
~ Happy Reading ~
Dalam perjalanan Adrian dan Kaya mengobrol santai. Adrian membawa mobil dengan atap terbuka. Warna hitam pekat membuat mobil itu sangat keren.
“Kay,” panggil Adrian melirik Kaya.
“Iya…,” jawab Kaya menoleh Adrian dengan rambut yang berantakan akibat hembuskan angin.
“Kamu lapar enggak?”
“Kenapa emangnya? Kamu mau traktir aku Ad?” canda Kaya.
“Kayaknya yang harus mentraktir itu kamu deh Kay!” tunjuk Adrian dengan canda.
“Kenapa aku?” tanya Kaya dengan heran.
“Karena kamu belum mentraktir aku atas pekerjaan barumu!”
“Kamu benar Ad. Ayuk kita makan!” ajak Kaya dengan senyum sambil merapikan rambutnya yang berantakan ke belakang kuping.
“Okey, aku tahu restoran enak di sini!” ucap Adrian dengan senyum dan Kaya hanya mengangguk setuju. Adrian tersenyum melihat Kaya merapikan rambutnya yang berantakan akibat angin.
Kamu sangat cantik sekali Kay, batin Adrian dengan senyum. Ia pun memencet tombol untuk menutupi mobilnya. Saat atap mobil tertutup Kaya bertanya, “kenapa ditutup Ad?”
“Biar rambut kamu enggak berantakan dan kamu enggak perlu benerin rambut melulu Kay. Apalagi kamu kan masuk angin, jadi aku tutup. Maaf yah, aku telat nutupnya.” Ucapan Adrian membuat Kaya tersenyum karena Adrian perhatian padanya. Padahal dirinya tidak masuk angin.
“Iya enggak papa Ad,” ucap Kaya dengan senyum.
****
Di Hotel Tama.
Nusa, Jessica dan Mila sudah sampai di hotel. Mereka turun dari mobil dan takjub dengan pandangan di depan hotel tersebut. Pantai yang sangat indah dengan angin pagi yang berhembus membuat suasana semakin indah.
Seorang pria yang berada di depan hotel menghampiri Nusa, terlihat Nusa sedang berbincang dengan pria tersebut. Sementara Mila dan Jessica selalu melihat ke arah pantai. Wajah mereka terlihat sangat senang dan ingin sekali langsung ke sana.
Nusa pun selesai berbicara dengan pria tersebut dan pria tersebut memanggil seseorang dengan HT-nya untuk membawakan koper Nusa, Jessica dan Mila ke masing-masing kamarnya. Semua sudah di rencanakan oleh Nusa dari perjalanan hingga kamar pun diatur oleh Nusa.
“Nus ke sana yuk!” ajak Jessica menunjuk pantai sambil menarik lengan Nusa.
“Enggak Jes, aku lelah!” tolak Nusa. “Mending kamu sama Mila aja!” usul Nusa dan Jessica langsung melirik Mila yang di sampingnya.
Jessica mendengus ke arah Mila. Ogah.., aku sama dia, batin Jessica.
“Tapi aku maunya sama kamu!” bujuk Jessica dengan manja.
Hadeh, ribet banget sih nih cewek, kesal Nusa dalam hati.
“Jessica sayang aku harus beristirahat dulu! Soalnya, nanti siang aku ada presentasi bersama orang lain.” Nusa mencoba bersikap lembut, sedangkan Mila hanya diam saja.
“Males banget sama dia!” cibir Mila pelan.
“Kamu bilang apa Mil?” tanya Jessica yang emosi.
“Kagak ada bu, perasaan ibu aja kali kalau saya ngomong.” Ucap Mila malas.
“Mil, tolong temenin Jessica yah!” titah Nusa.
“Iya pak,” senyum Mila berpura-pura, padahal dalam hati kesal. Baru tadi mereka bertengkar sekarang dipasangkan kembali.
Jessica pasrah dengan muka yang cemberut. Sejujurnya dia tak suka dengan Mila. Namun apa boleh buat, dirinya ingin sekali bermain ke pantai.
Mila mencibir pelan sambil mengikuti Jessica dari belakang. Ia malas bersama nona manja yang satu ini. Dirinya lebih baik menemani Kaya dari padanya. Namun ini adalah perintah dari Nusa, jadi Mila harus mengikutinya.
Mereka berjalan menuju pinggir pantai sambil menikmati udara yang sejuk. Pantai belum terlalu ramai dan juga tidak sepi. Jessica mulai melepaskan sepatunya. Ia menyuruh Mila untuk melepaskannya dan Mila mengikutinya.
Matahari yang belum panas membuat mereka tidak takut melepaskan sepatunya dan berjalan di pinggir pantai dengan desiran ombak yang mengenai kaki mereka.
Sejenak mereka melupakan masalah tadi pagi di bandara dan menikmati indahnya pantai dengan perasaan bahagia.
Contoh pantainya:
Nusa melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel. Ia disambut dengan hormat oleh pegawai di sana. Semua karyawan di sana memberikan hormat dengan senyum dan menundukkan kepalanya.
