
~ Happy Reading ~
Setelah kepergian Brahma. Kaya dan kedua orantuannya masuk ke dalam rumah tersebut sambil membawa koper. Kaya sangat bersyukur, disaat susah begini ada orang yang mau menolong keluarganya.
Mereka masuk ke dalam dan melihat rumah baru mereka. Rumah ini hanya satu lantai dan tidak besar, tapi tidak terlalu kecil juga. Kaya melirik rumah barunya yang sudah diisi perabotan oleh teman Brahma. Ia sangat terharu sekali dengan ayah Lita yang mau membantu keluarganya. Rasanya berterimakasih saja tidak cukup untuknya.
Kedua orangtua Kaya langsung duduk di sofa. Mereka merasa lelah sekali. Sementara Kaya berdiri di depan mereka.
“Mah, pah, aku langsung masuk ke kamar yah!”ucap Kaya yang memegang kopernya dari tadi.
“Iya Kay,” jawab Erlangga dan Mina hanya mengangguk saja.
Kaya masuk ke salah satu kamar di sana dan mengunci pintu kamarnya. Ia masuk dengan membawa koper yang dibawanya tadi. Lalu meletakkan koper tersebut di atas tempat tidur.
Kaya membuka kopernya dan mengambil artikel tentang Wijaya yang dibawanya dari rumah. Ia meletakkannya ke dalam laci meja belajar.
Kaya kembali lagi ke kopernya. Ia membererskan semua baju yang di dalam kopernya untuk masuk ke dalam lemari pakaian. Setelah selesai, dirinya duduk dan mengambil artikel tersebut di laci.
“Wijaya Tama, kamu tidak akan pernah aku lepaskan! Kamu akan selalu aku ingat di dalam pikiran ku dan aku akan buat perusahaanmu menjadi milik ku! Tunggu saja dan lihat apa yang akan terjadi nanti!” Kertas yang diambilnya tadi di pegang dengan menatapnya sinis. Seakan ingin sekali memakan kertas tersebut.
***
Ke esokan harinya…,
Kaya sarapan bersama keluarganya di meja makan. Ibunya sudah bangun dari tadi dan menyiapkan bekal serta sarapan untuk Erlangga dan Kaya.
Erlangga yang sudah rapi bersiap untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain. Sedangkan Kaya bersiap untuk ke sekolah.
“Pah, papa mau nyari kerja di mana?” tanya Kaya duduk berhadapan dengan ayahnya di meja makan.
“Entahlah Kay, mungkin papa akan cari di sekitar jakarta.” Jawabnya.
“Semangat pah, papa pasti bisa mendapatkan pekerjaan!” Kaya tersenyum memberikan semangat kepada ayahnya.
“Iya sayang semangat, pasti kamu bisa.” Senyum Mina.
“Makasih yah, kalian berdua selalu mengerti. Aku bangga punya kalian berdua.” Ucap Erlangga sangat terharu.
“Aku juga bangga punya papa.” Balas Kaya dengan senyum.
“Kay, kamu naik apa ke sekolah sayang?” tanya Mina.
“Naik angkutan umum mah,” jawab Kaya.
“Kamu ada duit Kay?” tanya Erlangga.
“Kalian tenang saja! Kaya walaupun dulu manja, gini-gini selalu menyimpan uang. Kaya punya uang untuk kita semua nantinya.”
“Kamu memang anak papa yang sangat pintar,” ucap Erlangga dengan bangga dan Kaya hanya tersenyum.
“Yaudah ayuk kita sarapan! Bekal kalian sudah mama siapin yah!”
“Makasih mah,” senyum Kaya.
“Sama-sama sayang,” balas Mina dengan senyum. Mereka pun sarapan bersama di satu meja makan yang tidak terlalu besar tapi cukup untuk mereka bertiga.
***
Malam hari…,
Kaya yang baru pulang sekolah masuk ke dalam rumah. Hari ini dia senang sekali, karena mendapatkan pekerjaan sebagai guru les untuk anak SD dan SMP. Walaupun baru dua murid yang dia akan ajarkan, tapi dia sudah sangat bersyukur sekali.
