My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 111 ~ Wild



~ Happy Reading ~


          Nusa yang geram menggendong Kaya ke atas bahunya dan tas Kaya terjatuh ke lantai. Kaya memberontak dengan memukul pundak Nusa, sambil meminta tolong untuk diturunkan. Tapi Nusa tidak ingin mendengarnya dia terus membawa Kaya menaiki tangga menuju kamar atas.


          Nusa menurunkan Kaya di depan lemari pakainnya dan mengunci Kaya. “Nusa plis, aku minta maaf! Aku tidak sengaja mengatakannya!” Pinta Kaya dengan nada memohon dan memberikan tatapan memohon.


          Nusa tak mengidahkan permohonan Kaya, dirinya memegang kedua tangan Kaya yang memohon dan menguncinya di atas kepala Kaya.


          “Kau bilang aku bajingan bukan?! Kau akan tahu yang namanya bajingan itu seperti apa?!” Ucapnya yang membuat Kaya bergidik ngeri dan takut. Tatapan Nusa seakan mengisyaratkan hukuman yang berat bagi dirinya.


          “Nus.” Baru memanggil namanya, mulut Kaya langsung disumpal oleh mulut Nusa dan membuat Kaya tidak siap. Ciuman ini seperti paksaan bagi Kaya.


          Saat ini Nusa benar-benar gelap mata. Dirinya seakan seperti singa jantan yang menerkam mangsanya. Nusa terus mencoba membuat Kaya membuka mulutnya, agar ia leluasa memainkannya. Tapi Kaya mencoba


mempertahankan untuk tidak membuka mulutnya. Akibatnya Nusa menggigit bibir bawah Kaya dan Kaya pun mengerang dalam hati. Ia terpaksa membuka mulutnya dan memberikan akses kepada Nusa.


          Nusa melepas tangan Kaya dan memegang kepala belakang Kaya untuk memperdalam ciumannya. Kaya yang tidak tahan memberontak dengan memukul dada Nusa, tapi percuma saja Nusa terlalu kuat untuk dilawan olehnya.


          Kaya yang tidak tahan karena sebentar lagi kehabisan nafas, akhirnya menangis. Yah, hanya ini saja yang bisa Kaya lakukan menangisi dirinya yang bodoh mengucapkan kata-kata kasar padanya.


          Nusa terus melahap mulut Kaya dengan rakus tanpa memberinya jeda untuk bernafas. Kaya yang sudah mulai sesak nafas hanya bisa pasrah sambil mengeluarkan air mata.


          Akhirnya Nusa melepaskan Kaya dan menatapnya dengan tatapan benci. Kaya yang melihatnya hanya bisa menangis, tapi Nusa tidak memperdulikannya. Bahkan dia mendekapkan Kaya dan menggeser rambut Kaya.


          “Mari kita lanjutkan sayang!” bisik Nusa. Mendengar hal itu Kaya merasa takut dan berpikir apa yang akan dilakukan Nusa selanjutnya.


          Nusa memegang kepala Kaya dengan kedua tangannya, tanpa memperdulikan kesedihan Kaya, Nusa langsung menyium leher Kaya.


          Kaya langsung kaget dan menghentikan sejenak tangisannya. “Lepaskan aku Nusa!” teriaknya. Nusa menghiraukannya, malah dia menggigit leher Kaya.


          “Aw…,” teriak Kaya kesakitan. Nusa memberi tanda merah kepada leher Kaya dan dia beralih ke bagian leher satunya lagi untuk memberikan tanda merah yang dalam kepada Kaya.


          Nusa semakin buas layaknya aligator, dia tidak memperdulikan Kaya yang kesakitan akan gigitannya. Leher Kaya yang putih kini sudah banyak noda merah, bahkan ada yang hampir berdarah akan perbuatan Nusa.


          Sambil memberi tanda merah, tangan Nusa mencoba membuka kancing kemeja Kaya yang paling atas. Melihat itu Kaya tidak tinggal diam, dia langsung memegang tangan Nusa sambil merasa kesakitan dan menangis.


          Nusa langsung menghempaskan tangan Kaya dan membuka kemeja Kaya. “Nus…, plis jangan Nus!” mohon Kaya dengan isakan tangis yang mendalam.


          Nusa tidak memperdulikannya dan terus membuka kancing Kaya. “Nusa…, aku mohon, maafkan aku!” Kaya terus memohon sambil menangis. Nusa menghentikannya dan melihat Kaya yang menangis, tapi dia malah beralih ******* kembali mulut Kaya.


          “Hmmmphhhhhh,” Kaya yang ingin berbicara sudah telat. Nusa melanjutkan aksinya, kini tiga kancing sudah terbuka dan dia mencoba mengeluarkan kemeja Kaya dari celananya.


          Nusa benar-benar sudah seperti bajingan sekarang dan membuat Kaya takut sambil menangis dengan dalam. Padahal air mata selalu jatuh ke pipi Nusa, tapi Nusa tidak memberikannya ampun.


          Tangan Nusa menekan tubuh Kaya ke pintu lemari dan beralih memasuki kemeja Kaya sambil ******* mulut Kaya tanpa ampun. Kaya yang menyadari itu selalu berontak tapi gagal. Matanya mulai mengerjap, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tubuhnya mendesir merasakan ketakutan akan prilaku Nusa saat ini.


          Hanya tangisan saja yang bisa Kaya lakukan. Jika engkau menyentuhnya aku akan menghabisimu Nusa, ancam Kaya dalam hati dengan sedih.