Semua karyawan sudah mengenal Nusa dari kecil karena Nusa sering ke Bali sejak kecil. Namun, ketika ibu Nusa tiada dirinya jarang ke sini dan lebih memilih meninggalkan rumah karena banyak kenangan buruk.
Nusa membalas mereka dengan senyum dan menyuruh mereka untuk tidak menunduk. Nusa buka orang yang gila hormat. Dia adalah orang yang sangat ramah dan tak membedakan siapapun, berbeda dengan ayahnya yang angkuh.
Nusa menurunkan sifat ibunya yang baik. Namun tak sedikit juga dia menurunkan sifat ayahnya. Nusa akan kejam pada orang yang mengganggunya dan ia lebih bersifat dominan dalam cinta. Nusa tak ingin mengalah dari siapapun saat sudah menargetkan sesuatu. Dirinya akan selalu bersamanya walaupun ia sengaja ataupun tidak sengaja menyakitinya.
Nusa berjalan menuju ruang tamu hotel. Ia berpikir menunggu wanitanya yang sedang bersama dengan Adrian dan duduk di sofa tersebut. Nusa memanggilkan pelayan pria untuk menghadapnya dan pelayan tersebut menghampirinya.
“Iya pak?” tanya pelayan pria tersebut dengan sedikit menunduk.
“Panggilkan saya manajer hotel di sini!” titah Nusa yang diangguki oleh pelayan pria tersebut.
Hotel Tama merupakan hotel yang di bangun oleh ayah Nusa semenjak menikah dengan ibu Nusa. Ia merupakan pendiri hotel tersebut, namun semua aset adalah milik ibu Nusa. Jadi Wijaya hanya berjasa dalam membangun semuanya.
Wijaya terkenal disiplin dan kritis dalam berbisnis. Semua tertata rapi ketika ia menjabat. Banyak yang mengira Wijaya merupakan pemilik perusahaan Tama. Tapi tak ada yang tahu, jika semua aset itu adalah milik ibunya Nusa yang bernama Kasih.
Kasih merupakan anak tunggal dari kakek Nusa yang bernama Marco Geraldo Ningrat. Marco memberikan semua asetnya kepada Kasih dan semenjak Kasih menikah, Marco selalu membebaskan Wijaya untuk mengambil alih mengurus semuanya. Karena Wijaya berjasa dalam semua aspek, Marco mengubah perusahaannya yang tadinya bernama Kartex menjadi Tama.
Perusahaan peninggalan kakek Nusa yang bernama Marco banyak sekali. Perusahaan Tama hanya satu dari semua perusahaan yang dimiliki Marco. Tapi, perusahaan Tamalah yang paling besar dari semua perusahaan punya kakek Nusa.
Semenjak Marco tahu Kasih mengalami depresi dan membiarkan Nusa selalu kesepian membuat hatinya sakit. Marco pun berencana mengalihkan semua perusahaannya atas nama Nusa dan itu diketahui Wijaya.
Ketika anaknya yang bernama Kasih meninggal karena bunuh diri. Marco merasa sakit di dadanya. Bagaimana tidak mungkin, anak satu-satunya harus tiada dengan cara mengenaskan dan membuat semua orang terpukul termasuk Nusa.
Marco selalu memberikan kehangatan bagi Nusa. Dirinya tak percaya kepada siapapun termasuk Wijaya saat itu dan membiarkan Nusa meninggalkan rumah itu. Nusa selalu tinggal dengan kakeknya dan tak pernah kembali kepada Wijaya.
Namun tak lama kemudian hanya beda dua tahun, kakek Nusa meninggal dan membuat Nusa tambah terpukul. Ia merasa sangat kesepian sekali. Dirinya tak menyangka semua terjadi pada dirinya.
Ayahnya yang sering mabuk dan ibunya yang selalu depresi membuat Nusa merasa sendiri walaupun tinggal bersama mereka. Hanya kakeknya saja yang selalu ada untuk dirinya. Namun semua harus pupus, Nusa harus mengalami kesepian lagi dan ia memilih untuk tinggal di apartemen dibandingkan dengan Wijaya.
Nusa berpikir semua ini karena Wijaya yang membuat ibunya menderita dan depresi hingga bunuh diri. Namun ketika ia mengetahui semuanya, Nusa kembali dan mencoba merebut kembali apa yang menjadi punyanya atau kakeknya. Nusa tak mau perusahaan kakeknya diambil oleh siapapun termasuk Kaya.
Hotel Tama adalah hotel bintang lima yang ternama di negara tersebut. Hotel yang menampilkan suasana yang indah diluar maupun di dalam, sangat elegan dan menarik semua pengunjung.
Melihat hotel tersebut, Nusa terkadang kagum dengan ayahnya. Semua tampilan di dalam hotel tersebut sangat elegan dan menampilkan kesan yang eksentrik. Membuat semua pengunjung kagum melihatnya.
Manager hotel tersebut pun datang dan menghampiri Nusa yang duduk dengan cool. Ia pun ikut duduk sambil berjabat tangan dan mereka berbincang-bincang di sana.
~ Bersambung ~