusa yang tertidur di tempat tidur. “Nus!” Kaya memencet pipi Nusa.
“Nusa!” teriak Kaya di depan muka Nusa tapi Nusa malah tidak bangun.
“Apa jangan-jangan dia itu metong lagi?” gumam Kaya mengerutkan dahinya.
“Waduh kalo dia metong, nanti aku yang disalahkan lagi!” Kaya panik.
“Nusa bangun!” Kaya menggoyangkan badan Nusa dan Nusa menarik tangan Kaya. Lalu mendekapkannya ke tubuhnya. “Berisik tau!” cibir Nusa.
“Lagian kamu dipanggil enggak nyahut. Aku udah selesai bukakan pintunya!” suruh Kaya mendongakkan kepalanya melihat wajah Nusa.
Nusa melepaskan tangannya dan Kaya berbaring tidur di samping Nusa dengan kaki menapak pada lantai. “Bentar lagi Kay!” ucap Nusa yang menutup matanya.
Apa dia lelah yah, batin Kaya.
Kaya hanya mengikuti ucapan Nusa dan menunggu dia membukakan pintunya. “Bagaimana tanganmu apakah masih sakit? Aku lupa bertanya dan menyuruhmu mencuci piring?” tanya Nusa dengan lembut.
Kaya melihat punggung tangannya dan ia baru sadar perbannya diganti. Kini tangannya tidak sakit lagi, bahkan tadi dia makan sudah bisa menggunakan tangannya.
Kenapa aku baru sadar yah tanganku sudah tidak terlalu sakit lagi dan tadi aku menggunakannya mencuci piring.
Nusa memperhatikan perbannya basah langsung bangun dan duduk. Ia memegang tangan Kaya. “Sory Kay, aku lupa tangan kamu,jadi perbannya basah.” Nusa membuka perbannya.
Kaya yang melihatnya terkejut dan merasa terharu dengan perhatian Nusa. Kaya bangun dan ikut duduk juga. “Tidak apa-apa Nus, tanganku sepertinya sudah tidak sakit lagi.” Kaya tersenyum memandang Nusa yang panik.
“Iya tapi nanti tangan kamu lukanya basah lagi dan tidak akan kering.” Nusa sudah melepas semua perbannya.
“Kamu tunggu dulu di sini!” Nusa beranjak mengambil kotak P3K di laci dan kembali duduk di samping Kaya.
Nusa mengambil lagi tangan Kaya dan mengoleskan salap agar lukanya cepat kering. Lalu membalutkan luka Kaya dengan perban. Kaya yang melihat perlakuan Nusa menjadi terharu, ia selalu tersenyum memandang Nusa.
Nusa harusnya kamu jangan berikan perhatianmu kepadaku, karena akan menambah kekecewaan terhadap diriku nanti.
“Sudah selesai,” ucap Nusa menaruh semua sisa kain perban di kotak P3K dan Kaya langsung tersadar.
“Makasih,” senyum Kaya. Mereka pun terdiam duduk melihat ke depan.
***
Di rumah Kaya.
Kaya masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu dan melangkahkan kakinya menuju tangga.
“Kaya,” panggil Mina berdiri di ruang tamu.
“Iya mah,” jawab Kaya menghentikan langkah. Mina menghampiri Kaya dan memeluknya.
“Kamu dari mana aja sayang?” tanya Mina melepaskan pelukannya.
“Aku dari rumah teman,” jawab Kaya tersenyum.
“Kenapa kamu tidak kabarin mama sih? Mama khawatir?”
“Maafkan aku mah, ponselku lowbate.”
“Maafkan papa yang membentakmu kemarin,” ucap Mina.
“Iya mah,” senyum Kaya.
“Kaya,” panggil Erlangga berdiri dari sofa ruang tamu.
“Papa mau bicara sama kamu!” sambung Erlangga.
“Mau bicara apa?” tanya Kaya. Erlangga menghampiri mereka.
“Papa ingin kamu bicara jujur. Apakah kamu menyukai Nusa?” tanya Erlangga. Kaya yang mendengarnya langsung terkejut dalam pikirannya kenapa ayahnya berbicara seperti itu.
“Mama sudah cerita semuanya. Nusa kemarin jenguk kamu dan dia bilang sama mama kalau dia suka sama kamu. Apakah kamu juga menyukainya?” sambung Erlangga.
“Aku tidak menyukai dia,” kelak Kaya dengan senyum.