          Tanpa sadar, Nusa meremas bagian sensitif Kaya yang dibalik kemeja tersebut, walau di dalam tersebut masih ada tanktop yang dipakai Kaya. Tapi, Nusa sudah lancang meremasnya.


          Nusa tersadar dan langsung menarik tangannya. Dirinya yang kalut akan emosi dan nafsu merasa sadar seratus persen. Ia benar-benar melakukan Kaya layaknya seperti pelacur dan itu yang membuat dirinya diam membeku seakan merasa sangat menyesal.


          “Nusa!” teriak Kaya ketika Nusa menarik tangannya.


          Kaya langsung menangis histeris melihat dirinya sudah di perlakukan seperti binatang oleh Nusa. Kaya tidak pernah merasa sesedih ini setelah semua yang dilakukan Nusa dulu. Tapi, sekarang Kaya merasa sudah sangat kotor sekali.


          “Kamu jahat Nusa! Kamu sudah lancang!” Kaya memukul dada Nusa dengan isakan tangis yang sangat kuat, dan perlahan dia jatuh tersungkur ke lantai sambil menangis.


          Nusa hanya terdiam dan dia tidak sengaja akan melakukan hal bodoh seperti tadi. Dirinya merasa menyesal sekali, tapi penyesalannya sudah terlambat.


          “Kenapa kamu melakukannya Nusa? Apakah aku ini seperti pelacur bagimu?” teriak Kaya sambil menangis.


          “Kau memperlakukan ku layaknya pelacur yang harus menuruti kemaun majikannya dan tidak hanya itu saja, kau memperlakukan aku seperti binatang yang tidak bisa diberi ampun. Kenapa Nusa?”


          “Kenapa?” bentak Kaya dengan keras sambil menangis.


          “Kenapa?” Kaya memegang kaki Nusa dengan tangisan yang tak henti. Kecewa yah pasti Kaya sudah kecewa dengan semua ini.


          Nusa yang terdiam merasa sangat menyesal, sebuah bulir di mata Nusa jatuh ke rambut Kaya. Nusa berjongkok mensejajarkan Kaya. Ia mengusap air mata Kaya dengan kedua tangannya.


          “Maafkan aku Kaya,” ucapnya dengan sendu.


          “Maafkan aku.” Perlahan Nusa mengeluarkan air matanya.


          Nusa yang melihat kesedihan Kaya merutuki dirinya sendiri kenapa dia bisa sebejat ini. Nusa memeluk Kaya dengan erat dan mengelus rambut Kaya sambil menangisi dirinya yang bodoh melakukan semua ini.


          “Maafkan aku.”


          Kaya yang masih tidak percaya akan perlakuan Nusa yang kasar menangis di dalam pelukan Nusa. Dia tidak sadar dipeluk oleh Nusa, karena dirinya masih merasa sakit hati dan tidak percaya akan perlakuan Nusa.


          “Maaf..,”


          Hanya itu yang bisa diucapkan Nusa, tidak ada kata lain. Sebenarnya Nusa  merasa sedih dengan perlakuaanya, bahkan di dalam hatinya dia terus merutuki dirinya yang bodoh.


          Kaya tersadar dipeluk oleh Nusa dan langsung menghentikan tangisannya sejenak. Tubuh Nusa yang kekar di dorong oleh Kaya.


          “Tidak usah perdulikan aku! Mana kuncinya?” bentak Kaya. Nusa pun memberikan kuncinya dengan tatapan sendu dan menyesal.


          “Maafkan aku Kay,”


          “Maaf katamu?!” tatapan Kaya berubah menjadi benci.


          “Ini untukmu yang menyiumku secara paksa!” Kaya menampar pipi Nusa dengan keras. Tapi Nusa tidak kaget ataupun kesakitan, dia seperti sengaja membiarkan Kaya melampiaskan kekesalannya.


          “Dan ini untukmu yang membuat leherku ternodai!” Kaya menampar pipi Nusa yang lain.


          “Dan ini untuk dirimu yang telah melakukan pelecehan kepadaku!” Kaya menampar pipi Nusa lagi dengan keras.


          “Terus Kay, tampar aku! Aku memang bajingan!” Ucapnya sedih sambil memberikan pipinya.


          Kaya ingin menampar lagi, tapi terhenti melihat Nusa merasa sedih dengan penyesalannya. Di dalam hati Kaya tidak tega, tapi dia sudah bersikap kurang ajar padanya.


          Andai saja kamu meminta Nusa, aku akan lebih rela dari pada kamu memperlakukan ku seperti binatang tadi, batin Kaya.


          Aku memang sangat mencintaimu Nusa, tapi aku kecewa dengan perlakuanmu saat ini, batin Kaya.


          “Kay terus tampar aku?” Nusa memberikan pipinya. “Tampar aku Kay? Aku memang bajingan! Ayok tampar aku?”


          “Ini tamparan terakhir untuk kamu Nusa, karena kamu lancang menyentuh dadaku!”


          “AKU MEMBENCIMU NUSA!” teriak Kaya.


          “AKU MEMBENCIMU!”


          Kaya beranjak dari lantai dan pergi meninggalkan Nusa yang sedih. Ia mengambil tas dan keluar dari apartemen Nusa.


          “Maafkan aku Kaya, aku memang pantas dibenci!” lirihnya menangis.


~ Bersambung ~