My Target Is CEO

My Target Is CEO
Bab 125 ~ Ulang Tahun Nusa



~ Happy Reading ~


          Kaya berbaring tengkurap di kasurnya. Ia sedang memikirkan barang apa yang akan dibelikan olehnya untuk Nusa. Saat berjalan bersama Mila kemarin, Kaya tak sempat membelinya karena kecemburuannya.


          Hari ini juga hari di mana mereka terakhir di Bali. Hari ini adalah hari untuk membeli oleh-oleh dan juga merayakan ulang tahun Nusa.


          Kaya terlihat bingung memikirkan kado untuk Nusa.


          “Apa yang harus ku berikan padanya?” gumamnya menumpu dagu dengan kedua tangan di kasur.


Drt..., drt...,


          Suara ponsel bergetar di kasurnya dan ia mengambilnya dengan posisi duduk di kasur.


          “Adrian,” gumam Kaya dan mengangkatnya.


          “Halo,”


          “Halo Kay,”


          “Iya Adrian,”


          “Kau ada waktu malam ini?” tanya Adrian.


          “Maaf Ad, malam ini aku tidak bisa. Soalnya ada acara ultah Nusa, bukannya kamu tahu?”


          “Tidak Kay,”


          Adrian tidak tahu. Apa mungkin Nusa tidak mengundangnya atau Nusa tidak tahu, atau Mila mau ngasih suprise ke Nusa? Tanya Kaya dalam hati.


          “Maaf Ad, kupikir kamu tahu?!”


          “Tidak apa Kay, mungkin Nusa tidak mau mengundangku!”


          “Bukan begitu Ad, kayaknya Nusa tidak tahu, soalnya ini rencana Mila.”


          “Oh, mungkin begitu kali Kay. Emang Jam berapa Kay acaranya?” tanya Adrian di telepon.


          “Jam tujuh malam. Nanti kamu hadir saja Adrian!”


          “Aku tidak enak, soalnya aku tidak di undang.”


          “Tidak apa-apa, ini juga kejutan buat Nusa. Mila sengaja memberi kejutan kepada Nusa dan mengajak aku sama Jessica. Jadi aku ingin kau datang juga!”


          “Baiklah, kalau begitu nanti siang temanin aku beli kado Nusa yah Kay!”


          Kaya berpikir sejenak, dirinya hendak ingin beli kado juga, tapi dia tidak mau orang lain tahu kado apa yang akan dibelikan kepada Nusa. “Hem, baiklah.” Ucap Kaya yang tidak enak.


          “Baiklah, kalau begitu sampai nanti!”


          “Iya,” Kaya menutup panggilannya.


          “Apakah nanti sore saja aku belinya yah!” pikir Kaya. “Yasudahlah.., nanti agak sorean aja belinya setelah menemani Adrian.” Gumamnya beranjak dari kasur menuju kamar mandi untuk siap-siap menemani Adrian.


****


          Kaya sekarang berjalan bersama Adrian di Mall di Bali. Mereka berkeliling mencari hadiah yang cocok untuk Nusa. Adrian sengaja menyuruh Kaya menemaninya agar dirinya bisa bersama Kaya terus menerus.


          Adrian menarik tangan Kaya memasuki sebuah toko pakaian. Adrian berniat membeli kemeja untuk Nusa.


          “Kay, menurutmu kemeja mana yang bagus?” tanya Adrian yang menghadap beberapa patung dengan setelan kemeja dan celana beserta dasi.


          “Menurutku yang ini Ad!” tunjuk Kaya kemeja biru muda yang dibalutkan jas hitam.


          “Menurutku juga karena Nusa menyukai warna biru.” Setuju Adrian. Mendengar itu Kaya memegang kalungnya yang berbentuk kupu-kupu tersebut.


          Pantas kalung ini berwarna biru, batin Kaya.


          “Kamu kenapa Kay?” tanya Adrian melihat Kaya yang melamun.


          “Tidak Ad,” Kaya menggeleng dengan senyum. Adrian memanggil pelayan dan menyuruh membungkus setelan kemeja tersebut.


          “Kamu kenapa beli kemeja untuk kadonya Ad?” tanya Kaya.


          “Karena aku sudah membelikan yang lainnya saat dia ultah, hanya baju yang belum pernah aku beli untuknya.”


          “Ohh,” gumam Kaya memegang kalung tersebut.


          “Kay,”


          “Hemm,”


          “Kalungku ke mana?” tanya Adrian yang tidak melihatnya di lehernya.


Flashback...,


Pagi hari...,


          Kaya menggeliat karena dirinya diganggu oleh Nusa yang sudah bangun lebih awal. Nusa mencoba membuka kalung yang diberikan oleh Adrian di leher Kaya.


          Nusa membalikkan tubuh Kaya dengan pelan untuk tidur menyamping, agar ia leluasa membukannya. Namun, Kaya terus menggeliat dan membuatnya geram.


          “Kamu mau apa?” tanya Kaya.


          “Aku mau buka kalung pemberian Adrian!” jawabnya.


          “Kenapa?”


