My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 124 ~ Jangan Cemburu!



Kamar Hotel Kaya.


          Kaya masuk ke dalam kamar membanting pintunya dengan keras. Ia benci harus di posisi ini, mencintai pria yang seharusnya tak boleh ia cintai. Kaya menenggelamkan wajahnya di kasur.


          Sepintas Kaya mengingat kejadian di mana wanita itu membelai pipi Nusa dengan lembut. Ia pikir wanita itu bukan Jessica ternyata Jessica dengan Nusa.


          Satu tetes air mata keluar dari pelupuknya. Ia tak mungkin harus begini terus, dirinya tak sanggup menahan kecemburuan dan emosinya. Hatinya terlalu sakit melihat mereka selalu berada di depannya. Walau Nusa selalu bilang mencintai dirinya bukan Jessica. Tapi tetap saja Kaya merasa cemburu.


          Kaya membalikkan dirinya menghadap atap langit-langit. Nus, aku sangat mencintaimu. Aku tak sanggup melihatmu berduaan dengan wanita lain.


****


Di luar Restoran..,


          “Jess, sebaiknya kita pulang karena ini udah jam 9 malam!” ajak Nusa yang duduk berhadapan dengan Jessica.


          Nusa bosan terlalu lama bersama Jessica di tempat yang romantis ini. Ia tak suka dengan suasana romantis yang dibuat oleh Jessica padanya. Namun karena Nusa menghargai kerja keras Jessica menyiapkan semua ini, ia terpaksa mengikuti kemauan Jessica.


          “Iya sayang,” angguk Jessica dengan senyum.


          Mereka pun beranjak dari kursi dan Jessica menyuruh pemain biola itu pergi. Mereka berjalan ke hotel yang tak jauh dari restoran tersebut.


****


          Nusa berjalan tak menuju kamarnya melainkan menuju kamar Kaya. Baru kemarin malam ia bermesraan dengan Kaya dan sekarang Nusa merindukannya. Ia mengetuk pintu kamar Kaya.


          Kaya yang mendengar suara ketukan pintu bangkit dari kasurnya dan membenarkan dirinya yang galau akibat cemburu. Suara ketukan pintu terdengar lagi.


          “Ia bentar,” teriak Kaya berdiri di samping kasur sambil merapikan tempat tidurnya. Kaya berjalan membuka pintunya. Melihat Nusa yang berdiri Kaya langsung menutup kembali pintunya.


          Nusa langsung mengganjal pintu itu dengan kakinya dan Kaya tak sengaja menjempit kaki Nusa.


          “Aw!” Nusa berteriak kesakitan. Kaya langsung panik dan membuka pintunya kembali.


          “Nus, maaf aku enggak sengaja.” Ucap Kaya melihat Nusa memegang kakinya.


          “Ayuk masuk dulu!” ajak Kaya menopang Nusa menuju kasur. Nusa duduk di kasur sambil berpura-pura merasakan sakit. Ia sengaja berbohong untuk mendapat perhatian dari Kaya.


          Kaya bersimpuh di lantai menghadap Nusa yang duduk di kasur dengan kaki yang menapak di lantai. Kaya langsung membuka sepatu dan kaos kaki Nusa. Ia menggulung celana Nusa sampai betis.


          Nusa yang melihatnya hanya bisa tersenyum senang. “Mana yang sakit?” tanya Kaya yang sudah memegang kaki kanan Nusa.


          “Enggak usah Kay, nanti juga sembuh sendiri!” ucap Nusa dengan senyum.


          “Enggak, nanti bisa memar.” Ucap Kaya mendongak melihat wajah Nusa.


          “Berdirilah!” titah Nusa dan Kaya bingung kenapa dirinya harus berdiri.


          “Udah biarkan saja Kay! Berdirilah ku mohon!” pinta Nusa dan Kaya berdiri.


          Nusa langsung merengkuh pinggang Kaya dan menjatuhkan tubuh Kaya dengan menindih tubuhnya sendiri di atas kasur. “Nus, lepaskan!” Kaya mencoba melepaskan tangan Nusa yang memeluk pinggangnya dengan erat, tapi Nusa terlalu kuat menahannya.


          “Kay, biarkan seperti ini!” pinta Nusa memandang wajah Kaya di depan wajahnya.


          “Aku merindukanmu!” ucapnya.


          Kaya yang menindih Nusa dapat melihat wajah Nusa yang teduh merindukannya, tapi ia kesal dengan kejadian tadi. Merindukan? Tapi bermesraan dengannya, kesal Kaya dalam hati membuang mukanya. Ia tak mau terlalu lama memandang Nusa.


          Nusa yang melihat wajah Kaya seperti kesal bingung. Ia menggeser dagu Kaya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih memeluk pinggang Kaya.


          “Ada apa?” tanya Nusa lembut. Kaya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak mau Nusa tahu dirinya cemburu.


          Nusa menggeser rambut Kaya ke kuping. “Aku tahu dirimu! Wajahmu seperti kesal?! Apakah aku berbuat salah padamu?” tanyanya lembut.


          Melihat sikap lembut Nusa, Kaya tidak enak hati. Ia menggelengkan kepalanya dengan menatap Nusa.


          Kenapa aku harus bersikap dingin padanya? Padahal aku bukan siapa-siapanya dan aku juga tak pernah membalas ucapan cintanya, batin Kaya.