Saat masuk, Kaya melihat kedua orantuanya sudah duduk di sofa dengan muka sedih. Kaya yang penasaran menghampiri mereka dan duduk di depan meraka.
“Ada apa pah, mah?” tanya Kaya.
“Papa, ditolak semua perusahaan di jakarta Kay.” Jawab ibunya membuat Kaya sedikit terkejut.
“Apa? Kok bisa pah?” tanya Kaya.
Kurang ajar kau Wijaya! Setelah kau hancurkan keluargaku, kau juga menghancurkan mata pencarian kami! Aku tidak akan memaafkanmu, Wijaya!
“Sudahlah pah, tak apa. Kaya bisa mencari uang pah. Papa tenang saja, aku baru saja dapat dua murid baru untuk aku lesin pah.” Kaya mencoba tersenyum memberi semangat kepada ayahnya.
“Kamu lesin anak orang Kay?” tanya ibunya dan Kaya hanya mengangguk senyum.
“Tapi Kay, kita juga butuh uang sehar-hari nak. Kamu juga butuh duit untuk bayar uang sekolah kamu, apalagi kamu sudah mau lulus SMA.” Ucap Mina.
“Mama tenang aja, aku kan bilang punya uang. Kaya punya tabungan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan. Jadi mama tidak usah khawatir.” Ucap Kaya.
“Terimakasih Kay, papa merasa sangat terharu sekali punya anak seperti kamu.” Ucapnya terharu.
“Iya sayang, mama juga bangga punya anak seperti kamu.” Ucap Mina memeluk Kaya dengan terharu.
Awas kau Wijaya, akan ku buat kau menderita!
Flashback berakhir….
“Kamu akan hancur bagaikan kertas ini Wijaya, dan tidak akan bisa utuh lagi!” Kaya merobek kertas tersebut dan membuangnya ke tong sampah.
Telepon kantor pun berdering…,
“Halo dengan Kaya,” jawab Kaya mengangkat telepon tersebut.
“Halo Kay, kamu ke ruangan aku yah!” titah Nusa di telepon.
“Iya Nus.” Kaya menutup teleponnya dan beranjak menuju ruangan Nusa. Ia langsung masuk dan duduk di depan meja Nusa.
“Ada apa Nus?” tanya Kaya.
“Nanti, pulang kerja kamu bareng aku yah Kay! Soalnya kita mau mengadakan perpisahan buat kamu!” ucap Nusa dengan senyum.
“Iya,” angguk Kaya.
“Kamu mau aku kasih kado apa Kay?” tanya Nusa dengan cool.
“Enggak usah Nus.”
Ada apa dengan dia? Apakah dia sudah mengetahui semuanya? tanya Nusa dalam hati dengan kedua tangan membentuk doa dan ditumpukan ke dagu.
“Ohh, okelah kalau begitu.” Senyum Nusa. “Itu aja sih yang pengen aku omongin sama kamu Kay.”
“Hah? Jadi kamu suruh aku ke sini cuman bilang itu doang Nus?” tanya Kaya.
“Iya,” nyengir Nusa dengan tangan dilipatkan ke dalam dada.
“Kamu yah, nyusahin aja. Udah ah, aku mau balik!” Kaya beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu.
“Kay,” panggil Nusa dan Kaya berhenti berjalan.
“Iya Nus,” toleh Kaya membalikan badannya.
“Nanti saat perpisahan, aku mau kamu mengumumkan kamu menjadi CEO di perusahaan mana?!” dengan senyum sinis dan jari dimainkan di atas meja. Ucapan Nusa membuat Kaya bingung, ia seperti memberikan perintah padanya dan bukan pertanyaan.
Sebenarnya apa maksud dia? Kaya bertanya dalam hatinya.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Kaya menatap Nusa dengan sinis.
“Yah biar semua orang tidak penasaran saja sih Kay,” jawab Nusa dengan senyum agar Kaya tidak curiga.
“Jika kamu yang meminta Nus, aku akan melakukannya.” Kaya berbalik badan kembali untuk keluar ruangan.
“Seberani inikah diri kamu, untuk memberitahu semuanya di Restoran Tama Kay?!” Nusa menatap kearah Kaya yang keluar dengan tatapan sinis.
~ Bersambung ~