          “Kenapa?” Nusa mengulangi pertanyaan Kaya. “Kamu bilang kenapa Kay?” tanya Nusa dan Kaya hanya memutar bola matanya malas.


          “Harusnya kamu tahu kenapa?! Aku tak suka benda pemberi pria lain berada di tubuhmu!”


          Kaya terkekeh mendengarnya. Ia bangkit untuk duduk dan mengalungkan tangannya ke leher Nusa yang duduk di hadapannya. “Kamu cemburu sekali Nus?!” ucap Kaya dengan canda.


          “Jelaslah aku cemburu, karena kamu milikku!”


          Kaya hanya tersenyum. Pria ini selalu menyatakan dirinya miliknyalah, mencintainyalah dan wanitanya.


          “Lepaskan itu! Aku tak suka melihatnya!” titahnya yang membuat Kaya tersenyum.


          “Baiklah, kalau begitu lepaskanlah!”


          Kaya memerintah Nusa yang melepaskannya dan Nusa mencondongkan dirinya hingga dekat dengan kuping Kaya. Nusa pun berhasil melepaskannya dan mencoba ingin melemparnya, tapi Kaya langsung memegang tangan Nusa.


          “Tidak baik, membuang pemberian orang lain!” ucap Kaya.


          “Tapi dia adalah pria yang menyukaimu dan aku tak suka!”


          “Lalu kenapa?”


          “Karena dia menyukaiku bukan berarti kita membuangnya. Itu tidak baik Nusa, jangan pernah lakukan itu! Walau kamu tidak menyukai Jessica bukan berarti kamu membuang pemberiannya!” ucap Kaya lembut sambil membelai pipi Nusa.


          Nusa mengecup bibir Kaya dengan cepat. “Kamu memang wanita yang baik, aku mencintaimu. Maaf sikapku


yang kekanak-kanakan.” Ucap mengembalikan kalung Adrian ke tangan Kaya.


          Kaya menggeleng pelan. “Itu wajar, karena kamu cemburu. Aku pun bisa saja sama.” Kaya mendekatkan dirinya hingga di atas paha Nusa dan mengalungkan tangannya ke leher Nusa sambil memegang kalung Adrian.


          “Jadi jangan meminta maaf padaku!” ucap Kaya lembut dan Nusa mengecup bibir Kaya lagi.


          “Aku beruntung mendapatkanmu!”


          Kaya hanya bisa tersenyum bahagia sambil memandang wajah Nusa yang sangat dekat.


          Nusa mendekatkan wajahnya untuk mencium Kaya kembali, namun gagal karena ponselnya berdering dengan keras dan membuat Nusa mengeram kesal. Padahal dia ingin romantisan di pagi hari ini bersama Kaya.


          “Angkat teleponmu dulu Nusa!” Kaya melepaskan tangannya dan bergeser.


          Nusa mengambilnya di kantong celana dan melihat video call dari Lita. Ia melirik Kaya dan Kaya mengangguk paham. Nusa beranjak dari kasur dan mencium pipi Kaya.


          “Aku akan kembali nanti!” ucap Nusa, lalu keluar dari kamar Kaya.


          Kaya hanya tersenyum. Melihat Nusa pergi, Kaya beranjak dan menuju laci meja. Ia mengambil sebuah kotak kecil kosong dan menaruhnya di sana.


          Kaya tahu Nusa tidak mungkin mengangkat video call Lita di depannya. Ia tahu Lita masih marah dengannya dan Lita hanya tahu kalau mereka masih bermusuhan, padahal mereka sepertinya sudah berbaikan.


Flash back berakhir..,


          “Oh, ada di laciku Adrian.” Jawab Kaya dengan senyum.


          “Oh,”


          Kenapa tak dipakainya? Apakah kalung itu lebih penting makanya dia tak memakai kalungku? Tanya Adrian dalam hati.


          Karyawan toko pun datang membawa tas belanjaan Adrian dan mengasihnya. Mereka pun keluar Mall. Adrian berjalan ber-iringan bersama Kaya. Adrian sengaja tidak membawa mobilnya karena ia ingin lebih lama bersama Kaya.


          Adrian ingin menikmati indahnya jalanan Bali bersama Kaya. Saat mereka berjalan bersama, ada yang mengganggu pikiran Adrian. Ia ingin bertanya tentang kalung itu. Akhirnya ia pun bertanya karena penasaran.


          “Kay?”


          “Iya Ad,”


          “Kalung itu, apakah penting bagimu?”


          “Iya ini penting bagiku Ad,” jawab Kaya dengan senyum.


          “Apakah pemberian dari seseorang?”


          “Iya,”


          “Oh, siapa yang beli?” Adrian seperti mengintograsi Kaya.


          “Dia adalah orang yang kucintai,” jawabnya.


          “Oh..,” gumam Adrian. Dia sudah menduganya. Pasti itu pemberian Nusa, duga Adrian.


          “Kita makan dulu yuk Kay!” ajak Adrian dan Kaya mengangguk. Mereka berjalan menuju restoran yang tak jauh dari sana.


~ Bersambung ~