          Nusa memeluk Kaya dengan erat, lalu mengecup pelan bibirnya. “Jangan cemburu! Aku tahu kamu cemburu! Maafkan aku yang pergi seharian bersama Jessica.” Ucap Nusa lembut.


          Kaya langsung menatapnya tak percaya. Kenapa Nusa bisa tahu dirinya cemburu.


          “Siapa bilang aku cemburu?!” kelak Kaya.


          “Lalu kalau bukan cemburu kamu kenapa?”


          “Hemm, aku sedang PMS aja.” Elak Kaya. Nusa hanya tersenyum, ia tahu Kaya cemburu tapi Kaya mengelaknya.


          “Baiklah,”


          “Kamu pikir kamu bisa bohongin diriku Kay?” Lanjut Nusa tersenyum menyeringai.


          “Aku tahu jadwal PMS mu!” bisik Nusa dan membuat Kaya melotot tak percaya. Kaya menahan malunya yang ketahuan mengelak.


          “Udah enggak usah begitu dong ekspresinya!” Nusa mencubit dagu Kaya.


          “Aku tidur di sini yah!” pinta Nusa.


          “Tidak, sebaiknya kau ke kamarmu!” usir Kaya.


          Kaya mencoba bergerak untuk terlepas dari pelukan Nusa. “Jangan bergerak!” pinta Nusa.


          Kaya bingung dengan alis terangkat satu. “Jika kau bergerak, aku tidak bisa menahannya!” ucapan Nusa membuat Kaya melotot.


          “Dasar mesum!”


          Nusa hanya tersenyum mendengarnya dengan mengeratkan pelukannya. “Nus, balik sana ke kamar!” usir Kaya mencoba melepaskan tangan Nusa dari pinggangnya.


          “Kay jangan bergerak! Kalau kamu bergerak aku bisa memakanmu hari ini!”


          Kaya langsung berhenti dan tidak bergerak lagi. Ucapan Nusa terdengar seperti ancaman baginya karena tak ada ekspresi yang ditunjukkan di wajahnya.


          Nusa tersenyum simpul melihat Kaya berhenti. “Kay, izinkan aku tidur di sini!” pinta Nusa dengan lembut dan Kaya terpaksa mengangguk.


          Nusa tersenyum senang dan menambah erat pelukannya. Kaya yang susah bernafas memukul dada Nusa menandakan dirinya sesak. “Maaf Kay, aku terlalu senang.”


          Aku juga senang Nus, senyum Kaya dalam hati.


          Nusa meregangkan pelukannya dan Kaya bangkit dari tindihannya untuk berdiri di samping tempat tidur dengan menghadap Nusa yang masih berbaring.


          “Tapi kau harus cuci muka dulu!” titah Kaya dan Nusa mengiyakan. Ia bangkit dari baringannya dan pergi menuju kamar mandi.


          Kaya kembali berbaring di sisi sebelah kasur. Ia menutup matanya lebih dulu, hatinya tidak karuan sekarang. Rasa cemburu, rasa suka, cinta dan semuanya berada dalam hatinya sekarang.


          Nusa kembali dengan muka yang sudah segar. Ia menyelimuti Kaya sambil mengecup keningnya. Lalu Nusa berbaring di sebelah sisi Kaya dan menyelimuti dirinya. Nusa menutup matanya untuk tidur.


          Tak lama kemudian Kaya kembali membuka matanya, ia belum benar-benar terlelap. Kaya tidur menyamping ke arah Nusa yang tidur menghadap atap langit-langit.


          Kaya mendekatkan dirinya ke sebelah Nusa dan mencondongkan badannya untuk melihat wajah Nusa yang tertidur. Perlahan-lahan Kaya mendekatkan wajahnya ke wajah Nusa.


          Kaya mengecup bibir Nusa dengan cepat dan ingin kembali berbaring, namun Nusa lebih dulu menahan Kaya dengan tangan kiri memegang lengan kanan Kaya. Sementara tangan kanan Nusa diletakkan di atas kening.


          Kaya kembali menoleh Nusa dan kaget Nusa belum tidur. “Jika kamu menginginkannya bilang Kay! Jangan mencurinya!” ucap Nusa.


          “A-ku,” ucap Kaya gugup.


          Nusa duduk menghadap Kaya. Dengan cepat ia memagut bibir Kaya dengan tangan kanannya memegang kepala belakang Kaya. Nusa memperdalam ciumannya.


          Kaya tak menolaknya. Ia selalu merindukan semua sentuhan Nusa. Bibirnya menjadi candu bagi dirinya sekarang. Setelah lama menikmati, Nusa melepaskannya dengan menempelkan keningnya ke kening Kaya. Mereka terlihat terengah-engah.


          Nusa tersenyum sambil mengatur nafasnya. “Lihat! Kamu tidak perlu mencurinya, hanya cukup melakukannya saat diriku sadar.”


          Kaya hanya mengangguk tersenyum. Mereka kembali berbaring. Kaya menempelkan kepalanya di dada bidang Nusa.


          “Tidurlah!” titah Nusa sambil mengelus rambut Kaya.


          Kaya mengangguk dengan mengeratkan pelukannya dan mereka tertidur bersama.


~ Bersambung ~