“Baguslah, karena papa tidak mau kamu suka dengan dia. Lalu kenapa dia bisa berteman denganmu?”
“Karena aku dulu satu kerja dengannya,” jawab Kaya.
“Ohhh.., papa enggak mau kamu suka dengan anak Tama!” tegas Erlangga.
“Iya pah,” jawab Kaya. Sementara Mina hanya terdiam mendengarnya tapi dalam hatinya dia tahu anaknya sudah mencintai Nusa.
“Papa mau kamu keluar dari perusahaan Tama!”
“Aku tidak akan keluar sebelum tujuanku tercapai,” ucap Kaya. “Kalo papa bahas ini lebih baik aku keluar dari rumah ini!” ancam Kaya.
“Kaya!” bentak Erlangga.
Mina langsung menarik tangan Erlangga untuk tidak emosi dengannya. Kaya yang tidak suka dibentak langsung melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
“Kay, papa belum selesai berbicara!” teriak Erlangga.
“Erlangga, kita sudah bahas ini. Biarkan Kaya melakukan yang dia mau. Kita akan bicara dengannya perlahan, jangan sampai emosi.” Ucap Mina.
“Tapi aku tidak mau nanti dia kenapa-napa karena ini,” jelas Erlangga.
“Tenanglah dia itu anak yang kuat, kita ikuti saja permainan Kaya. Anggap saja kita tidak tahu soal ini.” Mina mencoba menenangkan Erlangga.
“Kenapa dia harus membalasnya?” dengan sendu.
“Karena dia tahu betapa menderitanya kita akan perbuatan Tama,” Mina menatap dengan tajam kearah lain. “Biarkan saja dia melakukannya. Kita tidak usah bahas lagi!” ucap Mina.
“Kenapa kau membelanya?” tanya Erlangga bingung.
“Aku tidak membelanya. Tapi kita tidak bisa memaksakan Kaya, karena dia sudah terlalu sakit hati akan keluarga Tama. Namun yang aku takutkan nanti jika Kaya menyukai anaknya.”
“Hanya itu yang ku takutkan,” lirih Mina.
“Tenanglah dia tadi sudah bilang tidak menyukai Nusa,” Erlangga merangkul pundak Mina.
“Dan yang aku takutkan jika Nusa membalasnya kepada Kaya,” Mina menempelkan kepalanya ke pundak suaminya.
“Jika itu terjadi kita harus mencegahnya,” ucap Erlangga.
***
Di kamar.
Kaya berbaring di tempat tidur membayangkan ucapan Nusa di apartemennya.
Flash back...
Mereka terdiam dalam keheningan tidak berbicara sama sekali dengan pandangan ke depan. Akhirnya Kaya memulai perbincangan duluan.
“Nusa, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Kaya.
“Boleh,” jawab Nusa.
“Jika orang yang kau benci mencintaimu. Apakah kamu akan melupakan semua dan menjalin cinta dengannya?” tanyanya.
“Apakah orang itu kita?” tanya Nusa balik.
Kaya langsung menoleh ke arah Nusa dan pandangan mereka bertemu. “Tidak, aku hanya ingin bertanya. Jika kau tidak mau jawab juga tidak apa-apa?!” ucap Kaya menoleh kembali ke depan.
“Baiklah,” Nusa memandang kembali ke depan.
“Aku akan jawab pertanyaanmu. Jika orang ku benci mencintaiku mungkin aku akan melupakannya dan menjalin cinta dengannya. Tapi itu tergantung dari masalah kebenciannya.” Jawab Nusa dengan cool. Kaya hanya tersenyum dan tidak bicara lagi.
“Sekarang aku bertanya padamu. Apakah kau mencintaiku?” tanya Nusa menoleh ke arah Kaya.
Kaya langsung menoleh ke arahnya dan pandangan mereka bertemu lagi. “Entahlah,” ucap Kaya.
“Apa maksudnya entahlah?” tanya Nusa semakin mendekatkan wajahnya.
“Entahlah aku tidak tahu sekarang.”
Nusa semakin mendekatkan wajahnya dengan tersenyum dan Kaya langsung menghadap ke depan. Nusa hanya tersenyum dan menghadap ke depan lagi.
“Tapi yang jelas aku tidak mencintaimu,” ucap Kaya.
Nusa tersenyum miring. Aku akan buat kau mengakuinya dan menyesal Kaya.
“Baiklah, nona Kaya.” Ucap Nusa dengan cool.
Flash back berakhir....
~ Bersambung ~